“Aku mengandung buah hatimu..” seketika melemas lutut kaki lelaki itu. Isi hatinya membuncah bahagia, dijejali rasa syukur yang dilafalkan ribuan kali dalam hati. “Aku siap meninggalkan Rio, profesiku.. dan.. semuanya.. ini bukan hanya untuk janin kita, tapi.. aku jatuh cinta padamu, Ka.. benar – benar mencintaimu..” Raka terdiam tak percaya. Serasa dunia berhenti berputar saat mendengar ungkapan perasaan yang begitu tulus. Ia tak bisa berkata – kata lagi. Diciumnya kening Mayra dengan bibir masih bergetar. Mayra memejamkan mata, saat kecupan itu terkoneksi ke dalam relung jiwanya. Lelaki itu melepas ciumannya, lalu menatap Mayra. “Aku nggak sabar menunggu kelahiran anak kita.” Mayra tersenyum lepas. Sementara Raka bersimpuh di hadapannya, mendekap perutnya lalu mencium janin yang di ka

