Hana menyingkap selimut yang sedari tadi membalut tubuhnya. Dia masuk ke kamar mandi usai merasakan kandung kemihnya penuh. Dia keluar, memegag kepala yang terasa berat. Badannya lemas. Niatnya tadi dia akan ke tempat belanja bersama Keisha. Hana meraih ponsel, namun suara pintu dibuka secara kasar merebak. Hana mundur tiga langkah begitu melihat Raka brerjalan ke arahnya dengan tatapan tajam. Aura menyeramkan begitu pekat di sekitar Cowok itu. “Jawab! Lo bilang sesuatu ke dia?!” Raka mendekat. Telapaknya itu mencengkram kuat tangan Hana. “Sesuatu apa, sih? Gue dari tadi di sini,” “Bohong.” “Tanya Ibu,” “Kan, tadi malam kita udah sepakat. Lo nggak akan bilang soal itu. Biar gue aja. Tapi kenapa lo malah melanggar kesepakatan itu?” emosinya meletup-letup, nyaris meledak. “Ka

