Anmar sedang berdiri di samping meja wastafel mengetuk-ngetukkan jemarinya yang sudah gelisah tidak sabar sementara Alea masih duduk cemas di atas toilet yang tertutup. Tangan Alea gemetar memegangi benda pipih yang sedang sama-sama mendebarkan untuk mereka berdua. Alea sudah terlambat selama dua minggu dan sudah sejak kemarin Anmar ribut tidak sabaran tapi Alea sengaja menahannya sampai di penghujung tahun baru. "Bagaimana?" tanya Anmar begitu melihat Alea baru mendongak padanya. Alea tidak bicara apa-apa dia hanya langsung menunjukkan hasil dua garis merah dari alat kecil di tangannya. "Oh, Tuhan .... " Anmar langsung meraih tubuh Alea untuk dia peluk erat-erat sampai ikut terangkat. "Aku berhasil membuatmu hamil Alea!" Anmar masih sangat bahagia, gemas dan luar biasa antusias dengan

