Bab 1: Mimpi Buruk 1

1589 Words
# Lagi-lagi Laras terbangun dengan tubuh penuh keringat. Mimpi-mimpi buruk itu kembali. Semua kejadian itu terlihat jelas seakan dia kembali ke masa lalu dan berulang-ulang mengalami siksaan yang sama. Nafasnya terasa sesak, tubuhnya gemetar hebat, sementara air mata mengalir di pipinya. Dia ketakutan. Dia sangat ketakutan sampai-sampai kesulitan mengendalikan dirinya sendiri. Tangannya yang gemetar berusaha meraih gelas yang ada di samping tempat tidur, tapi saat dia hampir meraihnya, tanpa sengaja gerakannya malah membuat gelas itu jatuh dan membentur lantai hingga pecah berhamburan, menyebabkan isinya tumpah. Laras merasakan dadanya sesak. Dia seperti tenggelam dan tidak bisa bernapas. “Aghh. Agh!” Dia ingin berteriak memanggil siapa pun yang ada di sana tapi tenggorokkannya terasa kering dan sakit. Saat yang sama, pintu kamarnya terbuka lebar dan Bik Darmi menerobos masuk, menyalakan lampu dan menghampiri Laras dengan segera. “Nona! Saya di sini. Tidak apa-apa. Tenanglah Nona,” ucap Bik Darmi sambil mengusap lembut punggung Laras. Laras terisak, ia berusaha mengendalikan dirinya sendiri dengan susah payah dan menghirup oksigen. “Obat Bik! Obatnya,” ucap Laras dengan terbata-bata. Ia mengumpulkan segenap kekuatannya hanya untuk mengucapkan kalimat itu. “Tapi Nona, Tuan besar bilang ....” “Kumohon.” Laras memotong kalimat Bik Darmi. Tatapannya seakan memohon dengan sangat pada wanita paruh baya tersebut. Bik Darmi tampak ragu untuk sesaat. Dia sama sekali tidak mengerti kenapa Nona muda yang sejak lahir sudah diasuh dan dilayaninya tersebut bisa seperti ini. Sejak Nona-nya melarikan diri dari pernikahan yang diatur oleh sang ayah lima tahun lalu, hampir setiap malam Nona-nya itu akan bermimpi buruk dan bahkan sampai Tuan besar Bamantara harus memanggil dokter. Pada akhirnya, dokter menyarankan untuk membawa Nonanya ke psikiater dan sejak saat itulah Nonanya mengkonsumsi obat penenang. Di satu sisi, obat itu memang berhasil menjadi pereda serangan panik yang sering dialami oleh Laras. Tapi setelah lima tahun berlalu, Tuan Bamantara mulai melihat kalau cucunya semakin tergantung pada obat penenang dan itu membuatnya memerintahkan untuk mengurangi sedikit demi sedikit obat penenang yang dikonsumsi oleh Laras. Wajah Laras semakin pucat. Dan Bik Darmi semakin tidak tega melihatnya. Tanpa menunggu lagi, dia mengeluarkan obat dari saku baju tidurnya. Dia memang selalu membawa obat itu bersamanya agar Nonanya tidak bisa dengan bebas mengkonsumsinya. Ini adalah perintah Tuan Bamantara. Bik Darmi memberikan satu butir obat pada Laras, namun dengan cepat Laras merampas botol obat tersebut dan menelan tiga butir isinya dengan tergesa-gesa tanpa air sama sekali. “Non Laras!” Bik Darmi tidak bisa melanjutkan kalimatnya saat melihat Laras mulai terbatuk-batuk karena tersedak. Dengan segera Bik Darmi menuangkan air minum pada gelas yang baru dan membantu Laras untuk minum. Perlahan-lahan, tubuh Laras mulai tidak gemetar lagi. Nafasnya yang tadinya memburu kini perlahan mulai normal. Terlihat dari dadanya yang naik turun dengan teratur. Dengan tatapan berkaca-kaca Bik Darmi menatap Laras yang saat ini berbaring dengan mata yang terlihat sendu karena efek obat yang diminumnya. “Nona, sebenarnya lima tahun lalu apa yang sudah terjadi pada Nona? Sesuatu yang tidak saya ketahui? Kenapa Nona jadi seperti ini?” ucap Bik Darmi. Laras menatap Bik Darmi dengan tatapan yang tampak kosong. “Aku ingin balas dendam pada semuanya,” ucap Laras. Bik Darmi menyeka keringat dan air mata di wajah Laras. “Non Laras pasti akan bisa balas dendam pada Tuan dan Nyonya besar Erlangga yang sudah membuat Non Laras menderita selama ini. Tuan Bamantara, akan membantu Non Laras hingga mampu membalas dendam sampai puas. Non Laras tidak perlu tersiksa seperti ini,” ucap Bik Darmi. Dia tahu seperti apa perlakuan keluarga Erlangga pada Laras, tapi dia sama sekali tidak menyangka kalau semua itu akan membawa penderitaan sebesar ini pada Nonanya itu. “Tapi yang mati tidak akan bisa hidup lagi,” ucap Laras. Dua bulir air mata mengalir jatuh di pipinya. Bik Darmi menyeka air mata Laras yang terus mengalir turun. Dia sudah tahu kalau Laras akan mengatakan hal yang sama ketika ia mulai terpengaruh oleh obat yang dikonsumsinya barusan. “Kirana tidak akan pernah hidup lagi. Tidak akan pernah kembali.” Sekali lagi Laras berbicara sebelum sebelum akhirnya ia tertidur pulas. Bik Darmi menatap wajah majikannya dengan tatapan sendu dan mata berkaca-kaca. Sejak mengkonsumsi obat penenang, Laras hampir selalu menyebut nama itu. Kirana. Tapi tidak ada yang tahu siapa Kirana. Bahkan Tuan Bamantara sudah menyuruh orang untuk menyelidiki siapa sebenarnya Kirana yang selalu disebut oleh Laras ketika dia tidak sadarkan diri tapi tidak ada yang bisa menemukan siapa sebenarnya wanita bernama Kirana yang pernah dekat dengan Laras. Bik Darmi sendiri, yang mengasuh Laras sejak bayi tidak pernah mengingat ada orang bernama Kirana yang dekat dengan Laras. Mereka bukannya tidak pernah mencoba bertanya kepada Laras sendiri tentang siapa Kirana, namun Laras tidak pernah mau menjawab. Dia bahkan tidak ingat dengan kalimat yang selalu di ucapkannya sebelum ia akhirnya tertidur di bawah pengaruh obat penenang. “Berapa butir yang dikonsumsinya kali ini?” Sebuah suara berat tiba-tiba terdengar di belakang Bik Darmi membuat wanita paruh baya itu tersentak kaget. “Tuan, maaf. Saya tidak bisa mencegah Non Laras. Kali ini, Nona terlihat sangat menderita,” ucap Bik Darmi. Tuan besar Bamantara tanpa disadari sudah berdiri di ambang pintu dan menatap ke arah Laras dengan tatapan datar. “Dua butir? Atau bahkan lebih?” tanya Tuan Bamantara sekali lagi. “Tiga butir,” jawab Bik Darmi pelan. Tuan Bamantara melangkah mendekat dan mengamati wajah Laras yang sekarang tertidur pulas. Meski dirinya selalu terlihat bersikap dingin dan kaku di hadapan Laras, semua orang di rumah itu tahu betapa sayangnya dia pada cucu satu-satunya tersebut. Lima tahun lalu, Laras datang menemuinya setelah melarikan diri dari pernikahannya sendiri. Gadis itu bahkan masih memakai gaun pengantin dan tanpa mengenakan alas kaki. Dia sama sekali tidak mengerti mengapa cucu yang selama ini menolak menemuinya dan menjauhkan diri darinya tiba-tiba muncul di hadapannya sambil memohon dan menangis meminta tolong. Meski sebenarnya dia tidak suka saat tahu kalau Rama Erlangga menjodohkan Laras dengan anggota keluarga Artawijaya itu, bahkan menyuruh Laras menikah segera begitu dia lulus SMA, tapi Tuan Adiwilaga Bamantara menahan dirinya karena ia melihat kalau Laras sepertinya mencintai Arsen Wira Bratajaya yang dijodohkan dengan cucunya itu. Jadi ketika Laras tiba-tiba meminta bantuannya untuk membatalkan perjodohan itu, dia tentu saja dengan senang hati membantu. Akan tetapi, lima tahun lalu yang membuatnya semakin kaget adalah bahwa Laras, cucu satu-satunya itu memilih untuk meninggalkan keluarga Erlangga dan tinggal bersamanya. Gadis itu tiba-tiba membenci ayah yang selama ini selalu dia bela dan bahkan menentang ibu tiri yang sangat dia sayangi sebelumnya. Tuan Bamantara tadinya berpikir kalau Laras pada akhirnya menyadari kalau ayah kandungnya sudah menyia-nyiakan dirinya dan almarhum ibunya. Kalau ibu tirinya hanya memanfaatkan dirinya selama ini, dan bahwa semua saudara tirinya sama sekali tidak menganggap dirinya sebagai anak keluarga Erlangga. Akan tetapi, semua terasa janggal pada akhirnya karena perubahan Laras terlalu tiba-tiba. Ditambah lagi, mimpi-mimpi buruk yang selalu dialami cucunya itu semenjak datang kepadanya. Seakan Laras sudah mengalami hal yang amat sangat buruk dan membuat luka pada mental dan pikirannya sampai ia kesulitan untuk mengatasinya. Mungkinkah, keluarga Erlangga sudah melakukan sesuatu yang jauh lebih buruk dari yang dia kira selama ini? Meski dia selalu mengawasi menantunya itu diam-diam demi menjaga Laras. Bisa saja Rama Erlangga ataupun wanita yang menjadi istri pria itu sudah melakukan sesuatu pada cucunya dan itu lolos dari pengamatannya? Perlahan Tuan Bamantara menyentuh kening Laras. Wajah cucunya itu mengingatkannya pada putrinya yang sudah tiada. Jika saja dulu Larissa, putri satu-satunya itu tidak menikah dengan Rama Erlangga karena cinta buta, maka semua penderitaan ini tidak akan terjadi. Larissa mengakhiri hidupnya sendiri saat mengetahui pengkhianatan suaminya dan meninggalkan Laras seorang diri. Kemudian karena hasutan ayah serta ibu tirinya, Laras menjadi benci pada Tuan Bamantara serta menjauh. Di detik-detik terakhir, Laras akhirnya tersadar dan meninggalkan calon suaminya yang playboy tersebut. Hal inilah yang sangat disyukuri oleh Tuan Bamantara. “Dia menyebut Kirana lagi?” tanya Tuan Bamantara kali ini. Bik Darmi mengangguk pelan. “Non Laras mengatakan hal yang sama dan menyebut nama Kirana. Saya pikir, Kirana mungkin adalah orang yang sangat berarti bagi Non Laras, mungkin seorang sahabat yang tidak saya kenal,” ucap Bik Darmi. Tuan Bamantara menarik napas panjang. Dia juga tahu kalau Kirana adalah orang yang sangat berarti untuk Laras dan dilihat dari cara Laras mengatakan kalau orang yang bernama Kirana itu tidak akan hidup lagi, itu artinya Kirana sudah meninggal. Tapi anehnya dia sama sekali tidak bisa menemukan jejak orang bernama Kirana yang selalu disebut oleh Laras. Seakan Kirana yang yang selama ini selalu disebut oleh Laras sama sekali tidak pernah ada di dunia ini. Dokter mengatakan kalau Laras mungkin menciptakan sosok imajinasi dari pikirannya demi menghindari penderitaan yang ditahannya selama ini dan itu bermula dari masa ketika dirinya masih sangat kecil dan rapuh kemudian terbawa hingga akhirnya dia dewasa. Pada satu titik, Laras mungkin kesulitan untuk membedakan yang mana kenyataan dan halusinasi sehingga alam bawah sadarnya masih menganggap kalau Kirana itu benar-benar ada. Meski begitu Tuan Bamantara sebenarnya sulit mempercayai teori dokter yang menangani Laras ini, karena dirinya tahu sekali kalau dalam kesehariannya, Laras adalah sosok dengan kepribadian yang kuat sama seperti dirinya. Makanya dia berani mempercayakan kepemimpinan perusahaan pada Laras dan membantu cucunya itu mengembangkan perusahaan rintisannya. Tapi ketika berkaitan dengan mimpi buruk dan apa yang dia ucapkan ketika dalam keadaan setengah sadar. Tuan Bamantara tidak bisa menemukan teori lain yang lebih masuk akal untuk menjelaskan keadaan Laras. Terlebih lagi, Laras sama sekali tidak mau menjelaskan apa-apa terkait hal itu. “Bik Darmi, aku tahu kau lelah, tapi malam ini tolong jaga dia. Jangan biarkan dia sendirian,” ucap Tuan Bamantara. Bik Darmi mengangguk mengerti dan Tuan Bamantara melangkah pelan keluar dari kamar itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD