“Kenapa sih aku marah liat Vanes sering kasih hadiah ke Diaz. Jelas-jelas aku sukanya Kak Brian. Ngapain ngurusin Vanes dan Diaz,” gerutu Alana di taman belakang kampus. Alana heran dengan sikap dirinya yang kesal melihat kedekatan Diaz akhir-akhir ini.
“Kayaknya ada yang marah nih.”
Alana tertegun mendengar suara laki-laki di hadapannya, dia segera menoleh dan melihat Diaz mengulum senyum khasnya. Senyuman yang membuat kaum hawa terpana dengan ketampanan Diaz, bahkan tak dipungkiri Alana merasakan hal itu. Terdapat letupan kecil di hati Alana setiap menatap mata Diaz. Untuk itulah Alana berusaha keras tak memandang mata elang itu karena dia hanya ingin menyukai Brian.
“Enggak. Siapa yang marah,” elak Alana santai.
“Ya udah, nih buat kamu biar hati dan pikirannya enakan.” Diaz menyodorkan es krim Cornetto coklat. “Kamu sukanya coklat kan?” tebaknya cepat.
“Kok tahu sih?” Alana heran mengapa Diaz mengetahui rasa es krim favoritnya. Padahal dia tak pernah makan es krim di hadapan Diaz.
“Vita sama Keyla yang bilang.” Diaz berkata enteng, kemudian membuka bungkus es krim dan mulai menyantap es krim.
Dalam hati, Alana kesal pada kedua sahabatnya. Dia heran mereka mendukungnya membuka hati untuk Brian atau Diaz karena mereka memberitahukan makanan maupun minuman favoritnya.
“Ya udah, makasih ya,” sahut Alana gugup seraya mengambil es krim dari tangan Diaz.
“Oya Alana, makasih ya. Aku harap kedepannya, kita bisa jadi sahabat,” ungkap Diaz tulus.
“What? Sahabat? Aku nggak salah denger nih. Kok mendadak mellow ya kamu. Padahal biasanya sok cool dan sok berkuasa,” sindir Alana seraya menikmati setiap gigitan es krimnya.
Diaz hanya mengulum senyum menanggapi sindiran Alana. Diaz tak menyalahkan Alana yang sok dengan permintaan persahabatan, bahkan semua orang pasti shock melihat perubahan sikapnya karena Diaz yang biasanya menjadi pribadi sok cool dan berwibawa mendadak melow. Hal itu karena Diaz ingin menjadi lebih baik di sisa umurnya, Diaz ingin lebih bermanfaat bagi orang lain.
“Diaz, apa kamu ada masalah?” tanya Alana heran karena sikap Diaz berubah 100 persen.
Diaz menggeleng. “Selama aku di rumah sakit, aku ketemu dengan orang yang semangat hidupnya tinggi. Walaupun dia terkena penyakit parah, tapi tetap berjuang dan menebar kebaikan. Makanya, aku sadar dan pengen lebih bermanfaat buat orang lain.” Diaz memilih mencari alasan karena tak ingin Alana dan semua orang mengetahui penyakitnya.
Alana menganggukan kepala. “Oke, aku terima persahabatan kamu,” Alana mengulurkan telunjuknya. Menandakan agar Diaz mengaitkan telunjuknya.
“Oke, makasih ya.” Diaz mengulum senyum dan mengaitkan telunjuknya. Diam-diam Diaz menghela nafas lega karena bisa menjadi sahabat Alana. Tak bisa dipungkiri kalau di dekat Alana membuat Diaz lebih bersemangat.
“Alana, mau nggak jalan-jalan?” tawar Diaz setelah menghabiskan es krim di tangannya.
Alana tak menjawab tawaran Diaz secara langsung. Dia memutar bola matanya kesal karena Diaz malah mengajaknya jalan-jalan. Padahal rencana Alana setelah selesai kuliah, adalah bertemu Brian bersama Vita dan Keyla.
“Kirain sendirian, ternyata sama Diaz,” seru Keyla menghampiri Alana dan Diaz.
“Syukurlah, Keyla dan Vita kesini. Jadi aku nggak perlu cari alasan penolakan jalan-jalan.” Alana berkata dalam hati, dia lega karena kedua sahabatnya pasti datang menjemputnya.
“Eh kalian, eumm... boleh nggak pinjem Alana sebentar. Mau ngajak dia jalan-jalan,” pinta Diaz ramah.
Mendengar ucapan Diaz yang tak basa-basi, mulut Vita dan Keyla menganga karena shock. Laki-laki yang di awal pertemuannya dengan Alana menjadi rival dan saling menjatuhkan, mendadak bersikap manis dan bersedia mengajak Alana jalan-jalan. Tentunya Vita dan Keyla bahagia dan mengulum senyum.
“Silahkan,” sahut Vita dan Keyla serentak.
Alana terkejut mendengar jawaban sahabatnya, dia melototi Vita dan Keyla. Namun, saat Diaz menoleh buru-buru mengulum senyum terpaksa. “Sial! Kenapa mereka malah ngizinin sih. Bukannya bilang ada janji.” Batin Alana kesal.
“Ya udah, ayo Alana,” ajak Diaz cepat. Dia berjalan ke arah parkiran yang disusul Alana yang mengerucutkan bibir kesal sepanjang jalan.
***
Sepanjang jalan, Diaz memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Diaz sengaja memilih jalan yang sepi sehingga laju motornya tak terhambat kemacetan. Namun, Alana enggan melingkarkan tangannya di pinggang Diaz. Padahal Diaz sengaja mengendarai motor zig zag agar Alana ketakutan.
“Berani juga ya kamu nggak pegangan,” seru Diaz kagum.
“Udah biasa. Kalau kamu mau, kita bisa tukeran posisi,” sahut Alana enteng.
Dari balik helmenya, mata Diaz membulat karena terkejut dengan perkataan Alana. “Kamu cewek, mana bisa balapan,” ejeknya seraya terkekeh.
“Turun! Aku buktikan sekarang juga,” pinta Alana tegas. Dia tak rela direndahkan oleh Diaz, walaupun seorang wanita tetapi dia adalah wanita yang tangguh.
“Aku gak mau masuk rumah sakit gara-gara kamu ya.” Diaz enggan menghentikan motornya dan menuruti kemauan Alana berganti posisi. Bisa-bisa terjadi kecelakaan hebat kalau Alana mengendarai motor gedenya.
“Berhenti atau aku akan loncat,” ancam Alana dengan nada tinggi agar suaranya terdengar jelas oleh Diaz.
“Baiklah.” Diaz akhirnya mengalah, dia menepikan motornya dan membuka helm. Sementara Alana turun dan berdiri di samping Diaz.
“Turun,” pinta Alana tegas.
Diaz menelan ludah gusar. Mana mungkin dia membiarkan Alana mengendarai motor gedenya, Alana pasti tak pandai mengendarai motor gedenya. “Nggak usah ya, aku aja.”
“Tenang aja. Aku nggak bakal bawa kamu ke rumah sakit kok,” Alana terkekeh. Dia memegang bahu Diaz sebagai kode agar Diaz bersikap tenang.
Alana melemparkan seulas senyum. Sorot matanya berubah tegas sebagai Alana sang pembalap handal. Dengan gayanya, Alana naik motor Diaz dan memainkan gas layaknya sang pembalap siap melajukan motornya.
“Ayo naik,” pinta Alana cepat.
“Jangan ngebut.” Diaz akhirnya pasrah, walaupun ragu di bonceng Alana tetapi Diaz berusaha tenang. Diaz berharap Alana bisa menguasai laju motornya dan sampai ke tujuan dengan selamat.
Senyuman Alana menyungging, kerinduannya mengendarai motor dengan kecepatan diatas rata-rata membuncah memenuhi pikirannya. Dalam hitungan 3, Alana memacu motor Diaz membelah jalanan Ibukota. Gaya mengemudi Alana yang lihai layaknya pembalap membuat Diaz tertegun, bagaimana bisa seorang perempuan bisa mengendarai motor layaknya pembalap. Banyak pertanyaan muncul di benak Alana mengenai sosok Alana sebenarnya? Apakah dia seorang pembalap?
“Kok diam. Takut ya,” sindir Alana terkekeh.
“Kenapa kamu bisa ngelakuin ini?” tanya Diaz heran.
“Ini hal biasa. Setiap malam aku balapan sama geng, rasanya tuh buat aku nyaman karena terpaksa kuliah kedokteran,” ungkap Alana membuat Diaz terperangah.
“Stop.” Diaz berkata lantang saat melewati warung seafood favoritnya. Tentunya, Alana sigap mengerem di depan warung tersebut. “Jago juga ya, lain kali bisa ya kita balapan,” tawarnya seraya melepas helm dan turun dari motor.
“Boleh.” Alana mantap meladeni tantangan Diaz, dia ingin mencari tahu apakah Diaz adalah pembalap misterius yang pernah dikalahkan atau bukan. Jika benar, berarti dia dan Diaz memiliki hobi yang sama. Tentunya, Alana bisa sering mengajak Diaz balapan saat suntuk.
“Kita makan dulu ya, aku laper nih.” Diaz memandang Alana, kemudian melenggang masuk ke warung nasi Padang diikuti Alana.
***