Alana memapah Diaz masuk Taxi online dengan bantuan supir Taxi. Kemudian Alana masuk ke jok belakang, menemani Diaz. Diaz pun melemparkan senyuman manis ke Alana.
"Ke rumah sakit Setya Medika ya Pak," ucap Alana pada supir Taxi.
"Baik Mbak." Supir Taxi berkata ramah, lalu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan standar.
Smentara Alana membuka air mineral yang di beli sebelum naik Taxi. Alana menyerahkannya pada Diaz. "Kamu minum dulu ya," pintanya masih khawatir.
"Makasih ya," sahut Diaz mengulum senyum.
Sementara itu, sang supir Taxi melihat Diaz dari spion yang terletak di atasnya. Supir Taxi yang berumur kisaran 45 tahun itu iba karena Diaz basah kuyup, dia pun menghentikan mobilnya dan menoleh ke belakang.
"Maaf Mbak, itu Masnya kenapa ya? Kok basah kuyup," ucap supir Taxi penasaran.
"Tadi tenggelam di danau Pak. Makanya saya bawa ke rumah sakit, saya khawatir ada hal serius," sahut Alana penuh kasih sayang.
"Maaf Mbak, sebaiknya baju Masnya diganti dulu. Kasian tuh kedinginan," pinta supir Taxi mantap, membuat Alana dan Diaz terkejut dan saling memandang.
Alana tersenyum ragu. "Tapi siapa yang ganti Pak, Diaz lagi lemes nggak mungkin bisa ganti baju sendiri lah. Nggak mungkin juga saya kan Pak," ucapnya polos.
Supir Taxi terkekeh. "Biar saya yang baru ganti, Mbak ada baju gantinya kan?"
"Nggak ada Pak." Alana memandang sekitar, tak jauh dari mobil terdapat toko pakaian. "Saya beli pakaian dulu ya Pak, kebetulan banget ada toko pakaian," ucap Alana, lalu keluar membeli pakaian.
Diaz memandang kepergian Alana, dia tak tega melihat Alana malah merawatnya. Tak seharusnya wanita sebaik Alana merawatnya yang penyakitan, harusnya dia yang merawat gadis baik itu.
"Itu kekasihnya ya Mas," tebak supir Taxi.
"Bukan Pak, dia teman kuliah," sahut Diaz lirih.
"Wah beruntung banget dong Mas, Mas bisa punya teman sebaik dia. Ketulusannya luar biasa, bahkan dia panik banget. Kalau dia masih jomblo jadiin kekasih aja Mas, nggak ada loh wanita setulus itu di zaman now kaya gini," nasehat supir Taxi, membuat Diaz tampak berpikir.
Alana membuka pintu belakang dan menyerahkan pakaian ke Diaz. "Pak tolong ya Pak, saya tunggu di luar," ujarnya tersipu malu.
"Baik Mbak," sahut supir Taxi, dia memperhatikan Alana menutup pintu dengan wajah merona. "Tuh Mas, menurut saya dia suka deh sama Mas nya," tebak supir Taxi.
"Masa sih Pak?" tanya Diaz tak percaya.
"Bener Mas. Masa Mas nggak peka sih, walaupun dia nggak bilang tapi wajah dan gestur tubuhnya mengatakan dia suka sama Mas," ucap supir Taxi yakin.
"Ya sudah, nanti saya pikirkan Pak."
Supir Taxi pun membantu Diaz mengganti baju. Sementara Alana masuk mobil setelah mendengar klakson dari supir Taxi, Alana kembali duduk di samping Diaz. Kali ini dia memilih memandang jendela karena malu, kejadian hari ini benar-benar membuat Alana shock dan tak pernah terbayangkan olehnya. Pertama, dia harus memberikan napas buatan untuk Diaz. Kedua, dia harus membeli pakaian Diaz melihat Diaz mengganti pakaian, walaupun bukan dia yang membantu tetapi tetap saja malu.
"Oya Alana, Kayla sama Vita nggak nyariin kamu?" tanya Diaz, tak enak hati karena Alana malah bersamanya.
"Nggak kok. Hari ini dia nggak main di rumah, ada janji sama keluarga katanya sih," sahut Alana lembut.
Sepanjang jalan, Alana dan Diaz kikuk mengobrol. Alana larut dalam perasaannya karena malu, sementara Diaz juga malu karena keyakinan supir Taxi yang mengatakan Alana menyukainya. Alhasil, tak ada obrolan lagi sampai Taxi memasuki area depan rumah sakit.
"Makasih ya Pak, ini Pak," ucap Alana seraya memberikan yang pada supir Taxi.
"Sama-sama Mbak," sahut supir Taxi menerima uang dari Alana.
"Permisi ya Pak," pamit Diaz.
"Iya Mas. Cepet sembuh ya, kan dijagain gadis cantik," ledek supir Taxi, membuat Alana dan Diaz terlontar kaget.
Alana merutuki supir Taxi yang sempat-sempatnya menggoda. Namun, Alana menyampingkan, dia membantu Diaz keluar dari mobil dan membawanya masuk. Saat itulah seorang suster menghampiri Alana dan Diaz membawa kursi roda.
"Mari Mas, silahkan," ucap suster merapat Diaz duduk di kursi roda.
Alana lega karena Diaz akan ditangani dokter, dia berharap tak ada luka serius akibat tenggelam. Alana pun mengekor suster yang mendorong kursi roda Diaz. Mereka masuk ke lift menuju lantai 3.
***
Alana memilih pergi ke kantin terlebih dahulu selama Diaz diperiksa dokter. Alana bahkan memesan 3 gelas es teh dan satu mangkuk bakso, dia sengaja memesan banyak untuk menetralkan pikirannya. Sampai saat ini, Alana masih terbayang-bayang adegan saat dia memberikan napas buatan ke Diaz. Alana menutup wajahnya dengan permukaan tangannya, dia merasa malu pada Diaz dan dirinya sendiri.
"Alana," panggil seorang dokter cantik menghampiri Alana.
Alana mendongakkan kepala, menatap seorang perempuan berpenampilan dokter. Wanita itu tampil anggun dan berwibawa dengan berhijab.
"Ehmmm iya Dok, apa ada yang bisa saya bantu," ucap Alana ragu, dia tak mengenal dokter itu namun sang dokter mengenal namanya.
"Kamu pasti lupa sama aku ya, tapi aku nggak mungkin lupa sama kamu. Aku Zaskia, Alana," ucap Zaskia ramah, dia duduk di samping Alana.
"Zaskia?" Alana berpikir keras, mencoba mengingat siapa Zaskia. Sang dokter cantik di hadapannya, sampai akhirnya Alana ingat kalau Zaskia adalah kakak kelasnya semasa SMA. Zaskia yang menjadi sahabat semasa SMA yang hilang kontak 2 tahun ini.
"Udah ingat?" tanya Zaskia mengulum senyum.
Alana mengangguk, dia memeluk Zaskia erat. "Maafin aku ya, aku malah lupain kamu. Padahal kamu masih ingat aku," sesalnya.
"Nggak masalah kok, kita ini sudah banyak berubah. So, aku nggak nyalahin kamu kalau lupa," sahut Zaskia ramah.
"Kamu udah jadi dokter Zas?" tanya Alana tak percaya, namun bangga dengan pencapaian Zaskia.
"Belumlah, jadi dokter itu butuh perjalanan panjang Alana. Aku masih terus berjuang, aku baru jadi asisten dokter gigi," ungkap Zaskia bangga.
Alana takjub dengan kesuksesan Zaskia. Saat SMA, Zaskia adalah kakak kelas Alana. Zaskia sudah kelas 9 tetapi Alana baru kelas 7, namun mereka berhasil menjadi sahabat. Bahkan Alana kerap menceritakan urusan pribadinya pada Zaskia.
"Oya, kamu masih semangat kan kuliahnya?" tanya Zaskia penuh selidik.
Alana terkekeh, dia menggaruk keningnya yang tak gatal. Sikap Alana membuat Zaskia mengetahui jawaban Alana, Zaskia langsung kecewa dengan sikap Alana.
"Kenapa kamu nggak fokus kuliah? Harusnya kamu semangat dan wujudin keinginan almarhum Nenek melihatmu jadi dokter," nasihat Zaskia bijak.
Alana memandang Zaskia, ucapan Zaskia memang benar. Apalagi Alana berjanji di hadapan jenazah sang nenek, dia berjanji akan menyelesaikan kuliahnya dan menjadi dokter bedah profesional.
"Kalau kamu berat menjalaninya, aku siap bantuin kamu kok. Aku siap bantuin biar kamu berhasil menjadi dokter," janji Zaskia.
"Maksud kamu?" tanya Alana heran.
"Aku akan ditugaskan di rumah sakit ini. Otomatis aku nggak kembali ke Prancis lagi, aku akan menetap di sini. Di Indonesia bersama ayahku," ucap Zaskia mantap.
"Kamu serius mau tinggal di Indonesia lagi?" tanya Alana penasaran.
Zaskia mengangguk. "Iya dong. Makanya kamu semangat kuliahnya ya, nanti kamu bisa nambah wawasan ke ayahku. Ayah akan berikan wawasan ke kamu.
"Malu ah, masa iya aku minta tolong sama dokter hebat. Nggak bakalan berani aku."
"Tenang, kan aku yang handle," ucap Zaskia bangga.
Alana terkekeh. "Oke deh, aku akan berusaha kuliah yang bener ya."
"Jangan Oke oke aja, buktikan dong," nasihat Zaskia seraya terkekeh agar Alana tidak tersinggung.
Alana menghela napas panjang. "Aku wajib banget belajar tentang ilmu ke kamu nih. Kamu hebat banget deh."
Zaskia mendadak menatap Alana serius. "Apa kamu udah move on dari masa lalu kamu Zi?" tanyanya hati-hati.
Alana menghembuskan napas kesal. "Kalau aku udah lupain dia, aku nggak akan merubah diri seperti ini Zi. Sekuat tenaga aku berusaha lupain dia tapi aku nggak bisa."
"Tapi kan dia udah nyakitin kamu, bahkan dia nggak nolongin kamu saat kebakaran," ungkap Zaskia sedih, Zaskia yang mengetahui masa lalu Alana merasa iba dengan kehidupan Alana.
"Udahlah, nggak usah bahas itu dulu. Aku lagi nggak mood," pinta Alana cepat, dia tak ingin membahas masa lalu yang membuatnya terluka.
"Oke, ya udah makan yuk. Laper nih," ajak Zaskia lembut.
"Oke," sahut Alana semangat.
Alana dan Zaskia melepas kerinduan dengan membahas kenangan semasa mereka bersama diiringi menyantap makanan andalan mereka, yaitu bakso. Setelah makanannya habis, Alana memilih pamit menemui Diaz.
"Zaskia, aku duluan ya. Kasian temenku pasti nungguin," pamit Alana.
"Oke, ntar kabar-kabar ya."
"Siap." Alana bangkit, dia menyampirkan tasnya di bahu kanan seraya mengulum senyum. "Bye," ucapnya lalu berlalu pergi.
Alana memikirkan nasihat Zaskia, nasihatnya memang benar. Tak seharusnya Alana malas kuliah, seharusnya dia semangat agar bisa menjadi dokter. Dengan begitu keluarga Alana akan bangga memiliki Alana, Alana bahkan berpikir Neva akan malu jika Alana berhasil menyelesaikan kuliah dan menjadi dokter. "Oke, aku akan buktiin. Aku akan buat Kak Neva malu udah rendahin aku," ucap Alana dalam hati.
***