Jika ditanya apa yang paling ditunggu-tunggu di sekolah, mayoritas siswa akan menjawab antara dua hal, yaitu si guru galak berhalangan hadir, dan dering jam berakhirnya pelajaran. Terlebih, jika keduanya datang di saat yang bersamaan, seperti saat ini. Begitu lonceng berbunyi, guru matematika masuk dan meminta maaf harus menghadiri rapat. Semua murid awalnya kecewa, tapi setelah agak lama, mereka bersorak gembira. Kepura-puraan ini perlu dilakukan agar pengajar tidak harus menenangkan mereka dengan tugas tambahan. Dalam sekejap, kelas pun berubah menjadi pasar tanpa dagangan.
Sebagian ada yang duduk tenang bermain dengan gawainya, sebagian ada yang memilih tidur di singgasananya, dan sebagian lagi ada yang duduk menggerobol membahas topik yang menjadi minat bersama. Salah satunya, fans Ko Acay.
Kelompok itu terdiri dari sebelas orang. Mereka duduk berkeliling setelah memindahkan kursi masing-masing, dengan Rachel sebagai pusatnya. Bagi mereka, Rachel sudah seperti pemimpin. Memang tidak pernah ada yang menjulukinya, tapi semua orang mengakui bahwa ia memang pantas menjadi ketua. Ia tahu segalanya tentang Acay, dan semua orang yang ingin bertanya, kiblatnya ke dia.
"Girls, lihat deh," katanya sambil menunjukkan foto ke teman-temannya.
"Wah, husband mau main film baru ya?"
"Ini, bukannya diangkat dari novel romance best seller, ya?"
"Wuih, beruntung banget yang jadi lawan mainnya."
"Iya, bener. Husband jarang banget main di jenis film cinta-cintaan seperti ini. Dulu, sekalinya main filmnya langsung melejit banget."
"Denger-denger, husband main di film ini itu karena dipinang secara khusus sama sutradara, bukan karena casting kayak biasanya."
"Hebat ya dia. Aku nggak sabar nunggu tanggal rilisnya."
"Kalau dia main film, berarti Pak Acay nggak jadi paranormal lagi?"
Semua mata menatapnya. Di tengah-tengah obrolan gembira, ia adalah satu-satunya yang merasa kecewa. Namanya Sonja, gadis yang sehari sebelumnya menemui Acay dan mengatakan ingin menjadi muridnya. Ia memang berbeda dari mereka. Ia tidak mengagumi Acay karena ketampanan atau pun popularitasnya, melainkan karena ia adalah paranormal nomor satu di Indonesia.
Ia sengaja masuk ke dalam kelompok itu, bukan untuk berharem ria menghalu menjadi istri dari satu orang yang sama, melainkan untuk mencari informasi agar ia bisa bertemu Acay dan menjadi muridnya. Ia sudah bertekad untuk melakukan segala macam cara untuk mencapai tujuannya!
"Ih, tapi bener juga sih kata Sonja. Aku juga nggak suka kalau dia main film kayak itu. Duh aku nggak bisa bayangin husband-ku mandang cewek lain, trus pegang-pegang tangan cewek lain, trus parahnya, dia jangan-jangan ciuman sama jalang itu. Trus nanti terlibat cinta lokasi. Aku nggak terima husband kita dimonopoli sama satu wanita!"
Namanya Yara. Ia tidak cantik, tapi menarik. Berbeda dengan Sonja dan Rachel yang memang dianugerahi wajah rupawan sejak lahir, Yara ini sedikit kurang beruntung. Kulitnya agak gelap, tubuhnya agak pendek, dan hidungnya agak pesek. Namun, ia sangat andal dalam hal penampilan. Ia pandai memadu padankan berbagai jenis riasan, mengkombinasikan bermacam aksesories, dan mengubah dirinya sendiri menjadi ratu yang menawan, sejajar dengan Rachel dan Sonja.
Bisa dikatakan, Yara ini adalah teman dekat Sonja. Apa pun yang dilakukan Sonja, Yara selalu mendukungnya. Bahkan sangking baiknya, meskipun awalnya ia tidak setuju, begitu Sonja setuju, ia langsung berubah pikiran. Untuk orang yang pertama kali melihat, ia memang terkesan berlebihan dan seperti penjilat, tapi sebenarnya memang itulah kepribadiannya.
"Bener tuh! Kata temennya temenku, di novelnya ada adegan ranjang. Tapi nggak tahu bakal diadaptasi juga ke filmnya apa enggak."
"Semoga aja enggak."
"Kalau iya?"
"...? Aaaaaaaaaaaa! Tidak ...!"
Para gadis itu menjerit serempak, membuatnya menjadi pusat perhatian. Beberapa ada yang bertanya-tanya, beberapa lagi ada yang mengira mereka gila, dan beberapa ada yang meneriakinya untuk diam. Meski begitu, tidak ada satu pun dari kelompok itu yang terganggu. Memang begitulah mereka, saat sudah asyik dengan dunianya, orang lain dianggap tidak ada. Seketika, mereka berbicara sendiri-sendiri, memecahkan telinga para pendengarnya.
"Tenang, Girls, tenang."
Begitu kata itu menggema, riuh pun seketika mereda. Suara itu lembut, tapi punya kekuatan yang seolah bisa memaksa siapa pun untuk mendengarkannya. Mereka diam, seperti speaker yang tiba-tiba mati.
Pemilik suara itu tidak lain adalah Rachel, si murid nomor satu di kelas dua. Berbeda dengan Sonja yang terkesan sederhana, Rachel justru terlihat sebaliknya. Semua yang menempel di tubuhnya adalah barang berharga, bahkan untuk satu pasang seragam abu-abu putih itu saja, ia harus membayar tenaga jahit profesional seharga puluhan juta. Jika jalan bersama, orang akan mengira mereka itu nona dan babunya.
Terlahir dengan paras yang cantik, dan dari keluarga yang kaya raya, membuatnya menjadi objek rasa iri bagi kaum hawa. Ia sempurna dalam segala hal, baik dari segi fisik atau pun perangainya. Ia lembut dan mau berteman dengan siapa saja tanpa memandang rupa. Ia seolah ditakdirkan menjadi keindahan dunia, menjadi wanita impian semua pria, menjadi yang terdepan, yang membuat semua pesaing wanitanya mundur dengan perlahan.
"Kita fans husband, kita harus mendukungnya. Kita harus bisa mengorbankan perasaan kita demi kemajuan karirnya," ucap Rachel.
Ia memang sesuai dengan reputasinya. Apa pun yang ia katakan, gadis-gadis itu hanya mengangguk setuju, seolah lupa betapa heboh mereka sebelumnya.
"Kita harus ingat, Girls, husband udah menjaga perasaan kita selama ini dengan tidak dekat dengan wanita mana pun," imbuhnya.
"Betul. Maafin aku husband," sahut Yara sambil mengelus gambar Acay beberapa kali.
"Husband nggak punya daftar mantan. Beruntung banget wanita yang nanti menjadi istrinya."
"Seandainya aku yang jadi wanita itu," tukas Rachel.
Mendengar perkataannya, sebuah ekspresi keputus-asaan memenuhi wajah mereka. Semua juga mengandai-andaikan hal yang sama, tapi mendengar Rachel menginginkannya, mereka seolah tak punya asa.
"Apa enaknya jadi istri seorang paranormal?" celetuk Sonja. "Hubungan akan jadi nggak adil. Paranormal tahu apa yang kita sembunyikan, sementara kita enggak."
"Setuju!" seru Yara dengan antusias. "Kita bahkan nggak bisa diam-diam selingkuh."
"Yaelah, kalau udah dapat husband, memang akan ada niatan selingkuh?" timpal yang lainnya.
"Ya kali, emang ada yang lebih sempurna daripada husband?"
Sonja menghela napas dalam. Ia tidak menampik fakta bahwa Acay memang tampan, tapi untuk berpikir menjadi pendamping masa depan, itu terkesan agak keterlaluan. Acay terlalu tinggi, terlalu sempurna untuk dirinya yang bukan siapa-siapa. Lagi pula, mengapa ia harus ikut-ikutan membayangkan hal mustahil semacam itu, sementara di tangannya sudah tergenggam pasangan yang sangat ia perjuangkan; Gery, pria yang sudah setahun ini menjadi pacarnya.
Sonja menoleh, menatap gerimis di luar jendela. Bayangan penolakan kejam itu masih menghantuinya. Namun, tekadnya sudah bulat. Ia harus menjadi paranormal dan menyelesaikan apa yang sudah neneknya kerjakan. Ia harus menjadi murid Acay. Bagaimana pun caranya, ia harus berhasil.
-------------------------------------------------
.
..
...
Gimana bab ketiga ini? Kalian lebih senang Sonja cepat diterima atau nggak?