Bab 3
Esok paginya,
Perusahaan V.S
Sekarang sudah jam 08.00 tepat, dan Valerie harus hadir lebih awal karena hari ini ada rapat dengan kliennya.
Jika bukan karena kakaknya—Jansen yang membangunkannya, mungkin sampai saat ini bisa saja Valerie masih ngorok di kamarnya.
Sejujurnya, Valerie masih enggan untuk hadir ke kantor karena kejadian kemarin. Mungkin hanya kebetulan saja, tetapi ketika Valerie dan Sam berkencan kemarin, ternyata ada pegawai gadis itu yang melihat keduanya.
Namun karena hari ini ada rapat yang sangat penting, jadi gadis itu memilih untuk datang ke kantor dan memilih untuk mengabaikan para pegawainya yang terkadang tanpa rasa malu bertanya mengenai kencan butanya kemarin.
Pegawainya membuat Valerie merasa risih. Mereka menyebalkan sekali. Begitu pikiran gadis itu.
Selagi Valerie masih sibuk dengan pikirannya, seseorang mulai memanggil dirinya. Lagi, dan lagi, orang itu sama menyebalkannya dengan pegawai yang lainnya. Bertanya mengenai kencan butanya hanya membuat suasana hati Valerie menjadi buruk—dan orang itu justru melakukannya kembali.
Andai kata, jika orang itu bertanya dengan unsur sengaja, ingin rasanya Valerie mencampakkan orang itu jauh-jauh ke Afrika—entah kemanapun itu, yang penting ia tak perlu lagi melihat batang hidung orang yang menyebalkan itu.
“Ehem. Apa nona tidak akan mengatakan sesuatu kepada saya?”
Valerie melirik kearah Joan—sekretarisnya.“Emang apa yang perlu saya katakan?” ucapnya sinis seraya menatap Joan dengan sinis.
Glek.
Joan menelan ludahnya dengan susah payah. Memang jika sudah dihadapkan dengan tatapan tajam dari bosnya itu, ia pasti akan kehilangan kepercayaan diri. Tatapan Valerie seperti senjata yang paling ampuh sehingga membuat dirinya tidak mampu berkutik sedikitpun.
Dengan gugup, Joan menggaruk tengkuknya dan tertawa canggung. “A-anu, bukan begitu nona. Tapi saya dengar kemarin nona habis menghadiri kencan buta dengan seorang actor. Jadi saya pikir itu hanya rumor belaka.” Ujar Joan sambil tersenyum cengengesan.
Valerie terdiam. Ia mengalihkan pandangannya dari Joan dan kembali menatap dokumen-dokumen yang ada di hadapannya. Jika bisa berterung terang, saat ini gadis itu hanya ingin segera pulang dan mengurung diri di kamar. Ia malas mendengar pertanyaan para pegawai-pegawainya itu. Seperti kurang kerjaan saja.
Joan kembali menatap Valerie dan lantas bertanya, “apa rumor itu benar, nona? Maksud saya, jika itu memang benar, siapa pria malang itu-“
BRAK.
Valerie menghempaskan dokumen yang tadi masih di pegangnya ke atas meja dengan kuat. Dan saking kuatnya, Joan sampai mundur beberapa langkah karena kaget. “A-apa ada yang salah nona?” pria itu mengerjap beberapa kali.
Valerie memasang wajah datar. “Ngeliat lo yang nanya hal-hal gini mulu, kayaknya lo itu kurang kerjaan ya?! Kalo gitu, daripada lo nganggur mending lo ngerjain dokumen ini dan segera buatkan laporan pernyataan seperti tadi yang telah kita diskusikan. Ku harap besok pagi dokumennya sudah siap, Sekretaris Jo. Karena itu jangan buang-buang waktumu dan bergegaslah!” Valerie beranjak pergi. Ia sudah terlanjur kesal dengan seluruh pertanyaan yang sejak tadi tak pernah ada henti-hentinya keluar dari mulut Joan.
Joan menganga. “Menyelesaikan laporannya dalam hari ini? Apakah…” pria itu meremas rambutnya frustasi. Padahal ia sudah memiliki janji dengan kekasihnya untuk dinner bersama. Tetapi, kenapa bosnya itu justru mengacaukan dinner yang sudah ia persiapkan dengan susah payah?
“Haah, kayaknya aku mesti harus lembur malam ini. Apa yang harus ku bilang nanti? Padahal aku pun mengajaknya dinner sebagai ucapan permintaan maaf, tapi kali ini aku kembali gagal.” Gumam Joan. Ada rasa sedih sekaligus kecewa yang terdengar dari suaranya.
Ia tak sanggup memandang wajah kekasihnya nanti jika ia membatalkan kencannya malam ini. Apa ia masih bisa termaafkan? Semoga saja. Valerie sangat mencintai kekasihnya dan ia tak ingin membuat gadisnya kecewa lagi karena ia kurang kompeten.
Namun Valerie yang diam-diam melihat Joan, tau-taunya justru tersenyum puas. Kemudian Valerie segera beranjak memasuki lift, menuju lobi. Hari ini gadis itu harus segera pulang kerumah lebih awal, karena sesuai informasi ibunya, hari ini keluarga nya akan berkunjung ke rumah kakek-neneknya untuk membahas kencan butanya kemarin.
****
Langkah kaki gadis itu tiba-tiba berhenti. Andai kata ini adalah mimpi, maka jangan biarkan ia terbangun dari mimpi indah ini.
Sesosok pria yang sudah sangat lama ia cintai tiba-tiba berdiri di depannya. Dengan senyum yang merekah dan dengan sebuket bunga di tangan kanannya, pria itu tersenyum kemudian menyapanya dengan wajah yang penuh binar kebahagiaan.
“Halo, Vall..”
Suara lelaki itu mampu membuat detak jantung Valerie berhenti bekerja. Desiran darahnya terasa begitu aneh. Dan juga, bibir merah mudanya kini tidak bisa berhenti tersenyum—sejak ia melihat kedatangan lelaki itu.
Lantas, Valerie mulai melambaikan tangannya. “Kael? Oh, halo…” balasnya menyapa.
Kaelus Morgan—pria yang sudah lama disukai Valerie. Pria itu seorang desainer terkenal dan seorang Italian.
Awal keduanya bertemu adalah ketika keduanya masih menempuh pendidikan di Oxford University. Kael termasuk orang yang ramah namun bukan tipe yang mudah dekat dengan gadis-gadis, dan hal itu yang membuat Valerie tertarik dengan Kael.
Setelah menjalin hubungan hampir kurang-lebih dari tiga tahun sebagai sahabatan, tau-taunya Valerie menyukai Kael secara diam-diam.
Setelah lulus kuliah, keduanya mulai sibuk dan jarang bertemu. Namun, mereka selalu berkomunikasi lewat pesan dan chat.
Dan setelah sekian lamanya tak bertemu, hati Valerie semakin tidak karuan ketika secara kebetulan ia kembali bertemu dengan Kael—orang yang menjadi pengisi hatinya.
Seandainya ini di waktu dan tempat yang tepat, ingin rasanya gadis itu mendekap Kael dan meluapkan rasa rindunya kepada pria itu. Namun sepertinya situasi tak mendukung, karena sekarang Valerie berada tepat di depan mansion kakeknya.
Menyadari akan pakaian yang digunakan Valerie yakni adalah gaun, Kael mulai melontarkan pertanyaan. “Iho, Vall?! Kok make gaun secantik ini? Trus kok mukanya diriasin segala? Ada acara apa di mansion kakek Salnios?” tanya Kael.
Deg. ‘Ada acara apa?’
‘Kenapa Kael menanyakan hal seperti itu? Tidak mungkin’ kan kalo aku ngejawab kalo aku gini karena ada acara pertunangan’ batin Valerie dalam hati.
Sekarang gadis itu benar-benar bingung. Apa yang harus di jawabnya? Apa ia-
“Btw, kamu cantik banget malam ini-“
“EH, KAEL, BUKET BUNGA ITU BUAT SIAPA?”
Karena saking gugupnya, tanpa sadar Valerie malah memotong pembicaraan Kael. Saat ini ia benar-benar malu.
‘Oh, damn! Benar-benar memalukan’
Umpat gadis itu dengan wajah yang memerah menahan malu.
Dan tanpa sepengetahuan Valerie, ternyata sedari tadi Kael sudah berusahan menahan tawanya melihat tingkah laku Valerie yang sangat menggemaskan. Namun tetap saja. Tawa itu tak bisa di tahannya dan akhirnya pecah.
‘Pffttttt…..hahahhaha’
Tawa Kael spontan mengalihkan perhatian Valerie. “Ternyata kamu belum berubah juga ya, sikapmu masih tetap menggemaskan seperti dulu, dan..oh, ya. Buket ini tadinya aku beli memang untuk aku berikan sama mu. Percaya atau tidak, tapi yang aku bilang emang benar kok,” Kael berkata dengan sungguh-sungguh.
Valerie mengerucutkan bibirnya, “ishh…ga makasih, soalnya aku ga percaya!” Ketus Valerie pura-pura ngambek.
Kael lagi-lagi tertawa. Ia kemudian mencubit pipi Valerie dengan gemas, “jangan ngambek gitu dong!! Ntar make-up nya luntur,” ucapnya dengan tawa yang masih menghiasi wajahnya.
“Ihhh!!! Sejak kapan ngambek jadi lunturin make-up? Justru cubitan kamu yang bikin luntur,” gadis itu kembali pura-pura kesal.
Saking asiknya bergurau, Valerie sampai-sampai tidak menyadari kehadiran se-sosok manusia yang sedari tadi tengah memandangi interaksi mereka.
Dan ditengah-tengah keasikan itu, sosok tersebut muncul tepat di belakang Valerie. Kemudian dengan sejuta rasa marah yang dipendam, sosok itu mulai berkata. “Apa bicaranya masih belum selesai, Nona Valerie?”
JDERR!!
Bagai disambar petir di siang bolong, Valerie benar-benar kaget akan kehadiran seseorang itu. Ia seperti tertangkap basah, padahal ini hanya kebetulan. Ia bertemu dengan Kael, dan ini hanya kebetulan. Bagaimana jika ternyata yang memanggil namanya itu adalah salah satu dari anggota keluarga Charlotte?!
Yang penting jika dugaannya benar, ia harus mengatakan yang sebenarnya. Dan ia harap kondisi nanti tidak akan bertambah runyam. Perlahan demi perlahan, dengan gelisah, Valerie bergerak membalikkan badannya dan, “Samuel?” pekik Valerie melonjak kaget.