Hazig tersenyum melihat istrinya yang masih tertidur pulas setelah ia menunaikan kewajiban empat raka'atnya. Setelah ia melipat sajadahnya, ia naik ke atas ranjang lalu mencium wajah istrinya bertubi-tubi hingga wanita itu menggeram kesal. Alih-alih Nayyara akan terbangun, ia justru menjatuhkan tubuh Hazig hingga pria itu berbaring di sampingnya dan memeluknya dengan erat. "Hei, bangun! Kamu gak mau menikmati suasana sore di Istanbul?" bisik Hazig tepat di telinga sang istri. Nayyara membuka matanya dan mendapati wajah tampan suaminya yang tersenyum manis. "Mau meluk kamu sebentar, boleh?" rengek Nayyara. "Hahaha ... istriku manja banget sih, tapi aku suka," ucap Hazig seraya mengecup bibir istrinya. Nayyara tak peduli pada ucapan suaminya, yang penting ia bisa peluk tubuh kekar itu s

