Wendy berdiri di ambang pintu kamar dengan wajah yang merah padam, matanya penuh dengan api kemarahan yang tidak bisa disembunyikan. Pintu yang terkuak lebar itu menambah kesan dramatis pada kejadian yang baru saja terjadi. Dea dan Aiden terhenti sejenak, saling berpandangan, sebelum Aiden segera melangkah mundur dan melepaskan Dea dari pelukannya. "Wendy?!" Aiden terkejut, suaranya mencampur antara kebingungan dan rasa bersalah. "Kenapa kamu-" “Kenapa aku?” Wendy memotong dengan suara nyaring, penuh kebencian. "Kenapa kamu menyembunyikan semuanya dariku, Aiden?! Kenapa kamu tidak memberitahuku tentang Dea? Tentang pernikahan kalian!" Aiden tampak terkejut. Di sisi lain, Dea merasakan ketegangan di udara yang hampir bisa dipotong dengan pisau. Semua perasaan hangat yang sempat menyelim

