5

896 Words
Adam melihat ke arah mayat pak Santos. "D-dia ... dia ..." Adam tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Dia masih shock dengan apa yang dilihatnya tadi. "Dia kenapa Adam?" Tanya Taylor dengan muka khawatir. Adam menggeleng lalu memegang keningnya yang terasa mendorong. "Nggak di sini gue ceritanya Tay. Bantu gue berdiri. Gue mau pulang." Ucap Adam. Dengan sigap Taylor membantu Adam berdiri. Dia masih heran dengan keanehan Adam. Mungkin di waktu lain dia bisa tahu jawabannya. *** "Jadi apa yang akan kita lakukan?" Tanya Taylor. "Gue gak tau." Ucap Adam. Adam dan Taylor mendengus kesal karena Damian dan om Irfan tidak bisa datang karena ada acara dan pekerjaan yang mendadak. Mereka berdua duduk diam di ruang kantor. Tidak ada yang berbicara. Hening. Kamar ini benar-benar tidak ada seperti kehidupan. Mereka menunggu Om Irfan dan Damian sampai datang kantor, karena mereka adalah 2 cowok yang keras kepala. "Gue akan pergi beli makanan. Lo mau apa?" Tanya Taylor. "Samain aja sama lo. Ingat sambalnya, terima kasih banyak." Jawab Adam. Taylor mengangguk lalu keluar dari ruang kantor. Sekarang Adam sendirian di ruangan itu. Merasa bosan, Adam memutuskan untuk melihat-lihat semua tempelan koran yang masih bagus dan rapi. Kalian tahu ... semua berita penting di tempel dengan rapi di sini. Matanya langsung tertuju pada sebuah koran yang berbunyi 'Tragedi Mengerikan di Indonesia International School.' Dengan sigap, Adam membaca semua dari awal hingga akhir. Adam mengeluarkan handphonenya lalu menelpon Taylor. "Lingkaran cahaya?" Suara Taylor terdengar samar-samar karena berisik. "Halo Tay .. sekarang kesini! Gue punya berita bagus." "Berita apa !! ??" "Berita tentang sekolah kita. Cepat kesini!" "Oke .... aku sampai di sana 15 menit lagi. Oh ya! Om Irfan dan Damian tidak bisa datang ke kantor! Dia melihat besok baru mereka kesana." Adam mendengus kesal. "Iya deh." Ucap Adam dan membantu teleponnya. 20 menit menunggu, akhirnya Taylor datang. Dia datang dengan membawa banyak makanan yang Adam yakini adalah makanan yang tertarik. "Maaf lama." Ucap Taylor sambil duduk di lantai. Adam mengangguk lalu duduk juga di lantai dengan Taylor dan membuka makanannya. "Jadi apa berita baru lo?" Tanya Taylor to the point . "Bagaimana dengan kasus kerusakan yang terjadi di sekolah kita pas tanggal 23 Agustus 1977? Dan kasus pembantaian pada 23 Januari 1985?" Jawab Adam dengan wajah serius dan balik bertanya. Taylor mengangguk. "Trus?" Tanya Taylor dengan makanan yang masih banyak di dalam mulutnya. Adam memakan makanannya dan menghela nafasnya. "Lo tahu .... kemarin adalah tanggal 23 dan terjadi kasus bunuh diri di sekolah kita. Gue yakin kalau pak Santos bunuh diri karena nenek Aminah itu." Jelas Adam. Taylor langsung tersedak dan mengambil air minum lalu meneguknya sampai habis. "Maksud lo apa?" Tanya Taylor. "Tay .. lo kenapa bodoh banget, sih? Intinya adalah pak Santos itu tidak membunuh dirimu sendiri tetapi dibunuh oleh nenek Aminah!" Jawab Adam dengan nada agak keras. "Buktinya apa?" Tanya Taylor lagi yang benar-benar membuat Adam kesal. Adam memukul kepala Taylor cukup keras dengan menggunakan potong, tapi Taylor hanya ketawa melihat kelakuan Adam. "Lucu!" Ketus Adam lalu naik mengambil air minum. "Oke .. maaf ya mas bro! Jadi apa buktinya?" "Buktinya ada bekas cakaran di lehernya. Sama seperti bekas cakaran di leher gue yang pernah lo lihat." Jelas Adam. Taylor langsung tersedak lagi. Nah, Taylor juga melihat kompilasi Adam kesulitan. Sungguh misteri ini Susah misteri. "Coba saja, Alexandra masih ada, pasti dia akan membantu kita." Ucap Taylor. Ketika Taylor berkata, tiba-tiba angin yang dingin berhembus di dalam ruangan ini. Semua Jendela Tertutup Hanya Pintu Juga Tertutup. Tidak mungkin AC di dalam ruangan ini lebih dingin pada pengaturan Acnya di 20. Dan parahnya, bulu kuduk langsung berdiri. Taylor kaget dan takut sedangkan Adam langsung khawatir dan berubah berubah menjadi wajah yang sulit dipahami. "Mampus gue!" Ucap Taylor yang bergeser ke samping Adam. "Lo sih! Mulut lo nggak bisa dijaga." Ucap Adam lalu pergi membuang makanan di tempat sampahnya. "Aku akan pergi ke Masjid. Mau sholat. Kalau ada apa-apa telepon tapi jangan telpon gue kompilasi sholat." Ucap Adam yang dijawab oleh anggukan dari Taylor dan pergi meninggal Taylor sendiri. Akhirnya Taylor tinggal sendiri di ruangan itu. Hawanya sudah mulai dingin dan rada-rada aneh. Bulu kuduknya masih setia berdiri. Rasa cemas, takut, khawatir masih ada dalam dirinya. Sungguh! Ini untuk yang pertama kalinya dia dapat bergabung. Pintu kamar mandi di ruang kantor terbuka. Taylor kaget dan takut untuk melihat ke arah kamar mandi. "Ayolah kawan! Jangan main-main! Nggak lucu!" Ucap Taylor yang menahan rasa takutnya. Taylor menolak jidatnya karena dia lupa jika Adam pergi ke Masjid untuk beribadah. Taylor sadar kalau dia sendiri sekarang. Tiba-tiba angin berhembus lagi. Kali ini tepat dibelakang Taylor. Dia kaget dan menengok kebelakang tapi tidak ada orang. Dia menggigit bibir bawahnya karena takut. Angin berhembus lagi dan pintu kamar mandi berbunyi lagi, kali ini pintu itu tertutup. "Ayolah! Nggak lucu!" Teriak Taylor. Dia melihat arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 21:15 malam. "Aarrrgh! Lama banget sih Adam!" Ketus Taylor. Tak beberapa lama kemudian, terdengarlah udara dercikan seperti orang mandi. Kali ini rasa takut sudah memenuhi diri Taylor. Adam yang mengambil kunjungan harus siap-siap untuk lari dan sialnya semua karyawan sudah pulang dan banyak lampu yang sudah dimatikan oleh satpam. BURRGH !! Suara bantingan pintu langsung membuat Taylor kaget dan berteriak histeris seperti cewek dan lari keluar. ****** [TBC] Bab ini aneh ya? Sama seperti sifatku ini yang aneh! XD Lupakan saja. Vote + Komentar oke? Oke kalau gitu sampai ketemu di bab selanjutnya. Salam Misteri, kawan!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD