BAB 19

1157 Words
"Yaelah, Ma, Adimas kan emang cewek," sahut Arsya. Reni---Mama Arsya---menghela napas pelan. Ia tahu jika Adimas cewek, tetapi identitasnya yang diketahui orang-orang, ia kan sebagai laki-laki. "Mama juga tau, Arsya ... tapi Mama pengen aja gitu ngelihat Adimas berpenampilan seperti cewek pada umumnya. Selama ini, kan, kita nggak pernah lihat, tuh." "Iya, Ma, tapi--" "Sst, wong Mama ngomong sama Dimas, kok, kamu yang ribet. Jadi, gimana Dimas? Kamu mau nggak?" tanya Reni menghadap sepenuhnya kepada Adimas. Gadis tomboi itu hanya menggaruk tengkuhnya yang tak gatal. Jadi, Reni memintanya datang ke sini hanya untuk itu? "Emang untuk apa, ya, Tan?" tanya Adimas. "Tante mau ajakin kamu kondangan!" "Kenapa gak ajak Arsya aja, Tan?" tanya Adimas. "Loh, Sya ... kamu mau pake gaun? Kalau mau, ya udah Mama bawa kamu aja," ujar Reni, yang membuat mata Arsya melebar. "Nggak maulah, Ma! Yakali cowok sejantan Arsya make gaun." Adimas terkekeh melihat ekspresi Arsya. " Nah, makanya ... Mama ajakin Adimas aja!" "Tapi, Tan ... aku--eum ...." "Udahlah, urusan baju biar Tante yang urus. Kamu siap-siap, gih. Mandi aja di kamar Tante, nanti Tante siapin baju. Kamu juga, Sya. Siap-siap seganteng mungkin," ucap Reni yang ternyata mengajak Arsya juga. "Jadi, Arsya ikut ke kondangan juga?" "Iya! Udah, cepetan siap-siap. Bentar lagi Papa jemput, loh." "Eh? Papa juga? Ada acara apaan, sih." "Udah, gak usah kepo. Mandi sana mandi!" suruh Reni mendorong anak laki-lakinya itu. Adimas masih berdiri mematung. "Dimas, ayo mandi!" suruh Reni. "Dimas mandinya di rumah aja, Tan. Nanti ganti baju aja di sini, lagian, kan, rumahku di sebelah." "Eh, iya! Tante lupa, ya udah pulang, mandi sana!" "Oke, Tan." Adimas pun melangkah keluar dari rumah Arsya. Reni tersenyum senang. Akhirnya rencananya berhasil. "Kalau gini pasti aku yang bakal menang," ujarnya. *** Setelah selesai mandi, Adimas segera kembali ke rumah Arsya. Ternyata Reni sudah menunggunya. "Ayo, Dim, sini!" suruh Reni agar Adimas masuk ke kamarnya saja langsung. "Iya, Tan." Dalam hati Adimas waswas, mau diapakah dirinya? Ia sedikit khawatir, apalagi melihat banyaknya jenis make up yang tersusun di atas meja. 'Gue boleh kabur aja, gak, sih?' batin Adimas yang sudah takut. "Oke, sekarang kamu ganti baju dulu, deh. Ini gaunnya! Kamu harus tau, ini gaun hadiah ulang tahun Tante dari papanya Arsya. Tante baru pake sekali, dan ini cocok untuk anak muda! Coba pake, deh, Tante ga sabar lihatnya." "Baik, Tan." Adimas mengambil gaun itu lalu beranjak masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar tersebut. Sembari menunggu Adimas mengganti bajunya. Reni mulai mengeluarkan alat-alat make up yang diperlukan. Tidak perlu cemaskan hasil make overnya, karena memang inilah pekerjaan Reni. Ia seorang make over pengantin, bayarannya pun sudah mahal. Selain itu, profesi Reni adalah seorang desainer. Sedangkan Papa Arsya seorang pengusaha. Adimas akhirnya keluar dari kamar mandi, Reni pun menatap ke arah gadis itu. Ia melihat dari ujung kaki sampai ke ujung rambut. Reni tercengang bukan main. Apakah ia tak salah lihat? Gaun dongker dengan panjang selutut, tanpa lengan itu sangat cocok dengan Adimas. Belum lagi mutiara yang terpasang di pinggangnya. Bentuk lekuk tubuh Adimas tergambar jelas, dengan begini identitasnya sebagai perempuan tidak bisa ditutupi lagi. Kaki jenjang putih mulusnya pun terekspos jelas. "Dimaaas! Kamu cantik banget, Sayang!" ujar Reni histeris. Dalam muka yang masih natural tanpa make up dan rambut yang acak-acakan itu saja Adimas sudah sangat cantik, bagaimana jika ia sudah merias wajah gadis itu? Secantik apakah seorang Adimas? Lalu, apa tanggapan Arsya jika melihat sahabat tomboinya itu berubah dratis seperti ini? "Ayo, Dimas, sini duduk! Tante make up-in secantik mungkin!" Adimas hanya bisa tersenyum kikuk. "Gak usah menor ya, Tan." "Tenang, ini adalah Tante ahlinya, kamu akan Tante buat seperti bidadari pokoknya!" "Kita lihat aja ...." *** Di sisi lain, tampak Rara sedang duduk di halaman belakang rumahnya. Razel datang menghampiri dengan secangkir kopi di tangannya. "Zel, kata Bik Anti, kamu gak pernah masuk sekolah lagi, ya?" tanya Rara menatap manik mata saudara tirinya itu. Razel langsung mengalihkan tatapannya. "Atau kamu mau pindah ke sekolahku aja, Zel?" Razel kembali menoleh ke arah Rara. "Emang bisa?" "Ya bisa aja, sih. Tapi, emangnya kamu tega ninggalin sekolah lama kamu gitu aja?" "Sekolah lama gue nggak ada yang spesial, Ra. Gue aja gak betah berada di sekolah itu, temen juga gak punya." "Makanya ... Razeeel. Penampilan kamu jangan kayak bad-boy gitu, coba lebih rapi lagi." Tangan Rara menyentuh rambut Razel yang acak-acakan. . "Gak mau." Razel memang tipikal cowok yang berantakan, berpenampilan seperti badboy, memiliki kulit yang putih, berhidung mancung, dan bulu mata yang lentik. Rambut Razel panjang di bagian depannya, membentuk poni yang menutupi dahinya. "Ra ... omongan lo yang pindah sekolah tadi gue pertimbangkan," ucap Razel bangkit, lalu berlalu dari situ. "Eh? Zel ... kamu beneran mau pindah?" "Ya bisa jadi, bentar gue mikir dulu." "Kenapa dia nanggepinnya serius, hei!" ucap Rara tak habis pikir, padahal tadi ia tak berbicara serius. *** Kembali pada Adimas yang sudah selesai dimake-over oleh Reni. Wanita paruh baya itu tak henti-hentinya dibuat kagum oleh kecantikan Adimas. Ternyata gadis tomboi yang menyembunyikan identitas aslinya itu memiliki wajah yang sangat cantik. "Sebentar ... rambut kamu, kan, emang pendek, ya. Biar Tante pakein rambut sambung, deh." "Eh, gak usah, Tan," tolak Adimas. "Gak pa-pa, biar aura gadisnya lebih keliatan." Adimas hanya dibuat pasrah saja, lagi pula mau menyanggah atau menolak pun, Reni tak akan menggubrisnya. Apa yang dilakukan Reni adalah sesuatu yang tak boleh disanggah. "Nah, tuh, kan ... cantik!" Adimas menatap pantulan wajahnya di cermin. Rambutnya sekarang tampak tergerai panjang. Adimas seperti tidak melihat wajahnya di cermin. Apakah itu benar dirinya? Kenapa sangat berubah drastis? "Gimana? Suka, nggak? Percaya sama Tante, orang-orang gak akak tau kalau ini rambut sambung. Tante udah pasangin serapi mungkin." "Hm, iya, Tan." "Sekarang ... tinggal sepatu! Bentar Tante carikan dulu yang cocok." Adimas menghela napas pelan. Sungguh ribet menjadi cewek tulen, untung saja ia tak berpenampilan seperti cewek seutuhnya. Membayangkannya saja Adimas sudah merasa capek. "Tan, cewek itu ribet, ya?" "Gak boleh ngomong gitu, Sayang. Cewek itu bagai mahkota, yang harus dijaga sebaik mungkin keindahannya. Jadi, jika kamu memiliki mahkota yang bagus, maka kamu harus menjaga sebaik mungkin, oke?" "Iya, Tan." Ingat! Tidak perlu disanggah. "Ini sepatunya ... pas banget ada yang warna dongker. Tante pakein, ya." "Jangan, Tan. Biar aku aja!" Adimas segera berjongkok. Tidak mungkin ia membiarka Mama Arsya itu memakaikannya sepatu. Memangnya ia seorang ratu? "Tan, ini heels-nya kenapa tinggi banget, ya?" "Itu belum tinggi. Itu cuma lima sentimeter. Ada yang lebih tinggi." "Dimas takut jatoh, Tan!" Adimas memegang tangan Reni pelan. "Gak pa-pa, kamu pasti bisa. Yuk, jalan pelan-pelan." Reni menuntun Adimas berjalan yang tertatih-tatih, karena tidak terbiasa memakai heels. Setelah sampai di ruang tamu, Adimas pun menoleh menatap Arsya yang sudah selesai dengan setelan jasnya yang berwarna ... DONGKER? Kenapa bisa kebetulan sama? "Ma, dia siapa?" tanya Arsya mengerutkan kening menatap gadis yang digandengn mamanya. "HAH? Lo gak kenal gue, Sya?" Mata Arsya melebar. Benarkah ... "Jangan bilang kalau lo ... ADIMAS?" tanya Arsya berteriak tak percaya. Bagaimana mungkin Adimas bisa secantik ini?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD