Bab 8. Semakin Dekat

1013 Words
"Seruni, balas dendam pertamamu sudah berhasil," ucap Catra saat Panca sudah pergi meninggalkan rumah makan. "Terima kasih atas bantuannya, Pak," sahut Seruni dengan mata berbinar-binar. Rasa sakit hati yang dirasakan akibat pengkhianatan Panca setidaknya sedikit terbayar melihat mantan tunangannya itu mati kutu di hadapan Catra. Memang pria mok0ndo seperti Panca harus mendapat balasan yang setimpal karena biasanya punya banyak k0rban. Mengatasnamakan cinta di atas perbuatan yang dilarang agama dan juga norma. Memanfaatkan kep0losan seorang wanita demi mendapatkan apa yang diinginkan. "Kamu pasti senang 'kan melihat mantan tunanganmu kelimpungan seperti tadi?" Catra menatap Seruni yang wajahnya berubah ceria setelah sebelumnya sempat tegang. Seruni mengangguk. "Tentu saja saya senang, Pak. Baru kali ini saya lihat dia tidak berkutik seperti tadi. Sekali lagi terima kasih, Pak." Catra tersenyum. "Senang boleh, tapi jangan lupa makan biar tetap kuat menghadapi mantan," sahutnya. "Mari, Pak." Seruni mulai mengambil makanan yang sudah ada di hadapan mereka. Atasan dan bawahan itu pun menikmati makan siang sambil terus mengobrol. Meskipun sudah tidak ada Panca di sana, Catra tetap bersikap manis pada Seruni. Pria itu bahkan mengusap sudut bibir Seruni saat melihat ada noda saos di sana. Membuat Seruni jadi malu dan salah tingkah. Usai makan siang, mereka pergi ke rumah pengunjung yang semalam datang ke pameran. Menindaklanjuti ketertarikan pengunjung tersebut dengan properti yang mereka tawarkan. *** "Wah, kamu hebat sudah closing satu," puji Catra kala mereka dalam perjalanan ke kantor. "Itu semua juga berkat Pak Catra yang membantu saya memberikan diskon tambahan," sahut Seruni merendah. "Bukan. Itu semua karena kamu berhasil meyakinkan mereka. Aku hanya sedikit membantu," timpal Catra. "Nah, kinerjamu seperti ini yang aku inginkan, hasilnya jadi maksimal 'kan? Tidak seperti waktu kamu baru patah hati kemarin. Sekarang sudah tidak galau lagi 'kan," sambung pria berkacamata itu. "Semua karena kebaikan Pak Catra. Kalau Pak Catra tidak membantu saya, entah apa bisa secepat ini saya bisa kembali ceria," ujar wanita berusia 25 tahun itu. Catra tertawa kecil. "Sudah jadi tugasku sebagai atasan membantu bawahan yang sedang kesulitan. Tidak perlu memujiku seperti itu." "Saya tidak berlebihan, Pak. Memang kenyataannya seperti itu. Saya banyak berutang budi sama Bapak. Entah bagaimana saya membalasnya," ucap Seruni sungguh-sungguh. "Sebenarnya kamu bekerja dengan baik dan bisa closing itu sudah membuatku senang," ungkap Catra. "Beda, Pak. Itu 'kan memang tanggung jawab saya sebagai anggota tim marketing," "Kalau begitu kapan-kapan kamu traktir aku makan, gimana?" seloroh Catra. "Boleh, Pak. Tapi tunggu bonus saya turun ya. Nanti biar saya bisa traktir Pak Catra makan di tempat yang enak dan bagus," timpal Seruni. "Terserah kamu saja. Padahal aku ditraktir bakso juga gapapa," tukas Catra. "Duh, saya yang malu kalau cuma bakso, Pak. Kaya saya ga menghargai kebaikan Pak Catra kalau begitu," tandas Seruni. Catra tersenyum simpul. Entah kenapa dia senang melihat Seruni yang kembali ceria. Sejak saat itu Catra dan Seruni menjadi lebih dekat. Mereka sering keluar bersama untuk makan siang atau mem-follow up konsumen yang tertarik pada properti yang mereka tawarkan. Pameran di mal beberapa waktu yang lalu berhasil mendapatkan banyak pembeli. Karena itu Catra mengajak seluruh tim marketing makan dan karaoke bersama setelah pulang