“Semoga ga menemukan penumpang aneh lagi, tapi ah itu kartu nama,” Khadija masih ingat dengan tawaran pekerjaan lelaki yang tadi, tapi ternyata punggungnya sudah menghilang dibalik pintu minimarket. Tidak mungkin dia masuk kehalamannya melihat yang parkir begitu penuh. Akhirnya dia melajukan kembali kendaraannya menjemput rizki mencari penumpang-penumpang lainnya. Hari itu benar-benar dimaksimalkannya untuk meraup pundi-pundi rupiah. Menjelang pukul sepuluh malam mobil yang dikendarai Khadija memasuki pekarangan rumah utama. Ada Rasyid sedang duduk di teras sambil menyesap kopi cokelat hangat, dia terlihat sibuk dengan ponselnya tanpa mempedulikan siapa yang datang. Tumben sekali malam minggu seperti ini lelaki itu ada di rumah. Khadija turun dari mobil dengan wajah kuyu, mata sayu dan

