Di lain tempat masih di Tokyo, di sebuah gedung besar yang tinggi, putih, dan penuh dengan para penegak keadilan.
Suasana lorong itu terasa berat oleh suara hentakan satu pasang kaki yang menggema. Dia, seorang pria yang mengenakan setelan kemeja lengkap dengan dasi dan jas, lewat dan melintas dengan wajah kaku yang serius. Ruangan besar yang disertai kubikal-kubikal tanpa sekat yang tampak sibuk di sana, serta-merta dilanda keheningan saat dirinya tiba dan muncul di salah satu belokan lorong.
Kesibukan itu lantas terhenti, segelanya berpindah atensi kepada seorang pria bertubuh gempal dan tinggi. Kehadirannya cukup kentara, mengintimidasi orang-orang yang duduk, berdiri, dan mondar-mandir di kubikal sana dengan tatapan yang dia tumpahkan sesaat kakinya berhenti melangkah tepat di tengah ruangan. Apalagi, wajahnya memerah penuh amarah, menambah kesan menyeramkan dari bekas luka sayatan pisau di pipi kirinya.
"Siapa yang membocorkan informasi ini ke media?!" teriak pria itu di muka ruangan Divisi Kejahatan Besar, memicu hampir semua bawahannya segera menunduk dan memalingkan muka. “Kenapa tidak ada yang bersuara?! Kalian tidak dengar?! Apa karena siaran TV-nya terlalu kencang?!” sindirnya.
Salah seorang dari mereka menjawab dengan suara pelan, tak ingin membuat pria itu, yang dikenal sebagai Kepala Divisi Shiro, mengulang pertanyaannya dua kali. "Shiro-kanrikan, tidak ada satu orang pun dari kami yang bersentuhan dengan pihak media mana pun,” suara itu terdengar takut-takut. “Kami sudah memasang garis polisi dan melakukan penjagaan di rumah Miss Japan seperti yang Shiro-kanrikan perintahkan. Beberapa dari kami juga sudah turun bersama petugas polisi untuk berjaga di TKP, mengamankannya dari pihak sipil maupun wartawan. Detektif dan polisi yang ada di TKP pun mematuhi protokol untuk tidak memberi konmentar apa-apa kepada wartawan yang menanyakan hasil olah TKP. Jadi, saya rasa— kami rasa, pihak media tidak mungkin tahu tentang penemuan bukti rambut tersangka ini dari kami, anggota kepolisian, Kanrikan."
Shiro-kanrikan, atau Kepala Divisi Kejahatan Besar Shiro, berdecak sehabis mendengar penuturan salah satu inspektur yang bekerja di bawahnya. Sebab, jawaban itu masih belum menghilangkan amarahnya. "Lalu dari mana para wartawan itu tahu tentang berita yang mereka liput?! Dari mana para wartawan dan media tahu perihal aksi terbaru Pretty Devil dan perkembangan informasinya?! Hah?!”
Suara teriakan Shiro-kanrikan meledak di satu ruangan. “Kenapa kita selalu kecolongan oleh para penjahat?! Kenapa hanya pihak media yang bisa memanfaatkan situasi untuk mendapatkan apa yang mereka mau, tetapi tidak dengan kita, penegeak keadilan yang seharusnya sudah memenjarakan Pretty Devil sejak lama! Apa yang sebenarnya kita kerjakan selama penyelidikan, hah?! DAN KENAPA TIDAK ADA YANG BISA MEMBERI JAWABAN?!!"
Beberapa orang berjengkit, menunduk, merasa tak berguna sekaligus bersalah karena telah lalai pada pekerjaannya. Namun, alih-alih semua perasaan itu, mereka didominasi oleh perasaan ciut dan takut karena nada suara Shiro-kanrikan yang menggelegar dan seolah menampar mereka satu-satu.
"Ck," decak Kepala Divisi lagi— brak! sekaligus memukul meja salah satu kubikal. Kemudian Shiro-kanrikan menatap satu per satu wajah bawahannya, meyapu mereka dari ujung ke ujung. "Sejak kapan tombak keadilan menjadi tumpul dan tidak berguna?! Apa kalian tidak merasa malu?! Atau marah karena merasa tidak becus menangani kasus pencurian yang dilakukan Pretty Devil?! Kenapa kita selalu kecolongan oleh pencuri solo seperti Pretty Devil?! demi Tuhan! Selama belasan tahun aku mengabdikan diri pada pada keadilan, aku tak pernah dipecundangi seperti ini! Kuso!!" [Kuso = sial; t*i]
Shiro-kanrikan menggeram, memijit keningnya, dan menahan emosi supaya tidak muncrat keluar dari kepala. Lalu setelah agak tenang, Shiro-kanrikan memberi perintah dengan nada suara yang lebih stabil, "Terus pantau perkembangan penyelidikan tim forensik. Jaga ketat semua pintu di gedung ini. Personel tanpa gelar Sarjana Kedokteran Forensik, Ilmu Forensik, dan Spesialis Forensik jangan sampai diizinkan masuk ke dalam laboratorium. Tidak— jangan sekali-sekali membiarkan semua orang kecuali mereka mendekati ruang laboratorium!”
Shiro-kanrikan menghela napas sejenak. "Permintaanku untuk bekerja sama dengan Divisi Kejahatan Siber sudah diterima oleh Kepala Polisi. Sambungkan informasi milik kita kepada mereka, dan jangan sampai kembali dengan tangan kosong. Aku akan meminta petugas polisi tambahan untuk menjaga pintu masuk dan keluar, agar tak ada satu pun wartawan yang menguping perkembangan kasus pencurian Pretty Devil."
Shiro-kanrikan kembali memandang (melototi) bawahannya satu-satu, antara mengecek apakah mereka mendengarkan, pun mengancam diam-diam. "Jika kalian melihat rekan yang melakukan suatu hal di luar tanggung jawabnya, dan bertindak tidak biasa, kalian tahu di mana ruanganku berada!"
Shiro-kanrikan kemudian memutar badan, memutuskan untuk pergi, tapi ia menyempatkan diri untuk berkata, "Berikan yang terbaik!" sebelum pergi dari para bawahannya di ruang Divisi Kejahatan Besar.
Meski pria penuh intimidasi itu sudah kembali ke lorong, pergi dari kubikal-kubikal bawahannya dan hilang dari pandangan mereka, tetapi kepergiannya tidak lantas membuat mereka bernapas lega. Karena, mereka mendengar u*****n sang atasan yang menyeruak masuk, "Sial! Aku bahkan jadi meragukan anggotaku sendiri!"
Kalimat itu membuat semuanya terkaget membulatkan mata. Berselang tiga detik dilingkupi rasa kaget, engsel pada leher mereka segera berputar menatap satu sama lain. Dan dengan ekspresi serta kerutan dahi yang sama-sama saling menukik dan dalam, mereka membatin, Apa artinya kami harus mengawasi satu sama lain? Apa ada seorang pengadu di antara kami? Apa Pretty Devil memiliki mata-mata di antara kami?
Ada pengkhianat di antara kami?!
***
Laki-Laki Mullet itu terus tersenyum, membuat dua Nakayama yang berdiri di belakangnya mengernyit canggung, antara geli dan bingung harus merespons apa; bagaimana, tepatnya.
Pada akhirnya, dering telepon di saku celana menyadarkan Nakayama Anzu, membuang matanya dari wajah yang menurutnya menggelikan oleh kerlingan itu. Sementara Nakayama Anzu melihat nama Unknown Number di layar ponselnya, laki-laki itu menghadap kasir, memasukkan nomor pin kartu ATM-nya.
"Tunggu sebentar, Ryu. Aku jawab telepon dulu," pamit Nakayama Anzu, menyerahkan kaleng bir setengah habisnya sembarangan pada Ryu, membuatnya hampir tumpah di lantai konbini. "Dan jangan coba-coba minum!" peringatnya sebelum pergi, kemudian mendorong pintu kaca, segera keluar untuk menjawab telepon.
Sisi trotoar yang lumayan ramai oleh derum kendaraan dan sibuknya pejalan kaki yang berlalu lalang dan sudah pasti tak menghiraukan sesiapa pun, menjadi tempat Nakayama Anzu mengobrol dengan seseorang di seberang telepon.
Klik!
"Makanannya sedang aku bawa. Kau tidak bisa bersabar sebentar? Lap saja keringat di pantatmu itu dan tunggu sebentar lagi!" desis Nakayama Anzu setengah berteriak.
"Bahaya!" teriak sebuah suara robot di telinga Nakayama Anzu.
Dan satu kerutan pun muncul di dahinya. "Tidak ada pelayan yang mengikutiku sampai rumah," ucapnya bersuara pelan. "Kau pikir, aku sebodoh itu sampai berani membawa pulang makanan mahal, sementara para pelayan berkeliaran di jalanan dan mengejarku? Pfft— aku tahu caranya membawa pulang makanan yang tidak aku bayar, Red Aps." Nakayama Anzu tergelak.
“Jangan tertawa, Aprikot! Dengarkan aku!”
“Aku tertawa, karena kekhawatiranmu itu terdengar lucu bagiku.” Lalu dia melipir ke sebuah tiang lampu jalan untuk terhindar dari tumbuhan bahu-bahu pejalan kaki yang menyeruduknya. "Sudahlah, nanti kuhubungi lagi."
Ketika Nakayama Anzu menjauhkan ponsel dari telinga dengan maksud ingin memutus panggilan, mendadak si Suara Robot berteriak, Kau tidak mengerti! Kau dalam bahaya, Anzu!"
Nakayama Anzu sontak memakinya, "Sialan, Red Apple! Aku membuat julukan Pretty Devil bukan untuk ajang bergaya saja! Katamu, saluran telepon biasa itu tidak aman! Maka jangan panggil aku dengan nama asli!"
"Sekarang bukan waktunya berdebat, Aprikot!" sangkal si Suara Robot, menghindari adu mulut. "Mereka menemukan helai rambutmu di TKP! Beritanya sudah menyebar luas! Kau dalam bahaya!"
Nakayama Anzu memutar mata, mengembuskan napas lelah. "Hanya itu? Tenanglah!” katanya jengkel. “Itu, kan, cuma rambut pal… su—" Matanya seketika membeliak lebar.
Nakayama Anzu sontak lincah berlari masuk ke dalam konbini dengan wajah yang pucat pasi.
Di lembaran pintu kaca konbini, Nakayama Anzu berpapasan dengan si Laki-Laki Mullet. Atau lebih tepat jika dikatakan, bahwa Laki-Laki Mullet itu membukakan pintu untuk Nakayama Anzu, begitu melihat tubuh yang menyanggul bass berat itu berlari ke arahnya dengan terburu.
Tabrakan untungnya tidak terjadi. Hanya saja, satu ring bir yang dipegang Laki-Laki Mullet terantuk kaca dan menimbulkan suara kencang. Namun masih kalah kencang dari teriakan Nakayama Anzu yang menyita seluruh perhatian orang di sana, "BERITA!!"
Nakayama Anzu berteriak pada kasir, terbirit-b***t menepuk meja transaksi dengan ponsel yang masih terhubung. "Tolong ganti ke saluran berita! Cepat! Dan kencangkan volumenya!" perintahnya pada si kasir yang melirik sana-sini kebingungan. "Astaga, CEPAT!!"
“Ha-hai!” ;iya, baik.
Lantas televisi ramping di sudut langit-langit, di sebelah layar yang menampilkan CCTV, terganti oleh acara liputan berita terkini pagi itu. Nakayama Anzu tak menghiraukan tatapan-tatapan bingung orang-orang. Tak pula guncangan dari Ryu di pundaknya. Dia hanya fokus menonton berita di televisi dengan raut wajah gelisah.
"Kilas berita. Polisi telah menemukan bukti kasus pencurian tiara senilai 100 juta yen tadi malam. Bukti berupa sehelai rambut telah diserahkan polisi kepada ahli forensik.
"Rencananya, uji DNA akan dilaksanakan untuk mengetahui identitas pelaku berkostum techware dan topeng akuma yang dikenal sebagai Pretty Devil, yang juga adalah tersangka dari dua kasus pencurian sebelumnya, yaitu kalung dan emas batangan, masih di kawasan yang sama, Distrik Omotesando, Tokyo."
Sementara Anzu tampak pias, si Laki-Laki Mullet tidak langsung keluar dan pergi. Dia menahan pintu dan ikut mendengarkan suara berita sebentar, sekaligus menonton perubahan pada wajah Nakayama Anzu yang makin panik dan pucat.
Dirasa telah cukup dengan apa yang dia lihat, segera Laki-Laki Mullet melangkah keluar konbini dengan seringaian ganjil pada wajahnya. "Heh, ekspresi yang menarik."
Berjalan ke trotoar, Laki-Laki Mullet itu masuk ke dalam mobil Porsche Cayman berwarna hitam yang terparkir di pinggir jalan, untuk kemudian mengeluarkan ponsel canggihnya dan menelepon seseorang.
***
Kepala Divisi Shiro sudah berjalan pergi melewati ujung lorong Divisi Kejahatan Besar. Rencananya, setelah berkunjung ke ruangan divisi yang dia kepalai, pria penuh intimidasi dan wajah seram itu hendak menemui Kepala Divisi Kejahatan Siber yang lantai dan ruangannya terletak dua tingkat di atas divisi tanggung jawabnya.
Akan tetapi, rencana tersebut sudah terhalang, begitu sebuah suara yang dikenalnya—sangat dia kenal—memanggil, "Shiro-senpai!" tepat ketika barisan lift sudah tertangkap matanya.
Kepala Divisi Shiro yang masih dipeluk amarah atas bocornya informasi penemuan bukti pencurian Pretty Devil ke media, semakin mempercepat kakinya, tak ingin bertemu dengan pemilik suara—yang menurutnya—menyusahkan itu.
“Shiro-senpai!" Orang itu memanggil lagi. Suaranya yang pertama pelan karena jarak mereka jauh, berangsur mendekat. "Shiro-senpai!!" Lalu terdengar suara-suara langkah kaki yang menyertai panggilan itu.
"Ah, minggir kalian! Aku ada perlu dengan Shiro-senpai!" Tak hanya itu, gerutuan ikut mengudara. Mungkin karena ada beberapa petugas polisi yang sedang menahannya, terbukti dari suara langkah kaki yang ramai-ramai mengeroyok telinga Kepala Divisi Shiro.
"Shiro-senpai!" panggilnya lagi. "Kubilang minggir! Aku hanya ingin bicara dengan Senior Shiro sebentar! Shiro-senpai!"
Sepertinya petugas polisi yang mengamankan orang itu kalah kuat, karena saat ini, Kepala Divisi Shiro mendengar langkah kaki yang tahu-tahu riuh di sebelahnya, bersamaan dengan sebuah tepukan pada lengannya. Dan belum sempat bereaksi, orang itu sudah ada di depan wajahnya.
"Senpai!" pekiknya, dengan napas terengah, tampak antusias sekaligus gelisah di saat yang sama. "Senior!"
"Maksudku, Shiro-kanrikan!" ralatnya, menyadari wajah Kepala Divisi Shiro yang sedang tak bersahabat—walau memang selalu tampak seperti itu setiap waktu.
"Chotto matte kudasai, Shiro-kanrikan!" Dia menahan lengan Kepala Divisi Shiro yang melengos pergi, tapi tak berpengaruh apa-apa karena Kepala Divisi Shiro tak hendak berhenti.
"Arrgh! Apa yang kalian lakukan?! Aku mengenal Shiro-kanrikan!" Dia mengempas telapak yang membelit tangan Kepala Divisi Shiro saat para petugas polisi menarik tubuhnya. Setelah memberontak dan berhasil menjauh, lelaki itu mengejar Kepala Divisi Shiro yang tidak kunjung memelankan langkahnya meski dipanggil berkali-kali.
"Shiro-kanrikan! Apa itu benar?!" Mereka saling susul-menyusul, depan-belakang, agak tampak seperti kejar-kejaran. "Shiro-kanrikan! Shiro-kanrikan!"
Sangat disayangkan untuk Kepala Divisi Shiro, karena meski dia sudah sampai di depan lift, tapi empat lift yang saling berhadapan sedang dalam kondisi menutup, sedang membawa tumpangan yang mungkin naik atau turun. Maka, detik-detik berikutnya terpaksa Kepala Divisi Shiro habiskan dengan meladeni lelaki berjaket kulit hitam dengan shoulder holster di baliknya, yang menerobos keamanan itu—demi menemuinya.
"Shiro-kanrikan, apa itu benar?!" tanya lelaki itu, kelewat antusias karena berkesempatan mengantongi informasi. "Kalian menemukan sehelai rambut, apa itu benar?!"
Kepala Divisi Shiro menoleh, masih dengan ekspresi yang sama. Tetapi hanya sebatas menoleh, tak berkata apa-apa. Dua petugas yang ada di belakang lelaki itu kontan memutus pandangan. Kemudian Kepala Divisi Shiro kembali menatap pintu lift, menunggunya terbuka dengan mulut si lelaki yang merocos terus.
"Bagaimana dengan pelaku? Apa kalian sudah menemukan identitasnya? Bagaimana dengan motifnya? Sudah ketahuankah? Siapa identitas si pencuri itu? Siapa yang ada di balik topeng Pretty Devil? Kanrikan? Kanrikan? Shiro-kanrikan!"
***
Ryu hanya bisa menggaruk hidung, bingung harus bagaimana dengan kakaknya yang sedang berjalan seperti orang linglung di sebelahnya.
Mereka saat ini sudah keluar dari konbini. Tadi, Ryu langsung menyusul Nakayama Anzu, ketika kakaknya mendadak pergi dan berlari keluar meninggalkannya—meninggalkannya, bersama sekeranjang penuh makanan yang mereka bawa ke kasir. Ryu juga mengejar kakaknya yang berjalan terburu-buru menyusuri trotoar dan menabrak pundak-pundak orang.
Sampai tiba-tiba, waktu sudah agak jauh, kaki kakaknya melambat begitu saja. Ryu pun dapat mensejajari langkah kakaknya, berjalan di sebelahnya. Namun remaja itu masih tidak paham dengan perubahan wajah Nakayama Anzu, yang awalnya di konbini tampak kaget dan panik, kali ini terlihat seperti mayat hidup.
"Anzu," panggil Ryu, tak memetik hasil. Nakayama Anzu masih menatap ke jalan dengan tatapan kosong, dan kakinya seolah berjalan sendiri entah menuju ke mana.
"Kak… Anzu?" panggil Ryu lagi, kali ini mengibaskan tangan di depan wajah Nakayama Anzu. Tapi sama saja. Ksesadaran kakaknya masih tertinggal di konbini, entah melayang ke imaji yang mana.
"Kak Anzu!" Ryu akhirnya mengguncang bahu Nakayama Anzu, membuat kakaknya terperanjat dan menoleh ke arahnya seperti orang yang habis dibangunkan dari tidur.
"A-ah, Ryu… kenapa?" tanya Nakayama Anzu.
Ryu masih bisa mencecap sisa kelesah di wajah kakaknya. "Dari tadi kau menggigiti kuku terus. Kelihatannya gelisah banget habis dari konbini tadi." Ryu menggaruk dagunya, ragu-ragu ingin berkata, "Tepatnya habis menonton berita barusan, sih. Memangnya ada apa?"
Manik Nakayama Anzu spontan terbelalak. Langkahnya terhenti begitu saja di tengah trotoar. Ryu juga ikut berhenti dua langkah di depan, membalikkan tubuh menghadap kakaknya, tak lupa mengernyitkan alis. Bibir Nakayama Anzu mangap, wajahnya bercampur keringat dan rasa kaget.
"Oh, aku—"
Kemudian, seraya mencari jawaban dari pertanyaan mudah sang adik, mendadak saja Nakayama Anzu teringat oleh kejadian tiga tahun lalu; sebuah kebakaran dahsyat gedung-gedung di Distrik Shibuya yang bernama Insiden Malam Merah.
Lalu kejadian-kejadian lain berkelebat masuk ke dalam kepalanya; aksi-aksi pencurian yang dia lakukan, kejadian tadi malam, harta-harta hasil curian; emas batangan, kalung, dan tiara yang dicurinya, rumah-rumah mewah yang dimasukinya, kilau warna merah dan biru dari lampu mobil polisi, sorak sirene mobil polisi, hingga kalimat-kalimat yang pernah didengarnya.
"Polisi menyatakan, bahwa pelaku pencurian kabur membawa tiara, setelah melukai sekitar dua puluh bodyguard dengan bom asap rakitan, serta kemampuan bela dirinya."
"Orang sinting. Mereka pasti masih anak-anak."
"Melakukan kejahatan kan, tugas penjahat. Benar, kan, Kak Anzu!"
"Rencananya, uji DNA akan dilaksanakan untuk mengetahui identitas pelaku berkostum techware dan topeng akuma yang dikenal sebagai Pretty Devil."
"Kalau aku melarikan diri dan sewaktu-waktu kau tertangkap, aku bisa menyelamatkanmu dari polisi. Aku bisa membantumu kabur."
"Kemungkinan terburuknya bukanlah identitasku atau identitasmu yang terbongkar seperti katamu. Tapi rencana besar yang telah kita susun selama dua tahun akan gagal! Kau akan selamanya menyimpan dendam itu! Kau mau seperti itu?!"
Semua itu memasuki kepala Nakayama Anzu berentetan, seperti barisan-barisan kereta yang membawa gerbong-gerbong ingatan berisi kilasan balik kejadian yang belakangan terjadi.
Ingatan itu baru berhenti ketika satu suara mengentak kesadarannya, "Kak Anzu? KAK ANZU!!"
Nakayama Anzu kembali melihat wajah Ryu dengan telapak sang adik yang mencengkram bahunya. "Kak Anzu kenapa?! Wajah Kak Anzu pucat banget! Kayak mayat!"
Nakayama Anzu mencoba menormalkan ekspresinya. Dia mengatupkan bibirnya yang terbuka. Lima detik maniknya membulat, kemudian mengedip-ngedipkan kelopaknya, berhenti membayangkan apa yang dia takutkan. Itu dilakukannya supaya sang adik tidak bertanya lebih lanjut, atau bahkan memikirkan kelakuannya sekarang.
Terakhir, untuk menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja kepada Ryu, Nakayama Anzu tersenyum dan berkata, "Eh, apa? Oh, enggak apa-apa."
"Hah?" Kali ini Ryu yang terlihat kaget. Dan Nakayama Anzu pun ikut bingung. Buat apa adiknya kaget?
"Kak Anzu," Ryu membulatkan maniknya, "Kenapa… kenapa kau menangis?"
Nakayama Anzu mengelap pipinya yang terasa basah dengan gerakan lambat. Dia menatap sebutir air mata di ujung telunjuknya, lalu ikut membulatkan mata, beralih menatap Ryu dengan perasaan yang membingungkan.
"Iya, ya?" gumam Nakayama Anzu, terheran.
Tes.
Tes.
Lelehan-lelehan lain menyusul di ujung matanya, kemudian turun hingga ke dagu. Nakayama Anzu menatap Ryu, tapi dia tersenyum ketika tetasan lain menjatuhi pipinya.
"Kenapa aku… menangis?"