Chapter 8

1583 Words
Sedari tadi, Alan terus memandangi pintu restoran. Dia mengambil tempat di pojok depan supaya bisa melihat kedatangan sang kekasih hati. Alan tidak akan tenang sebelum dia dan Nisa membahas apa sebenarnya yang terjadi. Restoran itu buka pada jam delapan, di mana mengkhususkan menu sarapan ala barat. Meja Alan terlihat kosong, dia belum memesan satu menu sarapan bahkan air putih mineral pun belum dipesannya. Beberapa orang berdatangan masuk ke dalam restoran, namun Finisa belum juga muncul. Alan melirik ke arah arlojinya. "Delapan empat puluh lima. Ah, Nisa bilang jam sembilan, kenapa waktu berjalan sangat lama?" Alan duduk tak tenang di kursinya. Mau menelpon sang kekasih malah ponsel dimatikan, jadilah Alan tak punya pilihan selain duduk menunggu di restoran. Lima belas menit kemudian, tepat pada jam sembilan pagi, Finisa memasuki pintu restoran. Alan langsung berdiri hendak menghampiri Finisa, namun langkah kaki Finisa lebih dulu berjalan cepat ke arahnya sambil berkata, "Kita ke privat room." Alan mengangguk. Dia mengikuti Finisa dari belakang. Langkah kaki Finisa sangat cepat, sepertinya dia tidak mau berjalan santai. Ya, tentu saja, siapa yang bisa dalam keadaan santai di saat seperti ini? tidak ada. Setelah memasuki privat room, belum duduk Alan langsung bertanya. "Nisa, jelaskan apa maksud Oma kamu?" Finisa mengambil tempat duduk dan Alan pada akhirnya duduk berhadapan dengan Finisa. "Setelah kamu pulang tadi malam, Oma langsung berkata padaku untuk membatalkan lamaranku. Bahkan aku belum duduk di kursi, Oma sudah memutuskan mengenai masa depanku dan dengan siapa aku harus menikah," ujar Finisa to the point. "Omong kosong apa itu?!" Alan tidak terima baik. "Kenapa lamaranku harus dibatalkan? memangnya Oma kamu sudah mengatur masa depanmu?" tanya Alan. Finisa terlihat memutar bola matanya karena mereka membahas sang nenek yang menyebalkan bagi Finisa. Finisa mengangguk, dia menjawab, "Oma ingin agar aku harus menerima lamaran dari Hamdan Farikin." "Apa?!" Alan melotot. "Apa aku pernah dengar namanya? tunggu! itu Farikin?" tanya Alan. Finisa mengangguk. "Hamdan Farikin adalah anak nomor tiga sekaligus anak bungsu dari Om Davin Farikin, keponakan tersayang dari Nenek Lia, Nenek Nibras." Tak ada senyum sama sekali di bibir Alan. "Apa kamu tahu bahwa Oma Naila akan menerima lamaran dari Hamdan Farikin itu untukmu?" tanya Alan. Finisa menggelengkan kepalanya. "Aku sama sekali tidak tahu, Alan. Baru tadi malam Oma katakan hal ini untukku. Dan juga, untuk apa aku harus menerima lamaran dari orang yang tak jelas seperti dia di saat sudah ada pria yang kucintai yang melamarku? tidak waras jika aku menerima lamaran pria lain selain kamu," jawab Finisa. Alan mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah, syukurlah." Dia mengusap dadanya lega. "Aku pikir kamu menerima, jangan buat aku serangan jantung, Sayang." Finisa menaikkan sebelah alisnya ketika melihat Alan. "Sudah kubilang, tidak waras jika aku menerima lamaran pria lain selain kamu." Alan buru-buru menggenggam tangan Finisa dan berkata, "Kita saling cinta, tentu kita harus berakhir bersama. Siapapun orang ketiga yang ingin masuk dalam hubungan kita, ayo kita singkirkan." Finisa mengangguk, namun dia berkata, "Akan sedikit sulit jika orang tuamu datang untuk melamarku dalam beberapa hari ini. Rencana tidak akan berjalan lancar selama Oma-ku masih menentang pernikahan kita." "Ck, lalu kita harus bagaimana? tidak mungkin membatalkan lamaran. Bundaku sudah sangat senang, aku tidak ingin membuat hati Bunda sedih, Ayah akan menghukumku nanti," balas Alan. "Aku akan tetap pada pendirianku. Biarkan Oma, aku yang urus. Oma itu keras kepala, beliau pikir hanya beliau saja yang bisa keras kepala, aku juga keras kepala dan tak mudah menyerah," ujar Finisa. "Sayang, aku akan bicarakan dengan Ayahku bahwa ada sedikit kendala dalam keluargamu tapi tenang saja, aku akan beri pengertian pada Ayah mengenai masalah ini, tapi untuk sekarang aku pikir Bunda tidak harus tahu," balas Alan sambil menggenggam tangan Finisa. Finisa mengangguk. "Dalam beberapa hari ini jika Oma masih bersi keras ingin membatalkan lamaran kamu, aku yang akan menentang habis-habisan keputusan Oma," ujar Finisa. "Apa aku harus menghadap Oma kamu untuk membujuk atau bicara baik-baik agar beliau mengerti?" tanya Alan. Finisa agak terperangah dengan ucapan sang pacar. "Kamu ingin menghadapi Omaku yang keras kepala itu?" tanya Finisa. Alan mengangguk. "Lamaran dan pernikahan ini adalah masa depan kita berdua yang berarti aku dan kamu. Tidak mungkin aku membiarkan kamu berjuang sendiri untuk pernikahan kita sementara aku hanya duduk saja menanti hasil, tindakan seperti itu bukanlah sifat pria sejati," jawab Alan sungguh-sungguh. Hati Finisa terasa hangat dan tenang setelah mendengar ucapan dari sang kekasih. Finisa tahu, sang kekasih benar-benar mencintainya, dia pun demikian, memiliki rasa yang sama. "Kapan kamu akan bicara dengan Oma-ku?" tanya Finisa. "Setelah pulang kantor, sore ini kita akan pulang bersama dan aku akan menghadap Oma Naila," jawab Alan mantap dengan nada sungguh-sungguh. Finisa mengangguk setuju. "Baik, pulang nanti aku akan pulang denganmu." Alan mengangguk. Kryuuk kruuuk. Ah, rupanya membahas tentang masalah mereka telah membuat perut mereka kosong dan berbunyi minta diisikan makanan. "Ayo sarapan dulu, setelah itu aku akan mengantarmu ke kantor," ujar Alan. Finisa mengangguk setuju. Mereka menikmati sarapan pagi berdua meskipun sudah agak telat. °°° Hampir jam sepuluh pagi, Alan mengantarkan Finisa ke kantor Nabhan's Bank, di mana sang kekasih adalah manager di situ. Setelah mengantarkan sang kekasih, Alan memacu laju mobilnya menuju ke arah Basri Group yang berada di Jakarta. Selama beberapa saat perjalanan, dia telah sampai. Sebagai pimpinan Basri Group, Alan langsung bergegas naik ke lift eksekutif di mana hanya diperuntukan untuk bos perusahaan. Setelah itu dia memasuki ruang kerja. Tiga sekretaris Alan berdiri dari posisi duduk dan memberi sapaan. "Selamat siang, Pak Alan," sapa ketiga sekretaris Alan. Alan mengangguk. "Berikan berkas apa saja yang masuk hari ini, aku akan menyelesaikan proposal pengajuan kerja sama dan yang lainnya," perintah Alan. Di saat terlambat masuk kantor, dia harus bekerja cepat agar selesai pulang. Dia telah berjanji pada Nisa bahwa mereka akan pulang bersama. "Baik, Pak Alan!" sahut tiga sekretaris Alan. Mereka bergegas membuka laptop dan ada yang memisahkan file hard untuk dibawa ke dalam ruang kerja Alan. Ada pula yang membuka tape dan bersiap memperlihatkan laporan dan pesan masuk ke email resmi perusahaan. Di antaranya ada profil calon rekan bisnis dari Basri, mulai dari pertama didirikan, pimpinan pertama hingga saat ini. °°° Finisa memasuki ruang kerja. Sekretarisnya datang mengetuk pintu kerjanya. "Bu, saya izin masuk," ujar sang sekretaris. Gadis manis yang rambutnya disanggul gaya bouffant bun itu berdiri di pintu ruang kerja Finisa. Finisa duduk di kursi putar empuk dan dia mengangguk. "Silakan masuk dan katakan langsung apa keperluan kamu," ujar Finisa. Perempuan yang bername tag Safira itu memasuki ruang kerja Finisa. Di dalam Nabhan's Bank, hanya manajer dan pimpinan saja yang tak memakai baju atau seragam kantor. Yang lainnya memakai seragam kantor yang serupa meskipun ada sedikit perbedaan di beberapa detail baju. Sang sekretaris duduk. "Saya dapat titipan pesan dari Pak Ibas untuk Anda agar Anda segera menghubungi beliau dan datang ke kantor pusat di sebelah," ujar Safira. Finisa mengangguk mengerti. "Baik. Terima kasih atas penyampaian pesan dari kamu. Saya akan segera menemui beliau di gedung sebelah. Jika ada yang ingin bertemu dengan saya, harap katakan pada mereka untuk menunggu setelah jam makan siang," jawab Finisa. "Baik, Bu." Safira mengangguk mengerti. Dia berdiri dari kursi dan berkata, "Saya permisi kerja." Finisa mengangguk. Setelah Safira keluar dari ruang kerja Finisa, Finisa langsung berdiri dari kursi dan mengambil tas, dia menyusul keluar dari ruang kerja dan mengunci pintu. Kemudian dia berjalan keluar dari gedung Nabhan's Bank menuju ke gedung Nabhan Corporation and Resort. Jaraknya hanya perlu jalan kaki sebentar karena dua gedung itu berdekatan, atau lebih tepatnya di situ adalah kompleks gedung dari Nabhan's Corporation and Resort. Sudah menjelang siang dan sebentar lagi jam makan siang, jadi dia bergegas untuk bertemu dengan Nibras agar dia bisa secepat mungkin kembali ke kantor di mana dia bekerja. Meskipun dia punya masalah pribadi, Finisa tetap terlihat profesional dalam memisahkan hal pribadi dan pekerjaan. °°° "Bukankah hari ini Alan berjanji akan membahas mengenai kerja sama antar dua perusahaan?" tanya Nibras. Finisa melirik ke arah Nibras. "Belum ada pesan yang dikirim olehnya padaku," jawab Finisa. Nibras manggut-manggut. "Kenapa aku tidak bisa menghubungi nomor teleponmu?" tanya Nibras. Finisa terdiam untuk sesaat. Tidak mungkin dia katakan pada Nibras mengenai masalah keluarganya meskipun Nibras masih ada hubungan saudara jauh dengannya. "Bateraiku off. Kehabisan," jawab Finisa memberi alasan. Ting. Pesan masuk. Nibras merogoh ponselnya. Dia membaca pesan yang dikirimkan oleh salah satu sekretaris Alan di email pekerjaan Nibras. Hanya berselang tiga detik, ponsel Finisa bergetar menandakan pesan baru masuk. Finisa melihat isi pesan itu. Rupanya dari Alan langsung yang mengirimkannya pesan chat. "Hari ini belum pertemuan dua perusahaan, besok dia akan siap," ujar Finisa. Nibras mengangguk mengerti. "Baiklah, besok kita akan melakukan pertemuan lagi," balas Nibras sambil beralih lirikan dari layar ponselnya ke arah Finisa, dia berkata lagi, "mari makan siang bersama." Finisa mengangguk setuju. °°° Tepat jam empat sore, itu adalah jam pulang kantor. Alan bergegas menjemput Finisa di tempat kerjanya. Setengah jam kemudian dia telah sampai di mana Finisa telah menunggunya di depan kantor. Mobil berhenti dan Finisa bergegas masuk ke dalam mobil Alan. "Di mana mobilmu?" tanya Alan. "Sudah dibawa pulang oleh supir perusahaan," jawab Finisa. "Oh begitu. Baiklah, ayo kita ke rumahmu," ujar Alan. Finisa hanya mengangguk. Selama beberapa saat perjalanan ke rumah Finisa, akhirnya mereka sampai. Alan dan Finisa keluar dari mobil dan berjalan memasuki rumah Finisa dengan mengucapkan salam masuk rumah. "Assalamualaikum," salam Alan. "Waalaikumsalam," jawab seorang pria. Mata Alan dan pria itu saling beradu tatap. Dia tidak pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya. Senyum pria itu terlihat jelas saat melihat ke sampingnya. "Halo, Nisa." Mata Finisa menatap ke arah pria yang baru saja mengucapkan namanya. "Bang Hamdan?" Alan, "!!!" °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD