Ketahuan

1295 Words
Setelah semalaman mencari tahu Harisman yang beruban dan duda itu melalui media sosial, akhirnya Julie memutuskan untuk melihat sendiri pria itu dengan kedua bola matanya. Untuk melihat pria itu tak cukup sulit, ada alamat kantornya yang bisa ia temukan melalui internet. Dan di sinilah Julie saat ini, pagi-pagi sudah menunggu di parkiran kantor Si Harisman itu, untuk melihatnya dengan jelas. Sebuah mobil berwarna hitam mengilap terhenti, dari jarak sekitar 5 meter dari mobil milik Julie. Mobil mahal yang Julie tebak adalah milik Si Harisman. Pintu mobilnya dibuka oleh sopir, dan pria itu pun turun. Julie menghela napas dengan berat. Foto yang ia lihat di website dengan yang ia lihat secara langsung tak jauh berbeda. Sama, sama tuanya. “Dibandingkan jadi suami, dia lebih cocok jadi papaku,” keluhnya sembari mengiringi langkah pria itu dengan pandangan matanya. “Papa kok tega banget jodohin Julie sama orang setua itu? Maksud Julie pas bilang tua ya gak setua ini juga. Ah b**o banget ini mulut,” rutuknya lagi. Sebenarnya tak pernah ada maksud meminta suami yang tua. Julie hanya asal bicara. Ia juga tak yakin bisa menang, apalagi lawannya adalah Nughie dan Sophie yang selalu total dan serius jika mengerjakan sesuatu. Apalah ia jika dibandingkan dengan kakak-kakaknya. Saat meminta suami, itu pun hanya sekadar mengejek kakaknya yang justru mati-matian mencari cara agar tak dipaksa menikah. Kok sekarang malah begini jadinya. Hadiah macam apa yang membuat ia merasa amat dirugikan. “Umurnya 46,” tulis Julie di secarik kertas. “Umurku baru 24.” Ia pun menulisnya di kertas yang sama. Menghitung jarak usia mereka yang terpaut angka 22 tahun. “Masa iya aku nikah sama orang yang setua itu. Saat umurku 30, dia pasti sudah 52. Suamiku tua banget. Itu juga kalo masih hidup, gimana kalo tiba-tiba sakit keras? Masa iya masih pegantin baru aku harus ngurusin suami yang sakit-sakitan?” Julie sudah memikirkan sampai sejauh itu. Memikirkan bagaimana nasibnya jika menikah dengan pria setua itu. “Orang setua itu masih bisa punya anak gak sih? Masa iya aku gak punya anak? Gak, gak mau. Pokoknya gak mau nikah sama orang kayak gitu. Apa kata temen-temen seangkatanku di Teknik Elektro coba? Seorang Julie nikah sama kakek-kakek? Oh gak bisa. Udah cukup aku diremehin selama kuliah. Masa setelah lulus aku juga diremehin karena nikah sama kakek-kakek. Gak bisa dong.” Julie mengambil ponselnya, segera ia hubungi Pak Pramudya. Ia harus mengatakan penolakannya. “Pa, ini Julie.” “Kenapa, Jul?” “Pa, Julie belum siap nikah.” “Iya, gak usah buru-buru juga, Jul. Kalian kenalan aja dulu, pacaran aja dulu, kenali satu sama lain lebih dekat. Setelah itu baru nikah.” “Pacaran dulu?” tanya Julie. Kalau ia harus pacaran dulu dengan pria berusia 46 tahun itu, anggaplah ia pacaran setahun. Berarti ia akan menikah dengan pria berusia 47 tahun. Makin tua saja pria itu. “Pa, maksud Julie tuh ….” “Tenang aja, Jul. Gak usah ragu. Papa akan segera mengatur jadwal kencan kalian biar kalian lebih cepat saling bertemu. Dia pasti membuat kamu terkesan, Jul. Dia pria yang baik.” Terkesan? Terkesan sama ubannya! Julie merutuk dalam hati. “Pa ….” Julie merengek. “Julie gak mau nikah sama Si Harisman itu, Pa.” “Kenapa? Papa sudah memilihkanmu pria paling pas, seperti yang kamu minta, Jul.” “Julie mau fokus belajar ngurus kos-kosan dulu, Pa.” “Malah bagus kamu nikah sama dia, Jul. Nanti suamimu yang bakalan ngajarin kamu cara mengelola kos-kosan. Usaha kos-kosan punya calon suami kamu lebih sukses dari punya Papa. Kamu akan belajar dari orang yang tepat.” “Tapi, Pa ….” “Gak ada tapi-tapian, Jul. Papa gak mau dibantah. Tolong kali ini nurutin Papa. Cukup urusan kuliahmu yang bikin sekeluarga pusing gara-gara ngikutin maunya kamu. Urusan calon suamimu, Papa sudah memilih yang terbaik. Yang bisa jagain kamu, yang bisa bimbing kamu, dan yang pasti sesuai yang kamu mau. Dia kaya.” “Pa ….” “Keputusan Papa sudah final, Jul.” Sambungan telepon dimatikan secara sepihak oleh Pak Pramudya. Membuat Julie meringis ngeri memikirkan akan jadi seperti apa hidupnya bersama pria setua itu. Bayangkan bagaimana ia harus tidur bersama pria ubanan itu. Bangun pun akan melihat pria ubanan itu lagi. Dan ia harus melakukannya hingga pria itu mati. Atau justru Julie yang mati duluan karena stress berat. Sial, Julie tak mau. Julie hampir memutuskan untuk pulang jika saja tak melihat pria tua itu kini berjalan menuju mobil hitam miliknya. Sepertinya pria itu memiliki jadwal lain di luar kantor. Julie memilih untuk mengikuti. “Uban oh uban,” keluh Julie saat ia mengikuti mobil milik Si Harisman yang dikemudikan sopir. “Uban bisa disemir, ‘kan? Bisa dihitamin lagi.” Setelah mengucapkan kalimat ngasal itu Julie langsung memukuli mulutnya. Kembali merutuki dirinya yang kalau bicara suka sekali ngasal. “Kalo rambutnya disemir emang kamu mau nikah sama orang itu?” ketus Julie pada dirinya sendiri. “Mukanya sih cakep untuk ukuran pria setua dia, tapi tetep aja tua,” lanjut Julie. Satu kalimat lagi yang membuat Julie mendecak pada dirinya sendiri. “CK! Bodoh! Kata siapa dia cakep? Gak tuh, coba liat uban-ubannya? Apanya yang cakep?” Ujung mata Julie beralih ke layar ponselnya yang menampakkan foto pria itu. Meskipun sudah 46 tahun dan dengan beberapa helai uban di kepalanya, tak bisa dipungkiri jika pria itu memang tampan. “Gak, dia gak cakep!” teriak Julie seraya menggelengkan kepala. Menyangkali penilaian dalam benaknya yang memang mengakui ketampanan pria berusia 46 tahun itu. Mobil pria itu berhenti di sebuah kawasan pertokoan. Julie tebak pasti gedungnya milik pria itu. Mengingat berapa banyak properti milik pria itu yang kemarin dibacakan oleh Bu Margaretha. “Dia pasti kaya banget, kalo aku jadi istrinya kira-kira dikasih uang berapa yah tiap bulan?” Ngasal lagi, dan ia berakhir membenturkan kepalanya dengan keras di stir mobil. Kembali sadar kalau ia habis salah bicara. Klakson berbunyi kencang karena tertekan oleh kepalanya. Membuat pria bernama belakang Harisman itu berbalik ke sumber suara. Julie gelagapan di balik kaca mobilnya. “Tu orang ngeliatin aku, gak? Aku ketahuan, gak?” Dari tatapan pria itu, walau mereka terhalang kaca mobil, tapi Julie sudah merasa terintimidasi. Ia takut, tapi juga penasaran. Kok bisa pria sesukses itu, bersedia menikahi Julie yang bisa dibilang masih anak ingusan untuk pria sedewasa itu? Julie kembali menguntit setelah Si Harisman cukup jauh di depannya. Ia memakai bucket hat berwarna hijau army untuk menutupi kepala dan sebagian wajahnya. Pun ia tambahi dengan kaca mata hitam untuk menyamarkan diri. “Kerjaan itu orang apa sih? Dari tadi jalan, keluar masuk toko, dikirain mau belanja, eh ternyata gak beli apa-apa. Dikirain mau rapat tapi gak ngapa-ngapain juga. Apa emang gini kerjaan pemilik bangunan? Cuman keliling-keliling aja? Enak dong jadi dia, jalan-jalan aja duitnya banyak. Jadi istrinya pasti enak, gak ngapa-ngapain tinggal nunggu duit aja.” Tuh, salah bicara lagi. Julie menendang kerikil kecil tepat di depannya. Merutuki satu lagi kebodohannya yang suka sekali bicara ngasal. “b**o!” teriaknya. “EMANG GUE MAU JADI ISTRINYA?” Teriakan Julie jelas terdengar oleh banyak orang, bahkan tak terkecuali oleh Si Harisman. Saat Julie menyadari tatapan aneh dari orang-orang yang lewat, ia menyengir. Salah tingkahlah ia, makanya ia percepat langkahnya. Sedikit berlari hingga ia sadar bahwa ia berlari ke arah yang salah. Tepat di hadapannya, jaraknya sudah kurang dari 3 meter, pria itu memerangkapnya dengan senyum miring. Dasar otak dan mulut sialan! Julie mengumpati dirinya. Bahkan kaki yang sama sialannya. Kenapa malah lari ke sini? Sudah tanggung, mau mundur ia juga sudah ketahuan. “Saya Jonathan Andrha Harisman, senang bertemu dengan Nona Julie Adriyana Hermawan.” Pria itu mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Julie. Uluran tangan itu tak diraih Julie, ia justru terjatuh. Kaki Julie gagal menopang tubuhnya. Sial, dia tau siapa namaku. Dia mengenaliku. Aku ketahuan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD