Damian membuka pintu apatermernnya dan mereka pun masuk ke dalam. Di dalam apatermennya ada 3 kamar beserta kamar mandi. Dapurnya pun luas.
Tak beberapa lama kemudian, Damian menyiapkan makanan untuk makan malam dan mereka makan bersama. Adam merasa kalau dia sedang makan dengan keluarganya. Keluarganya yang dulu masih utuh.
"Jadi kita mau kemana?" Tanya Anisa yang memecahkan keheningan.
Damian tersenyum. "Kalian berdua suka membaca?" Damian kembali bertanya yang dinawab oleh anggukan Anisa dan Adam. "Baguslah... karena kita akan pergi ke perpustakaan lama." Lanjutnya.
"Untuk apa?" Tanya Adam lalu memakan makanannya lagi.
"Kalian mau tau semua rahasia sekolah kalian kan?" Ucap Damian yang dijawab oleh anggukan Adam dan Anisa lagi. "Makanya kita ke perpustakaan karena di perpustakaan lama banyak buku sejarah mulai dari sejarah peperangan, sejarah Indonesia bahkan sejarah sekolah kalian yang sampai beritanya mengegerkan seluruh nusantara bahkan sampai luar negeri." Lanjut Damian panjang lebar.
Adam dan Anisa mengangguk bersamaan. "Oohhh..." Ucap Adam dan Anisa secara bersamaan lalu menyantap makanan masing-masing.
***
Adam dan Anisa mengikuti Damian dari belakang. Mereka menghela nafas bersamaan dan tertawa bersama.
Damian mengambil sebuah buku dan disimpannya di meja agar Anisa dan Adam melihat. Mereka berdua langsung kaget dan tidak menyangka kalau sekolahnya mempunyai sejarah yang sangat mengerikan.
'Sejarah Indonesia International School dan di Balik Misterinya.'
Damian tidak membuka halaman pertama tapi dia langsung membuka halaman 190 yang isinya sudah berkaitan dengan misteri di sekolah itu.
"Baca ini." Ucap Damian.
Adam dan Anisa melihat dan membacanya secara seksama tapi yang bersuara hanya Adam.
"Pada tanggal 23 Januari 1956 Indonesia International School fi bangun. Sebelumnya tidak terjadi apa-apa disekolah itu, tapi ketika sekolah itu terjadi kebakaran pada 23 Agustus 1977 dan pembantaian yang terjadi pada 23 Januari 1988." Baca Adam dalam buku itu.
Anisa membulatkan matanya ketika menyadari kalau semua bencana terjadi setiap tanggal 23 walaupun bulan dan tahunnya berbeda.
"Kenapa semuanya terjadi pada tanggal 23? Ada apa dengan tanggal 23?" Tanya Anisa yang di jawab oleh anggukan Adam sedangkan Damian dia hanya tersenyum.
"Karena tanggal 23 juga nenek yang membunuh Taylor dan satpam sekolah kamu itu lahir." Jawab Damian mantap.
Anisa dan Adam menatap Damian sebentar lalu beralih ke buku lagi.
"Sudahlah.. jangan baca lagi. Saya sudah tau semuanya." Ucap Damian yang lagi-lagi membuat Anisa dan Adam heran dan bingung.
Damian tertawa kecil. "Okay.. biar aku jelaskan. Siapa diantara kalian berdua yang jago matematika?" Tanya Damian.
"Adam!" Jawab Anisa dengan cepat yang membuat Adam berdengus kesal dan mengangguk pasrah. Damian tertawa melihatnya.
"Okay...coba kamu hitung 23+23+23-12." Tanya Damian kepada Adam.
"57." Jawab Adam dan hitungannya tidak sampai 4 detik.
"Okay.. jadi sekitar 5 atau 7 bulan bencana itu terjadi." Ucap Damian.
"Maksudnya?" Tanya Anisa dan Adam bersamaan.
Damian menghela nafas. "Tanggal berapa satpam kalian bunuh diri?" Damian balik bertanya.
"Tanggal 23." Jawab Anisa.
"Sekarang bulan apa?"
"Juni."
Damian menghela nafasnya lagi. "Berarti itu 5 bulan dari bulan Januari. Mulai hitung dari bulan Februari." Ucap Damian.
Anisa dan Adam langsung kaget dan menutuskan untuk kembali ke apatermen karena perasaan mereka sudah tidak enak.
***
"Sumpah perasaan gue enggak enak banget." Ucap Anisa di dalam kamar yang Adam pilih. Mereka tidak tidur berdua tapi kalau berbicara hal yang private, mereka selalu bicara di kamar.
"Hmm.."
Tok.. tok.. tok.. Damian mengetuk pintu kamar Adam. Dia membuka pintu itu perlahan lalu masuk.
"Kalian bicara?" Tanya Damian sambil duduk di sofa kecil.
"Nggak kok om. Perasaan kita tadi tiba-tiba nggak enak. Enggam tau kenapa." Jawab Anisa.
"Ohh.... itu karena di belakang, kalian sudah dikepung. Maksudnya, mereka semua membentuk lingkaran dan mendengar semua ucapan Adam yang waktu dia membaca." Jelas Damian sambil tertawa kecil.
Anisa kaget sedangkan Adam tampak biasa-biasa saja mukanya. Dia memang sudah tau kalau dia sudah bisa melihat dan merasakan keberadaan makhluk tak kasat mata, tapi dia memilih untuk diam tidak bicara.
"Dam.. lo juga bisa lihat ya?" Tanya Anisa sambil mengguncangkan tubuh Adam.
"Hm.."
Anisa memukul lengan Adam sampai dia sedikit meringis kesakitan. "Parah lo... kok lo nggak pernah cerita sama gue?" Tanya Anisa yang lagi-lagi memukul lengan Adam.
"Stop! Jangan pukul lengan gue! Sakit!" Ucap Adam kesal sedangkan Anisa hanya tertawa cengengesan.
Tak terasa sekarang sudah pukul 23:15, waktu tidur untuk Adam. Anisa sudah kelauar kamarnya 12 menit yang lalu bersama Damian. Sekarang Adam sendiri di kamar yang nanti secara otomatis lampu akan mati. Apaterment ini bisa mendeteksi orang yang sudah tidur, jadi secara otomatis lampu kamar beserta semua lampu apaterment ini mati dan menyala kertika pagi telah tiba.
Okay.. malam ini Adam merasa terjaga. Sunyi di ruangan ini membuat nafas Adam menjadi sesak. Tidak ada tanda-tanda kalau makhluk itu akan datang. Lampu sudah merdup seperti bioskop yang sudah akan memulai filmnya.
Adam menutup matanya perlahan. Doa selalu dia ucapkan ketika mau tidur dan tidur. Doa itu tidak akan pernah dia lupakan karena hanya dengan itu dia bisa tidur pulas.
***
Adam's POV
"Dam... Adam..." Seseorang memanggilku dengan sedikit berbisik.
Tempat ini gelap. Gelap sekali. Aku tidak bisa melihat apa-apa disini.
"Gue ini dimana?" Tanyaku dalam hati. Aku membolak-balikkan badanku mencari seseuatu untuk bisa dilihat.
Tak beberapa lama, ada seseorang yang memegang pundakku dan membuat bulu kudukku berdiri. Sungguh... tempat ini sangat menakutkan. Seperti tidak kehidupan disini. Tapi ini seperti ruangan yang pernah... aku kunjungi sebelumnya.
Aku mencium sesuatu. Bau yang sangat menyengat. Aku kenal bau ini. Bau yang paling aku tidak suka. Bau yang selalu membuatku sesak nafas. Bau yang selalu menganggu malamku ketika hendak tidur. Bau itu adalah bau...... DARAH.
Aku berlari meninggalkam ruangan ini tapi aku tidak tau dimana letak pintu itu. Aku meraba-raba sekeliling ruangan gelap ini tapi tidak ada tanda-tanda pintu berada bahkan aku tidak merasakan daun pintu sekalipun. Bau itu..... bau itu semakin menyengat membuatku susah bernafas.
Dan lagi-lagi ada yang memegang pundakku. "T-tolong... j-jangan bunuh aku! Tolong!" Teriak Adam dengan nafas yang sesak.
"Adam..." Ucap orang itu dengan suara berbisik dan suara itu sangat familiar di telingaku.
Aku berbalik melihat orang itu dan betapa terkejutnya aku ketika melihat orang yang berbicara itu adalah.... Alexandra.
Dia tersenyum kepadaku dan dia mengulurkan tangannya. "K-kak?" Ucapku tidak percaya lalu membalas uluran tangannya dan memeluknya. Bau darah itu masih tercium tapi aku tidak menghiraukannya karena aku tau bau itu dari Alexandra, terutama dari tubuhnya.
Alexandra menatapku. "Aku merindukanmu." Ucapnya lalu memelukku lagi. "Aku juga merindukanmu." Jawabku.
Dia melepaskan pelukanku secara pelan-pelan lalu tersenyum.
"Ikuti aku." Ucapnya lalu mengulurkan tangannya lagi untuk aku genggam.
"Kemana?" Tanyaku.
Dia tersenyum lagi. "Ke suatu tempat yang akan membuatmu tau segalanya...."
********