Memulai

1016 Words
Atmosfer di sekeliling Jere mendadak mencekam setelah ia menyebutkan nama Ari di depan Jeni. Raut wajah yang sebelumnya sudah menyeramkan, semakin terlihat dingin sekarang. “Saya nggak ada hubungan sama dia!” Jeni berbalik badan berniat meninggalkan Jere. “Sekarang Ari menikah dengan Jasmine.” Langkah kaki Jeni berhenti ketika mendengar nama dua orang yang sangat ia kenali memiliki hubungan. Ia kembali membalikkan badan menatap Jere intens. “Kamu jangan main-main!” tegas Jeni. “Saya nggak main-main, Kak. Ada yang mau saya tanyakan tentang masa lalu kalian!” Jeni tampak berpikir tanpa memutus kontak mata dengan Jere. Ia menghela napas, lalu tersenyum. “Maaf! Tapi saya nggak mau tahu masalah kalian!” Jeni langsung pergi tanpa bisa ditahan lagi oleh Jere. Tangan Jere yang sudah terkepal terangkat ke atas seperti sedang meninju angin. “Gue harus bisa yakini dia!” Jere memilih kembali ke mobil untuk melanjutkan perjalanannya ke lokasi selanjutnya. Ke tempat di mana kebahagiaannya yang sesungguhnya berada. “Kita masuk ke dalam, Bos?” “Nggak usah. Kita parkir di dekat rumah nya aja,” ucap Jere membalas pertanyaan Joe. Jere mengambil handphone untuk memberitahu Jamal tentang kedatangannya setelah melihat jarak ke rumah Ari sudah semakin dekat. Ia harus memastikan agar keadaan rumah Ari aman tanpa gangguan. Datang. Hanya kata itu yang Jere kirimkan sebagai kode pada Jamal yang mungkin saja sedang bersama Ari atau Jasmine. Sejak dulu hubungan keduanya tetap terjalin baik tanpa pernah terbongkar, tentu karena mereka yang sangat teliti. Selain, Jere meminta namanya di ponsel Jamal diganti setiap hari. Jere juga memberitahu Jamal beberapa kode yang ia pakai kalau duluan menghubungi Jamal. Karena perintah Jere sebelumnya adalah ia tidak akan menelepon Jamal jika Jamal tidak menghubunginya duluan. Tidak lama handphone Jere bergetar dan tertera nama Jamal di sana sebagai si penelepon. Ibu jari Jere tergerak menggeser ikon hijau di layar untuk mengangkat telepon dari Jamal. “Halo, Pak.” “Halo, Mas.” “Lagi di mana?” “Di rumah, Mas.” “Ari?” “Bapak disuruh pulang duluan untuk antar Mbak Jasmine ke Mall.” “Aku tunggu di depan rumah, Pak. Aku akan ikuti dari belakang.” “Bapak berangkat sepuluh menit, lagi, Mas.” “Oke, Pak. Jere udah dekat kok.” “Baik, Mas.” Jere memperhatikan lingkungan perumahan tempat Ari tinggal sudah memiliki banyak perubahan sejak ia tinggalkan. Bahkan rumah Ari yang awalnya berwarna kuning gading berubah menjadi warna putih secara keseluruhan. “Di sini, aja, Jo,” ucap Jere tiba-tiba yang membuat Joe memijak rem mendadak. Refleks ketiganya sedikit menjulang ke depan. Ucup memukul lengan Joe pelan karena kecerobohannya bisa membahayakan nyawa mereka. “Maaf Bos,” sesal Joe menatap dari kaca spion. “Bos nggak papa?” tanya Ucup sembari memperhatikan keadaan Jere yang duduk di belakang nya. “Nggak papa, Pak,” jawab Jere tersenyum tipis. “Maaf ya, Jo. Aku ngomongnya mendadak.” Jere bertukar pandang dengan Joe dari kaca spion. Pria yang menjadi ajudan termuda Jere itu tersenyum sambil mengangguk. “Salah saya, Bos.” Bunyi klakson mengalihkan ketiganya pada mobil jazz lama milik Ari yang ia yakini membawa Jasmine dan Jessie di dalamnya. “Ikuti mereka.” Joe menurut. ~~ Setelah menempuh perjalanan membosankan karena kemacetan yang cukup panjang. Akhirnya mobil Ari dan Jere memasuki parkiran Grand Indonesia. Suara helaan napas lolos dari mulut Ari saat melihat Jessie tertidur di pelukan Jasmine yang baru keluar dari dalam mobil. Jamal ikut turun dari mobil membuka bagasi untuk mengambil stroller milik Jessie yang selalu mereka bawa. Jasmine meletakkan Jessie ke stroller memberikan kenyamanan dalam tidur dan membuatnya leluasa memperhatikan sekeliling. Mata Jasmine sempat melirik ke arah mobil Jere yang terparkir di sebrangnya, tapi Jere yakini ia tidak bisa melihat apapun karena dari luar kaca mobilnya terlihat gelap. Hanya Jere yang bisa melihat Jasmine dengan jelas dari dalam mobil. “Matikan mesinnya,” perintah Jere yang mengetahui penyebab Jasmine tertarik melihat mobilnya karena terus menyala. Jasmine mendorong stroller Jessie berjalan ke arah pintu masuk Mall bersama dengan Jamal yang membawa satu tas berukuran sedang berisi keperluan Jessie. “Jo, lo turun duluan. Ikuti mereka, terus kabarin gue.” “Siap, Bos.” Jere memperhatikan langkah Joe yang berjalan tegap sambil memainkan ponsel mengikuti Jasmine dari belakang. “Dia pintar juga,” gumam Jere melihat sandiwara Joe dari dalam mobil. “Kita nggak ikutin mereka, Bos?” Jere memakai topi hitam yang beruntungnya selalu ia bawa. “Tunggu sampai mereka lewatin pintu masuk,” balas Ari terus memperhatikan Jasmine yang beberapa langkah lagi memasuki mall. “Sekarang, Pak.” Jere keluar dari dalam mobil menunggu Ucup yang sedang mengambil kunci mobil. “Ini, Mas.” Ucup memberikan kaca mata hitam serta masker yang ditinggalkan Jere dalam mobil karena terburu-buru. Jere mangambil lalu memakainya. “Hampir lupa.” “Ayo, Pak.” Jere dan Ucup berjalan berdampingan. Jere memperbaiki topi yang dikenakan agar lebih menutupi dahi. Jere melihat pesan masuk dari Joe yang memberitahu keberadaan dirinya dan Jasmine saat ini. Di sebuah toko perlengkapan anak-anak seperti, baju, mainan, alat makan dan yang lainnya. Jere mempercepat langkah nya yang membuat Ucup tertinggal di belakangnya sedang berusaha menyeimbangi langkah kaki mereka. Jere menaiki eskalator sambil memperhatikan sekeliling di mana Joe berada. Ia mengangguk setelah melihat lambaian tangan Joe dari arah samping kanannya. Ucup tetap berlari kecil mengejar Jere yang semakin cepat berlari menghampiri Joe. Sampai intruksi dari Joe menghentikan langkah Jere secara tiba-tiba. Sepuluh meter lagi Jere semakin dekat dengan Jasmine dan Jessie yang baru saja keluar dari toko. Beberapa pasang mata memperhatikan perilaku Jere dan Ucup yang bisa menimbulkan berbagai pikiran negatif bagi orang-orang. Joe yang menyadari hal itu langsung menghampiri keduanya untuk menyapa layaknya orang yang sedang janji temu. “Kenapa kalian lama sekali?” Ucup yang mendengar pertanyaan tidak sopan Joe langsung memukul lengan pria itu. “Jangan kurang aja kamu!” “Bukan gitu, Pak. Tapi semua orang lihatin kalian karena lari-lari,” bisik Joe pada Ucup. “Kalau kalian masih mau bertengkar. Aku pergi duluan.” Setelah berpamitan, Jere melangkah meninggalkan Ucup dan Joe yang sekarang sudah mengikuti Jere. Seseorang yang menghampiri Jasmine dan Jessie membuat langkah Jere terhenti. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD