"Yang datang Pak Yuda. Katanya mau nganterin berkas yang Pak Daniel minta," jawab Bi Rusmi.
Bianca dan Namira bernapas lega. Namira melepaskan gamitan tangan pada lengan suaminya. Membiarkan Daniel menemui Yuda, salah satu orang kepercayaan Daniel di perusahaan.
"Terima kasih, Bi. Saya akan menemuinya. Bibi tolong buatkan kopi untuknya," titah Daniel pada wanita yang telah lama bekerja di rumahnya.
"Baik, Pak."
Daniel berjalan ke depan, menemui Yuda yang diminta olehnya mengantarkan berkas-berkas tentang penggelapan uang perusahaan. Daniel tak habis pikir, kenapa dia bisa kecolongan? Tidak sadar kalau ada orang yang berusaha menggelapkan uang perusahaan.
Bi Rusmi ke dapur, sedangkan Bianca dan Namira menunggu di ruang makan. Mereka berdua sangat tenang karena yang datang bukan orang yang tidak mereka inginkan.
"Kalau sampai mamaku yang datang, aku gak akan ngebiarin kamu dan papah menemuinya," kata Bianca sambil menyuap nasi ke dalam mulutnya. Namira menganggukkan kepala. Ia setuju kalau suamiya tidak perlu bertemu dengan Hesti.
Di luar rumah, Daniel sudah menemui Yuda, orang kepercayaannya sejak dulu.
"Yud, mana berkasnya?" tanya Daniel duduk di kursi yang bersebelahan dengan Yuda. Dia sudah penasaran tentang isi berkas tersebut.
"Kopinya Pak Daniel, Pak Yuda."
Bi Rusmi datang, meletakkan secangkir kopi di hadapan Yuda. Secangkir kopi untuk majikannya.
"Makasih, Bi," timpal Daniel dan Yuda hampir berbarengan.
"Sama-sama."
Yuda mengangkat cangkir kopi, menyesapnya perlahan. Daniel meneliti hasil kerjaannya yang belum selesai sekaligus hasil penyelidikan tentang seorang yang menggelapkan uang perusahaan.
"Pak, tadi Ibu Hesti sempat bicara sama Ibu Mutiara."
Daniel menoleh cepat, mengubah posisi duduk, lebih menghadap Yuda. Setelah sekian lama, baru ia mendengar nama mantan istrinya. Hesti. Wanita yang dulu beberapa kali b3rselingkuh.
"Hesti bicara sama Mutiara?" Daniel memastikan pendengarannya. Hatinya berharap kalau Hesti tidak berbuat masalah.
"Iya, Pak. Ibu Mutiara sendiri yang bilang. Katanya, Ibu Hesti tidak melakukan penggelapan uang." Jawaban Yuda tidak membuat Daniel percaya begitu saja. Belum ada bukti.
"Lalu?"
"Dia juga bilang ke Ibu Mutiara kalau Bu Hesti akan kembali rujuk dengan Bapak."
Kedua mata Daniel membulat sempurna. Bibirnya menyunggingkan senyum sinis. Ia menggelengkan kepala, menertawakan cerita tentang Hesti.
"Percaya diri sekali dia. Katakan pada Mutiara, jangan percaya sama omongannya. Saya sudah punya istri. Istri saya yang sekarang jauh lebih baik dari pada Hesti. Mana mungkin saya lebih memilih dia dari pada Namira? Gak war@s." Daniel berkata sangat tegas. Sedikit pun Daniel tak ingin kembali berumah tangga dengan Hesti. Wanita yang sudah membuatnya kecewa berulang kali. Dimaafkan, tetapi Hesti selalu mengulangi.
Hati Daniel sudah sangat kecewa jika mengingat pengkhianatan yang dilakukan Hesti. Berulang kali Hesti bers3lingkuh sampai anak kandungnya sendiri melihat perselingkuhannya.
"Saya juga mengatakan itu pada Mutiara, Pak. Tapi, Bu Hesti enggak akan pantang nyerah untuk bisa kembali lagi sama Bapak." Yuda sebagai sahabat sekaligus orang kepercayaan Daniel tidak akan membiarkan rumah tangga Daniel dan Namira hancur karena kehadiran Hesti.
"Sudahlah, jangan kamu dengerin ucapan dia, Yud. Saya gak mungkin kembali lagi padanya apapun alasan yang dia ucapkan."
Daniel berusaha meyakinkan orang kepercayaannya. Sempat terpikirkan Yuda kalau Daniel akan kembali pada Hesti mengingat ada darah daging mereka yaitu Bianca.
"Saya harap juga begitu, Pak. Baiklah, kalau begitu saya pamit pulang."
Yuda dan Daniel berdiri, bersalaman. Tak lupa Daniel mengucapkan terima kasih karena Yuda mau mengantarkan berkas kerjaannya.
"Hati-hati, Yud." Pesan Daniel pada sahabatnya.
"Iya, Pak."
Kendaraan yang ditumpangi Yuda sudah keluar dari halaman luas rumah Daniel.
Setelah kendaraan Yuda sudah tak terlihat, Daniel tak langsung masuk ke dalam rumah. Ia menghampiri security yang berada di pos jaga.
"Selamat malam, Pak." Salah satu security menyapa. Dua security itu berdiri, memberi hormat pada majikannya.
"Malam. Kalian udah makan?" tanya Daniel. Memberi perhatian pada setiap karyawannya.
"Belum, Pak. Nanti saja,” jawab security hampir berbarengan. Daniel mengulas senyum lalu berdehem. Ia ingin menyampaikan pesan pada kedua security itu.
"Oke. Begini, saya ingin memberi kalian pesan penting." Daniel duduk di bangku panjang depan pos. Menyuruh dua security itu pun duduk di sebelahnya. Meski segan, kedua security itu tetap menuruti perintah majikannya.
"Pesan penting apa, Pak?" tanya salah satu security penasaran. Tidak biasanya Daniel memberi pesan penting. Apakah ada orang yang ingin berbuat jahat pada keluarga Daniel?
“Kalian masih ingat Ibu Hesti?” tanya Daniel pada security yang telah lama mengabdi.
“Masih, Pak. Kami masih ingat,” jawab security. Bagaimana mereka bisa lupa dengan istri pertama Daniel yang sombong dan suka semena-mena pada pekerja di rumah ini?
"Kalau Ibu Hesti datang ke sini, tolong jangan biarkan dia masuk. Langsung suruh pergi saja."
Perintah Daniel membuat dua security itu saling pandang.
"Kalian gak usah takut. Kalian bilang saja nanti, kalau saya yang memberi perintah. Ingat ya, jangan sampai dia masuk ke halaman rumah saya. Kalian paham?"
"Paham, Pak." Dua security itu serempak menjawab. Setelahnya, Daniel beranjak pergi, meninggalkan dua security yang tampak kebingungan.
Dua security itu memang sudah sangat lama bekerja bersama Daniel. Bahkan saat Daniel dan Hesti masih menjadi suami istri, mereka masih bekerja.
"Jon, bukannya Ibu Hesti ada di luar negeri?" Parman, security yang usianya lebih tua bertanya.
"Iya. Kayaknya udah balik lagi. Udahlah, yang penting kita ikutin perintah Pak Daniel aja."
***
Daniel kembali masuk ke dalam rumah. Ia menyimpan berkas laporannya dulu. Setelah itu, barulah ke ruang meja makan. Di mana anak dan istri barunya berada.
"Lama amat, Pah?" tanya Bianca saat Daniel tiba di ruang makan.
"Masa lama? Papah cuma ngobrol sama Yuda sebentar. Dan kasih pesan ke security," jawab Daniel.
Namira dengan cekatan mengambilkan piring, nasi dan lauk pauk, lalu diletakkan di depan suaminya.
"Pesan ke security?" gumam Bianca tak mengerti.
"Iya. Sudah, makan dulu." Meski Bianca penasaran, tapi ia tak berani bertanya lagi.
***
Lima hari sejak makan malam itu, pagi harinya Namira keluar toilet. Rambutnya basah. Daniel yang melihat Namira keramas, langsung bergegas menghampiri.
"Kenapa, Mas?" tanya Namira heran, melihat Daniel tiba-tiba berdiri di depannya.
"Kamu keramas?"
"Iya."
"Kamu, menstruasi-nya udah selesai?"
Sontak, Namira dahinya mengkerut. Ia mulai sadar akan maksud pertanyaan suaminya.
"U-udah."
Senyum Daniel mengembang. Tangan kekar Daniel menyelipkan anak rambut Namira ke telinga. Memandang wajah istrinya yang tanpa make up penuh kasih sayang.
"Kalau begitu, jangan kita tunda lagi." Tanpa menunggu tanggapan Namira, Daniel melakukan yang ingin dilakukan.
"Arrgh! Mas, s@-kit! S@-kit!" teriakan Namira membuat Daniel mengerutkan kening.
"S@-kit apanya, Sayang?"