LINZIE - 2

1784 Words
Mbok Isah sedikit heran menatapku yang memasukkan beberapa makanan ke dalam piring. Bahkan aku belum mengganti bajuku dan masih dengan tas tersampir di bahu. Tapi aku malas menanggapi keheranan Mbok Isah, daripada nanti harus ditanya macam-macam dan aku akan susah menjawabnya. Setelah mengambil apa yang kubutuhkan lalu aku membuka lemari pendingin. Mengambil air minum dan buah. Setelahnya aku bergegas membawa makanan itu masuk ke dalam kamarku. Tak lupa aku mengunci pintunya sebelum melesat masuk ke dalam kamar mandi. Aku harus extra waspada, jangan sampai Kak Bie berhasil masuk ke dalam kamarku dan kembali memaksaku agar mau menikah dengannya. Sebenarnya sudah sejak dua tahun lalu Kak Bie mengutarakan isi hati yang sesungguhnya kepadaku. Tepatnya saat aku baru saja lulus kuliah. Kak Bie yang selama ini selalu kuanggap sebagai kakak terbaik di seluruh dunia, mengaku bahwa dia mencintaiku bukan sebagai kakak adik melainkan rasa cinta sebagai seorang lelaki pada perempuan. Tentu saja aku terkejut, sempat tak mempercayai apa yang sudah Kak Bie katakan. Aku menganggap semua hanyalah sebagai lelucon. Tapi nyatanya semakin ke sini sikap Kak Bie padaku semakin susah dikontrol. Dia yang dengan terang-terangan menunjukkan rasa cinta dan kasih sayang yang menurutku sangat berlebihan. Jujur aku tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Bahkan aku sempat berusaha lari dari rumah hanya untuk menghindari Kak Bie. Aku tidak bisa menganggap Kak Bie lebih dari seorang kakak. Selama ini rasa sayangku padanya hanya sebatas rasa sayang adik kepada kakaknya. Sejak kecil Kak Bie selalu menjagaku dengan baik. Tak pernah membuatku sedih apalagi menangis. Kak Bie juga selalu ada untukku di saat aku membutuhkannya. Setelah kejadian pengakuannya kala itu, aku sempat memutuskan ingin bekerja ke luar kota. Aku tak bisa hidup satu rumah bersama Kak Bie begitu aku tahu kenyataan yang ada bahwa dia mencintaiku. Sempat mengutarakan keinginanku pada Papa dan Mama jika aku ingin bekerja ke luar kota, akan tetapi mereka melarangku pergi karena bagi mereka aku adalah anak perempuan satu-satunya yang harus mereka jaga. Di luar itu semua, baik Papa ataupun Mama tak ada yang tahu tentang apa yang terjadi antara aku dan Kak Bie. Mungkin karena aku yang selalu berusaha untuk tak terlalu menanggapi segala omong kosongnya, hingga pada akhirnya Kak Bie mengalah. Dia tahu yang aku tidak nyaman berada tinggal seatap dengannya. Dan Kak Bie memutuskan ke luar dari rumah. Dia bekerja di luar kota. Aku masih ingat saat Kak Bie mengatakan sesuatu sebelum dia pergi satu tahun lalu. Yang dia mengatakan padaku akan memberikan waktu untukku berpikir dan memutuskan menerima cintanya. Hingga satu tahun berlalu, Kak Bie kembali pulang ke rumah. Tepatnya satu bulan lalu Kak Bie kembali membantu Papa mengurus perusahaan keluarga. Di sinilah petualangannya kembali dimulai. Mungkin yang ada di pikiran Kak Bie, selama kurun waktu satu tahun itu semua bisa berubah. Aku bisa mencintai dia yang bukan sebagai adik kakak melainkan membalas cintanya sebagai seorang lelaki terhadap perempuan yang dia cintai. Tapi nyatanya aku tak bisa. Aku tak bisa mencintainya lebih dari seorang kakak. Aku sayang pada Kak Bie, hanya saja melihat sikap Kak Bie yang seperti ini semakin membuatku tidak nyaman. Dengan terang-terangan kakakku itu menunjukan sikap memujanya dan yang semakin membuatku ketakutan adalah saat Kak Bie mengatakan bahwa dia akan berterus terang pada Papa dan Mama tentang perasaannya kepadaku. Tak bisa kubayangkan bagaimana reaksi Papa dan Mama seandainya mereka tahu. Memang benar aku dan Kak Bie bukanlah saudara kandung. Aku hanyalah anak angkat keluarga ini. Namun, kami berdua sudah hidup bersama sejak aku masih kecil. Seingatku saat usiaku menginjak tujuh tahun dan aku mulai masuk sekolah dasar, Papa dan Mama memboyongku ke rumah ini. Ayah dan Bunda kandungku meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Keluargaku tidak ada yang mau menampungku kala itu. Dengan baik hatinya Papa dan Mama lah yang akhirnya mengadopsiku. Sejak saat itu aku resmi menjadi anak angkat mereka, meski pun begitu mereka menganggap dan memperlakukanku seperti anak kandung mereka sendiri. Padahal hubungan Papa dan Mama hanyalah kawan baik Ayah dan Bundaku. Tidak ada hubungan keluarga apalagi ikatan darah. Selisih usiaku dengan Kak Bie sekitar delapan tahun. Waktu itu aku baru masuk kelas satu Sekolah Dasar sedangkan Kak Bie menginjak kelas tiga Sekolah Menengah Pertama. Kak Bie yang menerimaku dengan senang hati karena menurut info dari Mama, sudah lama Kak Bie menginginkan seorang adik terutama adik perempuan. Hanya saja Mama sudah tidak diperkenankan hamil lagi karena adanya masalah pada rahimnya. Aku hidup di keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang. Rasa syukur yang tak pernah henti aku panjatkan. Mereka memberikanku hidup yang layak serta pendidikan yang tinggi. Bahkan hingga detik ini aku belum bisa membalas budi mereka sedikit pun. Sejak aku lulus kuliah sebenarnya Papa sudah mencadangkan agar aku bekerja di perusahaan keluarga, sama seperti Kak Bie. Tapi aku menolaknya. Aku lebih senang berusaha sendiri. Sudah cukup aku bergantung hidup pada mereka. Sekarang sudah saatnya aku membuktikan pada mereka bahwa aku tak akan menyia-nyiakan pengorbanan Papa dan Mama untukku selama ini. Aku yang lebih memilih untuk bekerja di sebuah perusahaan kontraktor sebagai seorang staff Technical Engineer. Beruntungnya Papa yang selalu mendukung pekerjaanku. **** Zie buka pintu nya ...! Tok ... tok ... Zizie ... ayolah buka, Kakak ingin bicara denganmu!" Gedoran di pintu kamar yang tak kuhiraukan terus mengusik pendengaranku. Sebenarnya aku tak tega memperlakukan Kak Bie seperti ini. Namun, aku tidak ingin mendengar Kak Bie yang terus saja memintaku agar mau menikah dengannya. Aku tak bisa. Dan tak akan pernah bisa. Dia kakakku yang tak akan lebih dari itu. "Zie ...! Kakak mohon. Buka pintunya. Maafkan kakak jika permintaan kakak membuatmu jadi seperti ini. Tapi kakak tak akan bisa membohongi diri kakak sendiri." Aku masih mendengar semua yang disampaikan oleh Kak Bie dari balik pintu kamarku. Tapi aku berusaha untuk tetap menahan diri agar tidak bersuara. "Zie ... Kakak benar-benar cinta sama Zie. Menikahlah dengan kakak, Zie. Kakak mohon. Please...!" Harus dengan cara apalagi aku meyakinkannya jika kami berdua ini adalah saudara. Sekarang atau sampai kapan pun tetaplah saudara. Tak akan berganti status menjadi suami istri melainkan tetap sebagai kakak dan adik. Kubungkus tubuhku dengan selimut lalu mematikan lampu kamar. Berusaha untuk tak mendengar atau pun mempedulikannya, lalu kupejamkan mataku. Berharap Kak Bie menyerah dan pergi meninggalkan kamarku. Tak sanggup lagi aku mendengar suara memohon darinya. Hingga suara alarm yang mengagetkanku. Aku bangun dan tersadar jika subuh telah menjelang. Bergegas aku bangun dari tidurku. Aku harus segera meninggalkan rumah sebelum Kak Bie bangun. Tak akan sanggup aku bertemu dan bertatap muka dengannya. *** Kurasa masih terlalu pagi untukku datang ke office. Tapi tak apalah daripada berada di rumah dan direcoki oleh Kak Bie lagi. Sesaat setelah masuk ke dalam ruang kerjaku suasana sepi menderaku. Kumasukan tas ke dalam laci lalu kutelungkupkan kepala diatas lipatan tangan yang bertumpu pada meja kerja. Entah sudah berapa lama aku tertidur saat kurasa ada yang meniup telingaku. Bulu kudukku meremang dan dengan perlahan mulai kubuka mataku. Kuangkat kepala mendapati Mas Roy yang sedang berjongkok di atas lantai hingga tubuhnya sejajar denganku. "Mas Roy ... ngapain disini?" tanyaku terkejut. "Kamu ngapain tidur disini?" tanyanya balik. "Memangnya ini sudah jam berapa, Mas?" "Jam delapan." "Serius, Mas!" Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Benar saja rupanya sudah banyak karyawan yang menempati meja kerja masing-masing. Kulihat Fia yang terkikik menatapku. Mas Roy berdiri lalu bersadekap menatapku tajam. "Sejak kapan sampai di kantor? Bisa-bisanya tidur pulas begitu." Kata-kata Mas Roy hanya kujawab dengan cengiran. Malu sebenarnya kedapatan oleh Supervisor jika aku ketiduran. Ya, meski pun hubunganku dengan Mas Roy seperti layaknya teman, tetap saja dia adalah atasanku langsung. Fia berdiri dari duduknya lalu menghampiriku. "Zie ... kamu beneran baik-baik saja?" Fia bertanya dengan muka khawatir. "Bukannya kamu tahu sendiri, Fi. Jika aku memang sedang tidak dalam kondisi baik-baik saja," jawabku malas. Fia mendengus. Lalu menatapku tajam. "Mau cerita?" pintanya. Aku mendongak menatap Mas Roy yang masih berdiri di samping kursi kerjaku, sementara Fia berdiri di depan meja kerjaku. Iyakah aku harus curhat ke Fia di depan Mas Roy? Selama ini kami memang sering bercerita mengenai hal pribadi, bahkan Mas Roy pun juga sering ikut nimbrung bersamaku juga Fia. Tak jarang pula Mas Roy yang dengan gentle-nya ikut memberi solusi atas permasalahan hidup kami. Namun, kali ini permasalahan yang sedang kuhadapi sungguh rumit. Dan aku tidak siap jika Mas Roy ikut mendengarkan. Mungkin bisa dikatakan jika aku malu. Secara Mas Roy itu lelaki. Masak iya aku harus membahas tentang Kak Bie di hadapan Mas Roy. "Okay ... Okay ... Aku pergi. Silahkan kalian saling curhat. Bye!" Setelah mengatakan itu Mas Roy pergi meninggalkanku dengan Fia. Aku tersenyum, Mas Roy memang selalu mengerti. Mas Roy tahu jika aku tak ingin dia mendengarkan hal pribadi yang akan kusampaikan pada Fia. Bersyukurnya aku mempunyai atasan, rekan kerja sekaligus teman yang baik dan pengertian seperti Mas Roy. "Fi ...!" rengekku. "Masih tentang Kak Bie?" Tebak Fia dan aku mengagguk lemah. "Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, Fi. Sudah kukatakan pada Kak Bie jika aku dan dia tidak mungkin menikah. Tapi Kak Bie justru mengatakan jika dia akan memberitahu Papa dan Mama tentang perasaannya padaku." "Apa? Benar-benar nekat. Kakakmu itu sepertinya cinta mati padamu." Fia menggelengkan kepalanya seolah apa yang akan Kak Bie lakukan itu memang di luar nalar manusia pada umumnya. "Entahlah, Fi. Aku bingung. Coba bagaimana reaksi Papa dan Mama seandainya mereka tahu bahwa Kak Bie menyukaiku. Aku harus bagaimana, Fi?" Kulirik Fia yang tampak berpikir. Sahabatku itu selalu banyak ide cemerlang dan selama ini dia selalu bisa kuandalkan. "Zie, solusinya hanya satu." "Apa itu?" tanyaku tak sabar. "Carilah pacar." "Hah .... " aku mendelik kearahnya. "Iya. Pacar. Kekasih kalau perlu calon suami sekalian." Tubuhku melorot. Kututup wajahku dengan kedua telapak tangan. Mendengar kata pacar yang Fia sebutkan membuatku langsung lemas. Berpikir sejenak kapan terakhir kali aku pacaran. Ah, lupa ... yang pasti sejak aku mengenal yang namanya lawan jenis sudah pasti berakhir dengan tragis. Siapa lagi pelakunya jika bukan Kak Bie. Selalu dia lah yang menjadi penghalang dan menjadi penyebab utama kandasnya setiap hubungan percintaanku selama ini. Aku jadi berpikir, apa jangan-jangan Kak Bie ada melakukan sesuatu dengan para mantan pacarku. Kenapa aku baru menyadarinya sekarang. Bahkan karena seringnya aku putus cinta, lama-lama aku jadi malas menjalin hubungan dengan pria. Kini sudah entah tahun keberapa aku menyandang status jomblo. "Fi ... kamu yakin hanya itu jalan satu-satunya?" tanyaku tak yakin. "Jadi begini, ya, Zie. Logikanya, jika kamu punya pacar otomatis Kak Bie akan mundur pelan-pelan." "Yakin? Sepertinya aku nggak yakin dia bakalan mundur. Yang ada Kak Bie bakalan ngehancurin hubunganku sama pacarku. Sama seperti yang dia lakukan selama ini." "Kalau itu sih pinter-pinternya kamu aja sih, Zie. Kalau perlu, nggak usah pakai pacaran. Tapi langsung nikah. Beres, kan!" Fia kembali ke meja kerjanya. Aku masih terdiam mencerna setiap saran Fia. Mungkin memang ada baiknya aku mencari pacar. Tapi ke mana aku harus mencari. Ah, Fia kenapa membuatku tambah pusing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD