Hazel meremas sisi gaun yang membalut tubuhnya. Bola mata wanita itu bergerak mengikuti dua orang yang sedang berjalan ke arahnya. Jantungnya berdegup kencang, dan semakin kencang seiring langkah kaki dua orang itu mendekat. Meskipun perasaannya campur aduk tidak karuan, namun Hazel tetap mempertahankan ekspresi wajah datarnya. Menahan sekeras mungkin supaya gerak dadanya tetap normal. Supaya tarikan dan hembusan napas tetap pelan. Teratur, setenang mungkin. “Bagaimana kabarmu? Lama tidak bertemu. Senang akhirnya kita bisa bertemu di sini.” Wanita dengan gaun panjang berwarna biru berhenti berjalan di depan Hazel. Tersenyum bahagia menatap Hazel. Akan tetapi, beberapa saat kemudian senyum wanita itu luntur ketika tidak mendapatkan respon seperti yang dia harapkan. Wanita yang sempat ia

