Bab 11

1355 Words
“Surprise....” pekik Alvar, Keyla dan Vita saat Diaz dan Alana membuka pintu rumah Diaz. “Kalian ada disini,” ucap Diaz riang. Alvar merangkul Diaz. “Iya dong, sebagai Edward Cullens harus tanggap dalam segala hal. Termasuk penyambutan pulang dari rumah sakit.” “Aku dari rumah sakit, bukan traveling. Kalau traveling atau nikah baru disambut.” Setelah mengatakan itu, Diaz melenggang masuk dan duduk di sofa. “Kebiasaan deh, udah dibuat sambutan susah-susah biasa aja efeknya,” gerutu Alvar kesal. “Udahlah jangan berdebat. Diaz lelah dan pengen istirahat, makanya butuh ketenangan. So, kita mendingan pulang aja,” timpal Vita lembut. “Jangan, mendingan kalian para bidadari ikut aku jalan-jalan. Biar Alana yang nemenin Diaz,” tawar Alvar penuh kemenangan. Alana dan Diaz terkejut mendengar ucapan Alvar, namun Vita dan keyla malah berpikiran jauh dan menganggap ini kesempatan Diaz dan Alana semakin dekat. Alhasil, mereka berdua berjalan cepat menghampiri Alvar. “Iya Al, kamu temenin Diaz bentar ya sampai Alvar pulang. Aku sama Vita mau jalan-jalan bentar.” Keyla antusias berkata menatap Alana, kemudian keluar bersama Alvar dan Vita. Alana melangkahkan kakinya menghampiri Diaz setelah sahabatnya dan Alvar pergi. Dilihatnya, Diaz seakan menyimpan beban berat. Sayangnya Diaz enggan menceritakan penyakit yang diderita. “Kalau ada masalah, boleh ceritain ke aku.” Alana berkata ragu, sebenarnya Alana ingin pulang tetapi tak tega meninggalkannya sendirian di rumah. “Nggak ada kok. Eum.. kalau kamu capek boleh pulang kok.” Diaz mengulum senyum pada Alana, berusaha kuat walaupun hatinya rapuh. “Nggak kok. Aku temani kamu dulu, mau minum? Biar aku ambilin,” tawar Alana tulus. “Alana, kamu udah capek ngurusin aku sejak di rumah sakit. Piliss... kamu pulang aja istirahat. Aku udah biasa kok sendirian di rumah,” pinta Diaz memandang Alana khawatir. Tampak jelas rasa lelah dan kantuk menyelimuti wajah sayu Alana. “Ya udah aku pulang. Tapi kalau butuh apa-apa kabari ya, telpon.” Alana menyampirkan tasnya di bahu, lalu melangkah pergi meninggalkan Diaz. Sebelum menghilang di balik pintu, Alana kembali menoleh ke arah Diaz. Dia sebenarnya khawatir meninggalkan Diaz, namun Diaz malah bangkit dan berjalan ke lantai atas. “Dasar cowok rese, dikhawatirin malah pergi,” gerutu Alana lalu menutup pintu rumah Diaz. *** Diaz masuk ke paviliun yang terletak di belakang rumahnya. Dia menjamah seluruh ruangan Paviliun yang terpampang berbagai fotonya bersama sang kekasih, hati Diaz bertanya-tanya dimana sang kekasih berada? Apakah sang kekasih sudah memaafkan kesalahannya atau belum? “Tuhan, apa aku bisa bertemu dengannya sebelum Engkau menjemputku?” tanya Diaz frustasi. Tak terasa, air mata meleleh membasahi pipinya. Kemudian, Diaz mengambil foto yang terletak di meja. Membelai lembut pipi sang kekasih. Wajah kekasih Diaz yang sangat rindukan. Walaupun mereka masih berpakaian putih abu-abu, tetapi sampai saat ini Diaz masih menyimpan cintanya dengan baik. Diaz merasakan kepalanya berputar-putar, dia segera keluar dari Paviliun karena tak ingin seseorang mengetahui rahasianya. Diaz memilih masuk ke kamar, menyandarkan tubuhnya di atas bed cover bermotif bola. Diaz segera mengusap darah yang keluar dari hidungnya, walaupun rasanya sangat sakit tetapi Diaz berusaha kuat dan tegar. “Bro, gimana kelanjutannya,” ucap Affar seraya membuka pintu kamar Diaz. Membuat Diaz terlonjak kaget. “Kebiasaan nggak ketuk pintu.” Diaz berusaha kuat dan mengabaikan sakit kepalanya yang teramat, dia tak mau Affar curiga dengan penyakitnya. “Eh, kamu masih sakit? Kok mukanya pucet gitu.” Affar menghampiri Diaz dan duduk di samping Diaz, dia menelan ludah melihat wajah sepupunya yang pucat. Bahkan, saat Affar memegang kening Diaz suhu badan Diaz tinggi. “Harusnya jangan pulang dulu. Pasti kamu ngotot pulang padahal belum diizinin dokter kan,” tebak Affar kesal karena Diaz selalu keras kepala. “Kamu pikir di rumah sakit enak, makan nggak ada rasanya gitu. Sendirian, nggak bisa balapan!” gerutu Diaz mengenang suasana rumah sakit yang serba terbatas. “Iya sih, tapi kan ada Alana yang jadi suster pribadi. Masa nggak ngerasa paling bahagia sih bersama gadis pujaannya,” ledek Affar cengengesan. “Hus.... Aku nggak hati lah. Udah ah, cepet beliin aku bakso yang pedas. Bete,” suruh Diaz cepat. “Iya deh, sambalnya lebih banyak dari pada baksonya biar masuk rumah sakit lagi.” Affar emosi karena keinginannya Diaz tak wajar, bisa-bisanya meminta bakso yang pedas padahal kesehatannya belum pulih. Diaz menatap Affar geram. Memperhatikan sang sepupu yang keluar dari kamarnya, barulah dia menghela nafas lega karena Affar tidak mencurigai penyakitnya. Namun, entah sampai kapan Diaz bisa menyimpan rahasia penyakitnya. Sementara semakin hari, penyakitnya akan semakin parah dan cepat atau lambat semua orang mengetahui penyakitnya.  *** “Woi, lepasin tas ibu itu,” pekik Alana saat melihat insiden seorang ibu paruh baya saling menarik tasnya dari sang penjambret. “Tolong... Tolongin saya Mbak,” teriak ibu paruh baya ketakutan. Alana mengepalkan tangannya, dia langsung berlari dan menendang seorang laki-laki penjambret. Namun, penjambret itu berkilah, tak ayal terjadi perkelahian antara Alana dan penjambret. Tetapi, bukan Alana jika tak bisa mengalahkan penjambret. Dengan kekuatan otot dan ketangkasan bela dirinya. Sementara itu, dari kejauhan Affar yang hendak membeli bakso melihat perkelahian itu. Affar menajamkan pandangannya, apakah penglihatannya salah atau tidak. “Itu beneran Alana?!” ucapnya ragu. “Cepet pergi atau saya ringkus ke kantor polisi?!” pekik Alana saat berhasil mengalahkan penjambret yang tersungkur ke trotoar. “Maaf Mbak, ampun.” Penjambret itu ketakutan dan lari terbirit-b***t meninggalkan Alana. Sementara itu, Alana memungut tas di trotoar dan menyerahkannya pada ibu paruh baya. “Ini Bu tasnya,” ucapnya ramah. “Makasih banyak ya Mbak, Mbak udah nyelametin tas saya. Saya nggak tahu harus cari uang kemana lagi kalau tas ini di jambret.” Ibu paruh baya terharu dengan aksi Alana, dia sampai meneteskan air mata. “Sama-sama Bu. Sekarang ibu pulang ya,” pinta Alana mengulum senyum. Alana menghela napas panjang dan merapikan outfit tomboynya. Dia bahagia bisa mengalahkan penjambret. Kini, giliran dia pulang karena merindukan sang mama yang sudah pulang dari tugas luar kota. Sayangnya, langkahnya terhenti saat mendengar suara tepuk tangan di belakangnya. “Aku nggak nyangka, selain cantik juga jagoan ya,” puji Alvar berdiri di hadapan Alana. Alana kikuk, dia tak menyangka aksi berkelahinya diketahui Alvar. Dia pun menggaruk pelipisnya yang tak gatal, apalagi Alvar memandangnya dalam. Seolah mencari kehebatan apa yang ada di diri Alana. “Apaan sih, kenapa tiba-tiba disini?” tanya Alana mengalihkan perhatian. “Diaz minta bakso. Aneh-aneh aja deh tuh anak, baru balik rumah sakit mintanya bakso yang pedes,” ucap Alvar kesal. “Apa? Jangan dong. Ntar aku yang disalahin Bu Maria kalau makanan Diaz nggak sehat.” Alana ikut emosi dengan keinginan Diaz, padahal jika Diaz salah makan akan berdampak pada dirinya. “Kalau gitu, kamu ikut aku aja. Diaz mana mau di bujuk makanan sehat 5 sempurna, dia tuh nggak bisa gaya hidup sehat,” ucap Alvar jujur. “Jadi, kebiasaan Diaz nggak sehat?” tanya Alana memastikan. “Ya, namanya anak geng motor. Mana ada sih yang hidup sehat,” ungkap Alvar mengagetkan Alana. DEG!!!! Anak geng motor? Alana menatap Alvar penuh selidik. Apa mungkin Diaz juga anak geng motor? Jika benar, mengapa selama ini Alana tak pernah melihat Diaz di arena balap motor. Pikiran Alana menerawang jauh, apakah mungkin pembalap yang selama ini bertopeng dan yang berhasil dikalahkan adalah Diaz? Tetapi, itu tak mungkin. Kawasan Jakarta luas dan terlalu sulit menebak satu orang sebagai orang terduga. “Hey, mau nggak ikut aku bujuk Diaz biar merubah gaya hidupnya?” tawar Alvar membuyarkan lamunan Alana. “Eh.. Ya udah boleh, tapi bentar aja ya. Soalnya aku kangen rumah.” Alana akhirnya bersedia ikut ke rumah Diaz, dia tak ingin Diaz kembali ke rumah sakit karena tak bisa menjaga asupan makanan dan minuman. “Siap! Kamu emang cewek idaman ya,” ucap Alvar lirih. “Apa?” tanya Alana terkejut. Alvar malah terkekeh, dia tak menjawab pertanyaan Alana. Malahan Alvar naik motor dan meminta Alana memboncengnya, Alana pun bersedia ikut. Untunglah Alana naik ojek online sehingga tak pikir panjang boncengan dengan Alvar. “Haduh, ke rumah Diaz lagi. Entah kenapa, setiap ke rumah Diaz selalu deg-degan. Padahal kan aku sukanya sama Kak Brian, tapi kenapa sama Diaz malah deg-degan ya? Masa iya suka sama 2 cowok sekaligus?!” Batin Alana. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD