Kami menaiki lantai atas. Ingin menjenguk seorang laki-laki yang aku bingung siapa. Iron? Atau justru Bang Arsi?
Kaki kami dibawa naik oleh tangga berjalan, teknologi yang sama dengan yang ada di kota kami dulu.
'Silakan masuk.' Kata-kata itu yang menyambut kami saat tiba di depan pintu berlayar sentuh. Bersamaan dengan pintu kamar yang menyeret terbuka. Seorang laki-laki masih terlelap dalam tidurnya. Teta barangkali hendak berlari, memeluk tubuh yang lemas itu. Air matanya tumpah. Tapi apa daya, dia duduk di kursi roda sekarang, walau selang infusnya sudah dicabut.
Aku mendorong kursi roda Teta. Dan di sanalah dia meluapkan segala kekhawatiran. Dia melingkarkan tangannya ke pinggang Bang Arsi.
"Apakah dia baik-baik saja?" Teta menilik dokter yang berdiri di sebelahnya, masih memeluk Bang Arsi.
Dokter itu mengangguk. Seharusnya Teta tidak sepanik itu.
Jemari Bang Arsi bergerak, matanya terbuka secara perlahan. Teta buru-buru mengesat air mata dengan sebelah tangan, memandang penuh harap kepada abangnya.
Mata pria itu mengerjap tiga kali kalau menurut perhitunganku. Atau mungkin lebih dari itu. Dia terlihat lelah, pipinya bengkak sebelah kanan, membiru. Lehernya tergores cukup dalam, tanpa ditempeli plester atau perban. "Kamu kenapa nangis?" tanya Bang Arsi dengan suara lirih disapu desau angin. Teta hanya menggeleng, bilang dia bukan menangis, dia hanya terharu karena senang.
"Jangan dipeluk terlalu keras. Badannya masih sakit." Dokter itu menyeringai tak enak karena mengganggu momen berharga kakak dan adik itu. Teta mengulum bibir memahami. Dia melepas pelukannya.
"Maaf Dok."
"Tidak masalah." Dokter itu mengangguk mengerti.
Bang Arsi menggerakkan kepalanya. Sontak Teta memandang cemas abangnya itu. Bingung harus bagaimana. Ujung jarum infus abangnya mengilapkan cahaya warna biru.
"Dia kehausan." Dokter itu menyodorkan minuman dari atas lemari. Teta segera meraihnya, meminumkan air putih itu perlahan. Ternyata kalau ujung jarum infus berwarna biru, pasien sedang kehausan, kalau warna merah tandanya kelaparan, kalau kuning tandanya mau buang air. Aku segera membaca kertas petunjuk yang di tempel di dinding atas tempat tidur.
Aku diam di tempat. Menyimpan sebuah pertanyaan yang selama ini kupendam.
Teta bertanya banyak mengenai kondisi kakaknya. Dokter itu dengan sabar menjelaskan. Tiba di ujung bahasan, akhirnya aku mampu menyampaikan pertanyaanku itu.
"Apa Dokter juga tau di mana keberadaan sepupuku?" Aku takut-takut bilang.
Tiga pasang mata itu beralih menatapku. Teta seolah baru sadar mengenai satu hal, Bang Arsi juga menatap bingung, dan Dokter seolah tak paham sama sekali.
"Siapa maksudmu?"
Aku pun mulai menjelaskan bahwa yang kumaksud adalah Iron. Dalang dari semua perjalanan panjang ini.
***
Kami bertiga—aku, Teta, dan dokter—bertemu dengan wanita berpakaian motif bunga-bunga. Kami hendak menanyakan keberadaan Iron. Tapi semuanya berjalan sia-sia. Wanita itu tidak mengetahui apa pun. Dia bilang bahwa hanya ada tiga orang yang ditemukan, dan Iron tidak termasuk dalam daftar.
Termangu lah aku di kursi taman dekat air mancur. Menerawang akan kemungkinan-kemungkinan. Apa Iron baik-baik saja?
"Tapi bukankah kalian bisa menanyakannya ke resepsionis? Itu kurasa lebih akurat."
"Kami sudah menanyakannya. Tapi mereka juga tidak tahu," sahut Dokter. Wanita yang ternyata bernama Birna itu menggeleng. Dia juga tidak paham kalau kasusnya berbelit seperti ini.
"Atau Iron ada di rumah sakit lain? Kita bisa memeriksanya satu per satu." Teta memberi usul. Dia duduk di kursi rodanya. Setidaknya itu kursi roda yang lazim kutemui.
"Itu bukanlah ide buruk. Kita bisa memeriksa tujuh puluh rumah sakit di kota ini."
"Tujuh puluh?" Aku terkejut. "Maksud Dokter kita akan melakukannya?"
Dokter itu hanya mengangkat bahu. "Jika tidak ada jalan lain. Saya juga tidak punya alternatif terbaik untuk menuntaskan masalah ini Ris."
Aku mengusap wajahku. Tanganku rasanya kebas, kesemutan, dan sekaligus sebal. Di belakang tempat kami duduk, jalan-jalan mulai berderak naik, melingkar membentuk rel rollercoaster. Aku tahu jelas jalan itu bukan wahana bermain, itu adalah jalur utama kalau sore menjelang. Fungsinya untuk menghemat waktu karena jalanan padat kalau sore. Bangunan segi empat yang kemarin sore berdiri megah, juga mulai terbangun menggantikan bangunan berbentuk tudung saji.
Kami bertiga saling diam. Bagaimanapun, Iron adalah sepupuku. Dia adalah tanggung jawabku, bukan tanggung jawab mereka.
Aku mengembuskan napas. Pamit hendak berkeliling sebentar, siapa tahu bisa menemukan solusi terbaik.
***
Aku melihat seorang gadis sedang gelisah menggenggam kertas-kertas. Gadis itu meremas pulpennya. Dia duduk di sebuah kantin rumah sakit, tepatnya di bangku melayang.
Kakiku tergerak untuk mendekat. Gadis itu adalah Urni. Gadis yang tadi pagi menawariku sup hangat.
"Hai!" Aku menyapa canggung. Gadis itu menoleh sekilas hanya untuk menjawab hai. Lalu dia kembali fokus pada kertasnya yang menumpuk.
Aku duduk di salah satu bangku. Menatap gadis itu.
"Aku tidak bisa memahami semua tugas ini. Menyalin semua penyakit terbaru di rumah sakit? Gila mereka." Gadis itu menggigit tutup pulpen, menariknya.
"Apa kamu butuh bantuan?" tawarku.
Gadis itu melirikku lantas tersenyum sopan. "Enggak usah."
Aku mengembuskan napas lagi. Memerhatikan suasana kantin yang lebih mirip restoran terkenal. Kantin ini juga mirip gazebo terbuka yang luas. Piring-piring dibawa robot pintar bercelemek. Mereka robot pramusaji. Banyak pengunjung yang makan sore bersama, menikmati suasana langit yang meng-ungu.
"Di rumah sakit ujung jalan sana, ada orang asing yang ditemukan sekarat. Apa kamu tau?"
Seketika aku menoleh, mataku melebar. Aku mengendus sesuatu. Aku harap itu jalan keluar yang baik. "Apa dia laki-laki?"
"Iya, laki-laki." Gadis itu membalikkan kertasnya, menutup pulpen, dan menghela napas lega. "Akhirnya selesai."
Aku tidak lagi mendengarkan ataupun memikirkan kata-kata terakhir dari Urni. Aku tengah berpikir mengenai orang asing yang Urni maksud.
"Boleh antar aku ke rumah sakit itu?"
***
Perjalanan itu benar-benar mengorbankan banyak hal. Bukan hanya darah, keringat, atau air mata. Tapi juga mengorbankan banyak keyakinan dalam hati. Semua kejadian tak terduga itu benar-benar membuatku berpikir keras. Bahwa setiap keputusan memiliki harga. Dan kami harus membayarnya hingga tuntas.
***
Urni memboncengku menggunakan sepeda. Kami menuju rumah sakit di ujung jalan.
Jalanan khusus sepeda tidak berbeda dengan jalanan yang ada di bumi. Begitu-begitu saja. Paling kalau di sini lebih disiplin dan bersih.
"Rumahmu di mana?"
Urni mulai memutar stang sepeda, membelokkan sepeda yang mengambang. Di sebelah kiri kami ada trotoar yang ramai dijejekai pejalan kaki. Sedangkan di sebelah kanan jalanan besar menghadang, lengkap dengan jalur yang berputar melingkar.
"Rumahku di Gerbang Artus. Nggak jauh kok dari sini. Rumahmu sendiri di mana?"
"Aaa ...." Aku bingung akan menjawab apa. Rasanya aneh kalau aku harus mengaku kalau aku dari bumi. Bisa-bisa aku dianggap alien.
Urni mengangguk. "Kamu tinggal di Aaa ya? Itu perumahan elite. Kapan-kapan aku berkunjung ya?"
Aku ternganga. Maksudnya apa? Aaa itu perumahan? Mana perumahan elite lagi. Astaga, aku rasanya hendak tertawa. Lupakan, lupakan, aku mempunyai tujuan lebih penting daripada memikirkan perumahan itu.
"Ha? Iya silakan saja."
Sepeda itu memarkir di depan rumah sakit yang lebih kecil daripada rumah sakit labu. Tapi tetap saja indah dengan bentuknya yang setengah bola. Kami berdua melompat dari sepeda, berlari menuju lobi rumah sakit.
Pintu terbuka otomatis saat kami masuk. Lalu tertutup saat kami sudah berada di dalam bangunan rumah sakit. Kami menuju meja resepsionis.
"Ada apa Tuan?" Wanita ber-blazer hijau muda menyambut kami.
"Emm ...."
"Kami hendak bertanya mengenai seorang laki-laki asing yang tempo hari dirawat di sini. Di mana laki-laki itu?" Urni memotong.
Resepsionis bersanggul itu segera memeriksa kaca transparan di depannya. Itu sejenis komputer, tapi bening. Dia mengangguk saat melihat daftar terakhir. "Iya. Kemarin ada seorang laki-laki tanpa identitia yang dirawat di sini. Usinya masih enam belas."
Jantungku rasanya melompat. Bibirku tersungging. "Di mana? Mana orangnya?"
Urni menyikutku. Memberi peringatan. Tapi aku tidak akan pernah paham mengenai isyarat itu. Aku hanya ingin tahu IRON ADA DI MANA?
"Dia sudah pergi. Ada yang menjemputnya."
"Siapa?" Aku berkeras ingin tahu. Siapa yang berani membawa Iron pergi? Dia sahabatku, sepupuku, sedikit darahku sudah bercampur padanya.
Wanita di depanku menggeleng seraya mengulum bibir. Dia tetap bilang tidak tahu.
"Saster, tolong beri tahu kami. Kami butuh jawaban segera."
"Tapi ini kode etik rumah sakit. Tidak semua hal yang bisa kami infokan."
Aku mengusap rambut. Wanita itu benar-benar menjengkelkan. Tinggal beri tahu siapa yang membawa Iron. Aku yakin benar mengenai hal ini.
"Tolong kami."
Wanita itu menyerah mendengar kalimat permohonanku. Dia mengembuskan napas. Lalu memutar layar komputer. Kami dapat melihat daftar paling akhir. Man empty. Itu namanya. "Dia dibawa kolega kerajaan. Sudah, itu saja yang dapat kuberi tahu. Selebihnya cari tahu sendiri." Dia melambaikan tangan, menyuruh kami pergi.
Aku dan Urni saling tatap. Lalu Urni menaikkan alisnya. Kita pergi saja.
***
Teta duduk di kursi kamar rawat Bang Arsi. Dia mengenggam ponselnya yang mendadak tidak berfungsi. Dia juga menatap layar kaca yang menyiarkan serial kartun. Kosong. Gadis itu terlihat bosan, aku saja yang hanya melihatnya ikutan bosan.
Aku duduk di sebelah Teta. Gadis itu menatapku. "Eh Aris. Apa Iron sudah ketemu?" Tadi aku memang sempat berpamitan kepada Teta dan dokter untuk mencari keberadaan Iron. Itu setelah wanita Kebun Bunga pulang. Tapi mereka tidak tahu aku pergi dengan siapa.
Aku menggeleng. Iron dibawa kolega kerajaan. Maksudnya apa? Tapi itu pun belum tentu Iron. Bisa saja orang lain. Takdir memang pilih kasih. Astaga, aku harus melupakan pikiran buruk itu. Ja-ngan per-nah me-nya-lah-kan tak-dir. "Aku tidak paham apa yang sebenarnya terjadi." Aku melambaikan tangan malas. Kepalaku kurebahkan di kepala sofa. Membiarkannya nyaman. Gayang rasanya memikirkan masalah ini.
Mataku ilam-ilam menatap kaca televisi. Itu sungguhan kaca, bukan televisi biasa. Saat televisi dimatikan maka kaca itu akan benar-benar menjadi kaca bening penghias interior kamar.
Perlahan, aku jatuh tertidur.
***
"Aris! Bangun Ris." Iron mengguncang bahuku. Dia tampak panik. Dahinya berkerut, matanya tajam menelisik. "Aris! Teta! Bang Arsi!" Dia benar-benar gelisah. Rambutnya berantakan karena jemarinya tak henti meremas kepala. "Aku menyesal telah melibatkan kalian dalam masalah pelik ini. Aku benar-benar menyesal!" Iron menangis. Keadaan kapal kami hancur tak berperi. Sedih aku melihatnya. Kursi kemudi patah, dinding robek, kaca berderai, layar monitor menyisakan kabel yang putus.
Tak lama setelah itu, sebuah bayangan gelap membelah kebuncahan Iron. Dua orang berpakaian hitam tiba-tiba menarik tangannya, menutup mulut, lalu berlari di tengah gelapnya malam. Iron berusaha berteriak walau suaranya tak sampai 20 Hz.
Tubuh Bang Arsi, Teta, dan aku bergelimpangan tak berdaya. Aku menatapnya jeri. Ini keadaan yang buruk. Aku bingung hendak mengejar Iron atau menyelamatkan diriku sendiri. Waktu seolah tak mengizinkanku mendapat jatah kebahagiaan.
***
Mataku berkedip-kedip. Aku separuh terkesiap karena sekarang sudah malam. Teta mengemaskan beberapa keperluan ke dalam tas kecil. Sedangkan Bang Arsi sudah bangun walau kondisinya masih kurang baik.
"Mau ke mana?" tanyaku.
"Mau cari makan Ris. Kamu mau ikut?" Aku segera mengangguk. Aku juga lapar.
"Sebentar, aku cuci muka dulu." Aku berjalan gontai menuju washtafel. Membersihkan kulit wajahku yang mulai mengusam. Lama aku berdiam di depan cermin, membayangkan rumahku, ikan koi peliharaanku, semua yang terpaksa aku tinggalkan.
Pintu kamar bergeser terbuka, dengan suara sambutan yang khas apabila seorang dokter masuk.
"Kalian sudah siap?"
Teta yang tengah bersalaman dengan abangnya untuk pamit, menoleh. Dia mengangguk. "Tinggal tunggu Aris sebentar."
Di lain sisi, aku menghela napas, menahannya sesaat. Mungkin semua akan baik-baik saja. Aku harus menikmatinya.
***