7

1308 Words
Dea berbincang-bincang dengan oma dan mertuanya hingga malam hari, canda dan tawa memenuhi setiap sudut rumah pada malam hari, dan sekarang waktunya tidur. Mama, papa, dan oma memasuki kamarnya masing-masing. Tinggal Aiden dan Dea diruang tengah, "Balik kekamar yuk," ajak Aiden beranjak dari sofa. Dea mengangguk dan mengikuti Aiden kembali kekamar. Ketika mereka berada didalam kamar, Dea masuk kekamar mandi mencuci mukanya. Aiden tidak langsung tidur. Dia mengecek pekerjaannya lewat laptop miliknya. Ketika Dea kembali kekamar dia memanggil Aiden. "Emm.. Aiden," panggil Dea tiba-tiba. "Hm," saut Aiden yang masih sibuk dengan laptopnya. "Kita tidur bareng?" tanya Dea. "Iya, kenapa?" tanya Aiden kali ini menoleh kearah Dea dengan mengangkat kedua alisnya. "Emm.. gapapa si. Bukannya lebih baik pisah aja ya," ucap Dea hati-hati. "Mau tidur pisah?" tanya Aiden. "Kalau gak keberatan si," jawab Dea. "Hmm," gumam Aiden, "oke besok kita tidur misah, kalau sekarang gaenak sama mama papa," setuju Aiden. "Okey," setuju Dea. Dea memilih untuk tidur dan Aiden masih sibuk dengan pekerjaannya. Keesokan paginya, Aiden bangun terlebih dahulu dan memutuskan untuk mandi, ketika selesai mandi dia melihat Dea yang baru saja bangun tidur, Dea nyelonong masuk kekamar mandi, tanpa sepatah katapun. Aiden bersiap memakai pakaian rapi, karena hari ini dia akan masuk kekantor dan menyelesaikan pekerjaan yang terbengkalai selama satu minggu lebih. "De.. mandinya yang cepet. Keburu siang nih !" teriak Aiden. "Trus apa hubungannya sama aku?!" teriak Dea dari dalam kamar mandi. "Ya cepet, habis ini kita sarapan. Gaenak kalau diliat mama papa kalau kita gak turun bareng. cepet De!" jelas Aiden. "Sabar!" teriak Dea. Beberapa menit kemudian Dea keluar dari kamar mandi dan buru-buru mengganti bajunya. "Udah, ayo," ucap Dea. "Udah?" tanya Aiden, yang melihat penampilan Dea dari atas sampai bawah, yang memakai kaos oblong dan celana hitam selutut kayak gembel. "Iya," jawab Dea. "Kamu make baju lusuh kayak gini De?" tanya Aiden. "Lusuh gimana?" tanya Dea yang sedikit tersinggung. "Ya ini, gamalu?" tanya Aiden. "Kagak tuh," jawab Dea. "Ga make make-up gitu?" tanya Aiden yang tidak habis pikir. "Nggak," ujar Dea. "Ck! jadi gak? katanya keburu siang," sungut Dea. Aiden hanya menggelengkan kepalanya, membalikkan badan dan berjalan keluar kamar, Dea mengikuti Aiden dari belakang. Orangtua Aiden dan oma sudah berada dimeja makan, beberapa pelayan sedang menghidangkan makanan. Dea cukup terkejut ketika mengetahui Aiden memiliki banyak pelayan dirumahnya. "Udah bangun Sayang? sini sarapan dulu," ujar mama yang melihat Dea dan Aiden berjalan beriringan menuju meja makan. "Iya Ma," jawab Aiden lalu duduk dikursi. Diikuti Dea yang duduk disamping Aiden dan dideoan mama mertuanya. "Aiden mau kerja sekarang Nak?" tanya papa. "Iya Pa," jawab Aiden. "Ngapain buru-buru sih?" tanya papa. "Keburu numpuk nanti Pa, dirumah juga nggak ngapa-ngapain," jawab Aiden. "Kan bisa pergi sama Dea, ajak kemana gitu," ujar mama. "Dea gamau Ma," bohong Aiden. "Dea beneran nggak mau?" curiga mama. "Iya Ma, mau istirahat dulu," jawab Dea sengan senyum meringis. "Hm, yaudah. Dea gapapa dirumah sendirian? Mama, Papa, sama Oma mau balik soalnya," tanya Papa Aiden. "Gapapa kok Om," jawab Dea. "Ee... kok Om," peringat mama. Dea masih kikuk memanggil ayah mertuanya dengan sebutan papa. "Ahaha.. gapapa kok Pa," ralat Dea yang baru saja kena teguran ibu mertuanya. Aiden sibuk dengan sarapannya, mengunyah makanan dengan buru-buru. "Kalau Dea kesepian bisa kerumah Oma ya, jangan sungkan-sungkan ya Sayang," ujar oma pada Dea. "Iya Oma, " jawab Dea, dan langsung menyendokkan makanan yang sudah disediakan pelayan dibelakangnya. Semua orang sibuk mengunyah makanan yang ada didepannya. "Asih, barang-barang ibu sama bapak udah ada dimobil semua?" tanya mama mertua pada bik Asih. "Sudah Buk," jawab bik Asih. "Oke, makasih ya," ucap mama. "Udah Ma?" tanya papa pada oma. "Udah," jawab oma yang menaruh gelas kosong disamping piring, oma baru saja selesai meminum segelas air. "Yaudah mama papa mau balik dulu ya Sayang," ucap mama berdiri. "Sini cium dulu Nak," ucap mama pada Dea, Dea langsung menghampiri mama mertuanya. Dea mencium pipi kanan dan kiri mama, oma, dan papa. "Aiden juga Nak," protes mama. Aiden menghela nafas lalu mencium mereka semua. Aiden dan Dea mengantar mereka kedepan rumah. "Mama pulang dulu ya Sayang! kalau ada apa-apa hubungi Mama," teriak mama didalam mobil. Dea hanya mengangguk, mama mertuanya ini memang sedikit rempong tapi sangat perhatian. Mobil mereka pun mulai melaju kejalanan. Aiden balik kekamar, Dea memilih untuk duduk dimeja makan, bengong. "De, aku kekantor ya," pamit Aiden yang langsung nyelonong. Dea hanya melihat kepergian Aiden yang semakin jauh dari jarak pandang matanya. Rumah terasa sangat sepi, hanya ada Dea. Semua pelayannya hilang entah kemana. "Hehh.." beberapa kali Dea menghela nafasnya, merasa sangat bosan. Akhirnya dia memilih untuk menjelajahi rumah. Rumah Aiden cukup besar dan luas, lebih luas dari rumah orangtuanya. Fasilitasnya pun sangat lengkap, kolam renang, ruang fitnes, musholla, taman, perpustakaan, ruang billyard, ruang game, dan beberapa ruangan yang masih kosong. Berkeliling dirumah ini cukup membuat kaki Dea capek, jam sudah menunjukkan pukul satu siang. Dia memutuskan untuk kembali kekamar, dilihat para pelayan sedang membereskan pakaian miliknya dan memindahkan kekamar Sebelah. Karena tidak mau merepotkan mereka akhirnya Dea mengurungkan niatnya kekamar dan pergi keruang tengah, disana dia menonton film, channelnya cukup banyak dan beragam. Tanpa sadar Dea tertidur, hari sudah sore, Dea terbangun, masih mengumpulkan nyawanya, dilihat Aiden yang sudah pulang. "Bik udah dipindahin?" tanya Aiden pada bik Asih. "Sudah Tuan,"ucap bik Asih. Aiden menolah pada Dea yang masih tiduran disofa. "Kamarmu disebelah kamarku De," ucap Aiden. Lalu berlalu pergi tanpa menunggu Dea menjawab. Dea bergegas kekamarnya, kamar Dea bernuansa cream cukup nyaman untuknya. Terdapat balkon juga, ketika menoleh Dea melihat Aiden yang sedang menerima telepon dibalkon kamarnya. Buru-buru Dea masuk kekamarnya dan memutuskan untuk mandi. Aiden menerima telepon dari Wendy kekasih tercintanya, seperti biasa Wendy akan merengek untuk meminta ketemu dengan Aiden. Selama bertelepon Aiden mendengarkan cerita Wendy tentang keluaran tas, sepatu, dan jam tangan brandedd terbaru. Bukan genre cerita yang disukai Aiden. Tetapi Aiden sangat suka mendengar suara Wendy yang ngoceh, membuatnya tersenyum karena suara Wendy yang merdu. Setelah selesai Dea menjelajahi walk in closet miliknya, masih belum terisi hanya sebagian lemari saja yang terisi. Banyak juga baju yang tersedia, sepatu, dan aksesoris lainnya. Dea mencobanya satu persatu, semuanya sangat pas dibadannya. Dea memutuskan untuk memakai baju oversize miliknya yang dibawa dari rumah orangtunya, itu adalah baju ternyaman miliknya. meskipun dilemarinya sekarang terdapat banyak baju yang cantik-cantik, Dea masih enggan memakainya. Dea memutuskan untuk keluar dari kamarnya, dan menuju ruang makan. Perutnya sudah merasa lapar, ternyata dimeja makan ada Aiden yang sedang manyantap makanannya. Dea duduk didepan Aiden. Salah satu pelayan ingin melayani Dea, tapi dea memberi isyarat bahwa dia tidak mau dilayani. Dea mengambil makanannya sendiri, lalu memakannya. Pelayan memberinya satu botol s**u disampingnya, Dea tersenyum kepadanya. lalu meminum s**u itu. Tiba-tiba Aiden ngomong, "De, besok aku pulang malem, mau kencan sama Wendy,"ucap Aiden. Pelayang yang berada dibelakang Dea melotot tak percaya dengan ucapan majikannya. "Hm," ujar Dea. "Tadi udah aku cariin sopir, jadi kalau kemana-mana minta antar sama sopir baru," ujar Aiden Lagi. "Hm," respon Dea yang tidak ada semangatnya sama sekali. "Denger gak?" tanya Aiden. "Hm," jawab Dea. "Jawab yang bener De," ucap Aiden. Dea mendengus kesal. "Iya Aiden," jawab Dea. "Oke, kalau gitu aku balik kekamar dulu," pamit Aiden. "Hm," Para pelayan yang berada diruang makan merasa bingung dengan sikap kedua majikannya itu. Tapi mereka memilih untuk bungkam, padahal dalam hati mereka bertanya-tanya ada apa dengan majikan mereka. "Non Dea butuh sesuatu?" tanya bik Asih. "Ahh enggak Bik," jawab Dea. "Saya ambil kue ya Non, biar Non gak sedih lagi," ucap bik Asih dan langsung mengkode anak buahnya untuk segera mengambil kue. "Ah nggak usah Bik," ucap Dea. "Gapapa Non, jangan sungkan-sungkan buat nyuruh kami. Kami disini tau kalau Non sedang sedih, Kami semua disini akan senantiasa mendukung Non Dea," ujar bik Asih yang salah paham. "Kalian salah paham," sanggah Dea. "Sstt, sudah Non silakan dimakan kue nya," ucap bik Asih yang menghidangkan potongan kue blackforest di depan Dea. Dea menggaruk kepalanya dan tetap memakan kuenya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD