Data Nasabah

1375 Words
Siapapun di dunia ini tak ada yang menginginkan kehilangan orang yang sangat berarti begitu cepat dan mendadak untuk selama-lamanya. Bukan hanya satu kali tapi dua kali. Arjani Prissy harus kehilangan cinta pertama di hidupnya, ayah, di usia yang masih belia membuatnya hampir hilang arah. Tak ada lagi lelaki yang dengan setia mengantar jemputnya sekolah. Menunggunya di tempat bimbingan belajar. Tak ada lagi lelaki yang pasang badan untuknya bila ada yang menggodanya. Belum sembuh patah hati karena kehilangan ayahnya, kini hati yang masih tersisa sepenggal itu, harus benar-benar luluh lantah karena kehilangan manusia berhati malaikat, ibu. Ibunya menyusul ayahnya yang baru sebulan pergi untuk selamanya. Tak memiliki saudara kandung, sekarang ia hanya seorang diri. Sebatang kara, tak memiliki keluarga. Ayah dan ibunya merupakan anak tunggal dari keluarganya, sama seperti dirinya. Namun, kejadian demi kejadian yang dialaminya, Yang Kuasa masih sangat sayang padanya. Ia tidak ditinggalkan sendirian di dunia ini. Walau bukan keluarga kandung, namun wanita ini sudah seperti orang tua baginya. Wanita yang sudah merawatnya mulai kecil hingga sekarang ia berumur dua puluh lima tahun. Wanita paruh baya bernama Bibi Wati itu, berjanji akan terus menemaninya sampai kapanpun.  Arjani Prissy yang biasa di panggil Arni itu kini telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik juga kuat. Kehidupan yang keras telah memaksanya untuk tidak mudah percaya dengan orang lain. *** Bertempat di sebuah rumah yang terletak agak di pinggiran kota, gadis manis dengan tinggi seratus tujuh puluh sentimeter itu, telah siap dengan seragam kerjanya. Seragam kerja berwarna merah senada dengan rok yang dipakainya. Ia berpamitan dengan Bi Wati dan bergegas masuk ke dalam mobil hitamnya. Ia harus tiba di kantor sebelum jam tujuh pagi, sebelum briefing pagi di mulai. Untung saja Senin pagi ini jalanan tidak macet. Wanita berseragam merah itu memarkirkan mobilnya di parkiran belakang. Seseorang menyapa saat ia keluar dari dalam mobil. "Pagi Pak," sahutnya sambil menoleh ke arah sumber suara. Lelaki berkemeja putih lengkap dengan dasi coklatnya berdiri tak jauh darinya. Siapa lagi kalau bukan kepala cabang tempatnya bekerja, Bapak Wirian. Orang asli Manado yang memiliki kulit putih bersih dengan lesung pipi yang menawan. Arni membiarkan Pak Wirian berjalan masuk lebih dulu. Kemudian ia menyusul masuk dan menuju lokernya dan mulai membenahi riasan juga mencepol rambut coklatnya. "Hei," balas Arni pada sapaan Anis, teman kerjanya yang baru datang. Ia juga kemudian sibuk membenahi penampilannya. Beberapa menit kemudian, ruangan loker itu menjadi penuh karena petugas frontliner berkumpul di sana, sibuk merapikan penampilan sebelum siap memulai pelayanan. "Yuk, kita briefing dulu." Suara atasan mereka memanggil semua petugas frontliner untuk mulai morning briefing. Setelah berdoa dan mendengarkan pengarahan, mereka bergegas menuju meja masing-masing.  Enam orang menuju loket teller, dan lima orang menuju meja customer service, termasuk Arni.  Ya, Arjani Prissy yang akrab dipanggil Arni, adalah petugas customer service di salah satu bank di Jakarta. Ia sudah bekerja disini sudah hampir empat tahun. Suka duka dalam melayani nasabah sudah banyak dirasakannya. Mulai dari dibentak-bentak nasabah, dipelototi nasabah, sampai dikasih hadiah sama nasabah sudah pernah dihadapinya. Seperti pagi ini, baru saja ia mendaratkan bokongnya di kursi dan menatap layar komputer, tiba-tiba seorang nasabah berpakaian loreng-loreng, dan langsung duduk di hadapannya. "Ini gimana Mbak?" tanyanya dengan  nada tinggi. Satpamnya tengah mengarahkan nasabah lain langsung mendekat dan menghampiri, antisipasi bila terjadi kekacauan. "Selamat pagi, dengan saya Arni, ada yang bisa dibantu Bapak--" Matanya membaca nama yang tertempel di seragamnya itu. "Kadiman," sambung Arni dengan ramah. Ia tetap melayani nasabah di depannya itu, meski tatapan nasabah itu setajam tatapan macan yang siap menerkam. Nasabah itu menggebrak meja. "Uang saya kenapa bisa hilang?!" Serunya nyaring. Beberapa nasabah yang sedang mengantri untuk dilayani, menoleh ke meja Arni. "Bapak, silahkan kita ke ruangan di sebelah sana," ajak Arni sopan sambil berdiri dengan membawa pulpen di tangan kirinya. Ia berjalan terlebih dahulu diikuti Bapak itu di tengah, dan satpam di belakang. Mereka memasuki ruangan kaca lengkap dengan seperangkat komputer. "Baik Bapak Kadiman, bisa dibantu untuk dijelaskan, apa yang sedang terjadi dengan uang di tabungan Bapak?" Arni  bertanya dengan sopan meski dalam hati merutuki sikap emosi nasabah di depannya. Nasabah itu dengan penuh emosi melemparkan buku tabungan, kartu tanda pengenal, dan kartu ATM ke hadapan Arni sambil berkacak pinggang, komplain bahwa uang di tabungannya berkurang padahal ia merasa tidak melakukan penarikan sama sekali. 'Sabar Arni' gumam Arni dalam hati. Dengan seksama ia mengetik apa yang diceritakan nasabah itu, kemudian mencetak hasil ketikannya. "Sebelumnya, kami meminta maaf atas ketidaknyamanan yang Bapak Kadiman alami. Di sini saya telah tuliskan apa yang Bapak Kadiman alami, bahwa terjadi penarikan uang sebanyak lima kali di hari Sabtu dengan nominal masing-masing dua juta lima ratus dari tabungan Bapak Kadiman, padahal Bapak merasa sama sekali tidak melakukan penarikan ya Pak?" Arni membacakan ulang apa yang tertuang di kertas putih itu.  "Betul. Saya bisa tuntut kamu!" Teriaknya sambil menunjuk wajah Arni. Ia membiarkan nasabah itu meluapkan seluruh emosinya. Arni kemudian meletakkan kertas yang telah dicetaknya ke hadapan nasabah itu. "Baik Pak Kadiman, untuk laporan pengaduan Bapak telah kami terima. Silahkan Bapak baca lagi, kemudian silahkan tanda tangan di bagian ini." Arni membuka tangannya dan menunjuk tempat yang harus di tanda tangani nasabah itu. "Terimakasih Bapak Kadiman, untuk pengaduan akan kami proses maksimal empat belas hari ker--" "Lama  banget!" Ucapan Arni langsung dipotong oleh nasabah itu. 'Ya ampun, mimpi apa kemarin, pagi-pagi sudah dapat nasabah yang luar biasa macam  bapak ini' gumamnya dalam hati, berusaha tetap sabar. "Itu lama proses maksimalnya Bapak, bisa saja pengaduan Bapak terselesaikan sebelum empat belas hari kerja Pak." Arni tersenyum menatap nasabah di depannya, berharap sikap nasabah itu bisa melunak, namun ternyata tidak.  "Saya tunggu!" Nasabah itu melontarkan ucapan dengan nada tinggi kemudian berlalu dari hadapan Arni. Meninggalkan ruangan dengan amarah yang masih berkobar. "Mbak Arni, aman aja kan?" tanya satpam saat Arni baru saja keluar dari ruangan kaca itu. "Aman Pak. Tapi kesel juga, pagi-pagi udah zonk," ucapnya. Sebelum kembali ke mejanya untuk melanjutkan pelayanan, ia menuju pantry untuk mengambil gula. Biasanya ia akan memakan sedikit gula setelah mengalami kejadian yang tidak mengenakan seperti ini. Untuk mengembalikan moodnya. *** Tepat jam tiga sore, pintu depan kantor ditarik, karena jam layanan sudah selesai. Arni hendak melepas cepolan rambutnya saat satpam mendekatinya. "Mbak Arni, di luar ada nasabah, katanya mau ngecek saldo di rekening tapi kartu atmnya di pegang sama cucunya. Sudah saya suruh cek lewat m banking, handphone nasabahnya jadul Mbak," ucap satpam itu. Arni memandang Bu Ita, atasannya. "Suruh masuk aja Pak Chandra, tapi sambil di dampingi nanti di meja Arni." Suruh Bu Ita. "Siap Bu." Pak Chandra yang mengenakan seragam satpam itu, menjemput nasabah yang dimaksud dan mengantarkannya sampai ke meja Arni. Arni mempersilahkan nasabah itu duduk dan menanyakan keperluannya. "Ini Dek, saya dapat pesan, kalau teman saya katanya barusan mengirim uang ke rekening saya." Nasabah itu mengeluarkan buku tabungan dan kartu tanda penduduknya. "Baik Ibu Ranti Wijiarti, kita persamaan data dulu ya," ucap Arni sambil menanyakan beberapa data pribadi nasabah di depannya. Setelah yakin nasabah di depannya memang nasabah yang menabung di bank tempatnya bekerja, Arni kemudian menatap layar komputer mengecek data keuangan nasabahnya itu di sistemnya. 'What' gumam Arni sambil melirik nasabah di depannya kemudian kembali menatap komputer. 'Ini beneran saldonya sebanyak ini' Arni sedikit terkejut dengan banyaknya saldo di tabungan nasabah itu. Arni mencetakkan buku tabungan nasabah itu kemudian meletakkannya di hadapannya. "Setelah saya cetakan buku tabungan Bu Ranti, disini ada uang masuk dengan nominal sekian Bu." Jari telunjuk dan jari manis Arni melingkari sederet angka di buku tabungan itu. "Oh, berarti sudah masuk ya." Nasabah itu menyimpan buku tabungan dan kartu tanda penduduknya ke dalam tas kecil yang dibawanya. Ranti  berdiri dan berpamitan pada Arni. "Sama-sama. Hati-hati di jalan Bu Ranti." Mengingat tampangnya nasabah ini bukan nasabah sembarangan, Arni pun turut mengantarkan nasabah itu sampai ke depan pintu masuk. Arni dibuat terkejut lagi, ternyata sebuah mobil mewah berwarna hitam telah menunggunya di luar berikut dengan sopir yang telah membukakan pintu. Bu Ita mendekati Arni sekembalinya dari mengantar nenek tadi. "Siapa?" "Namanya Ranti Wijiarti, uangnya banyak banget lo Bu. Ada sembilan angka nol di saldo tabungannya," decak Arni. "Nanti kamu tulis nama sama nomor rekeningnya, Biar bisa Ibu follow up sama tim funding." "Beres Bu," sahut Arni seraya duduk kembali di kursinya. Karena Arni juga sedikit kepo dengan profil nasabah bernama, Ranti Wijiarti tadi dan demi memenuhi permintaan Bu Ita, ia akhirnya mengecek data nasabah tersebut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD