Bunyi jam weker menusuk kedalam otakku.
“Bangun, sayang ayo bangun. Sudah jam sembilan. Kita harus segera berada di bandara dalam satu jam kedepan. Liburan ke Venezia sudah menunggu. Bangun bangun, ayo bangun!" Alvaro berteriak dari depan pintu kamar.
Aku membuka mataku perlahan lahan, dan dengan enggan. Ini tengah malam bagiku, sungguh ide yang sangat buruk untuk terbang saat ini, pikirku. Sejak meninggalkan pekerjaan beberapa minggu yang lalu, waktu tidak lagi masuk akal bagiku. Aku akan tidur larut malam, bangun sesuka hati, dan yang terburuk adalah aku tidak perlu melakukan apa pun, bisa melakukan apa yang aku inginkan. Aku sudah terlalu banyak menghabiskan waktu di Double Tree Hotel Minsk dan ketika akhirnya mendapatkan posisi yang ku impikan sebagai manajer penjualan, aku malah berhenti mengundurkan diri. Ku merasa kehilangan gairah untuk pekerjaanku itu, dan tidak pernah berpikir bahwa pada usia dua puluh tujuh aku akan merasa lelah, tetapi itulah faktanya.
Bekerja di Double Tree Hotel Minsk telah terpenuhi dan terpuaskan, dan itu baik untuk egoku. Setiap kali menegosiasikan kontrak besar, aku merasakan sensasi kegembiraan, dan ketika negosiasi itu melibatkan persaingan dengan orang-orang yang lebih berpengalaman yang mahir dalam seni manipulasi, aku sangat gembira. Apalagi saat aku menang. Setiap kemenangan kecil dalam pertempuran keuangan memberikan aku perasaan superioritas, itu memuaskan bagiku. Ini mungkin terdengar bodoh, tetapi sebagai seorang gadis dari kota kecil di Belarus yang bahkan belum lulus universitas, membuktikan kepada semua orang di sekitar adalah prioritas.
“Aku membuat minuman ada cokelat dan teh” Alvaro berdiri di ambang pintu, memegang cangkir di masing-masing tangan. Dia berjalan mendekati Valerie dan kemudian mulai menarik seprai dari tempat tidur.
Aku mulai kesal padanya. Ku tahu dia tidak akan mengalah. Alvaro memamerkan giginya dengan seringai lebar, dia bertubuh kekar, seperti pria banteng dengan kepala botak bertengger di atas leher lebar. Orang-orang menyebutnya kepala otot. Selain dari aspek fisik murni, dia adalah manusia terbaik yang pernah kutemui. Dia memiliki perusahaan sendiri, dan setiap kali dia memenangkan sesuatu kerjaan, dia akan mentransfer dana berjumlah besar ke panti pengasuhan anak. Dia suka mengatakan: "Saya perlu berbagi berkat Tuhan dengan orang lain."
Alvaro memiliki mata biru, lembut dan penuh kebaikan. Hidungnya besar dan bengkok karena pernah patah di masa lalu. Tidak ada orang yang sempurna, dan ia tidak selalu bijaksana dan sopan, seperti yang ia lakukan saat ini. Yang paling kusukai darinya adalah bibirnya yang penuh dan senyum yang spektakuler yang selalu melucutiku setiap kali aku marah padanya. Lengan yang besar ditutupi dengan tato, dia adalah pria yang kuat. Aku selalu merasa aman bersamanya, meskipun harus ku akui bahwa dengan badan mungil seberat 46kg dan tinggi 155cm, aku mungkin terlihat sedikit tidak cocok dengannya. Aku berlatih apa pun yang kusuka, yang akhirnya tubuhku sangat bugar, perutku keras dan rata sempurna, kaki ramping dan berotot, p****t yang kencang dan melengkung. Sudah begitu banyak squat yang kulakukan hingga menjadi seperti saat ini.
"Baiklah, oke, aku bangun" gumamku, lalu mengambil cangkir yang dipegang Alvaro dan meminum cokelat lezat yang sekarang dingin itu dalam sekali teguk. Ku letakkan cangkir kenakas dan pergi ke kamar mandi. Ketika ku berhenti di depan cermin, dan menyadari betapa aku membutuhkan liburan ini. Dengan segera ku mandi, kemudian berdiri didepan cermin lagi merias diri, tidak begitu lama ku berdandan, cukup dengan maskara dan lipstik, karena seminggu yang lalu aku baru menyulam alisku agar terlihat rapi dan tidak repot saat akan berdandan seperti saat ini, lalu memasang beberapa jepit di rambutku. Beranjak ke lemari untuk mengambil pakaian yang telah kusiapkan hari ini. Satu hal yang selalu tetap sama bagiku, terlepas dari suasana hatiku dan semua hal yang tidak dapat ku ubah, aku harus berpakaian sesempurna mungkin. Mengenakan pakaian yang tepat membuatku merasa lebih baik. Jelas, itu membuatku terlihat lebih baik juga.
Ibuku selalu berkata bahwa seorang wanita harus selalu cantik meskipun dia terluka. Dan jika wajahku tidak bisa semenarik itu pada hari yang baik, aku harus mengalihkan perhatian semua orang darinya. Jadi untuk perjalanan ini aku memilih celana pendek denim ringan, kemeja putih longgar, dan kardigan katun abu-abu terang. Meskipun di luar panas terik dan membuatku mendidih dahulu diluar, setidaknya aku merasa nyaman di dalam pesawat. Aku menyelipkan kakiku ke sepatu kets putih abu-abu tumit Isabel Marant dan aku siap.
“Aku siap, sayang. Aku hanya perlu menutup ritsleting koper, yang tidak akan mudah, dan kita bisa pergi.”
Sambil tertawa, Alvaro berdiri, memasukkan laptop ke dalam tasnya, dan menuju ke koperku. "Kupikir aku akan berhasil, sayang” katanya, menekan koper raksasaku. “Ini hal yang sama lagi, kan? Terlalu banyak isi, sepuluh pasang sepatu dan setengah lemari pakaian terbang bersama kita, sementara kamu tidak akan memakai sepuluh persen dari semua ini”.
Aku mengerutkan kening dan menyilangkan tanganku. "Setidaknya aku akan punya pilihan!" Balasku, sambil memakai kacamata hitamku.
Kami berangkat bersama teman-teman Alvaro, mereka sudah menunggu di bandara keberangkatan. Anya dan Roy sudah bersama selama bertahun-tahun dan merekalah yang menentukan perjalanan ini.
Terakhir kali aku ke Venezia, saat berusia enam belas tahun, itu sudah sebelas tahun yang lalu dan sekarang aku datang kembali. Ketika kami akhirnya mendarat di Venezia, matahari sudah terbenam. Kami terjebak dalam antrian panjang selama satu jam. Alvaro lapar dan gelisah, suasana hatinya yang buruk menular padaku, bosan hanya duduk menunggu jadi aku memutuskan untuk melihat-lihat disekitaran tempat itu. Tidak banyak yang bisa dilihat, aku keluar dari gedung ber-AC, melihat keadaan diluar ruangan. Berjalan dengan kepala di awan, aku tidak melihat ujung trotoar, tiba-tiba lelaki besar muncul entah dari mana dan aku hampir berjalan ke arahnya. Aku berhenti, tercengang, beberapa inci dari punggung pria itu, tetapi dia bahkan tidak bergeming, tidak menyadari bahwa aku hampir menabraknya. Sekelompok pria mengenakan setelan gelap berjalan keluar dari terminal bandara. Pria di depanku terlihat seperti sedang mengawal mereka. Aku tidak menunggu mereka lewat, malah berbalik dan berjalan kembali ke ruangan. Ketika aku sudah dekat, tiga SUV hitam lewat, yang di tengah sepertinya sedikit melambat untuk sesaat, tapi aku tidak bisa melihat apa pun di dalam melalui jendela yang gelap.
“Valerie!” Aku mendengar Alvaro memanggil, kunci mobil kami tergenggam di tangannya. “Mau kemana kamu? Ayo kita berangkat!”
--------------