Halaman 16

1138 Words

Dinda masih memegangi jantungnya yang berdebar dari tadi. Aish! Ini sih olahraga kematian. Kalo jantungnya berdebar tak karuan dan tiba tiba berhenti berdetak gimana. Kenapa Farel bisa semanis tadi. Itulah yang dinda pikirkan. Ya, wajar saja Farel melakukan hal tadi. Dia kan pria normal. Dinda pun menyeret kursinya agar dekat dengan Wisnu. Lelaki itu sudah was was takut diapa apain Dinda lagi. "Ngapain kesini?" tanya Wisnu sambil memicingkan matanya. Dinda langsung mengambil tangan Wisnu dan diletakkan didekat jantungnya. Pria itu membelalakkan matanya. Woy jantung sama benda kenyal itu dekat. "Nu, jantung gue disko lo bisa rasainnya kan?" bukan bisa rasain. Malahan bisa banget. Wisnu meneguk salivanya susah payah. Ia bisa merasakan benda kenyal itu. Pria itu langsung menarik tan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD