Dua puluh delapan

1583 Words

Kuselipkan pistol dari Bima di belakang baju, lalu merapikan amunisi yang lain. "Perlu apa lagi, Bran?" Tanya Bima. "Kayaknya sih ini cukup, gue cuma mau Fahri gak ada yang lain." "Dan lo gak boleh ninggalin jejak, kalau bisa ya sekalian sama yang ada di sana." "Keenakan elo dong, tugas lo kelar?" "Kan lo gue yang fasilitasi." "Fasilitas negara nih! Boleh kali dipake gue." Bima tersenyum. "Pokoknya nama lo harus tetap bersih, semua senjata yang lo pegang harus lo bawa balik ke sini, supaya disterilkan dan sidik jadi gue yang tertera di senjata itu." "Got it, Bim!" Kataku. Bima menepuk bahuku pelan, lalu sebelum aku berangkat ia menawarkan minuman. "Lo mau gue mabuk pas bunuh Fahri?" Tanyaku ketika Bima menuang minuman lagi. "Gak, cuma mau adrenalin lo makin naik aja!" "Heheh y

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD