Listrik Padam 2

1025 Words
Listrik mati tiba-tiba membuat aku dan Toni terkejut. Gelap gulita. Tak ada senter atau pun lilin untuk menerangi. Ada sesuatu yang meniup belakang telingaku. Membuatku geli sakaligus merinding. Tadinya kukira itu Toni, ternyata bukan setelah ia bilang tak melakukan hal itu. “Git, enggak usah begini kali, ah, ucap Toni tiba-tiba. “Begini apa? tanyaku yang tidak melakukan apa pun. “Ini tangan kamu gandeng-gandeng tanganku segala, ucapnya lagi. Aku tak merasa menyentuh temanku itu bahkan tak tahu posisinya di sebelah mana. Aku malah diam terpaku. Tadi ada yang meniup-niup belakang telingaku, sekarang ada yang menggandeng Toni. “Lepasin, Agiit! Suara Toni setengah berteriak. “Apaan, sih? Orang aku enggak pegang-pegang tangan kamu, kataku. “Terus ini siapa di sebelah aku? Suara Toni bergetar. Aku hanya membisu. Astaghfirullah, mungkin itu kuntil yang suka gangguin kita. Toni pun jadi diam tak bersuara. Ih, aku sampai lupa ini ponsel kan ada senternya. Segera aku nyalakan. Ternyata Toni duduk di depanku, kami berhadapan. “Kenapa enggak dari tadi, sih? tanya Toni kesal. “Ponsel kamu juga kan ada senternya, Ton, ucapku masih dengan jantung yang berdebar kencang. Toni hanya nyengir. Aku yakin ia pun lupa karena kaget, tetapi ternyata ponselnya mati kehabisan baterai. Mataku menangkap sesuatu dalam cahaya senter ponsel. Sesuatu yang menggandeng tangan Toni. Sebuah tangan keriput, hitam, berjari dan kuku runcing. Tiba-tiba aroma busuk menguar di dalam kamar. Membuat perutku mual. Lidahku kelu untuk menceritakan sebuah tangan itu kepada Toni. Ih, bau apaan ini? tanya Toni seraya menutup hidungnya dengan tangan. Tanganku dingin dan terasa kebas. Aku masih memandangi tangan yang menggandeng lengan temanku. Apa Toni enggak ngerasain ada yang menggandengnya ya, kok, diem aja? batinku. Aku tak akan memberi tahu Toni tentang tangan hitam itu. Aku khawatir ia malah lari ketakutan. Beberapa detik aku mengalihkan perhatian beradu pandang dengan temanku ini meskipun dengan jantung yang seperti ingin melompat keluar dan keringat dingin timbul dari dahi. Tiba-tiba tangan itu sudah hilang saat pandanganku kembali ke lengan Toni. Aku menyandarkan ponsel ke televisi agar cahaya senternya bisa menerangi kami berdua. Hal itu membuat bayangan kami di tembok. Aku berdoa semoga tak ada hal apa pun yang mengganggu kami. Hampir dua jam listrik belum juga menyala. Kini kami menikmati makanan ringan yang dibawa temanku ini sambil berbincang. Tentunya bukan membahas gangguan yang sudah kami alami. Mataku menangkap bayangan Toni berdiri yang ternyata bukan bayangannya karena bayangan temanku itu masih ada dan mengikuti gerak sang empunya. Lalu, yang berdiri itu bayangan siapa? Kemudian bayangan itu berjalan ke arah kamar mandi. Napasku terengah-engah menyaksikan pemandangan tersebut. Detak jantungku seakan berhenti. Agit, kamu kenapa? tanya Toni yang mengguncang tubuhku. Namun, aku benar-benar tak dapat menggerakkan tubuh ini bahkan untuk berkedip pun tak bisa. Agit, ngomong dong! Ada apa? Toni terus mengguncangkan tubuhku yang kaku. Iiitu, kataku terbata. Dengan cepat Toni membalikkan badan. Ia melihat bayangan berdiri di tembok dekat kamar mandi. Ia langsung berpindah ke belakangku. “Agit, iitu aapa? Toni berlindung di belakang punggungku. Dalam hati aku mulai membaca ayat kursi. Berulang kali terus k****a sampai akhirnya bisa menggerakkan tubuh yang kaku ini. Terus k****a ayat tersebut ditambah dengan surah-surah pendek. Hingga akhirnya bayangan itu lenyap entah ke mana. Tak lama kemudian listrik pun menyala. Tak hentinya aku mengucap syukur. Ternyata sudah tengah malam saat kulihat jam di ponsel. Pantas saja demit semakin berani. “Alhamdulillah, udah nyala, Git, ucap Toni seraya tersenyum. “Iya, semoga enggak mati lagi ya, ujarku merebahkan diri di kasur. Toni masih terus membahas bayangan yang kami lihat tadi. Padahal sudah kukatakan jangan terus dibicarakan, kalau bayangan itu balik lagi bisa gawat. Akan tetapi, ia tetap saja membicarakannya sambil bergidik. Teringat dengan tangan hitam yang merangkul Toni, aku tak akan menceritakannya sekarang. Khawatir ia ketakutan. Toni menyarankan aku untuk pindah saja agar bisa tenang, tetapi ia tak mau membantu mencarikan tempat kos yang baru. Aku juga jadi kepikiran lagi untuk pindah. Sepertinya aku memang tak akan tahan tinggal di sini. Semua dedemit di sini berani menampakkan diri. Kami tak bisa tidur padahal sudah pukul tiga dini hari. Rasa kantuk seolah menguap hilang diterpa angin. Untung saja ini malam Minggu, jadi besok aku masih libur. Suasana cukup tenang, tetapi tetap dingin. Ditambah angin di luar berembus sangat kencang. Menimbulkan suara gesekan daun di pepohonan. Aku dan Toni seperti dipermainkan oleh demit yang tinggal di sini. Setelah diganggu kemudian diberi istirahat, mungkin nanti akan diganggu lagi. Oh iya, tekadku sudah bulat untuk pindah kosan saja daripada setiap malam ketakutan karena dihantui makhluk astral di sini. Mungkin besok aku akan mulai mencari tempat kos baru. *** Kami hampir tak tidur semalaman. Rasa kantuk mulai melanda sejam kemudian. Akhirnya kami terlelap. Sekitar pukul lima aku terbangun. Itu pun karena mendengar azan Subuh berkumandang. Kubangunkan temanku yang tidur di pojokan kasur. Namun, ia tetap bergeming, mungkin kelelahan setelah dihantui semalam. Kubiarkan saja Toni tetap menikmati mimpinya. Lagi pula pasti ia masih belum mau kalau kuajak salat. Segera aku menunaikan salat Subuh. Alhamdulillah khusyuk sampai mengucap salam. Setelah selesai aku memanjatkan berbagai doa kepada Allah, terutama tak ingin terus diganggu makhluk halus. Belum selesai aku berdoa, tiba-tiba saja pintu diketuk tiga kali. Bulu kudukku mulai meremang. Napasku seolah akan berhenti. Aku tak berani mendekat apalagi membuka pintu. Mulutku tak hentinya berkomat-kamit membaca ayat suci Al-Qur'an. Ketukan itu berulang-ulang. Apa mungkin itu orang? gumamku. Dengan jantung berdebar aku memberanikan diri membukanya. Kalau ada apa-apa, ada Toni ini meskipun masih terlelap. Saat kubuka pintu ternyata tak ada apa pun. Namun, aku lihat kembali sesuatu yang berdiri di dekat pohon pisang. Perlahan tubuhnya bergoyang ke kiri dan kanan. Ternyata bukan cuma kuntilanak yang ada di sini. Pocong pun ada. Hantu bayangan juga ada. Mungkin demit yang lain pun banyak. Sepertinya kosan ini memang sarang demit. Langsung saja kututup pintu dengan sekuat tenaga. Sekitar pukul tujuh Toni belum juga terbangun. Perutku sudah keroncongan. Akhirnya aku keluar membeli sarapan. Seperti biasa aku mampir sebentar ke warung Bang Tio menceritakan kejadian semalam. Ternyata semalam memang mati listrik. Setelah itu aku pamit, takutnya Toni sudah bangun dan mencariku. Saat tiba di ujung gang sebelum masuk kembali aku melihat laki-laki misterius berdiri di depan kosanku. Aku lihat dengan saksama, kakinya menapak tanah. Itu berarti ia manusia, tetapi siapa ya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD