Tidak ada kata yang paling indah selain berucap syukur kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah melimpahkan rezeki dan rahmatnya kepada Arsya yang sudah meridhoi dirinya naik motor bersama calon masa depannya. Askhal.
Setelah berdebat panjang kali lebar ditambah tinggi yang sama dengan hasilnya kuadrat, sudahlah tambah ngaur. Akhirnya Anya yang melarangnya untuk ikut bersama Askhal ke Cafe mengalah juga. Dengan ancaman ia tidak akan lagi menuruti permintaan Anya dengan membelikan pembalut di minimarket.
Iya, kakaknya itu memang gila, gila tapi untungnya masih ada bumbu kewarasannya. Coba kalian bayangkan betapa malunya Askhal.
Anya dengan teganya selalu memaksa Askhal membelikan pembalut untuknya. Padahal beban yang dipikul Askhal sangatlah berat kala ia harus memasang tampang malu pada kasir yang mengernyit dan memandang heran dengan barang yang ia beli.
Bisa saja Askhal menolaknya akan tetapi Anya pasti mengancamnya jika dia tidak membelikan roti jepang itu.
Anya akan mengadukannya pada orang tuanya yang sekarang berada di Lombok, mengurusi resort di sana untuk tidak mengirimkan transfer uang pada Askhal dengan alasan Askhal tidak menjaga dirinya. Karena pasalnya Anya adalah cewek termanja yang pernah Askhal temui dan parahnya ia pernah ada di rahim yang sama dengan dirinya.
Setelah baju Arsya dibawa oleh Askhal karena sempat ketempat alamat rumah Arsya, Askhal meminta pada pembantu untuk membawa baju yang Arsya perlukan saja, selebihnya ia kembali pulang meskipun awalnya Arsya begitu tak menyangka apa yang sudah Askhal lakukan untuknya.
Motor itu melaju melintasi jalan raya pada malam hari, angin yang menerpa sejuk memberikan hawa dingin yang menusuk kulit hingga menembus tulang-tulang ditubuh sepasang remaja dengan diselimuti keheningan diantara keduanya, yang sekarang fokus dengan jalanan yang mereka lewati.
Sampai akhirnya, motor itu pun berhenti di kawasan cafe yang pernah Arsya datangi.
"Kok kita kesini kak?" Tanyanya heran. Askhal bukannya menjawab, ia malah meninggalkan Arsya yang masih setia di posisinya dengan berjuta pertanyaan menimbun dipikirannya.
Ia mengikuti langkah Askhal berjalan masuk ke cafe, kebingungannya bertambah ketika sang manager datang menyambutnya dengan tampang wajah yang khawatir dan seakan ia seperti dikejar-kejar sesuatu.
Setelah berbincang-bincang, Askhal menghampiri Arsya dan menarik tangannya. Mata Arysa membulat ketika Askhal menggenggam tangannya dan berhenti di tengah-tengah meja.
"Lo tunggu di sini aja, pesan apa yang lo mau. Nanti biar gue yang bayar."
"Tapi kak---" ucapannya lagi-lagi terpotong ketika cowok berkacamata itu pergi berjalan menjauh menuju ke panggung dan mengambil gitar yang diberikan oleh pengurus alat musik yang ada di panggung sana.
Tak lama datanglah seseorang yang bertugas membawa acara Cafe. “Marilah kita sambut seseorang yang kita tunggu-tunggu sejak tadi dan pasangan yang selalu berduet mengisi acara kita." Lelaki yang berpakaian kemeja kotak-kotak biru itu mengulurkan tangannya ke samping mempersilakan orang sudah sedari tadi berada di belakang panggung, menunggu gilirannya untuk tampil.
"Askhal dan Audrey," gumamnya spontan. Arsya terpaku di tempatnya yang ia duduki sekarang, matanya tak pernah lepas dari objek yang ada di hadapannya. Ia melihat jelas jika Askhal bernyanyi bersama gadis yang ia ketahui adalah ketua vokalis yang ada di sekolahnya.
Audrey. Iya dia mengenali nama itu, dia juga kenal baik dengan orangnya. Pernah sempat Arsya berlatih vokal bersamanya karena Audrey yang terkenal ramah itu membuat Arsya ingin mengenalnya. Ia juga mengagumi suara yang merdu yang Audrey punyai.
Arsya tersentak ketika ia mendengar semua orang bertepuk tangan setelah lagu selesai dimainkan oleh kedua pasangan itu. Kembali lagi pertanyaan yang sedang memburunya.
Kenapa Audrey bisa ada di sini? Di Cafe ini? Dan kenapa bisa bernyanyi bersama kak Askhal? Arsya hanya mampu menonton penampilan mereka saja dengan batin yang terus bertanya-tanya sampai pertunjukan mereka selesai.
"Suara lo masih bagus aja, yah, malah lebih bagus dari sebelumnya lagi," puji Audrey saat menuruni tangga. Askhal tertawa.
"Ini juga karena lo 'kan lo yang ngajarin gue," balas Askhal, sedikit tersipu malu.
"Oiya, gimana keadaan nyokap lo? Masih sakit?" Audrey tersenyum, senyumannya mengartikan kata lain dan Askhal mengerti arti dari balik senyuman itu.
"Lo harus sabar yah, gue yakin kok Tuhan enggak akan kasih cobaan yang melebihi batas kemampuan dari hamba-hamba-Nya. Lagian lo enggak perlu sedih juga, gue juga bakal bantu lo kok untuk mencari biaya rumah sakit nyokap lo," jelas Askhal sambil mengusap bahu Audrey untuk menenangkan hati Audrey yang mulai dilanda kegelisahan.
Audrey adalah anak dari keluarga sederhana bukan anak orang berada. Tapi kelebihan yang ia punya ia adalah gadis ter-cerdas di angkatannya, dan point pentingnya ia juga cantik begitu juga suara dan hatinya karena itu Askhal menyukai gadis bernama Audrey itu.
"Lo terlalu baik, Khal. Bukannya lo udah keluar yah dari cafe? Kok bisa gabung lagi?"
"Audrey gue keluar kan harus nemenin lo di rumah sakit ...."
"Iya gue tau tapi kenapa lo gabung lagi. Kalo lo gabung buat bantuin gue. Gue enggak enak sama lo," selaknya. Mereka berdua berjalan ke sisi meja yang jaraknya dekat toilet perempuan.
"Denger ya gue nyanyi di sini bukan semata-mata karena gue mau bantuin lo juga, tapi gue mau nemenin lo. Lo masih inget 'kan kalo gue masih suka sama lo. Gue cinta sama lo Drey, gue serius." Audrey meringis ia jadi makin tidak enak sama Askhal yang terus mencintainya sementara dirinya tidak bisa membalas cintanya karena dirinya yang sebelum mengenal Askhal, ada orang lain yang sudah membuat Audrey jatuh hati. Dan lelaki itu bukanlah Askhal tapi lelaki lain yang sudah menjadi sahabatnya sejak kecil.
"Askhal, lo tau 'kan kalo gue suka sama Rayn, enggak mungkin gue bisa balas cinta lo." Lagi dan lagi Askhal harus merasakan sakit hati kembali ketika Audrey yang sudah lama ia sukai kembali mengatakan kata yang ia benci.
"Drey, tapi Rayn enggak pernah peka 'kan sama lo? Dia aja---"
"Gue yakin kalo gue bisa buat dia jatuh cinta sama gue. Dan bisa nganggep gue lebih dari kata sahabat." Audrey tersenyum lalu menepuk bahu Askhal dan bangkit ketika ia melihat Bram datang. “Jangan nunggu yang enggak pasti Khal, masih ada orang yang lebih pantas untuk mendapatkan cinta lo dan pastinya orang itu bukan gue."
Tak lama Bram sang manager sekaligus teman mereka sekolah datang. Bram adalah teman sekolah Audrey dan Askhal, di umur yang masih muda ini Bram sudah dilatih oleh ayahnya untuk memegang usaha. Sebenarnya ia juga malas karena pagi sekolah, dan sore sampai malamnya ia harus mengurusi cafe yang dibuka di sore hari. Begitu melelahkan.
"Hai Bram," sapa Audrey. "Hai Drey, hai sobat." Bram menepuk bahu Askhal hingga lelaki itu sadar dari lamunannya kemudian ia tersenyum canggung.
"Thanks yah, gara-gara kalian cafe bokap gue jadi rame gini." Katanya mencoba mengontrol suasana yang terasa canggung. "Santai aja kali, oh iya udah malem nih. Gue balik dulu yah mau jenguk nyokap." Katanya sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.
"Mau gue anter," tawar Askhal sebelum gadis itu beranjak pergi. "Enggak usah lagian rumah sakitnya enggak jauh juga."
"Iya udah hati-hati yah." Audrey tersenyum, mengangguk lalu pergi. Sedangkan Bram mendesah dan menepuk lelaki yang duduk di sebelahnya.
Bertepatan ketika seorang gadis keluar dari toilet, setelah mengecek ponselnya dan memasukkan ponselnya ke dalam sling bagnya ia mendongak dan terkejut ketika melihat Askhal ada di hadapannya. Tepatnya duduk di meja bersama lelaki lain tanpa keduanya sadari jika ada dia di sana.
"Yaelah napa sih muka lo suntuk gitu," Bram berkata setelah meneguk minumannya. Ia menaruh dan mengatakan, "masalah Audrey lagi?"
Askhal menghembuskan napasnya kasar.
"Gue bingung sama dia, kenapa sih dia enggak bisa suka sama gue? Gue ini kurang apa coba?"
Bram menyipitkan matanya membuat Askhal melirik tajam. "Enggak usah liatin gue kayak gitu." Bram mengerjapkan matanya sambil geleng-geleng kepala. "Iya sih sebenarnya mah masih gantengan lo dari pada Rayn,” katanya.
Askhal mendengus, Bram teringat sesuatu. “Oiya cewek yang tadi bareng sama lo mana?”
“Enggak tau gue,” ketusnya.
“Yee, gue rasa cewek yang namanya Arsya yang bareng sama lo tadi suka sama lo deh Khal.”
“Bodo amat.”
Bram kali ini mendengus sebal, “kenapa enggak lo pake aja Arsya jadi mainan lo,” usulnya membuat Askhal menoleh ke arah Bram.
“Maksud lo?” Bram mendekatkan dirinya, “gini, ‘kan lo suka sama Audrey, nah coba deh lo deketin Arsya, pura-pura baik sama dia kalo perlu pura-pura suka biar kita tau Audrey nanti liat lo mesraan sama Arsya cemburu, gak,” sarannya lebih memperjelas.
Thea saat itu langsung membulatkan matanya terkejut mendengar saran atau rencana yang dikatakan oleh kakak kelasnya itu. Entahlah ia juga tak mengerti.
Matanya langsung mencari-cari Arsya dan seketika itu ia lihat Arsya sedang duduk di mejanya sambil mengaduk minumannya dengan raut wajah yang kesal.
Saat itu juga Thea memikirkan apa yang harus ia lakukan.
“Gue harus kasih tau Arsya.”
Ketika Arsya sedang menengadahkan kepalanya dan melirik sana sini untuk mencari Askhal tiba-tiba ia tersentak ketika tangan seseorang menepuk pundaknya. Ia menoleh, matanya membulat dan mulutnya menganga sambil menunjuk ke arah orang itu.
“Thea?”
“Hai.” Thea tersenyum lalu duduk di hadapan Arsya tanpa menunggu ijinnya. Arsya mengerjap-ngerjapkan matanya. “Lo ngapain di sini?” Thea memutar bola matanya malas. Plissss itu pertanyaan yang sangat bodoh.
“Yah makanlah, lo pikir gue kesini mau nyuci piring,” jawabnya.
Arsya menepuk jidatnya lalu nyengir. “Oiya. Lupa hehe.”
Thea menghembuskan napasnya kasar lalu menyipitkan matanya, “lo kesini sama sapa?”
“Sama kak Askhal,” jawab Arsya penuh semangat sembari memasukkan ponselnya ke dalam sling bagnya yang ada di tasnya. Thea meringis mendengar jawaban Arsya lalu tanpa sepengetahuan Arsya ia menoleh ke arah ujung toilet yang di sana masih ada Askhal dan Bram sedang bicara serius.
“Terus Kak Askhal nya mana?” tanya Thea pura-pura tidak tau. “Dia katanya lagi di toilet tadi baru aja ngirim pesan ke gue.” Katanya polos. Thea meringis lagi.
Duh b**o amat sih Sya, dia itu udah boongin lo.
Thea jadi ingin sekali memberitahu Arsya soal apa yang dia dengar tadi. Lidahnya itu benar-benar terasa gatal. “Sya, gue pengen ngomong sama lo.”
Arsya terkejut dan menatap bingung melihat raut wajah Thea yang terlihat khawatir. “Bukannya lo dari tadi lagi ngomong yah.”
Thea memukul kecil mejanya dengan punggung tangannya, “bukan, bukan itu maksud gue,”
Arsya mengernyit, “terus?”
“Ini soal kak Askhal,” jawab Thea cemas. Thea berpikir jika Arsya tidak akan mungkin mau percaya dengan ucapannya tapi sebagai sahabatnya. Mau gak mau ya dia harus bilang yang sebenarnya. Toh, Thea gak mau nanti ke depannya Arsya malah sakit hati. Sakit hati karena ditolak ya gak masalah tapi rasa suka yang dimanfaatkan oleh orang yang disukai itu yang justru sangat parah sakit hatinya. Arsya itu dimanfaatin karena perasaan yang dia miliki pada Askhal.
“Kak Askhal?” Arsya makin heran, “kenapa sama kak Askhal?” tanya Arsya sangat penasaran.
“Mendingan lo---en-enggak usah deket-deket sama dia deh.”
“Loh, emang kenapa?”
“Yah, pokoknya enggak usah.”
“Gue enggak ngerti. Lagian lo mau nyuruh gue jauh sama dia juga gue enggak akan bisa ngejauh.”
Kini Thea yang memunculkan garis lurus di dahinya, bingung. “Kenapa?”
“Gue tinggal satu rumah sama dia.” Jawabnya semringah. Mata Thea malah melotot sekaligus sangat terkejut. “Apa?!”
“Arsya.” Panggilan itu langsung mengejutkan keduanya. Arsya mendongak dan melihat sosok yang ada di belakang kursi Thea sementara, Thea menoleh ke belakang. Ia jadi merinding sendiri entah apakah tadi Askhal mendengar pembicaraan mereka atau tidak. Pokoknya dia sangat takut sekarang.
“Kita pulang.”
“Hah? Enggak makan dulu?”
“Enggak usah, udah ayo.” Tanpa aba-aba tiba-tiba Askhal menarik tangan Arsya membuat sang empunya seketika langsung kaget setengah mati.
Mendadak pertanyaan mucul di otaknya.
Ada apa sama Kak Askhal?
“Eh---gue duluan yah Thea.” Arsya langsung ditarik dan pergi tanpa menunggu jawaban Thea lebih dulu. Sedangkan orang yang mereka tinggal melongo di tempatnya, memandangi punggung kedua itu yang sudah menghilang di balik pintu.
Thea menggeleng sadar dari lamunannya, lalu ia meringis kembali karena gagal memberitahu yang sebenarnya dan ia menempelkan telapak tangannya di jidatnya dengan siku tangannya ia tumpu di atas meja.
“Tamat riwayat lo, Sya.”
* * * *
“Kak kita mau kemana? Katanya mau pulang kok berenti di sini?” Sudah berapa kali yah Arsya bertanya dengan pertanyaan tadi? Jawabannya sepanjang jalan sampai telinga Askhal penga gara-gara mendengar pertanyaannya.
“Turun," titah Askhal dengan nada judes dan dengan terpaksa Arsya pun harus turun dari jok motornya Askhal dan berdiri di samping motor Askhal. Askhal lebih dulu berjalan meninggalkan Arsya yang masih termangu di tempatnya. Merasa tidak diikuti langkahnya, Askhal berhenti dan menoleh,
“Kenapa berdiri di situ? Sini buruan!” Titahnya. Arsya mau tidak mau harus mengikuti Askhal dengan raut wajahnya yang di tekuk.
“Kenapa muka lo di tekuk? Marah? Ngambek?” tanyanya sambil berjalan dan juga kepalanya yang miring ke arah Arsya. Arsya masih bungkam, ia masih merajuk karena Askhal yang menyebalkan yang selalu ngacangin dia. Sekarang gantian dia yang ngacangin Askhal.
Askhal menghembuskan napasnya secara kasar dan mencegah langkah Arsya dengan berdiri di depannya sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
“Orang ngomong itu ladenin trus kalo lagi ada yang nanya ya di jawab bukannya di kacangin,” sindirnya dengan nada sinis.
“Gak mikir,” gumamnya pelan tapi nadanya cetus dan walaupun pelan masih bisa sampai di telinga Askhal.
“Oh lo jadi marah sama gue, trus gantian ngacangin gue? Gitu.”
Arsya berdecak sebal, “tau ah.”
“Dasar cewek.”
“Dasar cowok.”
“Dendeman.”
“Gak punya perasaan.”
Mata Askhal membulat ketika mendengar jawaban Arsya. “Bawel banget sih, lo.” Sekarang gantian Arsya melotot tidak terima karena dia dikatain lagi. Dan baru saja ingin melemparkan sumpah serapahnya kembali Askhal buru-buru menarik tangan Arsya hingga sang empunya kaget dan kakinya juga sempat keseleo karena tak sengaja menginjak batu kecil.
Sampai di kursi panjang depan tukang jualan ketoprak, Askhal langsung memesan dua ketoprak dan ketika ia duduk, ia melirik Arsya yang sedang meringis kesakitan dan memegang mata kakinya.
“Kenapa lagi?”
“Pake tanya lagi.” Askhal menghela napas lalu ia berjongkok di depan Arsya dan menekan mata kakinya.
“Aww. Jangan di pegang sakit ini.”
“Mau gue sembuhin gak?”
“Kayak bisa aja.”
Askhal menunduk lalu ia mengusap pelan-pelan mata kakinya Arsya dan tak lama tukang ketoprak datang membawa dua piring.
“Mas taro mana nih?” Askhal mendongak, “taro aja di atas kursi situ mas,” mamang itu mengangguk paham lalu ia pergi meninggalkan mereka berdua. Arsya mengernyit bingung. “Buat sapa?”
“Pake tanya lagi,” Askhal membalas ucapan Arsya, si cewek itu mencebikkan bibirnya. “Nanya doang.” Jawabnya datar.
“Buat kita, lo laper ‘kan?” Arsya mengangguk walaupun di dalam otaknya ia bertanya—tanya ada sesuatu yang aneh pada malam ini. Askhal berdiri dan menepuk tangannya ke celananya.
“Udah kan?” Lalu Askhal duduk di sampingnya dan mengambil piringnya lalu menyendoknya kemudian memasukkan ke dalam mulutnya. Sementara gadis yang di sampingnya malah melamun, Askhal menoleh karena merasa di perhatikan.
“Kenapa bengong?” Arsya mengerjapkan matanya lalu membuang muka merasa malu ketangkap basah.
“Nih,” Arsya menoleh dan dahinya mengernyit bingung ketika Askhal menyodorkan sendoknya ke dalam mulutnya.
“Makan.” Arsya membulatkan matanya. “Kakak nyuapin---“ belum selesai ngomong, Askhal main masukin ketopraknya ke dalam mulutnya. “Tinggal makan gitu aja susah.” Balas Askhal.
Diam-diam Arsya senyum-senyum sendiri, benar berati dia tidak sedang menghayal. Malam ini ada sesuatu yang berbeda dari Askhal. Entah apa itu, tapi yang jelas pertanyaan yang terselip di kepalanya adalah,
Ada apa dengan Askhal?
* * * *
Ada apa dengan Askhal adalah hal yang tidak harus Arsya pedulikan. Toh, jikalau Askhal sudah bersikap ramah, baik dan hangat kepadanya, untuk apa lagi harus ia pertanyakan. Lebih baik ia menceritakan hal ini kepada Thea. Kabar yang sangat menggembirakan dan Thea harus mendengarkan ceritanya seperti saat ini.
“Gimana bisa lo tinggal di rumah kak Askhal?” tanya Thea heboh. Arsya mengangkat telunjuknya dan menempelkannya ke bibir.
“Ssstttt...” dia melirik ke kanan dan ke kiri memastikan agar tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka.
Masalahnya kakak kelas sedang ngumpul di depan kelas, sementara kebanyakan dari angkatannya ada di kelas sedang membaca buku untuk mempersiapkan ulangan pagi ini.
“Pelanin suara lo, nanti ada yang denger gimana?” protes Arsya sambil lirik kanan kiri.
“Oh, oke-oke. Trus — trus gimana tuh ceritanya lo kok bisa tinggal di rumahnya dan lo juga tau darimana coba alamat rumahnya?”
“Itu sih gara-gara gue ngikutin dia ke cafe nah dari situ dia marah sama gue terus tiba-tiba aja dia nyuruh gue tinggal sama dia. Selama ulangan selesai sih katanya. Bentar yah,” Mukanya memelas waktu kata terakhir.
“eh, tapi tunggu dulu...,” Thea menatap kesal pada Arsya yang terus bicara tanpa berhenti dan tanpa membiarkan dia untuk ikut bicara juga.
“Tau gak, sih, tiba-tiba malam itu Kak Askhal ngajak gue makan ketoprak nah pas kaki gue sempet keseleo gara-gara dia, kak Askhal malah megang kaki gue udah gitu diusap-usap gitu. Ih gue gak ngerti dia kok bisa tiba-tiba lembut gitu yah sama gue.”
Thea menggelengkan kepalanya tak habis pikir kenapa temannya mauan menuruti permintaan Askhal? Lalu percaya begitu saja dengan perubahan sikap Askhal kepadanya. Astaga apa jangan-jangan ini yang dinamakan cinta buta?
“Sya, mendingan lo gak usah deket-deket lagi sama dia deh.” Thea memberikan sarannya kepada sahabatnya berharap dengan begitu sahabatnya yang kelewat b***t ini mau menurutinya.
Arsya melotot. “Kenapa?” tanya Arsya galak. Dari kemarin Thea selalu menyuruhnya menjauhi Askhal. Ya Arsya nggak maulah. Orang udah suka. Masa disuruh menjauh. Menyerah dong artinya. Arsya bukan yang orang pengecut. Baru segitu udah nyerah. Arsya bakal buat hati Askhal itu meleleh pokoknya.
Thea meringis. “Nanti kalo lo terlalu cinta sama dia yang ada lo nanti nyesel sendiri. Dia itu mau maenin lo Sya, dia gunanin lo sebagai mainanya agar memancing kak Audrey cemburu atau gaknya.”
“Maksud lo apaan sih, kok bawa-bawa kak Audrey segala?” tanya Arsya tak mengerti dengan arah pembicaraan Thea yang duduk di depannya.
“Sya, sebenarnya kak Askhal itu suka sama kak Audrey, lagian dia bakalan pura-pura baik sama lo agar mancing kak Audrey itu cemburu atau gak?”
Arsya menghela napasnya panjang.
“Lagian buktinya, dia kenapa coba tiba-tiba baik gitu sama lo kalo kalo bukan karena ada maksud tertentu," katanya lagi. "Lo itu cuma alat buat dia Sya. Masa, sih, Lo gampang baper gitu sama dia? Cowok Laen banyak Sya nggak mesti juga Lo harus sama dia. Mikir dong! Inget waktu pertama kalian kenal dia sikapnya gimana? Cuek. Songong. Sombong sumpah! Asli! Udah kayak yang paling ganteng aja itu orang. Mana galak pula!" cecar Thea nafsu sekali kalau sudah membicarakan orang yang sangat tidak dia suka.
Arsya tampak berpikir tapi semalam sewaktu dia memerhatikan Askhal, Askhal memang agak berubah jadi lembut padanya tapi dia bisa melihat dari perhatian Askhal, jika dia memang tulus melakukannya.
“Gak!” Arsya menggeleng, “dia gak sejahat itu Thea, lo gak usah nuduh orang sembarangan deh. Harusnya lo doain gue biar bisa cepet jadian sama dia. Bukannya ngomong yang aneh-aneh.” Tolak Arsya tak terima atas pernyataan Thea tadi.
“Ish, gue ada buktinya Sya,” kekeh Thea ngotot banget pokoknya.
“Thea udah deh gue gak suka lo ngejelekin kak Askhal, oke?” Katanya mulai kesal.
“Oke, terserah!” Thea bangkit dari duduknya. “Yang penting gue udah kasih tau lo yah, Sya. Awas aja kalo lo nyesel nantinya, dan jangan salahin gue juga kalo lo udah kemakan batunya karena dari awal gue udah peringatin lo.”
Tepat saat Thea berbalik rombongan kakak kelas datang masuk karena bel berbunyi. Sempat Thea saling bertatapan pada Askhal.
Thea menatap Askhal tajam ketika cowok itu berpapasan dengannya sedangkan Askhal hanya memasang wajah datar, sedikit pun ia tidak melirik Thea sama sekali.
Lalu keduanya duduk di tempatnya masing-masing. Arsya tak sadar jika Askhal sudah duduk di sampingnya karena dia melamun memikirkan perdebatan dirinya dengan Thea tadi. Dia sedikit kaget karena Thea yang mendadak ikut emosi juga.
Dan Arsya tersentak saat dia mendengar kalimat dari Askhal yang berhasil membuatnya sadar jika guru sudah membagikan kertas ulangan secara bergilir.
“Istirahat ke kantin bareng gue.”
* * * *
Entah perasaan Arsya saja atau tidak, hari ini, jam segini, menit segini dan detik segini pula semua mata mengarah ke arahnya. Setiap di depan kelas lalu berjalan di koridor dan sampai di kantin semua orang memerhatikan dirinya yang berjalan beriringan bersama Askhal.
Sebenarnya di dalam hati ia agak risih tapi dia tetap berusaha untuk bersikap biasa saja tanpa ada rasa malu karena di perhatikan. Sedangkan lelaki yang sudah duduk di hadapannya tampak tidak merasakan jika di sepanjang jalan ia selalu di perhatikan, malah wajahnya saja terlihat datar tanpa senyuman.
“Kak, kok lo tumben mau ngajak gue makan bareng kayak gini?” tanya Arsya. Agak sempat ragu, sih. Apa iya Askhal bisa langsung menyukainya dan langsung ingin dekat juga dengannya? Mengingat waktu pertama kalinya mereka bertemu dan berkenalan, Askhal sumpah. Jutek banget! Judesnya nggak ketolongan! Galaknya apalagi yang bikin Arsya ngelus d**a terus kalo tiap hari mereka bertemu.
“Emang gak boleh?” tanya Askhal. Arsya menganggaruk tengkuknya yang terasa gatal karena nyamuk tadi menggigitnya.
“Emm... ya bukan gitu, Cuma tumben aja. Soalnya kan...”
“Lo banyak nanyanya, sukur gue ajak makan bareng. Dalam hati lo juga seneng ‘kan?” Arsya tergelak, ternyata Askhal memang orang yang sangat percaya diri juga tapi bener juga sih, dalam hati ia agak seneng. “Diem juga ‘kan lo.” Kata Askhal tiba-tiba, ia tersenyum samar karena dengan omongannya tadi sudah berhasil membuat Arsya diam dan tidak melemparkan ia banyak pertanyaan yang akan membuatnya malas untuk menjawabnya.
“Gue pesen makanannya dulu,” ujar Askhal yang langsung bangkit dari duduknya menuju warung emak erot. Arsya mendengus sebal, ia menopang wajahnya merasa malu karena Askhal yang tiba-tiba bicara seperti itu. Pastinya setelah ini ia pasti akan merasa gugup untuk mengobrol bersama Askhal.
Tapi tiba-tiba Arsya tersentak kembali ketika tangan seseorang menepuk bahunya. Ia menoleh, “kak Audrey?”
Audrey tersenyum, “kamu udah makan?” tanyanya. Arsya menggelengkan kepalanya. “Aku baru aja mau makan sama kak Askhal,” kata Arsya. Audrey sedikit terkejut dari matanya yang membesar sedikit namun senyumannya yang terpatri di wajahnya menutup rasa keterkejutannya.
Bertepatan saat itu Askhal datang membawa dua mie tek-tek. Arsya melihat raut wajah Askhal yang tiba-tiba tersenyum saat melihat Audrey.
“Khal, gue boleh pinjem Arsya dulu gak?” seru Audrey pada Askhal.
Arsya terkejut dan langsung mengalihkan pandangannya kembali. “Em, ada apa kak emangnya?” tanya Arsya.
“Aku mau ngajak kamu untuk ikut bergabung dengan acara ulang tahun sekolah setelah ulangan selesai,” jawab Audrey.
“Berarti bentar lagi dong,” sahut Arsya tiba-tiba menyelak. Audrey mengangguk. “Makanya itu jadi aku kesini mau ngomongin itu sama kamu.”
Arsya mengerutkan keningnya, “tapi kenapa harus aku?”
“Suara kamu ‘kan bagus, dan kita juga kekurangan anggota vocal karena indah gak bisa ikutan karena dia harus pergi ke luar kota katanya.” Arsya membentuk mulutnya berbentuk o tanda mengerti karena sambil mengangguk.
“Nanti setelah acara selesai, kalo kamu mau, kamu juga bisa menyumbangkan lagu juga kok.”
“Aku?” Arsya menunjuk dirinya sendiri. Tiba-tiba saja ada ide terlintas di otaknya hingga membuatnya mengangguk semangat dan membuat Askhal mengernyit bingung.
“Oke kak, aku mau,” jawabnya antusias. Audrey tersenyum semringah. Sangat senang ajakannya mendapatkan respons yang baik dari Asrya, adik kelasnya itu.
“Yang bener dek?” tanyanya masih ingin memastikan.
“Iya kak serius aku mau,” seru Arsya sungguh-sungguh. Dengan begini, siapa tahu saja Arsya bisa menunjukkan kebolehannya atau bakatnya kepada Askhal supaya Askhal terkagum-kagum dengan suaranya yang merdu aduhai.
“Kalo gitu kita bisa pergi ke aula dulu karena anak ceweknya lagi pada mau ngajak rapat, nih,” ucap Audrey dan Arsya langsung bangkit menggandeng tangan Audrey.
“Kak, aku duluan, yah,” pamit Arsya. Askhal mengangguk samar dan masih setia menatap punggung mereka dengan tatapan bingung dan pikiran yang penuh dengan banyak pertanyaan mengenai Arsya.
Askhal lalu menggeleng dan duduk di tempatnya sendirian bersama dua piring mie tek-tek.
“Aneh,” gumamnya. Askhal kembali melanjutkan makan siangnya seorang diri. Niat hati ingin sama Arsya eh malah ditinggal. Mungkin teman-temannya keheranan jika tahu dirinya akhir-akhir ini mendekati Arsya. Bukan karena keinginannya sebetulnya. Hanya karena ada satu tujuan saja. Memancing perasaan Audrey, cemburu atau tidak. Askhal bisa saja melakukannya dengan Perempuan lain tapi buat apa dia harus mencari pacar boong-boongan kalau ada Arsya yang menyukainya dan dirinya tidak memanfaatkan saja perasaan Arsya. Toh, tidak salah. Arsya juga jadi senang karena dekat dengannya meskipun dalam hati, Askhal agak risih. Tapi, ya, seenggaknya dia adalah sedikit bisa membahagiakan orang lain.
[].