Part 8
Orang menangis bukan karena mereka lemah, tapi karena mereka telah menjadi kuat untuk waktu yang lama
- Changmin TVXQ -
.
.
.
.
.
Demamnya belum turun saat Nara terbangun tengah malam. Sejak tadi pagi Nara merasa tubuhnya mengigil, badannya lemas dan kepalanya pusing.
Nara tidak sadar, kelelahan dan tekanan dari orang sekitar membuat tubuhnya protes. Nara bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidur untuk makan dan meminta obat penurun panas. Itu semua menambah parah kondisi tubuhnya yang tengah mengandung.
Nara menatap gelas dan obat penurun panas di nakas samping tempat tidur. Beberapa jam yang lalu Devian ditemani seorang pelayan membangunkannya. Dengan wajah terpaksa Devian menyuapinya bubur hangat dan buru-buru memberi obat. Pasti karena Devian tidak mau mencium baunya.
Cairan bening mengalir dari sudut mata Nara seiring lolosnya isakan kecil. Ia kesepian. Hidup di dalam rumah mewah tanpa boleh melihat kehidupan luar. Nara tidak tau bagaimana nasib rumah dan pekerjaan yang ia tinggalkan. Ia harus meninggalkan semua kehidupan lamanya begitu saja tanpa bisa membantah.
Beberapa hari ini Nara merasa aneh dengan dirinya. Ada suatu keinginan besar dari hati untuk menyentuh wajah Devian dan perasaan itu makin tidak terkendali saat tadi Devian menyuapinya. Ayah biologis dari bayinya duduk begitu dekat. Tapi, dengan kebencian yang selalu Devian tunjukkan padanya, Nara memilih memendam keinginannya.
Ia tidak siap dicaci jika sembarangan menyentuh wajah keturunan Arthur.
Pergerakan halus di dalam perutnya membuat Nara tersenyum miris. Beginikah rasanya menjadi ibu?
Meskipun berat, tapi Nara tidak bisa memungkiri bahwa ia bahagia mengetahui ada mahluk mungil yang selalu bersamanya. Merawat dan menanti kelahiran bayinya dengan sabar. Perasaan ini tidak bisa diganti dengan apapun.
jika menjadi seorang ibu sebahagia ini, lalu kenapa ia malah dibuang di depan panti asuhan bersama sang kakak?
Apa kelahirannya tidak membawa kebahagiaan hingga harus ditelantarkan?
Ceklekk!!
"Bisakah kau tidur? Suaramu terdengar ke kamarku dan membuat tidurku terganggu."
Nara menatap kaget Devian yang berdiri diambang pintu kamarnya yang memang tidak terkunci. Wajahnya kesal sembari menatap Nara.
Tidak sadar jika isakannya cukup menganggu.
Nara hanya bisa mengangguk pelan sebagai jawaban, membuat Devian mendengkus sebal lalu kembali menutup pintu kamar Nara.
Tapi ...
Suaranya terdengar sampai ke kamar Devian? Bukankah kamar Devian berada di lantai dua?
*****
Hah~
Devian menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Sudah lewat tengah malam dan ia belum bisa tidur.
Bodohnya ia malah pergi ke kamar Nara untuk melihat keadaan perempuan itu. Tapi yang ia dapati malah suara isakan yang terdengar saat ia berdiri -hampir menempel- di depan pintu kamar Nara.
Tanpa berpikir ia masuk dan memarahi perempuan itu.
Memarahi?
Untuk apa?
Suara perempuan itu bahkan sama sekali tidak terdengar dari dalam kamarnya.
Arrgghh!
Sebenarnya ada apa dengan dirinya?
Ia cukup frustasi dengan perasaan aneh yang telah ia rasakan entah sejak kapan. Saat tau kalau Nara sakit ia sempat kebingungan, namun akhirnya meminta bantuan dari seorang pelayan di rumah untuk menyiapkan makanan dan obat. Ia sendiri yang menyuapi Nara karena melihat perempuan hamil itu kesusahan bahkan untuk duduk.
Benar-benar bukan dirinya sama sekali.
*****
Perasaan tegang menyelimuti ruang tamu keluarga Arthur.
Keluarga Min Hari datang kerumah keluarga Arthur tanpa undangan. Masih merasa terhina karena pertunangan antara Min Hari dan Devian diputus tiba-tiba tanpa alasan yang jelas.
Min Hari sendiri terpaksa ikut ke rumah mantan tunangannya. Meskipun ia tidak keberatan dengan batalnya rencana pernikahan mereka tapi, Min Hari memang penasaran dengan alasan sesungguhnya.
"Kami pikir keluarga terhormat seperti kalian tidak akan melakukan hal memalukan seperti ini. Apa salah Min Hari sampai Devian memutuskannya? Bukankah kita sudah sepakat akan menikahkan mereka?"
Kemarahan adalah hal wajar orangtua Devian terima, siapa pun pasti melakukan hal sama jika anaknya yang telah mengumumkan pertunangan di hadapan orang banyak serta kolega bisnis kini dicampakkan begitu saja.
Rayden Arthur dan Kim sena masih mencoba menjelaskan secara baik-baik kepada keluarga Min Hari tanpa mengatakan bahwa anak mereka telah menghamili seorang perempuan yang status sosialnya jauh dari mereka.
Suasana masih sangat panas saat Nara keluar dari arah dapur dengan membawa nampan berisi minuman.
Nara berdiri kaku melihat siapa keluarga yang bertamu di kediaman Arthur sore ini. Semua mata termasuk seorang wanita yang sudah lama tak ia lihat menatapnya tajam.
*****
Baik Min Hari dan Nara hanya diam saat duduk berdampingan di bangku taman rumah Devian.
Min Hari kelewat terkejut mendapati Nara berada di rumah mantan tunangannya. Oh, jangan lupakan perut besar Nara. Rasanya ada banyak pertanyaan dan praduga di dalam otaknya namun tak ada satu pun yang mampu ia utarakan.
Beberapa bulan yang lalu Nara keluar dari sekolah setelah berhasil menjadi perwakilan dari sekolah, dan Min Hari pikir karena tak kuat menanggung malu akibat hamil di luar nikah. Tapi sekarang, ia melihat Nara di rumah keluarga Arthur yang hanya memiliki satu putra tunggal. Ada hubungan apa Devian dengan Nara?
"Jadi, siapa ayahnya?" Tanya Min Hari tanpa mau repot-repot menatap lawan bicaranya. "Devian?" Min Hari memastikan. Nara masih terdiam takut. Tidak bisa memastikan bagaimana reaksi gadis berambut brown di sampingnya, sedangkan Devian tidak terlihat sejak pagi.
Ya Tuhan ... mengapa hanya dirinya yang terjebak dalam situasi seperti ini?
Saat tadi keluarga Min Hari datang Nara sedang membersihkan sayur dan bahan-bahan masak untuk makan malam. Lalu tiba-tiba pelayan lain menyuruhnya untuk mengantarkan minuman, tanpa tau siapa yang bertamu Nara melakukan apa yang disuruh.
Dengkusan sinis terdengar. "Ternyata perempuan polos sepertimu pun tidak dapat menolak Devian Arthur." Min Hari kecewa bukan karena Devian direbut. Tapi, karena Nara juga tidak ubahnya seperti gadis murahan yang bisa ditiduri oleh laki-laki tanpa memiliki hubungan apapun dengannya. Padahal awalnya di matanya Nara adalah gadis baik dan lugu. Ia menyukai sifat Nara yang baik serta terlihat tulus dalam segala hal. Tapi kini, orang yang ia anggap kawan malah berubah jadi lawan.
Kecewa. Hanya itu yang membuatnya marah.
"Maaf ..." lirih Nara.
"Maaf karena membuat semuanya jadi berantakan, Hari." Nara melanjutkan lirih.
"Jangan sebut namaku lagi. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal." Ya. Mereka kini bukanlah sepasang kawan. Jadi alangkah baiknya adalah mengaggap kalau mereka tidak pernah saling mengenal.
Nara terdiam mendengar petuah Min Hari. Gadis itu pantas marah kepadanya. Nara tidak tau bahwa Min Hari marah bukan karena Devian direbut.
Tanpa kata Min Hari berdiri hendak meninggalkan Nara.
"Tunggu!" Cegah Nara. "Aku minta maaf jika membuatmu kecewa. Kau patut marah. Tapi, aku ingin berterimakasih padamu. Meskipun pertemanan kita berakhir, setidaknya selama di sekolah dulu kau adalah teman terbaik yang ku punya. Kau satu-satunya orang yang mau berteman dan menolongku. Terimakasih Ha-" Nara menunduk begitu ingat bahwa Min Hari melarangnya menyebutkan nama gadis brown itu.
"Terimakasih ..."
.
.
.
.
//Trust//