Cinta Terlarang Anak dan Suamiku (Part 6)
#Anakku_Maduku #Ajt
#Seputih_Cinta_Amelia
- Memang Sudah Direncanakan Reo!-
Mungkin kita punya cinta yang sama, impian yang sama, dan harapan yang sedikit lagi terwujud. Tapi ternyata semesta menghambatnya. Tetaplah setia pada janji, aku akan menunggumu, di sana, di ujung jalan (Raya)
Sekuat tenaga aku mencoba kembali menetralkan perasaan, menghadap-Nya.
Tapi tak bisa, sedetik kemudian aku menjerit, menangis dan tertawa berbarengan.
Rabb, kenapa aku tak bisa mengendalikan diriku sendiri? Suster-suster memegangi tanganku yang meronta.
“Kita bawa Bu Amel ke dalam ruang perawatan khusus dulu, Sus,” ucap Dokter jaga.
Suster menaikkanku ke kursi Roda. Membawa ke satu ruangan di sudut rumah sakit.
“Ibu istirahat dulu di sini, ya,” ucap Suster.
Ah, akhirnya aku mendapat perlakuan sebagai pasien. Diinfus juga disuntik obat penenang.
Tak lama Papa dan Mama sudah hadir disampingku.
Mama memelukku.
“Nggak apa-apa, kamu baik-baik saja, hanya kelelahan habis perjalanan jauh, Amel.” Mama mengusap-usap punggungku.
“Ma, Raya hamil, Ma ... Raya hamil ....” isakku dalam pelukan.
Mama ikut terisak.
“Amel ... Papa tahu kamu kuat.” Papa tersenyum menatapku.
“Yang Papa tahu kamu wanita tangguh. Ini memang berat, tapi Papa yakin kamu bisa lewati semuanya. Jangan coba memaafkan kalau nyatanya hatimu masih luka. Beri kesempatan pada hatimu untuk berpikir dan merenung lebih lama agar bisa menerima keadaan yang sudah terlanjur terjadi ini. Itu semua perlu waktu, jangan dipaksakan. Berisitirahatlah sepanjang mungkin, agar kedepan lebih lega dan bisa mengambil langkah yang selaras antara hati, emosi, dalam penerimaan yang seikhlas-ikhlasnya, sehingga kamu tidak seperti ini keadaannya,” ucap Papa.
Aku terdiam mendengar kata-kata yang aku yakin keluar dari sisi terdalam hatinya.
Papa maju memelukku. Lelaki yang paling dekat denganku sebelum Reo adalah Papa. Tiba-tiba aku merasa menjadi anak kecil yang sangat butuh perhatian dan belaiannya. Ah, ya, sudah lama Papa tak memelukku.
“Sudah, Nak, jangan terlalu dipikir. Perhatikan kesehatan diri. Kamu harus tegas sama mereka. Jangan rapuh. Jangan terlalu perduli juga dengan mereka. Mereka sendiri tidak perduli sama kamu. Karena kalau mereka perduli, tak sampai perselingkuhan itu terjadi, tak sampai Raya hamil. Kamu masih inget kan gimana dengan entengnya keluar dari mulut Raya meminta Reo untuk jadi suaminya, dan Reo diam saja, tak banyak menentang Raya. Lalu sekarang Allah tunjukkan, Raya hamil. Sekali lagi, mereka tak perduli padamu, kenapa kamu harus perduli dengan mereka? Bahagiakan hidupmu seperti yang kamu mau lakukan tanpa terlalu perduli dengan penilaian-penilaian orang.” nasehat Mama.
Aku merenungi perkataan kedua orang tuaku itu.
“Mungkin karena aku terlalu berharap rumah tanggaku akan bahagia, seperti rumah tangga Papa dan Mama. Memiliki impian sebuah rumah tangga yang langgeng sampai tua, sampai maut memisahkan.”
Papa dan Mama terkekeh.
“Jangan samakan setiap jodoh manusia, Amel. Rejeki jodohmu mungkin hanya sampai sini, tak masalah. Setiap hubungan rumah tanggapun ada rejekinya masing-masing. Ada yang panjang sampai tua, ada yang sebentar. Papa dan Mama nggak menyalahkanmu, Mel,” jelas Mama lugas.
“Yang kamu lakukan kemarin sduah benar, meminta Reo menandatangani surat cerai, dan memulangkan Raya. Tapi sepulang dari London, kamu sedikit goyah, jadinya ya seperti ini.”
“Ya, Ma. Entah aku tiba-tiba jadi melow kembali.”
“Jangan .... Ah, kamu seperti anak kecil saja, Mama yakin kok kamu nggak harus diajarin soal ini. Sudah tahu harus gimana bersikap.”
Mama memang orang yang paling tegas dan bijak menghadapi kehidupan. Berbeda denganku yang terkadang sensistif, tak tegaan.
Aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan, mengangguk setuju dengan perkataan mereka. Aku seperti tersiram es dingin di siang bolong yang terik. Semua perkataan Mama dan Papa benar sekali.
Ya, aku harus melepaskan semua, dan menerima semua kenyataan ini seikhlas-ikhlasnya. Agar bisa melangkah dengan enteng ke depan. Anggap ini ujian dari Allah yang membuatku harus lebih kuat lagi.
Ah, kenapa aku yang selama ini terkesan dewasa, sering memotivasi dan menasehati banyak orang, justru seperti ini anak kecil ketika menghadapi masalahnya sendiri.
Dari sini aku belajar, bahwa kehidupan sebaik apapun, sehebat apapun rencana manusia. Bisa dalam sekejap berubah seratus dalam puluh derajat, jika Allah sudah berkehendak. Siapa yang bisa menduga bahwa kehidupan rumah tanggaku yang aku pikir baik-baik saja, seketika saat ini hancur berantakan.
Bahkan Brian, seketika bisa kehilangan keluarga yang ia cintai hanya dalam hitungan detik. Seketika aku tersadar dan merenungi arti tawakal yang sesungguhnya.
Ajt
“Nah, cakep, Mel. Habis, berarti enak kan bubur ayam buatan Mama.”
“Iya, dong, dibandingin sama makanan rumah sakit, masih enakan punya Mama,” jawabku.
“Eh, jangan salah, masak dibandingin masakan rumah sakit. Kamu kan tau sendiri, orang-orang se-RW juga tau gimana lezatnya masakan buatan Mama.”
Kami tertawa.
Alhamdulillah pagi tadi aku sudah keluar dari rumah sakit, meninggalkan Reo yang masih koma. Sementara Raya, juga sudah diantar pulang ke rumahnya oleh Pak Lody.
Benar, aku harus mulai memikirkan diri sendiri. Membebaskan diri dari segala hal yang jadi beban.
Jangan sampai aku jadi depresi atau malah gila, ini nggak lucu.
Mungkin aku akan tetap menjaga hubungan baik dengan mereka, membantu jika memang perlu dibantu. Tapi sudah dengan hati yang baru, tak sakit lagi. menerima ini sebagai ketetapan Allah.
Mungkin memang sudah waktunya aku bebenah diri kembali. Selama ini aku terlalu memikirkan dunia. Seketika aku ingat rencanaku untuk pergi ke tanah suci. Kuambil ponsel di atas nakas.
“Halo, Ran, Seminggu lagi aku akan umroh. Tolong bantu siapkan semuanya, ya. Atur jadwalku untuk tidak ada meeting dengan siapapun sampai satu bulan kedepan. Nanti akan digantikan Pak Akbar.”
Aku berbalik menaruh ponsel sampai tiba-tiba di depanku sudah ada Raya.
“Bunda.”
“Kamu?”
“Kamu bukannya tadi sudah diantar pulang?”
“Raya minta Pak Lody mengantar kemari, Bun. Raya masih boleh ke sini ‘kan Bun?” ucapnya ragu.
“Tentu saja, kamu boleh ke sini, tapi rumah ini sudah bukan tempat tinggalmu lagi.”
Ia diam beberapa saat.
“Ya, Raya tahu, Bun. Raya hanya ingin mengambil beberapa barang yang tertinggal.”
“Oh, ya ambil saja. Semua milikmu boleh kamu ambil dan bawa pulang. Bila perlu kamu bisa menelepon Bik Darti kapan saja, untuk memaketkan barang-barang yang masih tertinggal, atau meminta Pak Lody mengantarkannya ke rumahmu.”
Ia terdiam, seperti ingin mengatakan sesuatu.
“Bunda, sekali lagi Raya minta maaf, atas semua yang terjadi. Raya sadar sudah lancang. Raya sadar sudah kurang ajar. Raya sadar juga telah menyakiti Bunda.”
Aku diam.
“Tapi itu karena kemarin Raya takut, Bun. Raya stress ketika melihat alat tes kehamilan hasilnya positif. Raya ketakutan ketika Dokter bilang sudah 10 minggu. Raya nggak berani ngadu sama Bunda. Yang terpikir dalam hati waktu itu adalah menikah dengan Ayah. Lelaki yang harus bertanggung jawab atas kehamilan ini,” jelasnya.
“Lelaki yang harus bertanggung jawab atas kehamilanmu? Kamu apa nggak mikir ketika pertama kali memulai hubungan terlarang itu? Saat kamu melakukan hubungan dengan Reo apa kamu nggak ingat kalau dia Ayahmu, meski dia hanya Ayah angkat. Tapi dia yang membesarkanmu selama empat belas tahun, sampai-sampai kamu nggak kenal siapa orang tua aslimu, yang kamu tahu Ayah dan Ibumu adalah kami. Tapi kenapa kamu rela berbuat Zina dengan lelaki yang sudah kamu anggap seperti Ayah kamu sendiri itu?"
" Apa kamu juga nggak mikir kasihan Bunda? Dimana nalar kamu Raya? Kamu kan nggak bodoh, kamu pintar."
“Ya, maafin Raya, Bun. Raya bodoh, Raya khilaf. Tapi Ayah saja yang sudah setua itu bisa khilaf dan bodoh, apalagi Raya. Raya juga berada di bawah tekanan Ayah, Bun.”
“Kenapa waktu itu kamu nggak bilang ke saya? Kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu membiarkan semuanya terjadi? Kamu juga menikmatinya kan? Kamu bukan tipikal perempuan yang diam saja bila disakiti. Itulah kenapa kamu mendaftar kuliah jurusan hukum. Kamu orang yang vokal dan tidak lembek, Seharusnya nggak membiarkan ini berlarut-larut.”
“Karena Raya dilarang Ayah mengadu, Bun. Ayah bilang akan menikahi Raya, akan mencari cara bagaimana membujuk Bunda agar mengijinkan kita menikah. Tapi nyatanya Ayah nggak berbuat banyak, hanya diam saja. Terpaksa Raya yang harus maju bicara sama Bunda. Raya takut kehamilan ini semakin besar. Maafin Raya kalau itu menyakiti Bunda.”
Aku memicingkan mata mendnegar kata-kata terakhirnya.
“Apa yang kamu bilang soal Ayah itu benarkah? Bahwa dia akan menikahimu, bertanggung jawab dan akan cari cara untuk bicara sama saya?”
“Iya, Bun.”
“Demi apa?”
“Demi Allah.”
Reo ... jika benar, berarti selama delapan belas tahun pernikahan, aku benar-benar tak mengenalnya. Seketika Rasa ibaku padanya yang saat ini sedang koma, luntur.
Apakah dia kurang puas denganku? Apakah aku tak menarik baginya? Seburuk itu aku di matanya? Atau dasarnya saja dia yang liar tanpa aku ketahui watak aslinya.
“Untuk itu Bund, atas kebodohan Raya. Raya minta maaf. Raya memang bodoh. Tapi Bun, tolong ngertiin Raya. Raya juga korban. Bagaimana Raya bisa menolak jika Ayah terus memaksa untuk meladeninya. Pada awalnya mungkin kami khilaf. Meski sebenarnya Raya sakit juga karena keperawanan Raya sudah terenggut oleh Ayah. Itu yang membuat Raya berpikir hanya Ayah yang boleh menikahi Raya. Tapi setelah itu, Ayah seperti makin menjadi. Raya tak punya kekuatan melawan, ketika Ayah terus meminta lagi dan lagi. Tenaga Raya tak mampu mengalahkannya, Bun.Bahkan Raya diperkosanya berkali-kali karena mulai tak mau meladeninya.”
“Kamu jangan cari pembenaran Raya. Bahkan malam itu Bunda bisa melihat gimana liarnya kamu. Membalas dan menimpali semua cumbuan Reo. Saya melihat jelas dalam rentang waktu yang lama. Kamu sama saja Raya. Kalian memang sama-sama biadabnya.”
Entah ada kekuatan dari mana aku bisa berkata sekeras ini pada Raya.
Meski aku teramat sakit mendengarnya, keperawanan anak yang kujaga, diambil oleh Reo, Raya hamil oleh Reo.
Seketika aku jadi harus menghilangkan kesucian cinta yang kujaga untuk Reo. Cinta putih yang ternodai oleh cinta yang tak seharusnya. Serumit ini rumah tanggaku.
“Jika Reo sudah siuman, menikahlah dengannya, seperti maumu, seperti yang kamu ingin perjuangkan, meminta Ayahmu untuk jadi suamimu. Bunda sudah ikhlas. Bunda akan minta Reo menalak Bunda. Kamu masih terlalu kecil untuk menghadapi dunia sendirian dalam kehamilanmu itu.”
“Bunda, tapi saat ini Raya sudah terima, sudah pasrah, tak apa-apa Raya tak menikah dengan Ayah. Raya akan menanggung semuanya. Toh Raya sekarang sudah tinggal di kampung. Tak ada yang tahu siapa Raya. Yang mereka tahu Raya hamil nganggur. Tapi Raya nggak masalah dengan sebutan itu. Anggap aja ini hukuman untuk Raya yang sudah liar selama ini.”
“Bagus, kamu sudah menyadarinya. Tapi Bunda juga nggak akan melanjutkan rumah tangga ini dengan Ayah,” jawabku.
_**_
Dulu dia datang dan membuatku menyadari tentang arti putihnya cinta, tapi setelah itu dia pergi mencipta luka tanpa mengajariku menghapus nyeri.
(Amelia)
__
Terima kasih sudah menyimak, semoga ada hikmah/ibroh dari cerita ini nantinya.
Bantu klik love-nya and komen, dan masukkan ke dlm daftar bacaan tmn2, yah. Makasih udah bantu akun ini bertumbuh.