Iyaa, padahal kan sama-sama baru.jawabnya.
Mereka saling kenal karena satu pondok dipesantren, bahkan hampir sembilan puluh persen sama-sama anak pondok.Tidak heran kalau ada kaka leting nanti mereka kenal, bisa jadi dipesantren mereka satu kelas ditempat pengajian. Jelas Nilawati dengan tersenyum kegirangan.
Oh yaa kalau kamu masih merasa risih gak apa-apa kok, yang jelas kita saudara, jadi kalau perlu apapun jangan sungkan-sungkan tanya sama kami yaa?
Iyaa terimakasih yaa, salam kenal.
Setelah penyerahan silmbolis untuk para siswa baru, merekapun dipersilahkan untuk mencari kelas masing-masing menurut nama-nama yang sudah ditempel disetiap sudut pintu masuk.
Dipintu keluar sangat berdesakan, bahkan ada yang jelbabnya tertarik, ada juga yang terjatuh. Mereka saling memperebutkan pintu keluar.
Azrina,Nila dan Mahda masih menunggu dalam ruang. begitu juga dengan sebagian anak laki-laki saling dorong mendorong dan sebagian lagi menunggu yang lain keluar.
Makin kesini sangat terasa tidak betah, ingin rasanya pergi kesekolah yang lain ucapnya dalam hati.
Tidak ada yang spesial, karena teman-teman sejawadnya tidak ada yang sekolah satupun ditempanya sekolah.
Ruanganpun mulai sepi, kini Nila dan Mahda beserta teman-teman yang lain ikut keluar dari mushola tanpa berdesakan.
Kini mereka berjalan berbarengan untuk mencari kelas berapa yang akan mereka tepati.
Nilawati begitu semangat mencari ruang, Oh yaa kamu siapa namanya? Biar saya cari nama kamu ada dikelas mana? ucapnya dengan tersenyum.
Azrina Ardiansyah ucapnya dengan senyum.
Okee saya lari duluan yaa? ucap Nila sambil berlari kearah kerumunan para siswa.
Mahda dan Azrina berjalan dengan pelan, Nila emang gitu orangnya sedikit tomboi, tapi dia sangat setia kawan! Jelas Mahda dengan senyum.
Iyaa,,, makasih juga yaa sudah mau samperin saya, saya memang tidak begitu kenal dengan saudara dari papi, krena sayapun dulunya tidak tinggal disini.Terimakasih juga karena sudah sapa saya, kalau tidak mungkin saya tidak ada teman! kalian kan saling kenal karena satu pondok. jelasnya pada Mahda.
Sama-sama, tapi kalau kamu kamu masuk pondok juga bisa kok, jadi disana kamu akan banyak teman?
Hmmmm,,,,iyaaa, kapan-kapan saya kepondok yaa! Ucapnya dengan sedikit tertekan.
Waduh, ni orang kenapa pada ngomong pondok-pondok semua sih.Disekolah ini aja rasanya gak betah apalagi disana! Ucap Azrina dalam hati.
Nilawati melambaikan tangan pada Mahda dan Azrina, sambil berteriak.
Woiiii, kita satu ruang .
Okeee,,,mahda mengacungkan tangan dengan mengirim sinyal kalau mereka sudah mendengar.
Mahda memegang tangan Azrina dan berlari kearah yang ditujukan.
Tanpa melihat kiri kanan Azrina menambrak anak laki-laki bertubuh kurus dengan kulit hitam manis, dengan gaya rambut cepaknya.
Keduanya saling kesakitan karena siku dengan siku.
Aduuuh, sakit banget ucap Azrina sambil memegang siku kirinya.
Siswa tersebut juga kesakitan, tapi ia tahan, karena memang anak cowok pantang mengeluh.
Maaf, ucap keduanya berbarengan.
Mahda merasa bersalah karena telah memegang tangan Azrina untuk berlari.
Maaf Ali, itu salah saya, harusnya saya tidak menarik tangan dia! ucap Mahda dengan perasaan bersalah.
Iyaa tidak apa-apa! semoga teman kamu tidak kenapa-kenapa ya? ucap Ali dengan sopan.
Ya sudah yuk kita keruang ucap Azrina sambil memegang tangannya.
Dalam perjalanan Mahda mengatakan kalau Ali itu sepupunya, dan ia Ustd muda dipesantrennya. Walau ia sekolah masih SLTA tapi ia mengajari para ibu-ibu majelis.
Azrina sebenarnya sangat malas mendengar hal-hal begituan.