Selama diperjalanan Dea dan Aiden diam. Ketika mobil terparkir didepan rumah, Dea langsung turun dari mobil dan masuk kekamarnya, bik Asih nampak bingung ketika melihat Dea dengan raut muka yang kesal.
"Bik siapin makan malam ya," ucap Aiden pada bik Asih.
"Iya Tuan," jawab bik Asih. Aiden pun menuju kamarnya, sekilas dia melihat pintu kamar Dea dan berniat untuk mengetok pintu itu, tapi diurungkan niatnya karena mengingat perkataan ayah Dea.
"Kalau Dea lagi kesal, marah, atau sedih. Tolong kamu kasih waktu dulu ya, turutin apa yang dia mau, biarkan dia meluapkan emosinya. Maafin ayah kalau putri ayah akan merepotkan kamu, tolong juga kontrol obat-obatan yang dia minum, ayah tau terkadang Dea masih meminum obat-obatan dari psikiater meskipun sudah dikurangin dosisnya, tapi Dea terkadang over ketika meminumnya," ucap ayah Dea sehari sebelum akad nikahnya dimulai. Aiden menghela nafas dan langsung menuju kamarnya.
Aiden mengganti bajunya, dan menuju meja makan. Semua makanan sudah tertata rapi, Aiden duduk dikursinya dan bik Asih mengambil beberapa makanan untuknya.
"Tuan, apa perlu memanggil Non Dea?" tanya bik Asih.
"Nggak usah Bik, biarkan Dea sendiri dulu," ujar Aiden lalu menyantap makanannya.
Didalam kamar Dea mengobrak-abrik laci dan lemarinya, mencari obatnya. Tidak ketemu juga, dia mengingat-ingat, semakin dia berusaha mengingat-ingatnya semakin emosinya tidak terkontrol, nafasnya terengah-engah menahan emosi.
"Koper!" batin Dea, dia mencari koper dikamarnya.
"Tidak ada! dimana!?" batinnya. Dea langsung menuju kamar Aiden, dan masuk ke walk in closet disana Dia menemukan kopernya. Langsung diambilnya, dan keluar dari kamar Aiden. Ketika berada dikamarnya, dia mencari obat yang dia selipin didalam koper, dan ketemu.
Dea dengan kesetanan meminum beberapa butir obat itu, lalu membaringkan tubuhnya diranjang. Hatinya terasa begitu sakit bukan karena perkataan Aiden, tapi rasa rindunya kepada Airon. Rasanya sakit sekali ketika sudah tidak bisa melihat orang yang dicintai, bahkan foto dan kenangan yang tersimpan tidak mempan untuk menghilangkan rasa rindu yang menggerogoti hatinya. Semakin berusaha melupakan semakin rindu itu hadir disetiap waktu. Ketika sudah beradaptasi tanpanya sekali mengingatnya terasa gila. Butiran bening turun dari kedua matanya, menangis dalam diam seringkali ia lakukan, tapi entah kenapa ia tak bosan-bosan melakukannya berulang kali. Perlahan mata terasa berat, ngantuk reaksi dari obat yang diminumnya dan semua nampak gelap. Dea tertidur.
"De?" panggil Aiden didepan pintu kamar Dea, tidak ada sahutan. Hening
Aiden perlahan membuka pintu kamar Dea, dengan sangat pelan. seiring terbukanya pintu semakin terlihat jelas kamar yang seperti kapal pecah. Aiden terdiam melihat penampakan kamar itu. Perlahan Aiden menghampiri dea yang sudah tertidur, lalu menyelimutinya. Matanya tertuju pada obat yang berserakan didekat koper.
Aiden menghela nafas melihat obat-obatan itu, lalu membereskan obat-obatan itu, dan membawanya. Dia keluar dari kamar Dea, dan memanggil bik Asih yang kebetulan baru keluar dari kamar Aiden.
"Bik," panggil Aiden.
"Iya Tuan," jawab bik Asih dan bergegas menghampiri Aiden.
"Tolong rapihin kamar Dea, Dea sekarang sudah tidur," ucap Aiden.
"Iya Tuan," jawab bik Asih. Aiden masuk kekamarnya
Dea terbangun, mengacak-acak rambutnya lalu melihat sekelilingnya, sangat rapi padahal semalam kamarnya seperti kandang kambing. Dilihatnya jam diding yang menunjukkan pukul 09.15 WIB, hampir 12 jam dia tertidur. Dea langsung bergegas mandi, lalu turun kebawah.
Dea duduk dimeja makan, sudah tersedia berbagai macam masakan disana. Setelah selesai makan ia langsung menuju garasi dan memakai salah satu mobil milik Aiden.
Mengendarai mobil itu tanpa arah. Tiba-tiba handphonenya berdering, Dea dengan buru-buru memarkirkan mobilnya dipinggir jalan, lalu melihat nama yang terpampang dilayar hanphonenya, ternyata itu ayah.
"Hallo, Assalamualaikum," salam Dea.
"Waalaikumsalam Kak, gimana kabarnya?" tanya ayah.
"Alhamdulillah baik Yah," jawab Dea.
"Alhamdulillah kalau gitu, sudah makan Kak?" tanya ayah.
"Sudah yah," jawab Dea.
"Ayah kirim dua paket Kak, kayaknya sampai dirumahmu besok lusa," ujar ayah.
"Paket apa ya, Yah?" tanya Dea.
"Besok lusa pasti tau, buat jaga-jaga ya Kak. Perasaan kok Ayah gak tenang mikirin kamu," jawab ayah.
"Emm iya, Yah," jawab Dea.
"Yasudah ayah tutup dulu ya teleponnya," ujar ayah.
"Iya Yah," jawab Dea.
"Assalamualaikum," salam ayah.
"Waalaikumsalam," jawab Dea. Tut... panggilan telepon pun berakhir.
Handponenya menunjukkan pukul 17.05 WIB. Dea menghela nafasnya, dan melanjutkan perjalanannya.
Disisi lain Aiden yang baru saja selesai bekerja berniat pulang dari kantornya dan mengecheck keadaan Dea. Ketika membuka pintu dia terkejut karena ada wanita dengan tinggi 160 cm, badan semampai, dress cream ketat selutut yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah, high heels yang membuat kakinya yang putih bersih semakin jenjang, rambut keriting gantung berwarna coklat yang terurai dengan indah, bulumata eyelash yang membahana dan make up yang membuat wajahnya semakin cantik. Wendy wanita yang dirindukan Aiden tiba-tiba sudah berada didepannya.
"Surprise!!!" teriak Wendy dengan merentangkan kedua tangannya. Aiden masih terkejut melihat Wendy. "Peluk dong Sayang," ujar Wendy. Aiden menghampiri Wendy lalu memeluknya.
"Uhh.. baby bongsorku, kangen aku gak?" tanya Wendy dengan menepuk-nepuk halus punggung Aiden.
"Kangen," jawab Aiden yang semakin erat memeluk tubuh perempuan itu.
"Maaf ya kemarin gajadi dinner," ucap Wendy. Badannya mulai lelah menompang badan Aiden.
"Gapapa By, kamu kan emang lagi ada kerjaan," jawab Aiden memaklumi Wendy. Mereka berpelukan cukup lama.
"Umm, Baby, badanku pegal dari tadi kamu peluk. Badanmu juga berat," protes Wendy.
"Haha, maaf ya Baby, habisnya kangen banget,"ucap Aiden.
Wendy mengerucutkan bibirnya,"Badanmu berat By, aku capek nih," ucapnya. Aiden melepaskan pelukannya dan menatap Dena yang sedang cemberut.
Aiden tersenyum dan Mengacak-acak rambut Wendy dengan gemas, alhasil rambut Dena menjadi berantakan.
"Baby!!!" teriak Dena yang tidak terima rambutnya diacak-acak oleh Aiden. Aiden tau kalau Wendy akan marah ketika dia membuat rambutnya berantakan, karena rambut adalah area sensitif buat Wendy, tapi emang dasar Aiden suka sekali usil pada Wendy.
"Ahaha," tawa Aiden yang puas melihat rambut Wendy yang seperti singa jantan.
"Aaarrghhhh!!!!" gerang Wendy yang kesal. "Selalu aja ngacak-acak rambut," ujar Wendy dengan cemberut.
"Habisnya kamu gemesin sih, maaf ya sayang," ujar Aiden, yang makin gemas melihat Wendy kesal akibat dari ulahnya. Wendy hanya diam dengan muka kesalnya.
"Sayang marah?" tanya Aiden pada Wendy. Wendy diam, kedua alisnya mengkerut mendandakan kalau sekarang dia benar-benar marah.
"Baby," panggil Aiden kalem. Wendy tetap diam, dan kali ini dia membalikkan badannya memunggungi Aiden.
"Baby, maafin aku," ucap Aiden mendekati Wendy yang sedang ngambek. "Kamu pengen apa biar ngambeknya hilang, hm?" tanya Aiden lalu memeluk Wendy dari belakang.
"Aku mau pulang aja, lepasin," ujar Wendy yang berusaha melepaskan pelukan tangan Aiden.
"Tas mau? atau sepatu?" tanya Aiden.
"Aku mau pulang," ujar wendy lagi.
"Tas sama sepatu aja gimana by? kayaknya ada keluaran tas terbaru deh, beli yuk, mau ya?" tanya Aiden.
"Hm, beneran?" tanya Wendy.
"Beneran," jawab Aiden melepaskan pelukannya dari Wendy dan membalik tubuh Wendy agar menghadap kearahnya. "Mau?" tanya Aiden. Wendy menganggukkan kepalanya, tanda bahwa dia mau.
"Yaudah kamu rapiin dulu rambutmu dikamar mandi, aku tunggu disini ya," ucap Aiden lalu mencium kening Wendy. Wendy tersenyum, lalu bergegas menuju kamar mandi. Aiden duduk disofa santai yang menghadap jalanan. karena hari mulai petang langit berwarna semburat jingga dan beberapa bangunan kota sudah menyalakan lampu, pemandangan dibalik kaca lantai 15 ini sangat indah. Tiba-tiba dia teringat dengan Dea, buru-buru dia menelpon bik Asih. tidak butuh waktu lama telepon sudah terangkat.
"Hallo Bik?" panggil Aiden.
"Iya, Tuan?" saut bik Asih.
"Gimana keadaan Dea?" tanya Aiden.
"Non Dea tadi keliatan baik-baik saja Tuan, selesai makan langsung pergi sampai sekarang belum pulang," ucap bik Asih.
"Pergi kemana Bik? sama siapa?" tanya Aiden.
"Tidak tau Tuan, Sendirian Tuan," jawab bik Asih.
"Hm, yasudah Bik," pungkas Aiden lalu mematikan teleponnya. Langsung mencari kontak Dea, lalu menelpon Dea. Panggilan pertama tidak dijawab, panggilan kedua juga tidak dijawab. ketika panggilan ketiga Dea menjawab telepon itu.
"Hallo De?" panggil Aiden.
"Hm?" saut Dea.
"Dimana lu?" tanya Aiden.
"lagi otw pulang," jawab Dea.
"Oh iya, dari mana aja sih? kok gak bilang orang rumah mau pergi kemana," ujar Aiden.
"Gatau," jawab Dea.
"Sayang aku udah selesai," ujar Wendy yang tiba-tiba sudah berada disamping Aiden, Aiden terkejut.
"Udah dulu ya, gua matiin dulu," ucap Aiden pada Dea, lalu dengan buru-buru dia mematikan telepon. "Udah? yaudah ayo," ujar Aiden.
"Siapa itu, By?" tanya Wendy.
"Siapa?" tanya Aiden balik. Jantung Aiden berdetak dengan cepat karena mendengar pertanyaan Dena
"Itu yang barusan kamu telpon," jawab Wendy selidik.
"Ahh.. itu-"