Enam belas

1754 Words
Trinity Aku menoleh ke belakang ketika mendengar dengkur halus dari Mas Bran, lalu tersenyum kepadanya yang sedang tertidur membelakangiku ini. Gila, ini orang kerja mulu gak capek apa ya? Sampe tidurnya ngorok gitu, bener-bener definisi dari sleepsound laah pokoknya. Aku kembali ke kertas coret-coretanku, sudah ada 4 judul yang kutulis namun belum ada yang sreg, yeah mungkin karena aku belum cari bahan-bahannya aja kali ya? Kucatat ulang semuanya ke HP-ku, biar gak lupa. Setelah itu, aku bingung mau apa. Sebenernya sok ngide banget bilang mau temenin Mas Bran tidur, ya abis gimana? Aku bilang ke Melinda kalau aku mau kencan, masa aku masuk kamar lagi? Kan gak seru kalau gitu. Ya jadilah aku di sini, duduk manis di kursi belajarnya Mas Bran. Mengamati berbagai macam buku yang ada di rak buku, aku heran mas Bran nih bidang ahlinya apa, abis macem-macem banget, ada buku hukum, filsafat, management bisnis, kesehatan, anatomi manusia, dan lain sebagainya sampai buku agama juga ada. Kalau semua ini beneran dia baca dan bukan cuma pajangan, asli sih keren banget. Iseng, kuambil buku hukum internasional yang terdekat denganku, lalu takjub pas liat dalemnya karena ada coretan-coretan kecil, dan... tulisan tangan mas Bran bagus loh. Kukembalikan buku itu ke tempatnya lalu menoleh ke belakang. Penasaran, aku mendekat, naik ke kasur dan duduk memandanginya yang sedang tertidur. Mas Bran nih ganteng juga ya kalo diliat-liat, awalnya aku kira dia nih patung, abis beberapa kali ketemu dia cuma diem aja, diem di pojokan kaya pajangan, tapi aslinya... baik banget ya Allah. Terus, Mas Bran juga wangi, ini dia mau tidur aja semerbak banget wanginya. Edans laaah. Kurebahkan tubuhku, tidur menyamping menghadapnya, tersenyum tiba-tiba tanpa alasan, gak ngerti aku suka mandangin dia tidur, itu yang bikin aku waktu di Australia mendadak pindah, memilih desek-desekan di sofa bareng dia, well, selain karena aku takut gara-gara denger suara air dari kamar mandi, waktu itu. Masih tersenyum, aku iseng menutup hidungnya yang mancung dengan telunjuk dan ibu jari, lalu beberapa saat kemudian, suara dengkur dari mulutnya makin membesar, jadilah kulepas jepitan tanganku di hidungnya, dan suara dengkurnya kembali pelan. Heheheh, seru deh jailin orang yang tidurnya pules begini. "Mas Bran?" Panggilku iseng. "Hemm?" Syok lah aku mendengar itu? Lha? Dia matanya masih merem tapi bisa nyaut? Keliatan yaa sigap-nya kaya apa, tidur aja masih bisa diajak ngobrol. Senyumku makin lebar, inisiatif ngerjain dia, jadi kuambil ponselku untuk merekam kejadian lucu ini. "Mas Bran?" Panggilku lagi ketika kamera sudah menyala, tersorot ke arah kami. "Hemm?" "Mas Bran lagi apa?" "Tidur." Aku makin nyengir, dia beneran jawab loh, padahal matanya merem. Mengetes, kusentuh pipinya dengan ujung jariku, mengguncangnya sedikit, tapi ia masih pulas, terdengar dari suara dengkurnya yang pelan. "Mas Bran laper gak?" Tanyaku. "Iya." "Iya apa?" "Iya aku laper." "Mau makan?" "Mau." "Makan apa?" "Mie ayam?" "Mas Bran suka mie ayam?" "Gak." "Terus kenapa mau makan mie ayam?" "Pengin aja." "Mas Bran?" "Hemm?" Kali ini ia menjawab seraya menggaruk pelipisnya. "Mas Bran suka warna item yah?" "Iyah." "Kenapa tuh?" "Kulitku jadi keliatan putih." "Lha mas Bran kan gak item kulitnya?" "Iya sih tapi kurang terang." "Mas Bran lagi apa?" Aku kehabisan pertanyaan sekarang. "Tidur." "Tidur sama siapa?" "Sendiri." "Terus ini lagi ngobrol sama siapa?" "Hemm? Gak tau siapa." Aku gak kuat menahan tawaku, sumpah kocak abis sih, ini ada yaa orang kaya dia, udah tidur tapi masih bisa diajak ngobrol ya ampun. "Mas Bran?" "Hemm?" "Mas Bran pernah ciuman gak?" "Pernah." "Kapan?" "SMA." "Sama siapa?" "Aspal." "Hah? Kok bisa cium aspal?" "Aku belajar motor, jatoh," "Ciuman sama orang pernah gak?" "Belum." "Sama Mas, aku juga belum." "Mau coba?" Yeee dasar, cowok yaa, lagi sadar gak sadar tetep aja m***m. Refleks aku menoyor kepalanya, mumpung tidur, jadi dia gak tau. "Emm, nakal!" Seruku menoyor kepalanya sekali lagi, bonus. Ia tak menyahut, dengkuran halus pun terdengar lagi. Ku matikan kamera ponselku, menyimpan video tersebut buat ceng-cengin Mas Bran kalau dia bangun nanti. Meletakkan ponselku di meja kecil dekat kasur, aku lalu berbalik lagi menghadap mas Bran, bingung sekarang mau ngapain. "Mas Bran?" "Hemm?" Eh seriusan loh dia beneran nyaut yaa, gak cuma kejadian sesekali berarti itu. "Aku tidur sini ya?" "Iya." "Di samping mas Bran ya?" "Iya." "Peluk boleh gak?" "Gak!" "Kenapa gak boleh?" "Lehhh." Yee dasar tuyul, ini mah dia ngulang kata terakhir aku aja, beda sama tadi beneran ngobrol. Membalik badan, aku pun berusaha tidur memunggungi Mas Bran, menarik selimut untuk kami sebatas d**a, kemudian terlelap. *********** ***** Aku heran, kenapa setiap aku tidur seruangan sama Trinity, paginya kami selalu ada di tempat yang sama? Semalem kan perjanjiannya gak gini, semalem katanya dia mau tidur di sofa, lha ini? Dia ada di kasur, di sampingku. Untung kasurnya luas, jadi pas aku ngulet, dia gak jatuh kaya yang terjadi di Australia. Bener-bener nih emang bocah kecil satu, gak bisa dipegang janjinya. Malas turun dari kasur, aku memandangi langit-langit kamar polos yang membosankan. Lalu sesekali melihat Trinity yang masih terpejam. Berbalik menyamping, aku memandanginya yang sedang tertidur. Setelah tidur cukup pulas, sepertinya aku punya waktu memikirkan perasaan ini. Untuk menggali lebih jauh apa itu sebenarnya cinta. Ajaibnya, pagi ini aku gak merasakan deg-degan atau keringetan segala macam, pagi ini justru aku merasa sangat tenang dan nyaman. Apa perasaan cintaku berubah lagi? Dari sejuta rasa, aku sudah nyicipin dua gitu, yaah lumayan laah. Kupandangi lagi Trinity, kalau emang aku jatuh cinta sama dia, bagaimana mulainya? Bagaimana bilangnya? Kalau dia gak mau, apakah aku akan merasakan patah hati pertamaku? Arghh, baru mikirinnya aja udah bikin pusing ternyata. Tak sengaja, aku menguap. Kutarik napas panjang, lalu memejamkan mata lagi. Ini masih pukul 05.31 kayaknya tidur lagi gak masalah kan ya?? ** "Mas Bran? Mas? Bangun Mas!" Aku merasa tubuhku sedikit diguncang. Membuka sebelah mata, aku melihat Trinity, duduk di kasur di hadapanku. "Hemm?" "Mas Bran udahan dong tidurnya, masa bangunnya duluan aku? Kan tidurnya duluan mas Bran." Kini aku membuka mata sepenuhnya, lalu mengubah posisi jadi telentang. "Kenapa?" "Aku ada kuliah Mas, dadakan, pembagian dospem." "Emhh, yaudah sana mandi." Kataku sambil merenggangkan tubuh. "Bajunya? Dalemannya?" Aku melirik ke arahnya, gak tau harus respon apa. "Bentar deh, aku mikir dulu." Kataku berusaha mengingat-ingat, kayaknya aku pernah deh nyuruh orang buat beliin baju dan peralatannya Dwika, dan malah dibawa ke rumah ini. Disimpen di mana yaa itu? "Udah sepuluh detik Mas, mikirnya udahan." "Kalo kamu pake baju atau daleman yang ukuran Dwika, bisa?" Tanyaku. "Emmm, kalau baju sih bisa, tapi kalau daleman gedean punya aku mas." "Gak peduli!" Sahutku, buset dah, Trinity bisa gak sih yang begitu gak usah dibahas? Kan aku bawaannya jadi pengin lirik-lirik dadanya. Huh, padahal aku masih mau jadi cowok sopan loh. "Pake aja udah, ya? Daripada gak ada kan?" "Yaudah iya." "Yaudah sana mandi, aku cari bajunya." "Gak mau, mas Bran cariin dulu bajunya." "Heeeuuuh," Geruruku, lalu keluar dari selimut, turun dari kasur dan berjalan ke luar. Ke lantai bawah, aku melihat Bu Idah sedang menata sarapan di meja. "Pagi, Bu." Sapaku. "Pagi Mas Bran, mau langsung sarapan?" "Belum, Bu. Mau tanya, baju-baju yang dibeliin buat pacarnya Bang Satrio waktu itu disimpen di mana ya?" "Ohh, ada di kamarnya Bang Satrio, Mas. Masih di tas semua, gak ada yang dibuka tapi, kenapa Mas?" "Gak apa-apa, saya perlu." Bu Idah melirikku bingung, tapi tidak berkomentar. Aku pamit naik ke atas, menuju kamar Bang Satrio. Masuk ke walk in closet-nya, aku menemukan banyak paperbag di atas cabinet penyimpanan jam tangan milik Bang Satrio. Tanpa memilih, kuambil semua paperbag itu lalu keluar kamar, kembali ke kamarku. "Nihh, bebas pilih yang mana." Kataku kepada Trinity yang sedang tidur-tiduran di kasur. Enak banget ni bocah, padahal aku juga masih ngantuk loh. "Ihh baju baruu?" Tanyanya senang. "Udah bawa semua ke dalem, mandi terus pilih-pilih, semuanya buat kamu." "Mas Bran baik banget!" Aku diam, mendengar ucapannya itu kenapa membuat perutku bergemuruh? Okee, mungkin ini karena aku lapar, belum sarapan, bukan karena pujiannya dia. "Udah sana, mandi." "Oke Mas, siap!" Serunya turun dari kasur, meraup tas-tas tersebut lalu menghilang di balik pintu. Aku sendiri naik ke kasur, rebahan, istirahat leye-leye setelah dua minggu full mengurus kerjaan tanpa libur. Syukurlah Siska memberikanku jatah istirahat 2 hari. Jadi aku bisa santai sampai besok. Tidur menghadap samping, gak tau kenapa aku penasaran dengan bantal yang ada di sebelahku ini. Kuambil bantal itu, bantal bekas tidurnya Trinity, lalu menghirup aromanya. Well, wanginya enak, seger kaya stoberi gitu. Ini wangi shamponya kali ya? Merasa aneh dengan yang kulakukan, kukembalikan bantal tersebut ke posisi semula. Dan anehnya, kok aku merasa mendadak kangen sama wangi itu? Waah gila ini sih!! Sekian puluh menit bengong gak jelas mikirin apa itu cinta, pintu terbuka dan Trinity keluar sudah berpakaian rapi. "Mas Bran?" Panggilnya, aku agak bangkit sedikit, menyandarkan bantal ke kepala kasur lalu aku sendiri pun ikut bersandar. "Apa?" "Aku laper." "Yaudah ke bawah sana makan." "Ihhhh... terus aku bilang apa? Nanti disangkanya aku penyusup." "Yaudah ayok!" Aku turun dari kasur, tapi Trinity tidak beranjak dari tempatnya berdiri. "Apa lagi?" Tanyaku. "Mas Bran gak mandi?" "Nanti aja." Kataku berjalan, saat jarak kami dekat... aku mencium bau sesuatu. "Kamu pake parfum aku ya??" Tanyaku, dan anak ayam ini langsung pasang senyum manis biar gak diomelin gitu. "Abis mas Bran kan wangi, aku jadi penasaran sama botol-botol parfume di dalem, yaudah icip dikit." Ujarnya mengakui. "Icip? Dijilat?" "Ya engga lah, ngaco banget si Mas-nya." "Yaudah ayok makan!" Seruku. "Mas Bran beneran gak mandi?" Aku menoleh ke belakang, dan kaget tahu Trinity kaya lagi beneran posisi bra gitu. Astagaaaaa! "Ehhh!" Serunya kemudian tangannya jadi sikap sempurna macem anak paskibra. "Ini libur, aku juga mau libur mandi, makanya semalem mau rendeman tapi gak jadi kan." "Ya suruh siapa gak jadi?" Yeee mabok, kan gak jadi gara-gara dia mau ikut. Bisa bahaya kalo kita berdua rendeman di jacuzzi, nanti ada yang panas lebih-lebih dari airnya lagi. "Mikir, non." Kataku pelan lalu berbalik kembali dan berjalan ke luar kamar. Trinity membuntutiku, kami berdua turun menuju ruang makan. Masih ada Bu Idah di sama, sedang merapikan posisi sendok, garpu dan pisau. Entah kenapa, kok aku mendadak malu ya? "Ayok Mas, makan udah siap nih." Ucap Bu Idah masih sambil merapikan garpu, dan ketika beliau mendongkak, wajah kagetnya tak bisa ia sembunyikan. "Eh? Mas Bran ajak ceweknya? Tumbenan banget Mas, kok gak bilang? Kan Ibu bisa masak yang lain." Lha? Dikata ceweknya. "Gak apa-apa Bu, aku mah makan apa aja bisa kok, omnivora hehehehe." Sahut Trinity. Lhaa anjir, kenapa dia gak menyangkal dulu gitu, bilang kalau dia itu adiknya Dwika, bukan ceweknya aku. Ya Lord, ini mah bakal diaduin ke Bang Satrio kayaknya sama Bu Idah. Mati udah lah aku. ******* TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD