mobil silver berhenti di depannya dan membuka kaca mobil menyuruh Annisa untuk segera masuk kedalam mobil. Annisa merasa heran kok bisa yang ada disebelahnya tau kalau ia akan pulang ke rumah. merasa penasaran Annisa memandang Gus Hasan dari arah samping sedangkan yang ditatap cuek segera melajukan mobilnya.
" saya disuruh ibuk mengantar kamu ke Semarang"ucap Gus Hasan tanpa melihat Annisa.
rasa penasaran Annisa terjawab sudah ketika Gus Hasan berkata kalau ia disuruh ibu nyai mengantarnya.
Annisa merasa mengantuk tapi ia tidak enak kalau Gus hasan ditinggal tidur, namun matanya berkata lain ia pun terlelap.
tanpa terasa jarak antara jawa timur dan Semarang Jawa tengah dibilang cukup jauh, 3 jam kurang lebih gus Hasan mengendarai mobil. kendaraan mulai berhenti didepan RS. Karyadi Semarang, Gus Hasan merasa tubuhnya sangat lelah ia butuh olahraga sebentar untuk merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku dan saat itu ia melihat Annisa yang masih terlelap begitu damai. ia merasa tak tega untuk membangunkannya Annisa yang masih tertidur dengan nyenyaknya. akhirnya ia menunggu sampai terbangun.
Namun kurang lebih setengah jam Annisa belum ada tanda-tanda mau bangun juga.
" ia tidur apa pingsan sih" keluh Gus Hasan.
ia merasa haus pun keluar dari dalam mobil untuk membeli minuman. tak berselang lama Annisa merasa tidak ada pergerakan akhirnya ia terbangun.
" ternyata udah sampai, kenapa Gus hasan gak bangunin aku ya" ucap Annisa dalam hati.
setalah selesai membeli minum Gus Hasan kembali ke dalam mobil. Namun ia tidak melihat kalau Annisa sudah bangun.
" kenapa Gus tidak membangunkan aku" tanya Annisa.
" astaghfirullah kenapa kamu mengagetkan aku" jawab Gus Hasan sedikit tersentak.
" maaf Gus panjenengan menunggu lama ya, maaf lagi karena saya tertidur"ucap Annisa merasa bersalah.
sedangkan yang ditanya mengusap d**a sambil beristighfar dalam hati.
" iya ini minum buat kamu" kata Gus Hasan menyodorkan minum kepada Annisa.
" terimakasih kasih Gus" ucap Annisa sambil menerima minum, lalu ia meminum karna memang ia juga sangat haus.
setelah itu mereka keluar dari dalam mobil menuju resepsionis rumah sakit mencari kamar rawat ibunya Annisa.
" permisi mbak saya mau tanya pasien atas nama ibu Maryam ada diruangan berapa ya?"tanya Annisa kepada petugas resepsionis.
" sebentar ya mbak saya carikan dulu" jawab suster.
" atas nama ibu Maryam ada diruangan Dahlia nomer 124 mbak" ucap suster lagi.
" terimakasih suster kalau begitu kami permisi" ucap Gus Hasan.
Mereka segera mencari ruangan yang sudah disebutkan oleh suster. Annisa melihat kakaknya yang sedang duduk termenung menundukkan kepalanya serasa memikul beban yang sangat berat.
"Assalamualaikum kak Rangga"ucap Annisa berlari menuju di mana kakaknya berada dan langsung memeluk sang kak.
"Walaikumsalam dek, kamu sudah datang" jawab Rangga.
"Keadaan ibu bagaimana kak?" Tanya annisa.
"Ayo kita masuk dulu menemui ibuk"kata rangga, bukannya menjawab pertanyaan sang adik tapi ia memilih mengalihkan pembicaraan.
Ketika Annisa membuka pintu ia melihat sang ibu terbaring lemah diatas ranjang rumah sakit, ia segera menuju dimana ibunya berada.
Ibunya yang masih terlelap mengunakan alat bantu pernafasan, ia merasa sedih melihat wajah sang ibu yang sangat pucat, annisa menangis dalam diam tubuhnya tergonjang merasa tak tega melihat ibunya yang terbaring lemas tak berdaya. Sang kakak lagsung memeluk Annisa yang sebentar lagi jatuh kelantai " apa yang sebenarnya terjadi kepada ibuk" batin Annisa lirih.
"Sabar nis semoga Allah memberikan kesembuhan kepada ibu, berdoa lah" ucap Gus Hasan.
Annisa berusaha bangkit untuk menyentuh tangan dingin sang ibu, ia merasakan pergerakan ditangan ibunya yang mulai sadar segera membuka mata dan melihat sang anak yang sudah ada disampingnya lalu sang ibu membelai kerudung yang di pakai sang anak. Air mata sang ibu menetes melihat sang anak yang sudah bertumbuh menjadi anak cantik dan dewasa, sang ibu tersenyum. Tangan dingin sang ibu membelai wajah cantik putrinya yang basah karna air mata.
" kenapa kamu menangis nak?"tanya sang ibu dengan suara pelan. " Ibu tidak pa pa, jangan menangis" ucap ibunya lagi.
Annisa yang tidak kuat menahan air matanya akhirnya tumbah lagi dan tak mampu berkata kepada sang ibu. Ia langsung memeluk tubuh sang ibu yang terbaring lemah.
" Maafkan Annisa buk yang selama ini selalu buat ibu menderita"ucap annisa lirih.
"tidak nak kamu tidak membuat ibu menderita, seharusnya ibu yang minta maaf kepada kamu yang tidak bisa menjenguk kamu disana" ucap ibu Maryam lemah.
" Gak buk Annisa tidak masalah yang terpenting ibu cepat sembuh ya" ucap Annisa memohon.
Suasana haru pun menyelimuti ruang rawat tersebut. Annisa segera menyeka air matanya dan memandang sekelilingnya, ia lupa bahwa ia tidak sendiri kesini, annisa segera bangun memperkenalkan Gus Hasan kepada sang ibu dan juga kakaknya.
"sampai lupa kak, perkenalkan ini Gus Hasan beliau adalah putra dari bapak kyai Usman" ucap Annisa kepada sang kakak dan ibunya.
"Saya Rangga kakak nya annisa" ucap Rangga sambil berjabat tangan Gus Hasan.
Gus Hasan berjalan menuju ranjang ibunya Annisa dan bersalaman dan mencium tangan ibu Maryam.
Tak berselang lama Gus hasan pamit untuk pulang ke Jawa timur karena tugasnya mengantarkan Annisa selesai.
"Saya pamit ya ibu semoga lekas sembuh" kata Gus hasan.
" Terimakasih ya nak Hasan sudah mau mengantarkan putri saya kesini"jawab ibu Maryam.
"nggih buk sama-sama" ucap Gus Hasan sopan.
"Mas saya pamit ya nanti keburu malam" ucap Gus Hasan kepada Rangga.
" Apa sebaiknya tidak menginap dulu di gubuk kami Gus?"tanya rangga.
"Tidak usah nanti merepotkan, karena besok saya harus mengajar jadi tidak bisa menginap" ucap Gus Hasan sopan.
" Terimakasih ya Gus sudah mengantarkan adik saya annisa" kata rangga.
"Iya sama-sama mas, kalau begitu saya permisi dulu"ucap Gus Hasan sambil bersalaman kepada Rangga, sedangkan Annisa mengatarkan Gus hasan ketempat parkiran.
"terimakasih nggih Gus sudah mengantarkan saya sampai sini" ucap Annisa.
"Iya sama-sama mbak"jawab Gus Hasan.
" Salam sama bapak kyai dan ibu nyai nggih, terimakasih"ucap Annisa lagi.
"Nggih kalau begitu saya pamit assalamualaikum"kata Gus Hasan.
"Walaikumsalam Gus, hati-hati dijalan Gus"ucap annisa. Sementara Gus Hasan hanya tersenyum dan mengangguk lalu masuk kedalam mobil dan segera menjalankan mobilnya.
Tiba-tiba annisa memegangi dadanya yang berdetak tak seperti biasanya saat melihat senyum Gus Hasan.
"Kenapa jadi deg-degan gini sih"ucap Annisa heran.
sementara ditempat lain Gus Hasan juga merasakan seperti yang dirasakan annisa, ia pun tersenyum membayangkan Annisa mengucapkan "hati-hati dijalan Gus Hasan"."duh apa yang aku pikirkan sih" ucap Gus hasan heran dengan dirinya sendiri.
bersambung. . . .