Part 10

1021 Words
Part 10 *** Wanita Hebat melukis kekuatannya melalui proses kehidupan. Bersabar saat tertekan, tersenyum saat menangis, diam saat Terhina dan mempesona karena memaafkan. . . . . Pekerjaan Nara selesai sore hari. Rumah saat ini terasa sepi karena orangtua Devian pergi untuk urusan bisnis. Para pelayan sebagian ada yang masih bekerja namun ada juga yang telah kembali ke kamar untuk beristirahat.  Merasa semua badannya lengket akibat keringat Nara lalu memilih membersihkan diri dikamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Acara mandi selesai, Nara lalu melilitkan handuk ketubuhnya sebelum keluar. Nara terkejut mendapati Devian telah duduk di tepi kasurnya. Keturunan Arthur itu pasti masuk dengan kunci cadangan yang ia pegang. Setelah kejadian di dapur waktu itu, Devian beberapa kali menyelinap masuk ke kamar Nara. Dan berulang kali juga ia mengusir laki-laki itu. Risih dengan tatapan Devian saat ini, Nara berniat kembali ke kamar mandi namun sebelum pintu kamar mandi terbuka, Devian menarik pinggang dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Nara melotot begitu Devian merangkak di atas tubuhnya, "mau apa kau?!" Tanpa menjawab Devian lalu menunduk kearah leher Nara. Refleks tangan Nara berusaha mendorong Devian dari atas tubuhnya. Pukulan bahkan berteriak pun Nara lakukan. "Jangan!jangan!" Nara terisak, sadar akhir dari kejadian ini pastilah menyakitkan. Tubuhnya gemetar begitu leher bagian kanan dilumat keras oleh Devian. Tidak. Jangan lagi! Batin Nara menjerit. Sejak awal, niat Devian datang ke kamar ini karena menginginkan Nara. Jadi, saat tau Nara sedang mandi Devian menunggu tak sabar. Wangi harum yang menguar dari tubuh Nara seolah memanggil Devian untuk mencium seluruh tubuh wanita itu secara langsung. Tanpa basa basi ia melancarkan aksi. Tidak perduli dengan lelahan air mata yang mulai mengganggu. "Sst ... sebentar lagi kita akan menikah. Aku rasa tidak masalah kalau kita melakukan ini." Nara menggeleng dengan wajah bersimbah air mata sembari berusaha lepas dari kungkungan Devian. Ia tidak ingin lagi diperlakukan rendah seperti ini. Sreeett Nara memejamkan matanya erat. Satu-satunya kain yang menutupi tubuh polosnya ditarik paksa. Ia dilecehkan. Lagi. Tidak bisa melawan begitu dirasa perut bawahnya mulai nyeri akibat di hempaskan ke tempat tidur dengan keras oleh Devian tadi. Hening sejenak, hanya isakan Nara yang terdengar sebelum Terasa pergerakan di kasur Nara lalu diikuti bunyi pintu yang di buka dan di tutup dengan keras. Saat Nara memberanikan diri membuka mata, Devian sudah tidak ada. Ya Tuhan ... Nara mengucap syukur. Tuhan menyelamatkannya. Tangisan Nara tak berhenti tubuhnya bahkan gemetar. Ia tidak tau kenapa hidupnya seperti ini. Ia hampir dilecehkan oleh orang yang dulu memperkosanya. Tak taukah dia, jika perbuatannya dulu saja membuat Nara selalu merasa takut. Bahkan terkadang kilasan kejadian itu masuk kedalam mimpi hingga membuat Nara terjaga sepanjang malam karena rasa takut. Dan saat ini, orang itu ingin melakukan hal yang sama pada orang yang selalu ia hina dan pandang rendah, pada orang yang saat ini tengah mengandung anaknya. "Hiks..." Tangan Nara merambat keatas perutnya, mengelus perlahan agar rasa sakitnya berkurang. Perasaan sedih dan tidak rela merambati hatinya yang rapuh. Mengasihani diri dan bayi yang sedang ia kandung karena harus berurusan dengan mahluk jahat seperti Devian Arthur. **** Braakkkk Barang-barang tak berdosa di kamar Devian menjadi korban bantingan si empunya kamar. Semua karena apa yang terjadi barusan. Niat untuk meniduri Nara gagal begitu ia melihat secara langsung perut besar perempuan itu. Padahal sejak kejadian di dapur waktu itu ia mulai merasa penasaran dengan wanita itu. Ada perasaan ingin memiliki Nara sekali lagi dan sore ini adalah kesempatannya. Suasana rumah yang sepi semakin memperlancar usahanya. Namun itu semua harus pupus karena hal yang selalu coba ia lupakan. Selama ini, ia tidak terlalu -bahkan terkesan enggan- memperhatikan perut besar Nara yang tertutupi pakaian yang dikenakan. Baru tadi, ia melihat perut itu secara langsung. Entah mengapa hatinya jadi tidak karuan begitu satu kenyataan muncul di kepalanya. Di dalam perut Nara ada bayinya. Anaknya. Meskipun selalu berusaha menyangkal, tetapi sulit untuk menghilangkan kenyataan bahwa ia sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Dan orang yang melahirkan anaknya adalah seseorang yang kastanya jauh berbeda darinya. Tidak bisa diterima dan tidak akan pernah ia terima. Nafas Devian terengah, ia harus menahan perasaan aneh yang dia rasa selalu muncul tiba-tiba. Perasaan aneh jika berhubungan dengan Nara. Ia membenci perempuan bodoh itu sekaligus menginginkannya. Sial! ***** "Ada apa? Kau terlihat sangat tak tenang, Dev." Devian menoleh ke arah Kim Ryeon. Lee dan Yongi yang berkumpul bersama Devian juga beralih memperhatikan raut wajah Devian. Acara kelulusan mereka hanya tinggal menunggu hari, tentu raut wajah bahagia yang harusnya terpatri pada wajah masing-masing. Hanya Devian yang nampaknya terus-terusan mendengkus atau sesekali menggerutu membuat teman-temannya melirik penasaran. "Kau memiliki masalah?" Menggeleng, lalu Devian tersenyum remeh, "masalah tidak pernah ada dalam kamusku." "Jika kau mengatakannya sebelum hari ini mungkin aku akan percaya." Menghela nafas, Devian mengajukan pertanyaan, "apa tanggapan kalian tentang menikah di usia muda?" Kim Ryeon dan Yongi tertawa, "setelah pertunanganmu putus dengan Min Hari, kau masih membayangkan rasanya nikah muda?" Devian menggeleng, "aku tetap akan menikah dan bukan dengan Min Hari." Pernyataan Devian membuat para sahabatnya tercengang. Mereka memang tidak tau alasan sebenarnya pertunangan Devian dengan Min Hari putus. Nyatanya berkawan baik dengan putra tunggal keluarga Arthur cukup lama tidak menjadikan Devian terbuka pada sahabatnya. "Kau ... tidak bercanda kan, Dev?" Tanya Lee. Devian menggeleng lesu sebagai jawaban. Andaikan ini semua hanya candaan tidak mungkin ia sefrustasi ini menghadapinya. ***** "Kita harus membicarakannya, Ayah. Kandungan perempuan itu semakin besar, bisa saja ia melahirkan dalam waktu dekat." Rayden mengikuti mertuanya masuk ke dalam ruang kerja di rumahnya. "Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, Rayden. Anak yang akan dia lahirkan adalah laki-laki, jadi Devian harus menikahinya jika ia menginginkan posisi tinggi di keyshan group." Ujar Kim Ryung yakin. Rayden menatap mertuanya tak puas. "Bagaimana jika anak yang perempuan itu lahirkan bukan laki-laki, Ayah?" "Kau meragukan kepercayaan keluargaku?!" Kim Ryung merasa tersinggung. Selama hidupnya kepercayaan keluarganya tidak pernah salah. Anak pertama yang lahir pastilah laki-laki. Dan hal itu sejak dulu tidak pernah salah. "Tidak Ayah, hanya saja kita tidak tau apa yang akan terjadi nanti." Rayden Arthur sangat tau bahwa mertuanya tidak akan pernah mau berurusan dengan dokter bahkan untuk masalah kehamilan Nara. Kim Ryung melarang Nara melakukan USG. Kim Ryung duduk dengan tenang di sofa yang ada di ruangan itu. Tatapannya lurus ke depan seakan menembus jauh ke luar ruangan itu. "Jika anak yang perempuan itu lahirkan bukan laki-laki ... kita singkirkan mereka. Anak dan ibu harus kita pisahkan supaya perempuan itu tidak memakai bayinya untuk menghancurkan nama baik keluarga kita. Dan Devian juga tidak harus menikahinya. Dia akan bebas dari tanggung jawab pernikahan." . . . . . //Trust//
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD