“Ekspresimu, Valerie, memberitahuku bahwa kamu tidak memikirkan barang-barang yang akan kamu bawa untuk perjalanan kita.” Aku menggelengkan kepalaku seolah-olah aku baru saja bangun dan mencoba mengusir mimpi yang masih ada. Raphael berdiri dengan posisi yang sama dengan siku menempel ke dinding. Satu-satunya perbedaan adalah sekarang dia memperhatikanku, jelas-jelas menikmatinya. Aku panik dan tidak bisa memikirkan apa pun untuk dikatakan. Satu-satunya hal yang terpikir olehku hanyalah menghisap kejantanannya. Kepanikan ku memikatnya, seperti binatang yang terluka menarik perhatian pemangsa. Raphael mulai menuju ke arahku, dan aku melakukan semua yang ku bisa agar mataku tetap tertuju padanya. Dia menutup jarak antara kami dalam tiga langkah. Itu bagus, objek obsesiku lenyap dari pandang