kerja. Mereka melepas lelah dengan bernyanyi bersama. Saking asyiknya menyanyi, mereka sampai lupa waktu. Rombongan tim marketing itu baru pulang saat jam menunjukkan pukul 10.00 malam. Karena sudah malam, Catra mengantar pulang Seruni dan dua orang lainnya yang tidak membawa kendaraan. Sebagai atasan, pria berkacamata itu tidak tega membiarkan ketiga wanita tersebut pulang dengan ojol. Catra mengantar dua orang tadi terlebih dahulu karena rumah mereka lebih dekat dari Seruni. "Kamu sudah bilang orang tuamu kalau pulang telat?" tanya Catra setelah berdua dengan Seruni di mobil. "Sudah. Pak Catra, tidak perlu khawatir," jawab Seruni sambil menoleh pada atasannya. "Syukurlah, tapi nanti aku akan tetap jelaskan sama orang tuamu," ujar Catra. "Tidak juga tidak apa-apa, tapi terserah Pak Catra saja," timpal Seruni. "Aku tetap harus mengantarmu sampai masuk ke rumah dan bertemu orang tuamu. Itu salah satu bentuk sopan santun," cetus Catra. "Pak, bonus saya 'kan sudah keluar. Kapan kira-kira Pak Catra ada waktu untuk saya traktir makan?" lontar Seruni. "Malam Minggu besok gimana?" sahut Catra. "Memangnya Pak Catra tidak pergi sama Ibu? Biasanya kalau sudah berkeluarga, akhir pekan waktunya bersama keluarga, Pak," ujar Seruni. Pria berusia 35 tahun itu menghela napas panjang. "Istriku sibuk, tidak ada waktu. Dia lebih memilih bekerja atau berkumpul dengan teman-temannya. Bisa dibilang kami jarang menghabiskan waktu bersama." "Maaf, Pak. Saya tidak tahu." Seruni merasa tak enak hati mendengar pengakuan sang atasan. Catra tersenyum tipis. "Tidak apa-apa. Selama ini aku memang tak pernah bercerita soal keluargaku. Wajar kalau kamu tidak tahu." "Apa berarti selama ini Pak Catra tidak bahagia?" tanya Seruni. "Tidak juga. Bahagia itu tergantung dari bagaimana kita menikmati hidup. Kalau aku hanya meratapi nasib, ya tidak akan bahagia," jawab Catra. "Pak Catra hebat bisa tetap bahagia." Seruni mengacungkan dua jempol, memuji atasannya. Pria berkacamata itu tertawa kecil. "Kamu berlebihan. Masih banyak orang yang lebih hebat. Mereka bisa bahagia, tetap tertawa, dan bersyukur meskipun hidup dalam keadaan yang serba terbatas. Aku hanya diuji dengan rumah tangga, itu tak seberapa dibandingkan dengan masalah mereka." "Bagi saya, Pak Catra tetap hebat. Kalau saya mungkin tidak akan bisa seperti Bapak yang tetap ceria dan bekerja dengan baik," timpal Seruni. Catra kembali tertawa. "Itu 'kan hanya yang terlihat, aslinya kamu tidak tahu. Apa yang kita rasakan dan alami tidak perlu semua orang tahu. Cukup kita saja yang tahu biar orang-orang menganggap kita baik-baik saja." "Sepertinya saya harus lebih banyak belajar pada Pak Catra bagaimana menghadapi kerasnya hidup agar tetap tersenyum dan tertawa meskipun hati terluka," lontar Seruni. "Ada bayarannya loh kalau mau belajar," seloroh Catra. "Wah, gitu ya. Jangan mahal-mahal lho biayanya. Nanti saya tidak kuat bayarnya." Seruni menanggapinya juga dengan bercanda. Catra menoleh ke samping kirinya seraya tersenyum manis. Entah bagaimana, tangan kirinya tiba-tiba terulur lantas mengelus kepala Seruni. Wanita berusia 25 tahun itu terkesiap begitu mendapat sentuhan di kepalanya. Dia diam dan tak melayangkan protes karena merasa nyaman dan dilindungi. Baru kali ini Seruni merasakan hal tersebut meskipun sudah beberapa kali berpacaran. "Maaf," ucap Catra yang baru menyadari apa yang dilakukannya. Dia pun gegas menarik tangannya. "Tidak apa-apa, Pak," sahut Seruni dengan wajah tersipu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD