4

844 Words
Raline mengikuti langkah Arbiaz, entah dibawa kemana dirinya, Raline terus mengikuti arah Arbiaz berjalan . Raline menaiki lift bersama Biaz, ditekan nya tombol angka pada lift tersebut, lantai 35. Lantai teratas gedung ini. "Astaga ngapain ke lantai paling atas, semoga aja dia ga ngebunuh gw" Raline tetap diam sambil memainkan jari tanganya , gugup takut semuanya mencapur aduk jadi satu, entah apa yang Biaz pikirkan dan apa yang akan Biaz lakukan kepadanya. "Oke kita sudah sampai" Arbiaz keluar dari lift diikuti Raline, lorong yang sangat remang-remang , tempat yang jarang sekali dilewati orang, sedikit cctv yang dipasang di sini, mungkin bila ada perayaan - perayaan tertentu saja yang membuat lantai teratas ini dipakai. Kalau hari biasa? hanya petugas kebersihan dan satpam mungkin. Arbiaz membuka pintu berwarna hijau besar , menggengam tangan Raline dan mengajak nya keluar dari gedung itu, dengan langkah hati - hati Biaz menggiring Raline agar tidak mengenai genangan - genangan air. "Duduk sini gapapa kan?" "Iya gapapa " Arbiaz membuka jas nya dan memakai kan pada Raline, diingatnya hari ini adalah hari Jumat semua karyawan boleh mengenakan kemeja bebas, dan Raline mengenakan kemeja berlengan pendek. "Emm, maaf ya gw harus bawa lu ke tempat ber angin kenceng kayak gini" "Iya gapapa pa" "Gausa formal , jam kantor udah abis , jadi selow aja" Angin berhembus semakin kencang, Raline semakin memeluk dirinya agar tubuhnya tetap hangat , tida dengan Arbiaz yang sedari tadi biasa saja, rasanya angin hanya bergerak melewati dirinya saja tanpa mengubah sesuatu. "Dingin ya?" " Iya" "Sini biar ga dingin" Arbiaz memeluk Raline dengan erat, Raline tidak bisa bergerak dan dia pun tidak bisa menolak. Oke Arbiaz menang banyak. Mereka kini menatap langit yang penuh dengan bintang dan lampu - lampu gedung pencakar langit yang menyala ditengah sore menjelang malam. "Kayaknya gw gamau biarin karyawan gw sakit, jadi mending kita turun aja" Arbiaz merangkul Raline bangun dari tempat duduk besi  itu, tanpa melepaskan jas yang diberikan Arbiaz. Berjalan masuk ke lorong remang - remang, menuju lift untuk segera sampai ke parkiran. Lift pun berbunyi Arbiaz dan Raline masuk ke dalam lift. Arbiaz memandang Raline dengan dalam, Biaz mendorong lembut tubuh Raline ke sisi lift , memegang wajah Raline dan meraup bibir Raline dengan lembut. Rasanya Raline ingin melepaskan diri dari Biaz tapi genggaman erat Biaz tidak bisa di lumpuhkan. "mmm pa" Arbiaz menghentikan aksi nya karena lift telah sampai ke lantai terbawah, tempat parkir . Tangan Raline di genggam kembali oleh Biaz menuntun Raline masuk ke dalam mobilnya. "Karena besok weekend, jadi gw pinjem lu untuk nemenin gw" Arbiaz memasangkan sabuk pengaman pada kursi Raline,dan memasangkan kursi nya, Arbiaz menyalakan mobil dan membawa mobilnya keluar dari gedung. *** Sampai lah mereka di Apartemen yang Arbiaz tempati, Apartemen yang terbilang desain nya dari luar gedung saja sudah sangat mewah. Raline tidak bisa berkata- kata dan hanya memasang wajah melongo sedari tadi memasuki lobi, dan anehnya Raline tidak berupaya kabur. Arbiaz menekan tombol lift , lantai 18 , didalam lift hanya terdapat mereka berdua , Arbiaz terus menggengam tangan Raline layaknya Raline akan terjatuh bila dilepaskan. "Oke kita udah sampe" Arbiaz menekan kartu masuk ke pintu apartemen nya , membukakan pintu untuk Raline mempersilahkan Raline masuk terlebih dahulu. Dan kembali Raline melongo melihat isi apartemen Biaz, pantas saja Arbiaz memilih tinggal di lantai yang bisa dibilang ketinggian nya cukup tinggi, terpampang gelapnya kota dihiasi lampu - lampu gedung pencakar langit. "Have a seat aline" Raline mendaratkan b****g nya di salah satu sofa panjang , dan Arbiaz membuat segelas minuman untuk tamunya itu. Rasanya Raline ingin mengeluarkan ponsel nya dan mengambil gambar pemandangan yang oh Tuhan bagus sekali. "Bagus banget" "Bagus ya? yaa ini baru lantai 18 , mungkin kalau diatasnya lebih bagus lagi" "Apartemen gw sangat jauh berbeda pemandangannya" "Gw tahu, di dekat tanah yang sedang ada pembangunan kan?" "Ah benar " Jawab Raline tersipu malu "Silahkan diminum minumannya, gw mau ke kamar dulu" Raline menerawang minuman yang dibuat Arbiaz kali saja ada obat yang tidak ia inginkan. Setelah menerawang , sepertinya tidak ada bau apapun. Arbiaz keluar dari kamar nya memakai kaos oblong berwarna putih dan celana pendek, tidak terlalu pendek sedang saja. "Tenang aja gw ga masukin apapun ke dalam situ, cuman sirup dan air, sirupnya merk ABC kalau lu mau tau" Akhirnya Raline meminum minuman tersebut dan Arbiaz pun duduk di samping Raline , Raline meneguk minuman nya, dan Arbiaz? memandangi Raline yang sedang menjaga image dengan minum peralahan - lahan layaknya model iklan. "Btw lu udah makan belom?" "Belum" "Oke gw bakal masak buat kita berdua" Arbiaz melangkahkan kakinya ke dapur . Raline mengikutinya, mungkin ingin membantu . Raline duduk di sebuah kursi tinggi dan memandangi Arbiaz mengeluarkan bahan - bahan dapur dari kulkas, lengan nya yang kokoh membuat hanya memegang sayur saja terliha seksi, cahaya yang berasal dari atas meja tempat Raline duduk membuat hanya d**a Arbiaz yang terkena cahaya , dan itu membuat kaos yang tipis semakin memperlihatkan isinya, tidak terlalu jelas tetapi tampak jelas bayangan kotak - kotak berasal dari d**a dan perutnya. Oh tidak Raline siapa yang mengajarkan mu berpikir seperti itu. ****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD