Dua menit lagi jam pulang. Artinya tas-tas yang tergeletak di dalam kelas akan segera diambil, dan kami akan ditendang dari lab komputer. Ini bukan pertanda baik, setidaknya bagi Iron, teman sebelahku. Komputernya heng dan tidak bisa dikembalikan ke layar utama. Keringatnya bercucuran, kalau begini dapat dipastikan nilai praktiknya bakalan jelek. Tugas itu harus dikirim melalui e-mail sebelum bel pulang berbunyi.
Bagaimana bisa mengirim e-mail kalau kejadiannya begini.
Sepertinya Iron harus mengikhlaskan nilainya. Belum kering bibirku berdecak, bel pulang berbunyi. Keringatnya semakin membesar, tangannya mengguncang mouse komputer, berharap tidak heng lagi. Tetapi tetap saja tidak semudah itu, tetikus komputer bukan tikus sungguhan yang akan hidup begitu saja saat diguncang. Tetikus hanya peranti komputer biasa.
Akan tetapi ajaibnya, kursor itu bisa bergerak setelah tetikus dipukul pelan ke atas meja. Iron tersenyum karena mengira tugas ketikan yang ia buat bisa dikirim melalui e-mail. Sayang, waktu telah habis. Guru TIK sudah berdiri di samping kami untuk menyuruh pergi. Sedangkan teman sekelas kami sudah keluar dari ruangan untuk kembali ke kelas.
"Nanti kalau telat saya lagi yang dimarahin guru lain. Buruan ke kelas," kata bapak berkumis tebal yang berdiri di samping kami itu. "Jangan lama. Belom lagi masang sepatu, ditambah kalian suka melipir ke kantin, sudah dua kali saya dimarahin guru lain karena telat ngeluarin kalian. Padahal kaliannya saja yang lengah." Bapak itu memang selalu bertingkah hiperbolis. Aku sesekali ingin mengepang kumisnya lalu digantung di tiang bendera.
Tanpa menoleh Iron mengangkat jari telunjuknya. Semenit lagi, Pak. Semenit lagi.
Lelaki dengan perut sebesar drum itu langsung bergerak menuju mejanya, mematikan rangkaian listrik paralel yang membuat komputer Iron padam sekarang juga. s**l sekali.
Sekarang lebih fatal, bukan hanya tidak bisa mengirim data tetapi Iron juga kehilangan ketikan yang belum ia simpan. Semuanya hangus. Iron terkejut bukan main. Dia hendak memerotes, tetapi guru kami langsung mengisyaratkan agar kami keluar dari ruangan sekarang juga.
***
Halte pemberhentian bus kuning kami berada di depan hamparan luas kebun stroberi. Di gerbang depannya ada papan kayu bertuliskan Zul Garden. Aku melirik ke kanan, menyaksikan wajah kusut Iron gara-gara sebal dengan bapak berkumis tebal di sekolah. Sebenarnya tidak perlu dipikirkan, nilai-nilai Iron selalu bagus. Dapat nilai jelek sesekali bukan masalah besar.
Aku mengumpat saat sepatuku terjebak lumpur ketika memasuki gerbang kebun Paman Zul. Dengan berat hati aku harus melepas sepatu dan kaus kakiku.
“Kamu kenapa ikut buka sepatu?” Aku bertanya karena heran melihat Iron ikut melepas sepatu dan kaus kakinya juga.
Dia mengangkat bahunya tidak peduli. “Biar sama-sama kotor.” Itu jawabannya. Ah, jika aku perempuan mungkin sudah kucium bibirnya. Tidak, bukan begitu. Aku hanya bercanda. Aku dan Iron sepupu, kami sudah seperti saudara kandung karena ke mana-mana bersama. Dan Paman Zul, pemilik kebun stroberi ini adalah paman kami. Aku pikir tidak perlu aku jelaskan pohon keluarga kami, kita tidak ada niatan berbagi harta warisan.
"Paman baru saja mau pergi. Eh kalian malah datang ke sini. Ada apa?" Pria bertopi bundar, berbaju kaus oblong, bercelana pendek, dengan kumis tipis di atas bibir, juga badan yang tegap itu, adalah Paman Zul yang aku ceritakan.
"Iya Paman, kami cuma lagi pengin mampir. Oh ya Paman, Kesa ada?" tanya Iron. Kesa adalah anak satu-satunya dari Paman Zul. Kesa masih berusia empat tahun, lucu dan menggemaskan jika kalian melihat wajahnya. Rambutnya ikal dan matanya besar seperti boneka barbie.
"Lagi tidur. Dia abis dimarahin ibunya. Soalnya tadi pas di sekolah gak mau pulang, maunya tetap main perosotan. Tahu sendiri, kan, Bibi bagaimana.” Kami berdua kompak mengangguk. Bibi memang terkadang sedikit galak, tetapi aslinya ramah dan murah hati. Asal jangan banyak tingkah saja.
"Stroberi kami yang kemarin ada di mana ya, Paman?"
"Nah itu, di ujung sana. Yang paling kerdil. Hehehe." Paman malah tertawa. Gigi ginsulnya seolah menyoraki kalau kami tidak becus. "Tumbuhnya lama. Paman heran sama stroberi kalian. Mungkin tangan kalian tidak cocok buat tanam stroberi. Bisa-bisa stroberinya mati."
Duh mulutnya.
Sialnya aku malah ikut tertawa, begitu juga Iron yang sudah melangkah menuju stroberi tanaman kami. Walaupun agak menyebalkan saat Paman bilang begitu, tetapi aku tidak bisa mengelak. Harusnya kami sadar diri, saat praktik menanam kacang hijau di kapas saja, kecambah kami yang paling buruk kualitasnya. Layu, pucat, seperti tauge rebus.
Stroberi kami belum berbuah. Soalnya belum sampai setengah bulan kami menanamnya. Ya beginilah, menanam stroberi dengan biji memang membutuhkan waktu lebih lama dibanding dengan menggunakan stolon atau geragih. Ditambah pengalaman yang nihil dan ketelatenan yang rendah, kami tidak akan bisa lari jika pengadilan tumbuh-tumbuhan menuntut kami karena telah menelantarkan tanaman stroberi.
"Kaki kalian kenapa bisa kotor begitu? Sepatunya kenapa ditaruh di tanah? Kenapa tidak dipakai?" Paman melihat kami berdua yang sedang duduk dengan kaki terlipat ke belakang.
"Iya, Paman. Tadi kena lumpur," jawab Iron, menoleh ke belakang.
"Paman lihat sepatumu bersih, Ron?" Dia kembali memandangi dua pasang sepatu yang tergeletak di tanah.
Aku menyengir mendengar pertanyaan itu. Lalu aku dan Iron saling lirik untuk meminta jawaban. Masa iya aku harus bilang Iron dengan tingkah manisnya itu rela melepas sepatunya juga karena peduli padaku. Ya ampun, renyah sekali pikiranku.
Alhasil kami hanya senyum-senyum sendiri selama menyiram tanaman stroberi, hingga akhirnya kami pamit pulang 30 menit setelahnya dengan berjalan kaki.
***
Iron langsung mencelupkan kakinya ke kolam renang setiba di rumahku. Kolam renang itu terletak di ruang tengah, dikelilingi oleh kaca-kaca berstiker kelabu kotak-kotak. Kami jarang menggunakan kolam renang ini untuk berenang apalagi mandi. Soalnya lokasi kolam renang tersebut di tengah ruangan. Kalau ada yang mengintip, kan repot.
Aku menyusul untuk merendam kaki di air kolam. Enak dan melegakan. Rasanya mungkin seperti tanaman kering yang disiram hujan.
"Bibi Arum, mana Ris?"
Aku yang sudah berdiri setelah beberapa saat merendam kaki berhenti sejenak. "Kerja kali, Ron. Kayak biasa." Aku meletakkan tas ke atas kursi, lalu berjalan menuju kulkas.
"Kulkasnya jangan buka lama-lama," seru Iron, "nanti CFC-nya merusak ozon."
Aku mendesah lalu menutup pintu kulkas. Melanjutkan minumku yang terhenti. "Iya, iya. Tau kok. Lagian cuma mau minum sama nyari cemilan."
"Tetap aja, Ris. Harus waspada."
Waspada apanya coba? Aku tahu kalau Chlorofluorocarbon atau freon itu senyawa organik apa. Kalau perlu aku bisa menjelaskan proses rilisnya hingga ke atmosfer, bahkan reaksi kimianya sekalian dengan ozon. Aku belum pernah bolos pelajaran kimia di sekolah. Aku paham masalah itu. Ah, bahkan aku siap jika harus menggantikan guru kimia di sekolah.
Aku menempelkan telunjuk di ujung bibir. "Sssst, sst. Urus hidup sendiri aja ya, Ron. Biasanya juga kamu nyalain AC, dikiranya nggak ngerusak?”
Iron terdiam. Sedangkan aku menyeret kaki menuju kamar untuk berganti pakaian.
Aku tidak suka diatur-atur oleh siapapun.
***
Sore harinya hujan deras. Aku tertidur pulas di kamar dengan memeluk erat selimut Liverpool. Aku sungguh mengantuk hingga lupa niat awalku ingin mengerjakan tugas bersama Iron.
Aku menarik tangan ke atas seraya menguap. Mataku menangkap jarum jam yang menunjukkan pukul empat sore. Sambil mengucek-ucek mata, aku beranjak dari kasur dan mulai melangkah untuk keluar kamar.Pemandangan pertama yang kudapatkan adalah Iron yang sedang memberi makan ikan koi di akurium. Dia tertawa-tawa dan tersenyum sendiri seperti orang gila. Meskipun bukan sekali ini saja dia bertingkah aneh, tetapi tetap saja di mataku aneh.
"Udah bangun Ris?"
Aku hanya berdehem untuk kemudian berbelok menuju wastafel. Aku membasuh wajahku agar terlihat segar. "Belom pulang?"
"Belom. Kan masih ada tugas yang harus kita kerjain. Kapan ngerjainnya, Ris? Sekarang?"
Aku menjawab, "Hmmm, terserah."
Menit-menit berikutnya lebih banyak kami habiskan di ruang tengah rumahku, di sebelah kolam renang. Kami dengan leluasa melihat air hujan yang jatuh, menciptakan riak air.
"Budidaya ikan koi." Aku mendiktekan kalimat awal untuk tugas laporan kami. Tugas ini baru diberikan semalam, dan kami langsung mengerjakannya hari ini.
Kami mendeskripsikan tentang langkah awal budidaya. Mulai dari pemilihan bibit hingga cara mengawini antara yang jantan dan yang betina.
Pukul tujuh malam, kami berhasil menyelesaikan tugas kami. Tinggal satu hal lagi yang belum, yaitu mencetak laporan. Itu urusan mudah, bisa kapan-kapan.
Bibi, aku sama Iron mau ajak Kesa jalan-jalan ya nanti malam. Ditagihin mulu ini sama dia." Aku menelepon Bibi Maya, istri dari Paman Zul. Sejak lama Kesa ingin diajak makan malam di luar, tetapi kami selalu sibuk. Alhasil, berhubung tugas kami sudah kelar sekarang, kami berkeinginan untuk membawa Kesa makan malam. "Oke."
Aku mandi selama beberapa menit—setelah dari sore belum mandi. Lalu secara bergilian Iron lagi yang mandi. Ibu dan ayahku juga sudah pulang sejak sejam yang lalu.
Setelah siap, aku segera mengambil kunci sepeda yang digembok di garasi. Sepeda itu mirip mobil kecil tetapi tenaganya menggunakan tenaga manusia, bukan bahan bakar fosil.
"Pakai mobil aja, Ris. Udah malem gini, sepeda gak ada lampunya."
"Nggak bisa begitu. Mobil bikin polusi udara, kan kamu tahu sendiri partikulat pencemarnya.” Aku tertawa dalam hati saking puasnya membalikkan ceramah Iron tadi siang.
Iron mengangguk pasrah seperti orang-orangan sawah. "Ya udah."
Butuh waktu 15 menit untuk kami tiba di rumah Paman Zul. Kalau jalan kaki bisa lebih lama. Mungkin sekitar 25 menit.
Tiba di rumah Paman Zul yang bisa dibilang cukup besar, kami langsung masuk ke ruang keluarga mereka. Kesa sedang dibedakin oleh Bibi Maya.
"Eh Abang," sapa Kesa tersenyum. Dia tahu kalau mau kami ajak makan. Soalnya pas tadi mau bilang, yang angkat teleponnya Kesa.
"Cailah, bedak Kesa tebal banget," goda Iron. "Gak bisa dibawa kalau begini. Nanti dikira orang ini bukan anak kecil, dikiranya ondel-ondel."
Bibir Kesa mencebik, dia seolah mengadu kepada ibunya. "Ma?"
Bibi Maya masih asyik meratakan bedak di wajah Kesa. "Abang Iron bohong. Ya kan Bang? Biar nanti Mama cubit Abang Iron-nya," bela Bibi Maya. Kesa menjulurkan lidah sambil membuat telinga dari kedua tangannya. Iron yang usil tidak mau kalah. Dia malah memasang wajah ala monster yang membuat Kesa takut dan memeluk pinggang ibunya.
"Bang Iron, Ma," katanya. Sedangkan Bi Maya sudah berkutat untuk mengikat rambut Kesa yang lucu menggemaskan.
"Bibi sama Paman gak mau ikut?" tanyaku.
Bibi menggeleng tanpa bersuara, mulutnya sedang terkunci untuk menggigit ikat rambut karet yang akan ia pakaikan ke Kesa. "Mau ke rumah temen." Setelah gigitan itu dilepas barulah Bi Maya menjawab.
Setelah cantik, Kesa segera naik ke sepeda kami dengan dipangku olehku. Kebetulan kursi sepeda ini memang cuma ada dua, jadi Kesa harus dipangku.
Kami pun mulai melajukan sepeda sambil berpamitan kepada Bi Maya dan Paman Zul. Sepeda kami membelah suasana malam di kota, disiram oleh cahaya bulan dan angin berkesiur yang dingin.
Gedung-gedung tinggi tampak hidup dengan lampu-lampu yang menyala.
Aku belum tahu saja kalau di belahan dunia yang lain, ada sesuatu yang menakjubkan lainnya.
***
Kami tiba pukul sembilan malam di rumah makan. Kesa digendong oleh Iron karena kami tidak mau mengambil risiko jikalau Kesa berkeliaran ke mana-mana. Merusak vas bunga, misalnya. Atau menabrak pelayan restoran.
Kami memilih tempat duduk di halaman tengah, di dekat kolam ikan. Kesa kami dudukan di kursi tersendiri. "Mesan apa?" tanya Iron sambil membaca buku menu.
"Ayam geprek aja lah. Kalau Kesa mau apa?"
"Mau semangka selai cokelat," jawab Kesa lugu.
"Gak ada semangka, Kesa." Iron mengelus rambut Kesa yang memintil. "Ayam mau?"
Kesa menggeleng seraya mencebikkan bibir. "Keca takut digigit sama ayam. Takut, Bang. Kemaren Keca dikejar sama ayam. Keca gak mau makan ayam lagi."
Seketika itu juga aku tertawa, habis Kesa polos sekali. Eh iya, sejak kapan ayam gigit orang? Bukannya ayam itu mematuk ya?
Iron mengusap wajahnya dengan gusar. "Jadi Kesa mau apa selain semangka? Yang makannya pakai nasi, gitu."
Kesa mengedip-ngedipkan matanya. "Piring?"
Sekali lagi Iron kesal dan memukul dahinya sendiri. "Yang bisa dimakan Kesa. Yang-bi-sa-di-ma-kan," eja Iron satu per satu, "dan yang makannya pakai nasi.
Kesa tampak berpikir. Terlihat dari gayanya yang menggaruk-garuk kepala. Aku sendiri hanya diam untuk menyimak. "Telur ceplok, boleh?" tanya Kesa polos. Aku terkekeh mendengarnya.
Iron mukanya berubah. Maksudku ekspresi wajahnya. Dia berusaha tersenyum walau matanya bersedih. Bisa dibilang Iron sedang meringis sekarang.
"Pesanin aja yang samaan sama kita. Dia pasti mau makan kok."
"Pesen apa jadi? Ayam geprek?"
Aku mengangkat bahu. Bukan berarti aku tidak peduli. Tetapi aku juga bingung kalau sudah begini. "Ya terserah."
Tahu apa yang terjadi selanjutnya? Iron memesan nasi goreng buat makan malam kali ini. Alasannya dia sudah dilematis harus berbuat apa sampai-sampai mengorbankan pesanan awalku.
Aku mengaduk-aduk makanan dengan malas. Melirik Jus Alpukat yang tertuang di dalam gelas seloki yang tinggi. Aku tidak mau makan nasi goreng. Aku maunya ayam geprek. Tapi mengapa Iron setidakmenyambung itu.
"Kenapa, Ris? Kenyang?" tanya Iron pura-pura tidak tahu.
"Bang Aris mau makan semangka ya? Ini juga enak kok." Kalau Kesa yang ngomong entah mengapa aku jadi luluh. Akhirnya aku menyendok makananku secara perlahan. Benar juga, rasa nasinya enak. Tapi tetap saja yang aku mau ayam geprek bukan nasi goreng.
Kesa terlihat asyik dengan gelas seloki yang lucu itu. Ada penghias karamel beku yang dibuat jaring-jaring di minumannya. Tapi yang kuherankan, tidak seteguk air pun yang ia minum.
"Kesa gak minum?" Aku meraih gelas minumanku dan menyedotnya hingga habis setengah. Haus juga ternyata, nasi gorengnya cukup pedas. Eh tidak, tidak. Nasi gorengnya tidak pedas, tapi bikin seret. Sepertinya pembuatnya kurang cinta saat membuat nasi goreng ini.
Kesa menggeleng tapi matanya masih fokus pada gelas seloki yang tinggi itu-entah apa namanya, bagiku tetap gelas seloki.
Karena merasa tidak ada yang salah dengan Kesa, kami melanjutkan makan. Sesekali kami juga menyuapi gadis kecil itu biar bisa kenyang. Jangan sampai waktu pulang ke rumah dia bilang ke Bibi dan Paman kalau dia tidak kami beri makan.
Kesa mengaduk-aduk jusnya dengan menggunakan jari. "Eh jangan," seruku, "nanti kotor."
Kesa mengangkat kepala lantas merengut. "Apa, sih!"
Akhirnya aku hanya pasrah membiarkan Kesa bermain-main dengan jus dan gelas seloki yang tinggi itu.
sepuluh malam kami tiba di rumah Paman Zul, dengan Kesa yang tertidur pulas setelah bermain kejar-kejaran dengan gelas seloki yang telah kosong. Bermain di sini adalah sebenar-benarnya bermain, bukan kiasan atau segala macamnya.
Setelah minumannya habis, Kesa entah mengapa malah menggelindingkan gelas itu di lantai. Kami yang menyadari itu langsung mengejar gelas seloki yang seolah memiliki mesin di dalamnya. Gelas itu bergerak begitu cepat dan dinamis. Iron sampai berkali-kali meminta maaf pada pengunjung dan pelayan restoran karena nyaris tertabrak. Mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mereka kira kami hanya main kejar-kejaran dengan Kesa yang sudah berada di garda terdepan.
Beruntung gelas itu berhenti sesaat sebelum berenang di kolam ikan. Malah gelas itu berhenti dengan posisi berdiri. Kami tidak mau ambil pusing, yang penting gelas tersebut berhasil kami dapatkan.
"Waaaahh, Kesa tidur dari sana? Ngerepotin dong." Bibi Maya yang terlihat mengantuk, mengenakan piama warna biru bermotif beruang.
"Gak kok, Bi. Dia tidur pas di jalan. Kayaknya dia kecapekan."
Bibi Maya segera menggendong Kesa setelah aku bilang begitu. Dia juga menawari kami agar mampir sebentar, tapi kami menolak. Lebih baik kami pulang sekarang juga. Iron pun tampaknya akan menginap di rumahku.
Kami tiba di rumahku nyaris jam setengah sebelas malam. Ayah sedang menonton TV saat kami tiba, jadi tidak perlu teriak-teriak untuk minta bukakan pintu.
Iron sendiri langsung menelepon orang tuanya, memberi tahu kalau dia akan menginap di rumahku.
Oke baiklah, kami harus beristirahat. Besok kami harus sekolah dan menerima setumpuk tugas lagi untuk dikerjakan.