Bab kedua

1049 Words
Hari demi hari kian berlalu. Tidak terasa esok adalah hari pernikahan kami. Pertemuan kami pun sangat singkat. Ada keraguan dalam diriku. Akankah langkah yang telah ku ambil sudah tepat?. Ataukah nanti akan membuatku menyesalinya?. Hatiku terus terombang-ambing olehnya. Sementara jam telah menunjukkan pukul dua belas malam. Tetapi rasa kantukku tak kunjung datang. Ku memilih untuk melangkahkan kaki menuju dapur. Untuk sekedar membuat teh hangat. " Sye , belum tidur nak? " tanya ummi sembari menepuk pundak ku. Lalu ia pun berhasil membuyarkan lamunanku. " Eh Ummi , Syela belom ngantuk " ucapku sembari menuangkan air panas kedalam gelas yang telah ku siapkan . " Tapi besok itu kan hari pernikahan kamu , kalo jam segini belom tidur besok kamu kecapekan nanti sakit nak " kata Ummi. " Ada apa? coba cerita sama ummi " lanjutnya sembari menengadahkan wajahku. Netra kami bertemu , hingga tidak terasa bulir-bulir bening berhasil membasahi kedua mata ini. " Syela takut Ummi , takut salah pilih pasangan hidup , takut tidak bisa menjadi seorang istri yang baik untuk mas Ardy " . " Syela takut meninggalkan Ummi dan juga Abah sendirian , Syela tidak mau jauh dari kalian " ucapku sesenggukan . " Nak , menikah itu ibadah , insyaallah nanti pelan-pelan kamu pasti akan terbiasa dengan segalanya . Ummi dan Abbah juga ingin sekali melihatmu bahagia bersama pasangan hidupmu " kata Ummi sembari mengusap air mataku. Aku pun segera memeluk tubuh Ummi. Ada kehangatan namun juga mampu membuatku merasa sedikit lebih lega. Ya, mungkin hal ini yang nantinya tidak akan pernah bisa tergantikan dengan apapun. Kehangatan dan kasih sayang tulus dari seorang ibu. " Sudah daripada kamu sedih gelisah gini, mendingan kamu pergi ambil wudhu dan langsung sholat tahajud sekarang. supaya hatinya tenang " suruh Ummi padaku . " Sye lagi datang bulan, libur dulu sholatnya Ummi " kataku sambil menyeka air mata ini. " Dari kapan nak? " tanya Ummi. " Sudah hampir selesai sih Ummi " kataku. " Kalau kata orang zaman dahulu ya , kalau gadis menikah dalam keadaan haid bakalan cepat dapet momongan loh " kata Ummi menggodaku . " Ah Ummi ada-ada saja " ucapku sembari tersenyum malu-malu . " Eh beneran neng , orang sesudah haid itu teh lagi masa subur kalau dibuahi ya jadi bayi atuh " kata Ummi sambil menahan tawanya , ia terus saja menggodaku. " Ya semoga saja yang dibilang sama Ummi itu beneran , Amin . tapi kalaupun tidak ya kan semua butuh proses " ucapku . " Ya sudah sekarang pergi tidur gih , besok mau menikah nanti hitam kantung matanya kan tidak lucu " ucap Ummi . Aku hanya menganggukan kepala. Dan langsung berlalu menuju kamar tidur. ..Ceklek... Suara gagang pintu kamar setelah ku membukanya. Aku pun segera membaringkan tubuhku. Memandangi setiap sudut dari kamar ini. Kamar yang sedari kecil ku tinggali. Hari ini adalah hari terakhir aku dikamar ini. Kenangan-kenangan indah dimasa kecil terus terbayang. Esok setelah menikah aku akan pindah ke rumah mas Ardy. Pergi ke kota baru yang aku sendiri bahkan tidak pernah tau. Meninggalkan orangtuaku sendirian. Dan memulai awal hidup yang baru. Semoga hari esok kan lebih baik dari hari ini. Hoooaaaamm... Aku menguap sambil meregangkan tangan. Rasa kantukku tidak tertahankan lagi. Lalu aku mulai memejamkan mata. **** Jam menunjukkan pukul setengah lima pagi. Kriiiiiiingg.... kriiiiiiingg... kriiiiingg.... Alarm terus berbunyi. Sementara Syela masih terbuai dalam mimpinya. Ceeekleeek.... Suara gagang pintu dibuka. Terlihat seorang wanita memasuki kamar Syela. " Hei mempelai wanita , cepetan banguuun . udah jam berapa ini? malah masih enak-enakan tidur " ucap wanita itu sambil berteriak-teriak . " Aduuuh berisik tau " kata Syela sambil menerjapkan matanya. Ya , perempuan itu adalah kakaknya. Natasha Arshinta atau kerap dipanggil Acha. Wanita cantik berusia 30 tahun. Dengan tubuh tinggi semampai. Berkulit sawo matang. Dan kerudung yang menjuntai menutupi dada. Ia telah menikah dan memiliki seorang putri yang tak kalah cantiknya. Namun ia harus tinggal jauh dari kami. Tinggal di negeri orang bersama keluarga kecilnya. " noh liat tuh jam berapa sekarang? buruan mandi sekarang , udah ditunggu sama periasnya dibawah " kata Acha sambil berkacak pinggang. Syela pun segera beranjak dari tempat tidur nya . Lalu berjalan menuju kamar mandi. Meninggalkan kakaknya yang sedang mengoceh ria. " Hei orang tua ngomong bukannya di dengerin dulu" teriak Acha kesal. Berdebat dengannya akan membuang-buang waktuku. Diam sesungguhnya adalah pilihan terbaik. Setelah mandi aku menuju kamar. Dan segera bersiap-siap untuk acara nanti. Setiap sudut rumah telah dihiasi dengan berbagai macam bunga. Tak lupa juga dengan kamar sang pengantin. Tamu-tamu undangan pun sudah hadir. Turut memeriahkan acara akad. Tak lama kemudian rombongan mobil dari pihak sang pengantin pria telah tiba. Semua orang berhamburan menyambutnya. Setelah selesai berbincang dengan seluruh keluarga. Bapak penghulu juga telah berada pada posisinya. Duduk berdekatan dengan Abbah. Sementara Ardy duduk berseberangan dengan Abbah. " Apakah sudah bisa dimulai sekarang? " tanya pak penghulu. Semua menganggukkan kepala tanda setuju. " Baiklah , silahkan bapak pengantin wanita bersalaman dengan sang pria " tuntun pak penghulu. " Saya nikahkan dan kawinkan engkau Ardy Hartanto bin Alm.Suyono dengan putriku Asyela Khoirunisa binti Agus Triyanto dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan juga emas sepuluh gram dibayar tunai " dengan suara lantang Abbah. " Saya terima nikah dan kawinnya Asyela Khoirunisa binti Agus Triyanto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai " suara Ardy dengan tegas dan juga sekali tarikan nafas. " Bagaimana para saksi? " tanya pak penghulu. Sah... Ucap semua orang. " Alhamdulillah barakallah , kalian telah sah menjadi pasangan suami istri , dan silahkan tanda tangan disini "ucap pak penghulu sembari menyodorkan surat nikah. Terlihat seorang pengantin wanita berjalan menuju ruang akad berlangsung. Ia didampingi kakaknya. Syela telah mengenakan kebaya putih. Kebaya dengan design klasik modern. Juga higheels silver. Tak lupa riasan wajah yang simpel. Namun ia tetap terlihat sangat cantik. Syela pun langsung mencium tangan Ardy. Yang kini telah sah menjadi suaminya. Setelah acara selesai. Para tamu pun telah berlalu pergi. Sang pengantin pun memutuskan untuk beristirahat di dalam kamar yang sudah dipersiapkan. Jantung Syela berdegup sangat kencang. Ia bingung apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Gugup , bingung ya itu yang ia rasakan saat ini. Berdua di dalam kamar bersama dengan seorang pria adalah salah satu hal yang tidak pernah ia lakukan. Akankah Ardy akan meminta haknya?. Atau malah beranjak tidur?.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD