Raphael melambat dan berhenti di lampu lalu lintas, menoleh ke arahku dan menatapku dengan tatapan marah. “Sekarang ulangi dalam bahasa Inggris,” geramnya. Aku tersenyum menghina dan melontarkan kata-kata kotor dalam bahasa Belarus, semua ku ditujukan padanya. Dia tidak bergerak, tapi tatapannya semakin tajam setiap detiknya. Begitu lampu berubah menjadi hijau, dia menginjak pedal gas. “Aku akan menghilangkan rasa sakitmu. Atau setidaknya alihkan pikiranmu,” katanya, dan mulai membuka kancing celanaku dengan tangan kanannya. Tangan kirinya masih di kemudi, tapi tangan kanannya menyelinap ke balik celana dalamku. Aku menggeliat dan tersentak di tempat dudukku, mengutukinya dan memintanya untuk tidak melakukan hal itu, namun sudah terlambat. "Raphael, aku minta maaf!" Aku menangis. "Aku

