Masa Depan Vs Masa Lalu

1588 Words
Aroma tanah menguar, menghantarkan perasaan-perasaan kelabu di bulan ini. Langit yang mengabu membuat tunggu menjadi membosankan. Bumi terasa basah, amat basah hingga membangunkan gigil pada sela-sela kebimbangan seorang gadis. Ia mengenakan pakaian rapi, sebuah kemeja sewarna melati dengan stelan rok panjang berwarna hitam, poninya diombang-ambingkan tanpa arah oleh angin. Hujan dan menunggu seperti paket setia di pertengahan tahun. Dan gadis itu terus menunggu ponselnya berdering meski hujan melambai-lambai riang. Waktu tidak tenang, ia gusar, khawatir acaranya terpaksa ditinggalkan, bukan tersebab hujan turun mendayu-dayu membuat pedagang asongan meringkuk di bawah atap-atap ruko, menghalangi pejalan kaki menuju tempat terdekat, membiarkan lampu merah diterobos laju mobil-mobil mewah, mengacuhkan riak air yang menggenang di jalan berlubang, hujan tetaplah menjadi momen menyenangkan baginya meski perasaannya gelisah, ia tidak marah hujan turun bukan pada waktu senggangnya. Detik itu dia dipersibuk mempersunting waktu dengan kanvas yang sudah diperciki cat oleh jemari-jemarinya, ia menentengnya, membungkus dengan koran sebelum akhirnya dimasukkan ke dalam tas jinjing yang terbuat dari kain flanel. Ia menatap langit hampa, menerawang bias wajah Akhtar di sebuah ruangan, mungkinkah sedang rebah mengatupkan pandangan, lupa dengan janji yang pernah ditanam? Berkali-kali ia berusaha menyambung suara melalui ponsel yang digenggamnya, hasilnya sia-sia, tak ada tanda-tanda akan segera terhubung. Nomor Akhtar tidak aktif. Ia sudah terlambat dua puluh tiga menit. Andaikan kejadiannya akan seperti itu, tentu ia tak akan menghamburkan kesempatannya tadi berangkat bersama teman-teman kampus. Lukisannya sudah terpajang di sanggar kesenian kota, dinas pendidikan dan kebudayaan sudah membuka acara seperti ritual-ritual formalitas pada umumnya, tepuk tangan meriah, seniman-seniman merasa tersanjung, dan ia belum berada di sana padahal lukisan yang paling ditonjolkan di ruang pameran adalah miliknya. Lukisannya terletak di pusar ruangan, diberdirikan anggun dengan ikatan tali menggantung. Ini adalah pertamakalinya Akhtar ingkar janji. Caca kecewa, ia menggulung senyumnya, melenyapkan kegembiraannya bersama kabut-kabut di langit. Ia lirik jam tangan yang melingkar percuma, empat puluh menit menjadi masa lalu. Ia melangkah setengah berlari menuju halte, membiarkan tubuhnya diguyur hujan deras, lukisannya didekap erat. Sepatunya basah, rambutnya meneteskan air hujan. Tapi ia tetap harus pergi ke sanggar. Ia tak mengharap lukisannya dilelang dengan harga jutaan, ia juga tak bernafsu memiliki banyak penggemar, ia tidak peduli jika takdir menilai lukisan-lukisannya tidak menarik, ia tidak memikirkan bagaimana publik akan menilai, yang jelas ia ingin mengabarkan kepada mata-mata dunia bahwa sosok yang ia lukis adalah kakaknya. Seorang perempuan penggendong luka di bumi pertiwi, seorang riang yang dicuri keceriannya oleh waktu, sosok kuat yang mendadak dilemahkan oleh perasaannya, sosok yang kini mencari rupiah di kota tetangga. “Aku tidak tahu cara menggali janji yang telah ditanam, mungkin ia telah mati karena tidak kau beri pupuk, Kak.” Pesan terakhir Caca bernada pahit. Pesan itu tak menuai balasan. Caca memesan Go-jek. Ia berangkat menyusul keterlambatannya. Semoga masih ada orang yang memberikan sisa-sisa senyuman kepadanya. Caca menerobos keramaian, ia berjalan semau diri, tidak mempedulikan teman-teman kampus yang menyapanya. Ia hendak berdiri di tengah-tengah titik lukisan. Bibirnya ingin menjelaskan jika ada pengunjung bertanya. Mata-mata sibuk bergerilya menjelejahi setiap lekuk tubuh cat yang dihambarkan di permukaan kanvas, mencoba menerjemahkan makna artistik sesuai dengan latar kehidupan masing-masing penglihat. Pada dasarnya mereka tidak paham, hanya kagum dengan pesona keindahanan yang dipadukan oleh warna-warni alam. Tangan mereka hendak meraba, namun kaca tipis menjadi pelapis dan penghalang sentuhan. Lukisan-lukisan dipamerkan tanpa boleh disetubuhi oleh kulit-kulit kecuali oleh seniman penciptanya sendiri. Pengunjung berjalan mengelilingi ruangan, setiap mendapati lukisan yang bagi mereka menarik maka akan mengabadikan momen berharga pada pigura foto. Sayang sedikit yang tertarik dengan lukisan Caca, aura pedih pada lukisannya membuat pengunjung sedikit bergidik. Pengunjung lebih menyukai lukisan abstrak dengan campuran warna mencolok, membentuk sketsa tubuh-tubuh alam atau menggambarkan rupa manusia. Ketika Caca berhasil berdiri di titik yang ia harapkan, pengunjung telah bubar, acara dipeluk sepi nyata, beberapa teman mulai pamit pulang, sisanya panitia dan hening yang mendekap kepiluan jiwa Caca. Semuanya tidak sia-sia, namun menjadi debu. *** “Kita hidup di dunia nyata, Fir. Tidak mungkin aku bisa bertanggungjawab sendirian, administrasi juga memerlukan tanda tangan, biaya dan lainnya lagi.” Jelas Akhtar sembari membiak jendela kamar rumah sakit, taman hijau dengan bangku memanjang di hadapan kolam menjadi bigron pemandangan, ada melati mekar dan bunga teratai di permukaan kolam, air mancur membuat suasana pagi itu menjadi hidup. Fira baru sadarkan diri setelah diberi cairan dan nutrisi melalui jarum infus semalaman. Awalnya ia kembali terlelap satu jam setelah sadar, kemudian merasa bingung dengan kondisi tubuhnya yang lemas enggan digerakkan, ia mengamati ruang serba bercat melati, menengok ke kanan ke kiri. Sebuah kursi tunggu, meja kecil tempat obat dan satu nakas minimalis di sudut ruang. Terakhir ia dikejutkan dengan keberadaan Akhtar di dekat jendela, sedang menatap langit cerah yang dihiasi segerombolan burung terbang dari arah timur. “Aku sakit.” Fira menyadari keadaannya. “Kupikir Aldi yang menolongku, Pangeran... eh, maksudku Akhtar!” Fira masih terbawa kebiasaan buruknya memanggil Akhtar. Untung tidak dilanjutkan dua kata seperti biasanya, ‘Kursi Roda'. “Kau akan paham setelah melihat riwayat panggilanmu, karena kau sudah sadar aku akan memberitahu ibumu dan Caca.” “Bisakah kau membiarkan mereka tidak tahu?” Udara sejuk masuk ke dalam, gorden diembus angin ke sana kemari, usai membuka jendela Akhtar menghampiri tubuh Fira. “... sudah jelas bukan? Ini realitas Fir, bukan film apalagi sinetron. Aku tak bisa menanggungmu, karena dirimu bukan bagian dari hidupku.” “Jadikan aku bagian dari hidupmu, Panger... eh, Tar!” Fira masih gagap mengucapkan nama dengan langsung. “Tidak mungkin.” “Ibu dan Caca akan sedih,” “Sudah selayaknya.” Ucap Akhtar. Masa depan selalu terikat dengan masa lalu, begitu nasib kebanyakan orang. Setiap tutur dan perbuatan seringkali kembali tercermin dalam kehidupan selanjutnya. Tak heran orang tua menasehati agar bertutur baik dan berbudi luhur. Sebagaimana halnya dalam kitab agama islam, bahwa setiap perbuatan sekecil apa pun itu pasti akan ada pertanggungjawaban dan balasannya. Akhtar menyadari fakta tersebut ketika ia bercermin pada pandangan sayu Fira. Ada perasaan ganjal, kasihan. Perasaan yang belum pernah ia tujukan kepada gadis yang kini terlentang di atas bangsal, berselimut tipis dengan motif garis-garis bercat jingga. Dahulu, ketika hujan membuat isi kota gelap gulita seperti menjemput waktu senja, padahal jarum detik menunjuk angka tujuh dini hari, tatkala awan menghitam kelam membuat mentari tenggelam di balik kegundahan. Disempurnai gemuruh guntur dan angin berembus sembarang menerbangkan sampah-sampah jalan juga dedaunan kering tak bersalah, di mana debu-debu ikut menggulung bersama p****g beliung, memporak-porandakan alun-alun kota. Dua bocah, lari tunggang langgang. Ketika itu, pedagang kaki lima mendorong gerobaknya sembarang arah, bangku-bangku tak sempat ditumpuk, terpal dibiarkan dihempas angin, orang-orang menyelamatkan diri. Dua bocah itu susah payah menghindar dengan cara mereka, tidak saling genggam tangan seperti kebanyakan orang. Fira menggenggam erat gagang kursi roda, mendorongnya cepat sekali, Akhtar berpegangan kuat-kuat berusaha menyeimbangkan tubuhnya. Akhtar sangat ingat kejadian itu, mulanya mereka berencana menonton pertunjukan Caca, lomba menggambar tingkat kabupaten yang diselenggarakan oleh Bapak Bupati. Mereka datang terlalu dini, padahal peserta belum menampakkan diri. Fira begitu semangat. Kau tahu kawan? Ia berangkat pukul tiga dini hari, bersama ibu yang hendak menguli di pasar. Katanya ia ingin menjadi penyemangat sekaligus penyambut Caca nomor satu, tidak boleh diduakan oleh siswa manapun. Ibu tidak bisa menolak keinginan Fira yang susah dicegah. Caca sendiri akan berangkat dengan Guru Kesenian dari sekolah, esok harinya, direncanakan pukul sembilan, sementara Lala dititipkan dulu di rumah nenek. Fira menempuh perjalanan berkilo-kilometer dari rumah. Pagi itu tidak ada kendaraan yang berkenan mengantarkan Ibu dan dirinya. Seperti biasanya Ibu berangkat bekerja dengan memberi jejak jalan-jalan kesunyian. Ia tidak merasakan lelah, lelahnya sudah digadaikan pada kecantikan cahaya kunang-kunang di semak dan bayangan kemenangan lomba Caca di alun-alun nanti. Sungguh bangga dirinya menjadi seorang kakak dari adik berbakat. Ia mengapresiasi dengan telapak kaki dan mengurangi jatah tidur malam. “Aku ingin memberikan tepuk tangan sebanyak mungkin kepada adikku.” Katanya menggebu-gebu. Ibu diam saja, Fira tidak tahu jika sudut bibir ibu mengembang, merekah amat indah, bulan yang malu-malu membuat kekaguman ibu dengan sikap putrinya tidak tergambar. Jalanan gelap dipenuhi dengan neon-neon penduduk dan kodok-kodok berisik, serta belalang-belalang lelap di rimbunan rumput-rumput tak membuat nyali Fira gentar, ia terus bergerak maju tidak menoleh ke belakang, tidak sabar ingin segera sampai di alun-alun kota yang tidak terlalu jauh dari pasar. Mereka tiba di ladang nafkah sehari-hari ketika fajar mengerlingkan mata. Ibu bingung hendak ke mana menitipkan Fira sebab masih sangat dini jika hendak mengantar ke alun-alun kota, di sana tentu tidak ada orang kecuali gelandangan yang lupa jalan pulang. Terpaksa ibu mengarahkan langkah kaki menuju rumah Bila. Seperti biasanya ia hendak merepotkan Akhtar. Ibu sudah sering menyuruh laki-laki itu untuk menemani Fira ketika bocah itu merengek ikut ke pasar, alasannya bosan di rumah. Dalam satu bulan Fira ke rumah Akhtar, meninggalkan adik-adiknya di rumah nenek. Ia senang bermain di rumah Akhtar karena ada ayunan dan banyak tanaman bunga. Ibu tidak tega menolak permintaan Fira, ia pun tidak enak hati jika setiap hari Fira harus mengurus kedua adiknya. Setidaknya itu bisa dijadikan sebagai hiburan untuk gadis pertamanya tersebut. Selepas azan subuh ibu pamit, ia berangkat mencari nafkah. Memunggungi pandangan Fira yang berdiri mematung di lubang pintu menyaksikan kepergiannya. Ibu menyampirkan selendang di bahu, menyanggul rambut, memakai celana panjang dan kaos oblong kedodoran dan bersendal jepit. “Fir, masuklah ke dalam. Ibu buatkan teh panas.” Fira duduk di kursi tamu. Kanvas berisi tiruan mawar memotret wajah kusam. Kaca meja transparan memantulkan ekspresi penasaran. Ekor matanya bergerak menjelajahi isi ruang tamu, foto keluarga tergantung di dinding, etalase penuh dengan piala-piala yang entah perlombaan apa, ia malas mencari tahu. Teh panas mengepulkan asap. Gelasnya ia genggam, perlahan mulai ia sesap. “Minumlah dulu, Akhtar belum bangun. Satu jam lagi pasti ia akan bangun." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD