Langkah pria itu semakin melebar dan pria itu belok lewat lorong. Dinda berjalan cepat semakin cepat sama dengan langkah pria itu. Dinda menoleh kebelakang. Namun tak ada siapapun. Ia semakin melajukan langkahnya. Dinda menatap kedepan. Ia terkejut. "HUAAAAAA!!" ~ ~ ~ ~ "Din." Dinda bernapas lega sekali. Ia langsung memeluk Farel. Ia kira akan mati sekarang karna merasa ada yang mengikuti dirinya. Tangan Farel terulur mengusap rambut Dinda. Napas wanita ini tak beraturan sekali. Dinda benar benar ketakutan. Tak pernah sebelumnya ia ketakutan seperti ini. Mungkin karna sudah lama keluar dari gangsternya. "Ngapain lewat jalan kayak gini?" tanya Farel. Dinda melepaskan pelukannya. Ia sangat bernapas lega sekali. "Iseng doang dan ini jalan tikus." "Iseng apa nyari mati?!" "Nyari

