Sejak kecil dulu, Devan mempunyai musuh. Yang mana musuh itu benar-benar menjadai musuh dalam kehidupan nyatanya sampai saat ini. Devan ingat, dulu dia merupakan salah satu anak yang pandai saat di taman kanak-kanak. Selain karena ketampanan, keimutan dan kemanisannya, Devan paling pandai di antara teman-teman seusianya saat itu. Oleh sebab itu, banyak sekali guru yang memuji dia di depan kelas. "Aku nggak suka sama kamu, anak manja!" Devan jatuh terjengkang ke belakang saat sosok bocah cilik berkulit cokelat mendorongnya dengan keras. Sempat mengaduh dan meringis karena bokongnya yang sakit terbentur aspal. Devan menatap anak lelaki seumuran dengannya. "Aku bukan anak manja!" sahut Devan, berusaha berdiri lagi. "Ck, nggak usah sombong. Mentang-mentang semua ibu guru suka sama kamu, j

