Jumat, 18 April 2008
Aku sampe di kota BK, janji ketemu dengan Lili di pusat kota. Motor aku parkir di Mall M. Terpaksa aku nebeng naik mobilnya Lili menuju ke hotel G.
Seneng juga akhirnya bisa melihat Lili langsung, dan ternyata ga jauh beda dari foto yang kemaren dia kasih. Lili terlihat cantik dengan umur yang sudah kepala tiga. Rambut hitam lurus panjang, kulit kecoklatan, dan bibir dipoles lipstick merah gelap. Dia mengenakan kemeja putih dan rok jeans biru di atas lulut. Sangat feminim, sungguh tipe ideal yang cocok buat aku. Kali ini aku berpikir ga akan melepaskan cewe yang satu ini.
Jalan menuju hotel G memang agak bikin mumet. Secara aku dan Lili memang ga pernah maen ke kota BK. Setelah sedikit nyasar akhirnya tiba juga di hotel G di jalan S. Aku lihat Lili agak sedikit kesel karena tadi dah dua kali nyasar.
Masuk ke ruang resepsionis dan coba untuk cek-in. Room di hotel ini penuh semua, dan resepsionis menyarankan untuk coba ke hotel P yang ternyata memang bersebelahan dengan hotel G. Dengan sedikit jalan kaki, aku coba untuk cek-in ke hotel P, beruntung kali ini ada kamar kosong buat aku berdua Lili.
Kamar yang tersedia lumayan bagus. Dengan rate Rp 185 ribu, aku bisa dapet room seluas 3 x 4 meter lengkap dengan TV, AC, shower, dan dua botol air mineral. Langsung TV aku nyalain, supaya orang di kamar sebelah ga bisa denger apa yang aku bicarain or lakuin di kamar.
Keluar dari toilet aku menghampiri Lili yang sudah rebahan di ranjang. Langsung aku peluk dan cium bibir Lili. Mendapat perlakuan seperti itu, Lili langsung membalas pelukan dan ciuman bibir aku dengan hangat. Aku utarakan isi hati aku ke Lili klo aku seneng banget hari ini ketemu dia, dan dia pun merespon dengan perasaan yang sama.
Aku lanjut cium bibir Lili, agak lama kali ini. Tangan kanan aku mulai aktif membuka kancing baju Lili. Lima buah kancing terbuka sudah, namun bagian bawah baju tidak bisa dicopot karena dijahit melingkar seperti halnya kaos. Terpaksa aku harus cukup puas hanya dengan mencopot sebagian bajunya. Aku singkap sisi bajunya ke samping dan terlihatlah dua buah bukit yang tertutup bra berwarna hitam. Lili terlihat sexi dengan bra hitamnya.
Bibir aku beralih ke leher Lili, tangan kanan aku pun langsung menyingkap bra yang menutupi bukit kembarnya Lili. Lili mulai terangsang dengan perlakuan yang aku kasih ke dia. Bibir aku selalu pindah dari leher kiri ke leher kanan terus ke bawah kuping. Jari-jari tangan kanan aku pun langsung meremas-remas s**u milik Lili. Putingnya yang berwarna hitam kecoklatan sudah agak membesar karena aku elus-elus.
Setelah puas mencium bibir dan leher Lili, aku agak mundur ke belakang mengambil kuda-kuda untuk langkah selanjutnya. p****g s**u Lili yang sudah berada dihadapan aku langsung aku sikat. Aku emut dan jilat s**u kanannya dari pangkal terus ke p****g. Tangan kanan aku ga mau terlalu lama berdiam diri, langsung aja menyingkap rok jeansnya sampe ke atas pinggang Lili. Aku elus-elus paha Lili sampe ke pangkal selangkangannya yang masih terbungkus CD. CD-nya ga terlalu tebal, jadi bisa aku rasain di jari-jari aku belahan v****a Lili.
Sambil terus aku emutin dan jilatin dua bukit s**u Lili, aku tarik CD Lili hingga lepas dan tak menutupi vaginanya lagi. Jari tangan aku pun kegirangan menemukan s**********n lengkap dengan vaginanya. Langsung aku elus-elus v****a Lili dari klitorisnya hingga ke bagian pangkal yang ga terlalu dalam. Aku ga berani masukin jari aku terlalu dalam ke v****a Lili, karena dia merasa agak sedikit sakit klo ada jari yang masuk ke dalam vaginanya. Buat aku ga masalah, karena dengan mengelus-elus bibir vaginanya aja, Lili sudah mulai terangsang dan cairan putih agak lengket pun mulai membasahi belahan vaginanya. Lili menggeleng-gelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil menikmati perlakuan yang aku berikan kepadanya.
Baru sebentar aja aku emutin dan jilatin toketnya, serta aku elus-elus vaginanya, Lili sudah mulai mengeluarkan erangan kenikmatan. Aku pun ga mau melepaskan kesempatan ini. Aku agak mundur sekali lagi hingga kepala aku tepat berada di depan s**********n Lili. Kali ini v****a Lili sudah mengkilap basah oleh cairan kenikmatannya, sungguh menantang. Di sekeliling vaginanya yang berwarna coklat kehitaman ditumbuhi rambut-rambut halus yang agak lebat namun pendek, sehingga masih terlihat jelas belahan vaginanya. Tangan aku langsung memegang paha Lili dan membentangnya ke sisi kanan dan kiri sehingga belahan bibir v****a Lili lebih terbuka.
Aku ga menyia-nyiakan kesempatan ini. Langsung aku jilat bibir v****a Lili dari bawah ke atas dan sebaliknya dari atas ke bawah. Kembali Lili mendapatkan rangsangan hebat dari bibir dan lidah aku. Kepalanya mulai menggelengkan ke kanan dan ke kiri, bibirnya pun turut berdesis mengungkapan kenikmatannya. v****a yang sudah basah dengan cairan kenikmatan yang keluar dari dalam liang v****a Lili agak terasa asin dan berbau khas. Namun justru menambah kenikmatan untuk terus menjilatinya.
Sambil aku terus menjilati v****a Lili, tangan aku berusaha mencopot kaos dan celana jeans yang sedari tadi masih aku kenakan. Kini bugil sudah badanku. Aku merubah posisi. Kepala aku masih menghadap v****a Lili, namun kaki dan selangkanganku berada di muka kepala Lili, tepat seperti posisi 69. Lili yang melihat kemaluanku sudah berdiri tegak di depannya langsung memegang dan mengelus-elusnya. Tak lama kemudian, aku merasakan penisku sudah berada di dalam mulut Lili. Dia mengerti kemauanku. Selagi aku menjilati vaginanya, Lili menjilati dan mengulum penisku. Terasa penisku hangat berada di dalam mulutnya. Keluar masuk serasa diurut oleh bibirnya dan sambil dijilati oleh lidahnya. Nikmat sekali.
Masih dengan posisi 69, kami masing-masing menikmati kemaluan lawan dengan menjilatinya. Namun hal ini tak berlangsung lama, badan Lili mulai agak menegang. Sambil terus memegang penisku, Lili meracau ga karuan. “Terus sayang, terus…” Aku pun tambah semangat melumat bibir v****a Lili. Terus aku jilat klitorisnya, hingga akhirnya Lili pun menghentakan badannya ke atas. “Sayang…aku mau…keluar…oouughhhhhh…” Sepertinya Lili sudah merasakan klimaksnya yang pertama. Aku cukup puas mendengar erangannya.
Aku pun menggeser badanku dan berencana untuk memulai gaya misionaris. Baru saja aku ingin memasukan penisku ke dalam v****a Lili, terdengar suara HP Lili berbunyi. Lili menjawab panggilan telponnya, dan ternyata dia mendapat panggilan dari rekan kantornya agar Lili segera kembali ke kantornya untuk urusan survey ke kota BD.
Mulai terlihat gelagat Lili yang seperti orang kebingungan. Aku cuek dengan keadaan Lili, dan mulai kembali beraksi dengan menggesekkan batang penisku ke bibir v****a Lili. Berbeda dengan wanita yang lainnya, Lili yang mendapat perlakuan ini dariku seperti tidak merasakan apa-apa. Dia merasa sudah tidak b*******h lagi. Aku yang sedari tadi cuek, mulai menyadari hal ini.
Lili meminta aku untuk menunda hal ini, karena dia harus segera kembali ke kantornya. Aku mencoba untuk mengerti dan meminta padanya untuk berbagi waktu sedikit lagi sampe aku bisa merasakan nikmatnya mengocok v****a Lili dengan penisku. Sepertinya Lili sudah tidak konsentrasi lagi dengan adegan percintaan ini. Melihat wajahnya aku merasa iba, penisku pun terasa tak b*******h lagi. Akhirnya aku pun memberikan kesempatan kepada Lili untuk kembali ke kantornya, walau sebenarnya aku agak kecewa dengan hal ini.
Kesempatan ini pun berakhir dengan kekecewaan. Lili pun mengerti perasaanku dan berjanji untuk meluangkan waktu di hari lain untuk membayar hutangnya padaku.