Nggak Peka

1220 Words
“Hati-hati ya Ra, jangan sampai terulang lagi, yang waktu itu…” Desy melirik Ratu dengan tatapan berbeda, bukan bermaksud menyakiti hati dan mengingatkan Ratu pada masa lalu yang memalukan. Sebagai teman yang baik, Desy hanya tak ingin Ratu masuk kembali masuk ke dalam kesalahan yang sama. “Gue harus gimana nih?” Ratu yang baru saja berdiri dan memakai tasnya, kini kembali duduk di kursinya. “Sumpah gue nggak ada niat untuk dekat-dekat dengan Pak Raja. Ini cuma karena urusan perbaiki mobil aja kok.” Dia seolah menyangkal bahwa kejadian masa lalu takkan terulang. “Gue paham Ra, gue percaya sama lo. Tapi gimana dengan mereka-mereka itu? Sebenarnya sah-sah aja sih lo dekat sama bos baru kita, dia masih single juga, kan? gue cuma takut anggapan orang ke lo tu makin buruk, Ra?” Desy mengingatkan lagi. “Iya… iya gue paham.” “Gue juga masih trauma waktu istri Pak Bun ngacak-ngacak meja kita,” lanjut Desy. “Tolong Des, jangan diingatkan lagi,” pinta Ratu memelas. “Oke, oke. Take care yah? karena lo nggak ada, gue makan siang bareng Nindy.” “Iya. Do’ain gue.” “Pasti.” Ratu melangkah cepat, meski saat keluar ruangan tadi Raja tidak peduli dengannya, tapi dia masih ingat kalau lelaki itu pagi tadi mengatakan akan menunggunya di mobil ketika jam istirahat tiba. “Lo telat lima menit,” protes Raja melirik arlojinya. “Maaf Pak, tadi saya beres-beres dulu.” Ratu sudah duduk tepat di sebelah Raja, di mana lelaki itu siap mengemudikan mobilnya. Sepanjang perjalanan, Ratu hanya berdoa dan berharap jika biaya yang akan dia keluarkan untuk ganti rugi tidak akan mahal. Paling tidak, masih bisa dijangkau oleh gajinya. “Ini… mesti banget saya ikut, ya Pak?” di sela-sela keheningan, Ratu mencoba membuka pembicaraan. “Ya iya lah, ntar lo nuduh gue mark up harga lagi. Kalau lo ikut, lo bisa langsung dengar dari salesnya, berapa biaya perbaikannya,” ketus Raja. “Harusnya nggak mahal, ya Pak? kan cuma dikiiiiiit doang goresannya, nggak banyak.” Ratu berharap. Raja tertawa sarkas. “Lihat aja nanti.” Mendengar respon Raja yang tidak ramah di telinga saat dia mengajak berbasa-basi, Ratu jadi enggan memanjangkan obrolan. Lebih baik diam saja, dia mengambil ponselnya untuk melanjutkan pencarian kos-kosak murah, karena niatnya belum berubah untuk segera pindah dari rumah nek Miftah. * “Untuk biaya yang cukup standart itu sekitar satu jutaan, Pak—“ “Satu juta?!” Ratu memotong kalimat sales yang sedang menjelaskan biaya perbaikan goresan di pintu mobil Raja. “Mas kurang lagi dong.” Ratu memelas, bahkan dia rela memasang tampang sedih di hadapan sales yang tidak mengerti apa-apa tentang masalahnya. Raja menarik lengan Ratu agar dia tidak terlalu maju. “Nggak usah nawar, malu-maluin. Lo cukup diam, dengar, dan bayar. Paham?” bisik Raja penuh penekanan. Ratu benar-benar terdiam. Masalahnya dia memang tak mampu lagi berkata-kata. Biayanya menyentuh angka satu juta bahkan lebih, tentu tidak lah sedikit baginya. Uang sebanyak itu bisa untuk biaya makannya selama dua minggu. “Jangan yang standart, tolong siapkan cat terbaik.” saat Raja mengatakan itu pada sales, Ratu sungguh ingin mengeluarkan kata-kata, tapi rasanya tenggorokannya tercekat hingga akhirnya dia hanya diam. “Baik Pak, mari ikut saya.” Raja melangkah mengikuti lelaki yang bekerja sebagai sales itu, begitupun dengan Ratu. bayarnya pasti sekarang, ya? gue harus nyari duit dimana? Masa iya ngikutin sarannya Desy. “Pak Raja!” gadis itu nekat memanggil Raja. Lelaki itu menoleh, tidak menjawab dengan kata hanya dengan mimik wajah yang seolah mengatakan ada apa? “Saya mau bicara sebentar.” “Kenapa?” “Pak, maaf banget kalau harus bayar sekarang, saya belum ada uangnya. Boleh nggak saya minta waktu sampai lusa? lusa waktunya payday, Pak. Saya pasti langsung bayar ke Bapak.” dengan sepasang netra kecoklatannya, Ratu menatap penuh harap pada Raja. “Please… Pak.” Raja membalas tatapannya, ada sedikit rasa yang menghampiri benaknya, entah apa itu. Antara iba dan kesal, hingga lelaki itu akhirnya menjawab. “oke.” Barulah Ratu bisa bernapas lega. Sementara menunggu Raja melakukan transaksi dan sebagainya, dia duduk di sebuah kursi yang disediakan untuk pelanggan menunggu. Perutnya berbunyi karena lapar, pagi tadi dia tidak sarapan karena tak sudi memakan sandwich buatan Raja. “Ayo.” “U-udah selesai, Pak?” “Udah.” “Mobilnya ditinggal, Pak?” “Ya menurut lo gimana? masa iya pintunya doang yang dilepas terus ditinggal disini buat dipoles?” Ratu terkekeh mendengar ucapan lelaki itu. “Ya nggak gitu juga, Pak. Saya kan cuma nanya.” “Hm, lo punya aplikasi taksi online?” “Punya Pak, Bapak mau kemana? biar saya pesanin?” dengan sigap, Ratu mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. “Makan siang,” sahut Raja jutek. “Oke Pak, mau makan dimana? biar saya atur titik tujuannya.” “Enaknya dimana? tempat makan siang yang enak menurut lo?” sejenak, Ratu terdiam. Dia mendadak lemot. “Eh, maksudnya Bapak ngajak saya juga, atau—“ “Duh, kok bisa ya, Firma merekrut orang kayak lo.” Raja menggelengkan kepala, lalu dia berjalan melewati Ratu yang masih berdiri kebingungan. Masalahnya, tidak ada kata ajakan seperti ayo kita makan siang bareng. atau lo maunya makan dimana? Raja malah bertanya tempat makan siang yang enak. “Jadi, gimana, Pak?” Ratu memberanikan diri bertanya lagi. Raja meliriknya dengan tatapan malas. “Makan di seberang aja.” Raja yang malas ribet, akhirnya memilih jalan pintas. Kebetulan, di seberang showroom langganannya, ada tempat yang berkonsep cafe and resto. “Saya gimana, Pak, Bapak ngajak saya nggak sih?” Gemas melihat tingkah perempuan di sebelahnya, Raja malah menggenggam satu tangannya, lalu berjalan menuju zebra cross berhenti sejenak menunggu sampai lampu lalu lintas menunjukkan warna merah, mereka berjalan menuju cafe di seberang sana. Ratu sendiri lagi-lagi kebingungan. “Saya bukan orang buta, Pak. Enggak perlu digandeng.” protes Ratu di tengah jalan. “Lo emang nggak buta, tapi nggak peka,” ucap Raja tegas, tanpa mau melepas gandengan tangannya dengan Ratu yang sedang berusaha melepas. Raja malah memasukkan tangan Ratu ke dalam saku jasnya. Nggak perlu heran, dia bahkan pernah nyium lo tiba-tiba. Nih orang kebiasaan kali, ya? lakuin apa-apa sembarangan, tanpa izin. “Saya nggak terbiasa pergi tanpa ajakan, Pak. Saya juga nggak ngerti kode-kode. Mending Pak Raja to the point aja kalau mau ngajak saya.” mereka sudah tiba di halaman resto, dan kali ini Raja yang menghentikan langkahnya, dia memutar tubuhnya menghadap Ratu. “Ngajak lo? maksudnya?” entah mengapa kalimat itu terdengar ambigu di telinga Raja, sekilas dia teringat kata-kata Nindy. “Ya… ngajak makan siang, jadi apalagi?” “Oh, gue pikir.” “Apa, Pak?” “Enggak apa-apa.” Melihat sikap Raja yang sedikit aneh, pikiran Ratu menerawang. Atau mungkin, Raja sudah mendengar juga gosip miring tentangnya waktu itu? oke, cukup hanya hari ini saja. Selebihnya, Ratu benar-benar harus menjaga jarak dengan lelaki ini, bila perlu dengan lelaki manapun yang ada di firma, karena Ratu lelah dianggap sebagai perempuan yang bisa dibawa-bawa, nyatanya sampai detik ini dia bisa menjaga kesuciannya dari lelaki manapun. Hanya bibirnya saja yang sudah tidak suci lagi, karena direnggut oleh lelaki di hadapannya. “lo mau makan apa?” tanya Raja sambil membolak balikkan menu ketika mereka sudah duduk dan dihampiri oleh pelayan. Makan lo aja boleh nggak, Pak? sumpah gue kesal banget sama lo!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD