Part 6

1009 Words
Part 6 Terkubur dalam kesedihan sepanjang waktu . . . . . Rayden Arthur. Salah satu sosok yang terkadang membuat Nara takut meskipun tak banyak bicara. Berbeda dengan Devian yang selalu mengeluarkan kata-kata pedas seperti ibunya. Ayah Devian hanya akan memberikan tatapan tajam kepada Nara seolah kehadirannya mengganggu. Seperti saat ini, Nara sedang membersihkan ruang kerja Rayden saat laki-laki itu masuk. "Apa yang kau lakukan?" Nara menoleh kaget. "Saya sedang membersihkan ruangan ini Tuan." Cicit Nara pelan. "Apa tidak ada yang memberitahumu? Ruangan ini tidak boleh dimasuki sembarang orang. Termasuk kau." Nara terdiam mendengar itu. Ia tidak tau apa-apa tentang peraturan itu. Ia hanya di suruh. "Lebih baik kau keluar." Nara buru-buru undur diri setelah meminta maaf atas kesalahannya. "Hufft" Nara menghela nafas setelah keluar dari ruangan ayah Devian. Sudah seminggu Nara tinggal di rumah Devian. Perlahan ia mulai tau tentang keluarga Devian. Ayahnya, adalah orang Amerika memiliki perawakan tinggi besar dan mata coklat terang. sedangkan ibunya asli dari Korea. Kakek Devian, orang yang memaksanya tinggal di rumah ini memiliki rumah sendiri di Seoul dan hanya datang sesekali ke rumah ini. Seminggu ini Ia sama sekali tidak boleh keluar rumah. Semua kebutuhan di sediakan di rumah ini. Tapi, Nara harus bekerja sebagai pelayan di rumah ini tanpa di gaji. Semua itu sebagai bentuk balasan atas fasilitas yang Nara dapat dari keluarga Arthur. Setidaknya, itulah yang Kim Sena katakan pada Nara. "Hey, kenapa malah berdiri di situ? Kemari! Masih banyak pekerjaan yang harus kau kerjakan." Suara salah satu pelayan wanita di rumah Arthur sekaligus orang yang tadi memintanya untuk membersihkan ruang kerja Rayden. Nara menghampiri wanita paruh baya bernama Hwang itu. "Cuci semua piring ini. Sekarang!" Nara melirik sekilas tumpukan piring kotor lalu mengangguk. Tanpa kata ia kerjakan perintah itu. Mencuci piring bukan hal sulit untuknya. Namun, dengan tambahan beban di perut terkadang membuat pekerjaan yang dikerjakan sambil berdiri ini cukup menyiksa apabila piring yang dicuci cukup banyak. "Bagaimana? Apa rencana kita berhasil?" "Entahlah, aku tidak mendengar Tuan Rayden memarahinya. Tapi setelah keluar dari ruangan itu, dia sempat melamun. Aku tidak tau apa yang ia lamunkan." Nara bisa mendengar samar pembicaraan tiga pelayan wanita di luar dapur. Sejak pindah ke rumah ini, tidak ada yang perduli pada Nara. Bahkan, semua pelayan di rumah ini seakan memusuhinya. Nara tidak tau pasti alasannya, yang jelas mereka selalu menyindir keadaan Nara yang sedang mengandung anak dari majikan mereka. Sempat Nara dengar bahwa mereka menyangsikan ayah biologis dari bayinya. Mungkin hal itulah yang membuat mereka memperlakukan Nara semena-mena. Andai saja mereka tau bahwa dirinya ini hanyalah korban. ****** Hiduplah dengan bahagia. Tidak perduli sebanyak apa hartamu dan seberapa cantik wajahmu. Karena, kebahagiaan tidak diukur dari itu. Kebahagiaan sifatnya mengejar bukan dikejar. Siapa yang bersyukur dengan hidupnya, maka Tuhan akan selalu limpahkan kebahagiaan. "Hidup ini, indahkan?" Lirih Nara bertanya pada bayi di dalam perutnya. Hanya hembusan angin sore sebagai jawaban. Berharap ada titik terang dalam hidupnya yang makin tidak jelas akhirnya. Nara bertahan di rumah ini demi kebaikan untuk bayi yang ia kandung. Awalnya ia kekeh untuk merawat bayinya sendiri tanpa tanggung jawab dari siapapun sebelum kata-kata dari Kim Ryung -kakek Devian- menyadarkannya akan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan jika ia egois dengan keinginannya. Sesuatu yang akan memudahkan kehidupan anaknya di masa depan. Sesuatu bernama akta kelahiran. Nara rela menikah dengan Devian demi sebuah kertas tanda pengakuan supaya suatu saat nanti anaknya tidak mendapat predikat anak haram dari mulut-mulut kejam di luar sana. ***** "Woah ..." "Jadi dia, calon istri Devian?" "Jauh dari bayanganku." "Berapa kali kalian bermain? Aku tidak percaya sekali bermain Devian bisa membuat kau hamil?" "Wajah dan kelakuannya menipu." Nara hanya menunduk mendengar semua perkataan yang di ucapkan dua sepupu Devian. Mereka laki-laki tapi bermulut seperti penyihir jahat. Dan mengapa para pelayan di rumah ini sengaja membuat ia harus mengantarkan minum pada dua orang ini? Apa mereka semua bersekongkol untuk membuat hidupnya yang telah hancur ini bertambah lebur? Nara heran, apa semua keluarga Devian memiliki bakat menyakiti orang dengan kata-kata yang keluar dari mulut mereka? Dari Kim Sena, Devian, sekarang sepupunya juga melakukan hal yang sama. Devian yang baru turun dari lantai dua bergegas menghampiri Nara dan kedua sepupunya yang berada di ruang tamu. Gadis bodoh!  Devian melihat Nara berdiri kaku di depan kedua sepupunya. Bukannya pergi setelah mengantarkan minuman wanita itu malah tetap berada di situ dan mendengarkan racauan kedua sepupu edannya. "Dev?" Kim Hyun sik yang pertama kali menyadari keberadaan Devian. "Kenapa masih disini? Cepat pergi!" Bisik Devian di samping Nara. "Kenapa? Biarkan saja dia disini. Namamu siapa, tadi?" Kim jung ji masih belum puas bicara -lebih tepatnya menggoda- dengan Nara. Bahkan ia berusaha menggapai tangan Nara untuk menariknya duduk bersama mereka. Namun sayang Nara lebih dulu menghindar. Nara hanya menunduk saat salah satu sepupu Devian menanyakan namanya kembali. "Apa yang kakak lakukan? Dia memiliki banyak pekerjaan di dapur, jadi biarkan dia pergi." Jawab Devian sedikit kesal. Kim Jung Ji tertawa pelan, "aku hanya ingin tau namanya. Tadi aku sudah bertanya tapi dia tidak menjawabnya." "Namanya Nara. Shin Nara." Devian menjawabnya ketus. Setelah mengusir Nara, Devian duduk di depan para sepupu yang masih menatapnya aneh. "Kenapa?" "Aku tidak menyangka adikku Devian Arthur, sebentar lagi akan menikah." Devian mendengkus. "Andai saja saat itu aku bermain aman, mungkin sekarang aku masih bebas." Sungguh Devian masih menyesali hal itu. Andai ia tidak terlalu terbuai dengan wajah setengah sadar Nara dan melupakan pengaman tentu hidupnya dan wanita itu tidak akan seperti ini. Mereka pun tidak harus menikah dengan paksaan. Kim Hyun Sik dan Kim Jung Ji tertawa. "Aku tidak percaya satu kali bermain kau bisa membuat wanita itu hamil Dev." Kim Hyun Sik bertanya dengan raut meneliti. "Aku membayarnya. Tentu malam itu aku berhak melakukan apapun sepuasnya terhadap gadis bodoh itu." "Baiklah. Aku anggap itu sebagai jawaban kalau malam itu kau menidurinya lebih dari sekali." Kedua sepupu Devian itu tertawa jahil. Mengabaikan wajah kesal Devian. Nara meremat dadanya yang perlahan terasa sesak setelah mendengar perkataan Devian dan kedua sepupunya. Wajah dan kelakuannya menipu. Aku membayarnya. gadis bodoh itu. menidurinya lebih dari sekali. Kelakuan apa? Dia tidak menjual tubuhnya. Ia tidak bodoh. Ia hanya mencoba menerima apa yang sudah Tuhan gariskan. Meskipun harus menyedihkan. Berjalan meninggalkan ruang tamu Nara merasa matanya buram oleh air mata. Sampai kapan ia bisa bertahan? Semakin ke sini rasanya apa yang ia jalani semakin terasa sulit. Ia tidak bisa membohongi diri bahwa kata-kata dan semua perlakuan yang ia dapatkan sangat menyakiti hati. Menarik nafas dalam. Nara berharap rasa sesaknya dapat berkurang. . . . . . //Trust//
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD