Pagi itu, suasana kelas sudah mulai ramai. Beberapa siswa sibuk membuka buku, ada yang bercerita tentang liburan, dan tidak sedikit yang masih mengantuk. Di bangkunya, Lili duduk bersandar sambil menopang dagu dengan kedua tangan. Hidungnya tampak sedikit memerah, dan sesekali tubuhnya bergetar pelan.
Haciiim!
Bersin yang cukup keras terdengar, disusul suara buku yang terbanting pelan di atas meja.
“Tuh kan! Sudah saya bilang!”
Keira—sahabat karibnya yang terkenal cerewet dan heboh—langsung berdiri di samping meja Lili dengan tangan terlipat di d**a, tatapannya penuh kekhawatiran sekaligus omelan.
Lili menggaruk hidungnya yang gatal, lalu tersenyum malu. “Cuma kena gerimis sedikit kok, Kei. Nggak apa-apa.”
“Gerimis katamu?!” Keira menunjuk wajah Lili dengan gerakan yang agak berlebihan. “Lihat deh hidungmu sudah merah begini! Itu bukan kena gerimis, tapi kena badai Katrina!”
Lili tidak tahan lagi, akhirnya tertawa kecil mendengar ucapan sahabatnya itu. “Lebay banget sih.”
“Diamlah kamu, Putri Keraton! Kalau sakit nanti yang repot juga kamu sendiri,” balas Keira sambil mendudukkan diri di kursi depan Lili.
Di sebelah Lili, Bella yang lebih pendiam dan tenang hanya menggeleng-geleng kepala sambil membuka kotak bekalnya. “Sudah saya ingatkan kemarin pagi untuk bawa payung. Langitnya sudah terlihat gelap.”
“Lupa…” jawab Lili pelan.
“Selalu saja lupa,” omel Bella dengan nada datar namun tetap terdengar perhatian.
Keira mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya berbinar seolah baru saja mendapatkan ide besar. “Oke, cukup soal bersinnya. Sekarang… cerita lengkapnya.”
Lili mengerutkan kening bingung. “Cerita apa?”
“Tentang cowok yang mengantar kamu pulang kemarin!”
Lili yang sedang meminum air putih langsung tersedak dan terbatuk-batuk. “Hah?!”
“Jangan pura-pura tidak tahu!” Keira tertawa kecil. “Pak Darto, satpam sekolah kita, sempat melihatnya. Katanya ada mobil mewah berwarna hitam yang berhenti tepat di depan halte tempat kamu menunggu.”
Bella yang sedang memegang sendok langsung mendongak dengan tatapan penasaran. “Benarkah?”
Lili melotot, merasa sedikit terjebak. “Pak Darto mulutnya memang agak lebar ya…”
“Jadi benar ada mobilnya?” desak Keira antusias.
“Itu bukan mobil yang menjemput saya. Kebetulan saja…”
“Nah! Kata ‘kebetulan’ itu artinya ada cerita!” Keira menunjuk wajah Lili dengan jari telunjuknya. “Jangan dipendam, cerita saja. Ada apa sebenarnya?”
Lili menghela napas panjang, merasa tidak mungkin bisa menghindari dua sahabatnya ini. “Ya sudah, saya ceritakan. Kemarin kan hujannya tiba-tiba deras sekali, saya tidak bawa payung, jadi berteduh di halte. Lalu lewat seorang pria dan menawarkan tumpangan. Saya terima karena sudah tidak tahan dinginnya.”
Keira langsung bersorak pelan. “Oke, ini bagian menariknya! Pria itu? Maksudnya cowok dewasa?”
“Iya…”
“Ganteng nggak?”
Lili terdiam sejenak, tanpa sadar wajahnya sedikit memanas.
Keira langsung memukul meja pelan. “Astaga! Diamnya itu artinya ganteng sekali! Apa saya benar?”
Bella menatap Lili dengan pandangan yang lebih waspada. “Tapi kamu kan baru kenal. Kenapa mau naik mobil orang asing?”
“Dia terlihat sopan, Bella. Dan dia tidak berbuat apa-apa kok,” jawab Lili berusaha meyakinkan.
“Terlihat sopan belum tentu sebenarnya begitu,” komentar Bella bijak. “Hati-hati itu perlu.”
“Oke, cukup ceramahnya! Sekarang detailnya!” Keira tidak mau kalah, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu. “Ciri-cirinya bagaimana? Tinggi, pendek, berambut apa, pakai baju apa?”
Lili menggeleng kecil, tapi akhirnya mulai bercerita perlahan. “Dia tinggi sekali, lebih dari seratus delapan puluh sentimeter kayaknya. Badannya tegap, dan memakai jas hitam yang rapi sekali. Wajahnya… ya, terlihat sangat tampan. Kulitnya bersih, dan matanya tajam tapi tidak menakutkan.”
Keira menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak. “Wah… terdengar persis seperti bos besar di drama-drama Korea! Seorang CEO!”
Bella mengangguk setuju. “Memang terdengar seperti orang yang memiliki jabatan tinggi. Terus, umurnya kira-kira berapa?”
Lili berpikir sejenak, mengingat suara dan cara bicara pria itu. “Sepertinya… dua puluh tujuh tahunan.”
Bella langsung terbatuk kaget, sedangkan Keira malah semakin bersemangat. “Dua puluh tujuh?! Berarti dia sudah masuk kategori om-om kaya dong!”
“Keira! Jangan bicara sembarangan!” tegur Lili sambil menahan tawa. “Dia tidak terlihat tua, dan juga tidak seperti om-om yang aneh-aneh. Dia terlihat dewasa dan berwibawa saja.”
“Tapi selisih umurnya cukup jauh, Lili. Kamu masih tujuh belas tahun,” ingatkan Bella dengan nada khawatir.
“Saya tahu, Bella. Tapi kami hanya berbicara sebentar saja. Dia mengantar saya sampai perempatan jalan, lalu saya turun dan pulang sendiri. Tidak ada hal lain yang terjadi.”
Keira menyandarkan dagunya di telapak tangan, menatap Lili dengan pandangan yang penuh selidik. “Terus… selama di dalam mobil, bagaimana perasaanmu? Apakah kamu merasa gugup atau berdebar?”
Lili langsung terdiam. Pertanyaan itu seolah menyentuh sesuatu yang sempat terlintas di pikirannya semalam. Sejak tiba di rumah, wajah dan tatapan pria itu terus terbayang-bayang. Tatapannya yang dalam, senyum tipisnya, dan cara bicaranya yang tegas namun sopan—semua itu terasa asing namun entah kenapa membuatnya tidak bisa berhenti memikirkannya.
“Dikit…” gumamnya pelan, hampir tidak terdengar.
Keira langsung melompat dari kursinya, membuat siswa lain di sekitarnya menoleh. “APA?! Lili Samantha merasa berdebar sama seorang pria?! Ini berita besar!”
“Diamlah! Jangan berisik!” Lili langsung menarik lengan baju Keira agar duduk kembali. “Saya tidak suka dia! Cuma merasa sedikit aneh saja, karena dia orang asing dan terlihat sangat berbeda dari orang lain.”
“Ya, ya, ya. Itu yang selalu dikatakan orang yang mulai tertarik,” goda Keira sambil tersenyum miring.
Bella tersenyum tipis melihat keributan kedua sahabatnya itu. “Saya hanya berharap dia benar-benar orang baik. Lagipula, pertemuan seperti ini biasanya tidak berhenti sampai di situ saja. Kalau memang takdir, mungkin kalian akan bertemu lagi.”
Lili hanya mengangguk pelan, berusaha menepis pikiran-pikiran aneh itu. “Ah, mana mungkin. Kami kan tidak kenal satu sama lain. Kemarin itu hanya kebetulan saja. Besok atau lusa saya pasti sudah lupa wajahnya.”
Namun, di dalam hatinya, ia merasa ada keraguan. Entah kenapa, kata-kata Bella tadi terasa seperti sebuah pertanda.
Di luar gerbang sekolah yang megah itu, hujan sudah berhenti sepenuhnya, meninggalkan udara yang segar dan sejuk. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam berhenti tepat di pinggir jalan, agak menjauh dari keramaian agar tidak terlalu menarik perhatian.
Di dalamnya, suasana terasa hening dan sejuk. Adit Pratama duduk bersandar di kursi belakang yang empuk, matanya menatap lurus ke arah gerbang sekolah yang tertutup rapat. Ekspresinya datar, dingin, dan sulit ditebak, namun tatapannya terasa sangat fokus seolah sedang menunggu sesuatu.
Di sampingnya, Pak Budi, sopir yang sudah lama bekerja untuknya, duduk dengan tenang namun sesekali melirik ke kaca spion, merasa sedikit bingung dengan perintah tuannya pagi ini. Sejak tiba di sini, Adit hanya diam dan tidak berbicara banyak.
“Pak,” panggil Pak Budi pelan. “Apakah kita akan menunggu sampai jam pulang sekolah?”
Adit tidak langsung menjawab. Ia masih memandangi bangunan sekolah yang tampak megah itu. Semalam, setelah kembali ke kantor, ia memeriksa semua informasi yang telah dikumpulkan. Nama lengkapnya, alamat rumahnya, sekolahnya, bahkan hobi dan kebiasaannya—semua sudah ada di tangannya.
Lili Samantha. Gadis berusia tujuh belas tahun, siswi berprestasi yang berasal dari keluarga terpandang.
Semakin ia tahu banyak hal tentang gadis itu, semakin besar rasa penasarannya. Dalam usianya yang sudah dua puluh tujuh tahun, ia sudah bertemu dengan banyak wanita—ada yang cantik, ada yang cerdas, ada yang berusaha mendekatinya karena status dan kekayaannya. Namun tidak ada yang membuatnya merasa seolah ada magnet yang menarik hatinya seperti yang terjadi kemarin.
“Ya,” jawab Adit akhirnya dengan suara rendah. “Kita tunggu sampai jam pulang.”
“Tapi Pak, nanti rapat dengan direktur cabang dijadwalkan ulang menjadi jam empat sore. Apakah tidak terlambat?”
“Telepon saja, katakan saya ada urusan mendadak. Pindahkan rapatnya besok pagi,” perintah Adit singkat.
Pak Budi mengangguk patuh, tidak berani membantah lebih lanjut. Ia sudah mengenal sifat Adit—jika sudah memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa mengubahnya.
Tidak lama kemudian, bel sekolah berbunyi panjang, menandakan waktu istirahat telah tiba. Beberapa siswa mulai berjalan keluar kelas, ada yang menuju kantin, ada yang berkumpul di halaman, dan tidak sedikit yang berjalan mendekati gerbang sekolah.
Adit menegakkan badannya sedikit, matanya mulai mengamati setiap wajah yang lewat. Jantungnya yang biasanya berdetak stabil, tiba-tiba terasa berdebar sedikit lebih cepat. Ia bahkan tidak mengerti kenapa ia bersikap seperti ini—menunggu seorang gadis remaja yang baru pertama kali ia temui. Namun rasanya, ia harus melihatnya lagi, memastikan bahwa gadis itu tidak sakit setelah kehujanan kemarin.
Tidak lama kemudian, sosok yang ia cari akhirnya terlihat.
Lili berjalan beriringan dengan dua orang temannya. Ia masih mengenakan seragam sekolah yang rapi, rambutnya diikat rapi di belakang, dan meskipun hidungnya masih terlihat sedikit merah, senyumnya yang cerah membuatnya terlihat semakin memikat. Ia tertawa mendengar cerita salah satu temannya, dan tawa itu terdengar renyah bahkan dari kejauhan.
Adit menatapnya lekat-lekat, tidak sadar bahwa sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk senyum tipis—sesuatu yang jarang terlihat oleh orang-orang di sekitarnya.
“Pak, itu Nona Lili ya?” tanya Pak Budi yang juga melihatnya.
Adit mengangguk pelan. “Iya.”
Lili berhenti sejenak di dekat gerbang, seolah sedang menunggu sesuatu. Beberapa siswa laki-laki yang lewat sempat menoleh dan tersenyum, namun Lili hanya membalas dengan senyum sopan sebelum kembali berbicara dengan kedua sahabatnya.
Tiba-tiba, sebuah mobil motor berhenti tepat di depan gerbang. Seorang pemuda yang juga mengenakan seragam sekolah turun, membawa dua bungkus makanan. Ia berjalan mendekati Lili dengan wajah yang terlihat sedikit gugup namun antusias.
Adit menyipitkan matanya, menatap pemuda itu dengan tatapan yang mulai terasa dingin.
“Lili, ini saya belikan roti dan s**u. Saya dengar kamu kehujanan kemarin, jadi saya belikan yang hangat,” ucap pemuda itu dengan nada sopan.
Lili terkejut, lalu tersenyum sopan. “Terima kasih, Dimas. Tapi saya sudah bawa bekal dari rumah. Simpan saja untuk kamu sendiri.”
“Tidak apa-apa, ini khusus buat kamu. Supaya kamu tidak masuk angin,” desak Dimas sambil menyodorkan bungkusan itu.
Keira yang berdiri di samping Lili menyenggol lengan sahabatnya, memberikan isyarat agar diterima saja agar tidak menyakiti hati pemuda itu. Akhirnya, Lili menerimanya dengan senyum tipis. “Baiklah, terima kasih ya.”
Pemuda itu tampak senang dan segera berpamitan sebelum pergi.
Melihat adegan itu, raut wajah Adit perlahan berubah. Tatapannya menjadi lebih tajam dan dingin, seolah ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia tidak menyukai pemandangan itu—melihat orang lain yang mendekati Lili dengan niat yang jelas.
“Pak, apakah kita akan turun?” tanya Pak Budi yang merasakan suasana di dalam mobil menjadi sedikit berbeda.
Adit menggeleng pelan, namun tangannya yang tergenggam erat menunjukkan bahwa ia sedang menahan sesuatu. “Belum. Tidak sekarang.”
“Kalau begitu, apakah kita akan pulang dulu?”
“Tidak. Kita tetap di sini sampai dia masuk kembali ke dalam kelas.”
Adit terus mengamati dari kejauhan. Ia melihat Lili berbicara dengan temannya, sesekali tertawa, dan sesekali memegang hidungnya yang masih terasa gatal. Entah kenapa, melihatnya baik-baik saja membuat rasa cemasnya sedikit berkurang, namun di sisi lain, rasa memiliki yang tiba-tiba muncul di hatinya semakin kuat.
Dia tidak tahu kapan tepatnya, tapi sejak melihat gadis itu berdiri sendirian di tengah hujan kemarin, ia tahu satu hal: ia tidak akan membiarkan gadis itu lewat begitu saja dari hidupnya.
Jam istirahat berakhir, dan Lili beserta teman-temannya berjalan kembali masuk ke dalam sekolah. Adit masih tetap diam di dalam mobilnya sampai gerbang tertutup rapat kembali.
“Pak, kita akan pulang sekarang?” tanya Pak Budi lagi.
Adit menghela napas panjang, lalu bersandar kembali di kursi dengan tatapan yang masih tertuju pada sekolah itu. “Tidak. Kita akan kembali lagi nanti sore.”
“Tetap menunggu?”
“Ya. Saya ingin memastikan dia pulang dengan selamat.”
Pak Budi hanya mengangguk, tidak berani berkomentar. Ia tahu, hati tuannya itu sudah terpikat.
Adit mengeluarkan ponselnya, membuka sebuah pesan yang dikirimkan asistennya tadi pagi. Di dalamnya terdapat foto-foto Lili, data sekolahnya, bahkan jadwal les tambahannya. Ia menatap foto gadis itu dengan tatapan yang lembut namun penuh tekad.
Lili Samantha…
Nama itu terus terulang di dalam pikirannya.
Kemarin itu bukan kebetulan. Dan mulai hari ini, aku tidak akan membiarkanmu lepas dari pandanganku.
Sementara itu, di dalam kelas, Lili membuka bungkusan makanan yang diberikan Dimas tadi. Ia melihat roti dan s**u cokelat di dalamnya, lalu menggeleng kecil.
“Dimas ini memang gigih ya,” komentar Keira sambil menatapnya. “Sudah berapa kali dia memberi perhatian begini?”
“Sudah sering, tapi saya tidak pernah memberi harapan. Saya hanya menganggapnya sebagai teman sekelas saja,” jawab Lili jujur.
“Dia jelas punya perasaan lebih dari sekadar teman, Lili. Kamu harus lebih tegas menolaknya sebelum dia berharap lebih,” saran Bella.
“Saya tahu. Nanti saya akan bicara baik-baik dengannya,” ucap Lili sambil menaruh bungkusan itu di dalam tasnya.
Namun, saat ia hendak membuka buku pelajaran, tanpa sadar matanya melirik ke arah jendela kelas yang menghadap ke jalan raya. Sesaat, ia merasa seolah ada yang mengamatinya dari kejauhan. Ia menyipitkan mata, mencoba melihat lebih jelas, namun hanya terlihat jalanan yang ramai dan beberapa mobil yang lewat.
Pasti perasaanku saja, pikirnya sambil menggeleng.
Tapi entah kenapa, rasa penasaran itu tidak hilang begitu saja. Dan di dalam hatinya yang paling dalam, ia merasa yakin pertemuan kemarin bukanlah yang terakhir.